Medan | Wardatina Mawa menyatakan telah melangkah dan move on setelah resmi bercerai dari Insanul Fahmi. Di tengah kabar bahwa Insanul dan Inara Rusli disebut akan mengurus isbat nikah, Mawa menyampaikan pesan agar mantan suaminya dan Inara menjalani hidup sesuai pilihan masing-masing. Pernyataan itu disampaikan kepada awak media pada Jumat, 23 Oktober 2026. Mawa, seorang konten kreator asal Medan, Sumatera Utara, mengatakan ia berharap keduanya tetap bahagia dengan versi kehidupan masing-masing.
Pesan tersebut muncul ketika perhatian publik tertuju pada kabar mengenai rencana pengurusan isbat nikah oleh Insanul dan Inara. Mawa tidak menguraikan lebih jauh soal kabar tersebut dalam pernyataannya. Ia menyampaikan harapannya agar keduanya menjalani kehidupan yang mereka pilih, sementara dirinya melanjutkan langkah setelah perceraian. Pernyataan itu menjadi tanggapan Mawa atas situasi yang berkembang, tanpa menyebutkan penilaian lebih lanjut mengenai keputusan pribadi Insanul maupun Inara.
Mawa menyampaikan pesannya secara langsung kepada awak media pada Jumat tersebut. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa dirinya telah move on dan berharap Insanul serta Inara dapat bahagia dengan kehidupan masing-masing. Ia juga meminta keduanya menjalani pilihan mereka sendiri. Pesan itu disampaikan di tengah sorotan atas kabar isbat nikah, tetapi Mawa tidak memberikan tambahan tafsir mengenai maksud, alasan, atau perasaan pihak lain. Dengan demikian, pokok pernyataannya berfokus pada harapan agar masing-masing menjalani hidup sesuai pilihan sendiri setelah ia dan Insanul resmi bercerai.
Setelah bercerai dari Insanul Fahmi, Wardatina Mawa memilih menata kehidupan dengan langkahnya sendiri. Perhatian utamanya kini tertuju pada kehidupan baru bersama putra semata wayangnya, yang berada dalam pengasuhannya. Mawa ingin memusatkan waktu dan perhatian untuk membesarkan anak, sekaligus menjalani hari-hari setelah perpisahan. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa ia berupaya melihat ke depan dan membangun keseharian yang berfokus pada perannya sebagai ibu. Dalam situasi ini, prioritas yang disampaikan Mawa adalah anak dan kehidupan yang hendak dijalani bersama putranya. Ia tidak mengarahkan perhatian pada upaya menghidupkan kembali hubungan yang telah berakhir, melainkan pada pengasuhan dan langkah berikutnya bagi dirinya serta anaknya.
Keinginan untuk lebih fokus membesarkan putra menjadi bagian penting dari keputusan Mawa setelah perceraian. Ia menempatkan pengasuhan anak sebagai perhatian utama dan ingin hadir dalam kehidupan putranya. Fokus itu mencerminkan pilihan untuk mengutamakan hal yang kini berada dalam lingkup tanggung jawabnya, tanpa perlu memperluas pembahasan pada urusan keluarga di luar keterangan yang tersedia. Kehidupan baru yang ingin ditata Mawa berkaitan dengan dirinya dan anak semata wayangnya, termasuk komitmennya untuk menjalankan peran sebagai orang tua. Dengan menaruh perhatian pada masa kini, ia dapat menjalani babak baru sambil mengutamakan kebutuhan pengasuhan dan membesarkan anaknya. Sikap tersebut menjadi arah yang ia pilih usai berpisah.
Mawa juga tidak menunjukkan keinginan untuk kembali terlibat dalam urusan Insanul Fahmi maupun Inara. Batas perhatian yang ia pilih tampak tertuju pada kehidupan pribadinya bersama putra, bukan pada perkembangan hubungan atau persoalan pihak lain. Karena itu, kisah setelah perceraian ini lebih tepat dipahami sebagai pilihan Mawa untuk bergerak maju dan mengutamakan pengasuhan anak. Ia ingin membesarkan putranya dan menata hidup baru tanpa menjadikan urusan Insanul dan Inara sebagai fokus. Keputusan untuk melangkah tersebut memberi gambaran tentang prioritasnya saat ini, yakni menjalani kehidupan bersama anak dalam pengasuhannya. Mawa memilih mengarahkan perhatian pada hal tersebut, tanpa menyatakan keinginan untuk kembali masuk ke persoalan mereka.
Wardatina Mawa membantah anggapan bahwa dirinya pernah menerima atau menyetujui poligami Insanul Fahmi dengan Inara. Ia menilai pandangan tersebut tidak sejalan dengan keputusan yang akhirnya diambilnya. Menurut Mawa, apabila ia memang menyetujui keadaan itu, perjuangannya untuk menyelesaikan pernikahan melalui perceraian tentu sulit dipahami. Bantahan tersebut disampaikan untuk meluruskan anggapan tentang sikapnya, bukan untuk mengubah keputusan berpisah menjadi persoalan lain. Mawa menegaskan bahwa langkah yang ditempuhnya merupakan pilihan yang diambil setelah mempertimbangkan bagaimana ia dapat menjalani hidup ke depan. Dengan demikian, kesediaannya mengakhiri pernikahan menjadi alasan yang ia kemukakan ketika menanggapi anggapan bahwa ia pernah menyetujui poligami.
Dalam penjelasannya, Mawa mengaitkan keputusan berpisah dengan keinginannya untuk melanjutkan hidup. Ia tidak ingin terus berada dalam keadaan yang menghambatnya menata masa depan. Karena itu, perceraian dipandang sebagai jalan yang dipilih agar ia dapat bergerak ke tahap berikutnya. Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa ia memberikan rincian mengenai setiap tahapan yang dijalani, melainkan menjelaskan alasan umum di balik keputusannya. Mawa juga menekankan bahwa ia ingin lebih berkonsentrasi pada anak. Fokus tersebut menjadi bagian penting dari pertimbangannya, sebab ia ingin mengarahkan perhatian dan tenaganya pada kehidupan serta tanggung jawab sebagai orang tua setelah perpisahan.
Dengan alasan itu, Mawa menganggap tidak masuk akal jika perjuangannya menyelesaikan pernikahan melalui perceraian ditafsirkan sebagai tanda bahwa ia pernah menyetujui poligami. Ia membedakan anggapan yang beredar dan keputusan yang benar-benar diambilnya. Yang ia sampaikan adalah bahwa ia memilih berpisah supaya dapat meneruskan hidup dan memberi perhatian lebih besar kepada anak. Penjelasan tersebut berpusat pada pilihannya sendiri, tanpa menambahkan tuduhan atau uraian lain mengenai proses perceraian. Mawa pun menegaskan sikapnya terhadap anggapan tersebut dengan merujuk pada langkah yang ditempuhnya: mengakhiri pernikahan, bukan menerima poligami. Bagi dirinya, keputusan itu berkaitan dengan kebutuhan untuk menatap masa depan dan menjalankan peran sebagai ibu dengan konsentrasi yang lebih baik.
Perceraian Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi telah diputus oleh Pengadilan Agama Lubuk Pakam pada Juli 2026. Putusan tersebut menandai berakhirnya proses hukum perceraian pasangan itu, sekaligus membuka babak baru bagi Mawa setelah hubungan rumah tangga mereka resmi berakhir. Dalam menyikapi keputusan tersebut, Mawa menyampaikan bahwa berpisah merupakan jalan terbaik yang telah ia pilih, dengan mempertimbangkan dirinya dan anaknya. Ia menegaskan bahwa keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan, bukan secara tergesa-gesa.
Bagi Mawa, keputusan untuk melangkah setelah perceraian bukan berarti mengabaikan pengalaman yang telah dijalani. Ia memilih menerima hasil tersebut dan menata kehidupan berikutnya dengan berfokus pada kesejahteraan dirinya serta anaknya. Mawa juga menyatakan tidak ingin menyesali keputusan yang telah dibuat. Sikap tersebut menggambarkan upayanya untuk menghadapi perubahan dengan mantap, sekaligus memandang perpisahan sebagai pilihan yang paling tepat dalam situasi yang dihadapi. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa ia ingin bergerak maju, bukan terus berkutat pada keputusan yang sudah diambil.
Di luar putusan perceraian, terdapat perkara lain yang masih berjalan dan perlu dibedakan dari proses di pengadilan agama. Laporan dugaan perzinaan yang menyeret nama Insanul Fahmi dan Inara masih bergulir di Polda Metro Jaya. Perkembangan laporan tersebut merupakan proses penanganan tersendiri; keberadaannya tidak mengubah status putusan perceraian Mawa dan Insanul. Dugaan yang tercantum dalam laporan juga tidak dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti. Penilaian atas perkara itu berada pada proses dan kewenangan pihak berwenang, sementara informasi yang tersedia menyebut laporan masih bergulir. Dengan demikian, keputusan perceraian dan laporan tersebut merupakan dua hal berbeda: yang pertama telah diputus Pengadilan Agama Lubuk Pakam, sedangkan yang kedua masih dalam penanganan di Polda Metro Jaya.






