Waktu yang Lazim untuk Membaca Doa Kalamun Qodim dalam Tradisi Pesantren

Waktu yang Lazim untuk Membaca Doa Kalamun Qodim dalam Tradisi Pesantren

KOTA MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Kalamun Qodim merupakan syair pujian sekaligus doa yang lekat dengan tradisi pesantren di Nusantara. Dalam lingkungan pendidikan Islam tersebut, lantunan ini kerap menjadi bagian dari pembiasaan sebelum seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kalimat-kalimatnya mengandung penghormatan kepada kitab suci dan permohonan agar kegiatan membaca, menghafal, serta mempelajari maknanya dapat berlangsung dengan baik. Karena itu, Kalamun Qodim tidak hanya dipahami sebagai rangkaian syair, tetapi juga sebagai doa pembuka yang mengantarkan santri kepada kegiatan belajar Al-Qur’an.

Penggunaan Kalamun Qodim sebelum membaca atau menghafal Al-Qur’an mencerminkan dorongan untuk mendekatkan diri kepada kitab suci. Tradisi ini menempatkan kegiatan pembelajaran dalam suasana yang penuh penghormatan dan kesadaran akan kemuliaan Al-Qur’an. Dorongan tersebut sejalan dengan hadis riwayat Imam Bukhari dari Usman bin Affan, bahwa sebaik-baik orang adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Hadis ini menjadi dasar penting bagi semangat menuntut ilmu Al-Qur’an, baik melalui bacaan, hafalan, maupun pemahaman terhadap maknanya.

Dalam menjalankan kegiatan tersebut, adab dan niat memiliki kedudukan yang penting. Imam An-Nawawi menekankan pembahasan mengenai adab para pembawa Al-Qur’an dalam kitab At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalatil Qur’ān. Penekanan itu menunjukkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca atau menghafal, tetapi juga dengan sikap yang tepat serta niat yang suci. Pembacaan Kalamun Qodim sebelum kegiatan belajar dapat dipahami dalam kerangka penghormatan tersebut: mempersiapkan diri secara batin, memperbarui niat, dan memulai interaksi dengan Al-Qur’an melalui doa serta pujian.

Syair Kalamun Qodim dikenal sebagai salah satu nazam yang memiliki tempat khusus dalam tradisi pendidikan pesantren. Syair ini dinisbatkan kepada Sayyid Nuruddin Ali bin Muhammad bin Ali bin Abdirrohman bin Iroq al-Kinani, yang lebih dikenal sebagai Ibn Iroq al-Dimasyqi. Ia merupakan ulama yang memiliki perhatian kuat terhadap dimensi tasawuf, keilmuan, dan pembentukan akhlak. Melalui karya-karya sastranya, Ibn Iroq al-Dimasyqi menyampaikan pesan yang bersifat motivasional sekaligus spiritual. Susunan baitnya tidak hanya mengandung keindahan bahasa, tetapi juga mendorong pembaca untuk memperkuat kecintaan kepada ilmu, membangun ketekunan, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam lingkungan pesantren, Kalamun Qodim tidak semata-mata dipandang sebagai karya sastra keagamaan. Syair tersebut berfungsi sebagai pengantar suasana belajar, terutama dalam pendidikan tahfiz Al-Qur’an. Pembacaan nazam secara bersama-sama membantu santri menyiapkan perhatian sebelum memasuki kegiatan utama. Irama dan pengulangan bait memudahkan santri mengingat pesan yang terkandung di dalamnya, sedangkan makna spiritualnya dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan proses ibadah yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan adab.

Peran syair pembuka ini juga tampak dalam penelitian mengenai pembinaan santri di Pesantren Tahfiz Bani Yusuf Kota Malang. Penelitian tersebut menempatkan pembacaan syair sebagai bagian dari strategi untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Kegiatan ini melengkapi metode pengajaran formal dengan pendekatan emosional dan kebiasaan kolektif. Santri tidak hanya diarahkan untuk mencapai target hafalan, tetapi juga dibina agar memiliki hubungan batin yang lebih kuat dengan kitab suci serta lingkungan belajar yang mendukung.

Praktik serupa dapat ditemukan di Madrasah Diniyah Baitut Taaibin. Di lembaga ini, nazam Kalamun Qodim dibaca secara rutin sebelum pembelajaran dimulai dengan pendampingan ustaz dan ustazah. Pendampingan tersebut membantu menjelaskan pelafalan, menjaga ketertiban, dan menghubungkan isi syair dengan sikap santri dalam menuntut ilmu. Karena dilakukan secara berulang, pembacaan nazam menjadi bagian dari rutinitas pendidikan sekaligus sarana menanamkan motivasi, kecintaan terhadap Al-Qur’an, dan nilai-nilai spiritual sejak awal kegiatan.

Pembacaan Kalamun Qodim sebelum menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu praktik yang lazim dijumpai dalam tradisi pesantren. Doa ini dibaca sebagai pembuka sebelum kegiatan hafalan dimulai, sehingga proses belajar diawali dengan kesadaran spiritual dan sikap berserah diri kepada Allah. Melalui pembacaan tersebut, para santri memohon kemudahan untuk memahami kandungan ayat, mengingat bacaan dengan baik, serta menjaga hafalan agar tetap melekat. Doa ini juga menjadi pengingat bahwa kemampuan menghafal bukan semata-mata hasil usaha, melainkan karunia yang perlu disertai ketekunan dan pertolongan Ilahi.

Selain memohon kelancaran, membaca Kalamun Qodim sebelum hafalan dapat menjadi sarana untuk meluruskan niat. Kegiatan menghafal diarahkan bukan hanya untuk mencapai target tertentu, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui Al-Qur’an. Dengan niat yang lebih tertata, seseorang diharapkan dapat menjalani proses hafalan secara lebih tenang, sabar, dan sungguh-sungguh. Karena itu, doa tersebut memiliki fungsi batin yang mendukung kesiapan seseorang sebelum berhadapan dengan ayat-ayat yang hendak dipelajari.

Kalamun Qodim juga dibaca sebelum murajaah, yaitu kegiatan mengulang hafalan Al-Qur’an yang telah dipelajari. Pengulangan diperlukan untuk mempertahankan hafalan dan membantu memastikan ayat tetap diingat dengan baik. Dalam konteks ini, pembacaan doa menjadi bagian dari persiapan batin sebelum proses murajaah dilakukan. Doa tersebut mengiringi harapan agar pengulangan hafalan berjalan lancar, pikiran lebih mudah mengingat kembali ayat, dan hafalan yang telah diperoleh dapat terus dijaga. Dengan demikian, pembacaan sebelum hafalan dan sebelum murajaah sama-sama menempatkan Kalamun Qodim sebagai pembuka spiritual dalam aktivitas menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an.

Dalam tradisi pesantren, pembacaan Kalamun Qodim tidak hanya ditempatkan sebagai doa pembuka kegiatan mengaji. Doa ini juga dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan setelah salat fardu, khususnya sebelum santri memulai tilawah Al-Qur’an. Praktik tersebut lain terlihat dalam kegiatan fashohah di Pesantren Tahfiz Bani Yusuf, Kota Malang. Fashohah merupakan kegiatan yang membantu santri menjaga ketepatan bacaan, pelafalan, dan penerapan kaidah membaca Al-Qur’an.

Urutan pelaksanaannya dilakukan secara teratur. Setelah salat Subuh dan setelah salat Isya, para santri terlebih dahulu membaca doa Kalamun Qodim. Setelah itu, bacaan dilanjutkan dengan Surah Al-Fatihah. Sesudah Surah Al-Fatihah selesai, setiap santri membaca satu halaman Al-Qur’an secara tartil dengan memperhatikan kaidah tajwid. Urutan ini menempatkan doa sebagai pengantar batin sebelum tilawah, kemudian Al-Fatihah sebagai pembuka bacaan, dan selanjutnya pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an secara perlahan, tertib, serta sesuai ketentuan pelafalan.

Keterangan mengenai kebiasaan tersebut juga sejalan dengan penjelasan Ahmad Syarifuddin dalam buku Mendidik Anak, Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur’an. Dalam tradisi ulama, Kalamun Qodim disebut turut dibaca setelah kegiatan taklim atau tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan secara bersama-sama. Dengan demikian, doa ini tidak terbatas pada satu waktu tertentu, melainkan mengikuti kebutuhan dan bentuk kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di suatu majelis.

Secara faktual, pembacaan Kalamun Qodim berkembang dalam beragam konteks yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Doa tersebut dapat hadir sebelum membaca, saat menghafal, ketika mengulang hafalan, dalam proses mempelajari bacaan, maupun setelah kegiatan mengaji selesai. Pembacaannya juga dapat berfungsi sebagai bagian dari penutup majelis Al-Qur’an, terutama setelah taklim atau tadarus bersama. Praktik di pesantren menunjukkan bahwa waktu dan susunannya mengikuti tata tertib majelis, dengan tujuan menjaga kesinambungan doa, tilawah, dan pembelajaran.