Jakarta | Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menempatkan pelestarian warisan budaya bawah laut sebagai bagian penting dari upaya menjaga kekayaan sejarah maritim Indonesia. Perhatian tersebut mencakup perlindungan situs-situs yang menyimpan jejak perjalanan dan peristiwa masa lalu di wilayah perairan Nusantara. Salah satu situs yang mendapat perhatian adalah bangkai kapal perang USS Houston, yang berada di perairan Selat Sunda. Keberadaannya dipandang bukan semata sebagai objek di dasar laut, melainkan juga sebagai bagian dari narasi sejarah yang perlu dirawat dan dipahami.
Pandangan tersebut disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPPSDMKP) KKP, I Nyoman Radiarta, dalam peluncuran program pelestarian situs USS Houston di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026. Peluncuran ini menandai perhatian pemerintah terhadap perlunya menjaga situs bersejarah bawah laut melalui pendekatan yang terencana. Dengan demikian, pelestarian tidak hanya berfokus pada keberadaan fisik bangkai kapal, tetapi juga pada nilai sejarah dan pengetahuan yang dapat diwariskan kepada masyarakat.
USS Houston menjadi pengingat bahwa perairan Indonesia menyimpan peninggalan yang berkaitan dengan sejarah maritim dan peristiwa lintas negara. Namun, situs bawah laut memerlukan perhatian khusus karena berada di lingkungan yang tidak mudah dijangkau serta rentan terhadap gangguan. Upaya pelestarian dapat membantu memastikan keberadaan situs tersebut tetap dihormati, sekaligus membuka ruang bagi pemahaman yang bertanggung jawab mengenai kisah yang melekat padanya. Perhatian KKP terhadap USS Houston juga memperlihatkan bahwa kekayaan laut Indonesia mencakup warisan budaya dan sejarah, bukan hanya sumber daya alam. Menjaga jejak itu merupakan bagian dari tanggung jawab bersama, agar generasi mendatang dapat mengenali hubungan laut, sejarah, dan identitas maritim Indonesia.
Radiarta memandang laut Indonesia sebagai ruang yang menyimpan lebih dari sekadar keanekaragaman hayati. Di balik terumbu karang, padang lamun, dan ekosistem pesisir, terdapat jejak perjalanan manusia yang terbentuk selama berabad-abad. Letak kepulauan Indonesia di persimpangan jalur perdagangan maritim kuno menjadikannya tempat persinggahan para pelaut, pedagang, dan berbagai kebudayaan. Hubungan lintas wilayah itu meninggalkan bukti berupa kapal karam, muatan perdagangan, serta benda-benda lain yang kini berada di dasar laut. Karena itu, kekayaan laut juga mencakup lapisan sejarah yang penting untuk dikenali dan dirawat.
Perairan Indonesia turut menjadi saksi berbagai peristiwa dalam sejarah modern. Bangkai kapal perang, termasuk USS Houston, mengingatkan bahwa laut bukan hanya jalur penghubung, melainkan juga tempat berlangsungnya konflik dan perubahan besar. Sisa-sisa kapal dan perlengkapannya dapat memberi petunjuk mengenai teknologi, kehidupan awak, strategi, serta kondisi pada masa tertentu. Jika diteliti secara cermat, peninggalan bawah laut membantu melengkapi catatan tertulis dan menghadirkan gambaran yang lebih nyata tentang pengalaman manusia. Nilainya melampaui bentuk fisik benda, sebab setiap temuan berkaitan dengan kisah, masyarakat, dan peristiwa yang membentuk sejarah kawasan.
Indonesia dengan demikian merupakan salah satu kawasan utama dunia yang memiliki warisan budaya bawah laut. Namun, peninggalan itu rentan terhadap kerusakan akibat aktivitas manusia, perubahan lingkungan, penjarahan, maupun pengelolaan yang kurang memadai. Pelestarian diperlukan agar situs dan artefaknya tidak hilang sebelum dapat dipahami secara utuh. Menjaganya juga berarti menghormati nilai historis dan budaya yang melekat, sekaligus memastikan penelitian dan akses publik berlangsung secara bertanggung jawab. Dokumentasi, perlindungan lokasi, serta kerja sama antarlembaga dapat membantu menjaga warisan tersebut. Upaya ini memungkinkan generasi mendatang mempelajari jejak perdagangan, perjumpaan budaya, dan peristiwa sejarah dari sumber yang autentik. Dengan memahami laut sebagai arsip bersama, masyarakat dapat melihat bahwa perlindungan warisan bawah air merupakan bagian penting dari upaya merawat identitas dan pengetahuan bangsa.
Bagi Radiarta, situs USS Houston memiliki arti khusus karena bangkai kapal tersebut bukan semata-mata objek yang tersimpan di dasar laut. Kapal itu merupakan kuburan perang sekaligus lokasi bersejarah di Selat Sunda, tempat yang menyimpan kisah para pelaut yang gugur. Karena itu, upaya menjaga situs perlu dilakukan dengan kesadaran bahwa peninggalan tersebut memiliki nilai kemanusiaan dan sejarah yang tidak dapat dipisahkan. Perlindungan yang baik juga membantu memastikan lokasi itu tidak diperlakukan hanya sebagai tujuan penyelaman atau sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa pertimbangan.
Nilai situs ini melampaui batas negara. USS Houston dipandang sebagai simbol sejarah bersama, yang dapat mendorong sikap saling menghormati Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia. Peristiwa yang berkaitan dengan kapal tersebut menghubungkan masyarakat melalui ingatan tentang perang, kehilangan, dan pengorbanan. Dengan mengakui arti itu, ketiga negara dapat membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya merawat warisan bawah laut, sembari menghormati hubungan yang terbentuk melalui sejarah di kawasan Selat Sunda.
Radiarta menekankan perlunya perlindungan situs dan pemeliharaan sejarah bersama. Prinsip tersebut berarti kondisi bangkai kapal dan lingkungan sekitarnya perlu dijaga, sementara kisah para korban disampaikan secara bertanggung jawab. Pengelolaan yang berlandaskan penghormatan dapat membantu mencegah kerusakan, gangguan, atau tindakan yang mengabaikan kedudukan USS Houston sebagai tempat peristirahatan terakhir. Pada saat yang sama, penyebaran informasi yang akurat membuat nilai sejarahnya tetap dipahami oleh masyarakat dan generasi berikutnya, tanpa mengurangi penghormatan terhadap mereka yang gugur.
Kemitraan internasional diharapkan memperkuat langkah pelestarian itu. Kerja sama Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia dapat mendukung pertukaran pengetahuan, koordinasi, serta perhatian berkelanjutan terhadap situs. Dukungan dana Duta Besar AS untuk Pelestarian Budaya juga diharapkan membantu menjaga USS Houston dan menghormati para pelaut yang gugur. Bantuan tersebut bukan sekadar dukungan bagi kegiatan teknis, melainkan bagian dari upaya bersama merawat warisan yang bermakna lintas negara. Dengan komitmen dan penghormatan yang konsisten, situs bersejarah di Selat Sunda dapat dipelihara sebagai pengingat bersama, sekaligus ruang untuk memperkuat kerja sama dan tanggung jawab terhadap sejarah.
Pelestarian USS Houston tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga satu situs bersejarah di dasar laut. Program ini juga sejalan dengan komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat setempat serta memperluas pemahaman publik mengenai pentingnya melindungi warisan maritim. Pengetahuan tentang nilai sejarah dan kerentanan situs bawah laut dapat membantu masyarakat mengambil peran dalam menjaga lingkungan perairan sekaligus menghormati tinggalan masa lalu.
Menurut Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP, I Nyoman Radiarta, pelestarian warisan bawah laut tidak dapat dikerjakan oleh satu institusi saja. Upaya tersebut memerlukan dialog internasional, kebijakan yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan, serta partisipasi masyarakat. Kerja sama lintas negara dan lembaga memungkinkan pertukaran keahlian, sementara hasil kajian ilmiah dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah perlindungan yang sesuai. Keterlibatan masyarakat pun penting agar kepedulian terhadap situs bersejarah tumbuh dan berlangsung secara berkelanjutan.
Selain mendukung perlindungan di lokasi, KKP mengelola Marine Heritage Gallery di kantor KKP di Jakarta. Galeri ini menampilkan koleksi berharga yang berasal dari perairan kepulauan Indonesia dan memberi ruang bagi pengunjung untuk mengenal kekayaan sejarah maritim. Kehadirannya membantu menghubungkan berbagai kisah dari masa lalu dengan generasi mendatang. Melalui penyajian koleksi dan informasi, warisan maritim dapat dipahami bukan hanya sebagai benda atau peninggalan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan masyarakat dan hubungan Indonesia dengan laut.
Radiarta menyampaikan apresiasi kepada Kedutaan Besar Amerika Serikat dan seluruh mitra yang mendukung upaya pelestarian. Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat menginspirasi inisiatif bersama lainnya untuk melindungi warisan sejarah bawah laut.






