YPMAK Siapkan Pemuda Amungme dan Kamoro Jadi Penggerak Ekonomi Kampung

YPMAK Siapkan Pemuda Amungme dan Kamoro Jadi Penggerak Ekonomi Kampung

Kabupaten Mimika | Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) berkomitmen melibatkan pemuda lokal dalam pengembangan ekonomi kampung di wilayah pesisir dan pegunungan Mimika. Keterlibatan tersebut diarahkan agar generasi muda tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga berperan aktif mengenali potensi setempat, merancang kegiatan usaha, dan menggerakkan perekonomian di kampung mereka. Sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, YPMAK mendorong pemberdayaan yang bertumpu pada sumber daya dan kebutuhan masyarakat setempat.

Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka, menjelaskan bahwa kampung-kampung di wilayah pesisir maupun pegunungan memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Pertanian dan perikanan menjadi dua sektor penting yang dapat membuka peluang usaha serta memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola dengan melibatkan warga, termasuk pemuda, agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan. Kondisi geografis yang berbeda kawasan pesisir dan pegunungan juga membuat pendekatan pengembangan perlu memperhatikan karakter, komoditas, serta kebutuhan masing-masing kampung.

Dalam upaya pemberdayaan ini, pemuda lokal dapat berkontribusi pada berbagai tahapan, mulai dari mengenali sumber daya yang tersedia hingga mendukung pengelolaan kegiatan ekonomi. Di sektor pertanian, pengembangan dapat disesuaikan dengan potensi lahan dan hasil yang bisa dibudidayakan di kampung. Sementara itu, di kawasan pesisir, perikanan menawarkan ruang bagi masyarakat untuk mengoptimalkan sumber daya laut dan meningkatkan nilai hasil tangkapan. Pelibatan generasi muda diharapkan menumbuhkan keterampilan, tanggung jawab, serta kesempatan untuk membangun usaha dari potensi lokal.

Leonardus menyampaikan keterangan tersebut di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Jumat. Penjelasan itu menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kampung menjadi bagian dari komitmen YPMAK untuk mendukung masyarakat Amungme dan Kamoro. Dengan memberi ruang kepada pemuda untuk mengambil peran, potensi pertanian dan perikanan di pesisir maupun pegunungan dapat menjadi landasan bagi kegiatan ekonomi yang sesuai dengan kondisi kampung. Pendekatan tersebut juga membuka peluang agar inisiatif masyarakat berkembang berdasarkan pengetahuan dan sumber daya yang telah dimiliki warga setempat.

Kaderisasi pemuda Amungme dan Kamoro diarahkan untuk membangun kemampuan mengelola usaha yang berangkat dari potensi kampung. Di wilayah pesisir, peluangnya mencakup pengumpulan dan penjualan hasil perikanan, sedangkan di kawasan pegunungan pemuda dapat mengembangkan usaha yang menampung hasil pertanian. Melalui proses ini, mereka diharapkan memahami tahapan usaha, mulai dari mengenali kebutuhan warga dan menentukan komoditas, hingga mengatur pengumpulan, penyimpanan, dan pemasaran. Pembekalan tersebut penting agar kegiatan ekonomi tidak hanya bergantung pada bantuan dari luar, tetapi dapat dijalankan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat. Pemuda yang terlibat juga diharapkan tumbuh sebagai pengusaha lokal dan penggerak ekonomi kampung.

Dalam pembagian peran yang disampaikan YPMAK, lembaga menyiapkan dukungan berupa fasilitas, akses, dan tempat penampungan hasil kampung. Dukungan ini ditujukan untuk menghubungkan produksi warga di pesisir maupun pegunungan dengan pasar di Kota Timika. YPMAK juga berperan dalam distribusi di kota, sehingga hasil pertanian dan perikanan memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas. Kehadiran tempat penampungan dapat membantu proses pengumpulan sebelum komoditas dikirim atau dipasarkan. Dengan dukungan akses dan sarana tersebut, pemuda memiliki landasan untuk menjalankan usaha, sementara warga memperoleh peluang untuk menjual hasil produksi melalui mekanisme yang lebih terorganisasi.

Setelah fasilitas dan akses disiapkan, para pemuda menjadi pihak yang menjalankan kegiatan usaha sehari-hari. Mereka bertanggung jawab mengelola pengumpulan hasil, berkoordinasi dengan warga, serta memastikan produk dapat disalurkan menuju pasar di Timika. YPMAK, pada saat yang sama, melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap pelaksanaan usaha. Pendampingan dapat membantu mengidentifikasi kendala, memperbaiki pengelolaan, dan memperkuat kemampuan para pelaku usaha seiring berkembangnya kegiatan. Pola pembagian ini menempatkan lembaga sebagai penyedia dukungan dan pengawasan, bukan pengelola langsung usaha. Harapannya, kaderisasi menghasilkan pemuda yang mandiri, mampu membuka peluang ekonomi lokal, dan menjadi penghubung yang dapat diandalkan produsen kampung dan pasar kota.

YPMAK telah membina 20 pengusaha baru dari suku Amungme dan Kamoro yang menjalankan usaha di bidang usaha mikro, kecil, dan menengah. Pembinaan ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan pemuda lokal agar dapat terlibat sebagai penggerak ekonomi di kampung. Melalui pendampingan tersebut, para peserta memperoleh dukungan untuk mengembangkan kegiatan usaha yang mereka jalankan. Leonardus menyampaikan bahwa dari 20 pengusaha yang dibina, lima orang di antaranya telah berhasil. Sementara itu, peserta lainnya masih mengikuti pendampingan.

Perbedaan perkembangan di peserta menunjukkan bahwa proses membangun usaha dapat berlangsung secara bertahap. Lima pengusaha yang disebut telah berhasil menjadi bagian dari hasil pembinaan YPMAK, sedangkan peserta lain belum berhenti mendapatkan dukungan. Pendampingan yang masih berjalan memberi ruang bagi mereka untuk terus mempelajari dan mengembangkan usaha masing-masing. Informasi yang disampaikan tidak merinci jenis usaha para peserta ataupun ukuran keberhasilan yang digunakan. Karena itu, perkembangan tersebut dapat dipahami sesuai keterangan yang tersedia: sebagian telah berhasil, dan sebagian lainnya masih menjalani proses pembinaan.

Selain membina para pengusaha, YPMAK juga telah meluncurkan usaha binatu atau laundry yang dijalankan oleh pemuda lokal Papua. Inisiatif ini memperlihatkan adanya usaha yang melibatkan pemuda setempat secara langsung. Peluncuran laundry itu menjadi salah satu contoh kegiatan usaha dalam rangkaian upaya YPMAK mendorong keterlibatan pemuda dalam ekonomi lokal. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai skala, hasil, ataupun operasional usaha tersebut, sehingga hal-hal itu tidak dapat disimpulkan dari informasi yang tersedia. Bersama pembinaan terhadap 20 pengusaha Amungme dan Kamoro, usaha binatu yang dijalankan pemuda lokal menegaskan fokus pada pengembangan kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat setempat. Kelanjutan pendampingan bagi peserta yang belum berhasil juga menjadi bagian penting dari proses tersebut, sementara capaian lima pengusaha dicatat sebagaimana disampaikan Leonardus.

Pada 2027, YPMAK merencanakan program pengembangan usaha yang disesuaikan dengan potensi wilayah dan kehidupan masyarakat setempat. Pemuda di kawasan pegunungan akan didorong mengembangkan usaha kopi, sementara pemuda di wilayah pesisir diarahkan untuk mengolah kelapa menjadi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO). Rencana tersebut menempatkan pemuda sebagai pelaku utama kegiatan ekonomi, mulai dari pengembangan produk hingga upaya menjangkau pasar. Kopi dan kelapa dipilih sebagai komoditas yang dapat dikembangkan sesuai karakter wilayah, sehingga kegiatan usaha diharapkan tumbuh dekat dengan sumber bahan bakunya. Meski demikian, program ini masih berada pada tahap penyiapan dan belum memasuki pelaksanaan.

YPMAK masih merancang skema serta pendekatan yang akan digunakan untuk menjalankan kedua jenis usaha tersebut. Persiapan mencakup alur produk sejak dihasilkan petani hingga mencapai lokasi distribusi. Lembaga juga perlu menentukan pihak yang nantinya bertanggung jawab mengelola kegiatan, serta menetapkan tujuan distribusi produk. Kejelasan jalur ini penting agar hasil usaha tidak berhenti pada proses produksi, tetapi memiliki arah pemasaran yang dapat dipahami oleh para pemuda. Rancangan tersebut diharapkan memberi gambaran mengenai peran petani, pengelola, dan saluran distribusi dalam satu rangkaian usaha. Namun, rincian teknis seperti pengaturan pengelolaan dan tujuan penyaluran masih dibahas sebagai bagian dari penyusunan program.

Dengan menyiapkan skema secara bertahap, YPMAK ingin membangun dasar usaha yang dapat dijalankan dan dikembangkan oleh pemuda setempat. Leonardus menyampaikan bahwa tujuan program ini adalah mendorong pemuda, khususnya dari suku Amungme dan Kamoro, untuk menjadi pengusaha. Upaya tersebut juga diarahkan agar mereka memahami dan menguasai akses pasar, baik di Mimika maupun di luar Mimika.

Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan di Kampung Kulonggame | Dari Pesantren untuk Ibu Pertiwi: Kodim 0813 Bojonegoro Bangun Sarana Olahraga Militer, Siapkan Santri Jadi Prajurit TNI | PLTMH Hadir di Kampung Tabukeker, Buka Akses Listrik dan Air Bersih bagi Masyarakat