Kabupaten Ogan Ilir | Saropi, warga Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, meninggal dunia setelah ditusuk oleh anak kandungnya sendiri, Antoni. Peristiwa tragis tersebut terjadi ketika Saropi berusaha melerai keributan Antoni dan Kepala Desa Muara Penimbung Ilir, Nopri. Insiden itu berlangsung di Desa Muara Penimbung Ilir, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 14.00 WIB.
Keributan yang melibatkan Antoni dan Nopri menjadi awal dari rangkaian peristiwa tersebut. Saropi disebut berupaya menghentikan pertikaian agar situasi tidak semakin memburuk. Namun, dalam kondisi yang belum sepenuhnya diketahui, Antoni justru melakukan penusukan terhadap ayahnya. Luka yang diderita Saropi kemudian menyebabkan korban meninggal dunia.
Kejadian ini mengundang perhatian masyarakat karena upaya seorang ayah untuk menghentikan perselisihan berakhir dengan hilangnya nyawa. Peristiwa tersebut juga menempatkan Antoni sebagai pihak yang diduga terlibat langsung dalam penusukan, sementara Nopri merupakan orang yang sebelumnya terlibat keributan dengannya. Aparat kepolisian masih perlu mendalami kronologi secara menyeluruh, termasuk pemicu pertengkaran, posisi setiap pihak saat kejadian, serta tindakan yang dilakukan setelah Saropi mengalami luka. Pengumpulan keterangan dari saksi dan pihak terkait menjadi bagian penting dalam mengungkap peristiwa di Muara Penimbung Ilir itu secara objektif.
Berdasarkan keterangan polisi, keributan tersebut bermula ketika Nopri sedang duduk di depan rumah kepala desa. Saat itu, Antoni datang ke lokasi dan kemudian berada di tempat yang sama dengan Nopri. Pertemuan keduanya selanjutnya berkembang menjadi keributan. Polisi masih menjadikan keterangan tersebut sebagai dasar untuk menyusun rangkaian awal peristiwa yang terjadi di lokasi.
Dalam keributan itu, terjadi penusukan terhadap Nopri. Berdasarkan informasi yang disampaikan, Nopri ditusuk sebanyak satu kali. Penusukan tersebut menjadi bagian utama dari kejadian yang kemudian ditangani oleh aparat kepolisian. Keterangan mengenai urutan peristiwa disampaikan untuk menjelaskan bagaimana situasi di depan rumah kepala desa berubah dari pertemuan dua orang menjadi insiden kekerasan.
Belum terdapat keterangan mengenai penyebab atau hal yang memicu keributan tersebut. Karena itu, kronologi awal ini hanya memuat informasi yang telah diterangkan polisi, yakni Nopri sedang duduk di depan rumah ketika Antoni datang, lalu keduanya terlibat keributan hingga Nopri mengalami satu kali penusukan. Polisi selanjutnya melakukan penanganan dan pendalaman terhadap peristiwa tersebut untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kejadian serta tindakan yang dilakukan setelah penusukan berlangsung.
Saropi datang ketika pertengkaran Antoni dan pihak lain berlangsung. Kedatangannya bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan berupaya menghentikan keributan tersebut. Ia kemudian mendekati Antoni dan memeluk anaknya dengan maksud melerai pertengkaran yang sedang terjadi. Tindakan itu dilakukan Saropi dalam situasi yang tegang, ketika emosi di pihak-pihak yang terlibat belum mereda.
Namun, upaya Saropi untuk menghentikan keributan justru berujung tragis. Dalam situasi tersebut, Antoni menusuk ayahnya sendiri. Saropi yang berada dekat dengan Antoni mengalami lima luka tusuk pada bagian punggung. Luka-luka itu didapat ketika ia sedang berusaha memeluk dan menahan anaknya agar pertengkaran tidak berlanjut.
Posisi Saropi yang datang untuk melindungi dan menenangkan anaknya membuat kejadian tersebut berakhir dengan dirinya sebagai korban. Niat untuk melerai pertengkaran berubah menjadi peristiwa yang fatal setelah tusukan mengenai punggungnya. Lima luka tusuk yang dialaminya menyebabkan kondisi Saropi menjadi fatal.
Peristiwa itu memperlihatkan risiko yang dapat muncul ketika seseorang berusaha masuk ke tengah keributan untuk menghentikan pertengkaran. Saropi mengambil langkah dengan mendatangi Antoni dan memeluknya, tetapi tindakan tersebut tidak menghentikan kejadian secara aman. Antoni justru melakukan penusukan terhadap ayahnya sendiri, sehingga upaya perlindungan yang dilakukan Saropi berakhir dengan luka-luka fatal.
Setelah keributan yang berujung pada jatuhnya dua korban, aparat kepolisian mengamankan seorang pria bernama Antoni. Keterangan tersebut disampaikan oleh Kanit Polsek Indralaya, Ipda Indra Gunawan. Berdasarkan informasi yang tersedia, Antoni diduga melakukan penusukan terhadap kedua korban dalam kejadian tersebut.
Pengamanan Antoni menjadi langkah aparat setelah peristiwa berlangsung. Polisi membawa yang bersangkutan untuk menjalani proses sesuai penanganan perkara yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Namun, informasi mengenai motif, status hukum Antoni, serta perkembangan penyidikan belum disampaikan dalam bahan keterangan yang tersedia.
Salah satu korban, Saropi, dilaporkan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kondisi tersebut menambah dampak serius dari keributan yang terjadi di wilayah Ogan Ilir. Sementara itu, keterangan mengenai korban lainnya dalam informasi yang tersedia belum memuat perkembangan lebih lanjut terkait kondisi atau penanganan medisnya.
Ipda Indra Gunawan menyatakan bahwa Antoni telah diamankan dan diduga melakukan penusukan terhadap kedua korban. Pernyataan itu menjadi informasi aparat terkait penanganan awal setelah kejadian. Proses berikutnya berada dalam penanganan kepolisian, sedangkan rincian lain mengenai perkara tersebut masih menunggu keterangan resmi tambahan.
Baca juga: Polresta Tuban Pantau Pergerakan Pengedar, 3 Target Operasi Berujung Penangkapan

