DENPASAR, BALI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Pemerintah Provinsi Bali berharap penyelenggaraan Bali–Timor Leste Business Forum di Denpasar menjadi momentum untuk memperkuat hubungan baik sekaligus memperluas kerja sama strategis Bali dan Timor Leste. Forum tersebut dipandang sebagai ruang penting untuk menjaga kedekatan yang telah terjalin serta mendorong hubungan antarkedua pihak agar berkembang secara berkelanjutan. Harapan itu disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster dalam pertemuan yang mempertemukan kepentingan Bali dan Timor Leste.
Wayan Koster menyampaikan harapan agar Bali dan Timor Leste dapat maju bersama, saling mendukung, serta memperkuat hubungan yang selama ini telah terbina. Menurutnya, hubungan yang baik perlu terus dirawat melalui komunikasi dan kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua pihak. Dengan semangat tersebut, pertemuan di Denpasar diharapkan tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi penguatan kemitraan strategis Bali dan Timor Leste.
Koster juga menggambarkan suasana pertemuan berlangsung hangat. Ia menilai hubungan Indonesia dan Timor Leste berjalan sangat baik karena ditopang oleh kedekatan geografis dan historis. Kedua faktor tersebut menjadi landasan penting dalam membangun rasa saling memahami serta menjaga hubungan yang positif. Kedekatan geografis membuat interaksi antarkedua pihak lebih mudah dilakukan, sementara hubungan historis memberikan ikatan yang memperkuat kepercayaan. Dalam suasana yang hangat itu, Bali dan Timor Leste dapat terus memelihara hubungan baik serta saling mendukung untuk bergerak maju bersama.
Gubernur Bali Wayan Koster mendorong Bali dan Timor Leste untuk memperluas kerja sama pada sejumlah sektor potensial yang dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, hubungan kedua wilayah tidak hanya perlu dikembangkan melalui forum bisnis, tetapi juga diwujudkan dalam kolaborasi yang saling menguntungkan, terutama pada sektor pariwisata, pertanian, peternakan, dan perdagangan. Potensi tersebut dapat menjadi dasar bagi peningkatan investasi, pertukaran pengetahuan, serta pembukaan akses pasar bagi pelaku usaha di Bali dan Timor Leste.
Di bidang pertanian, Koster menyebut berbagai komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui kerja sama antardaerah dan antarnegara. Komoditas itu meliputi salak, jeruk, manggis, mangga, dan beras. Penguatan kerja sama dapat mencakup pengembangan produksi, pengolahan pascapanen, distribusi, hingga promosi produk agar memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi. Sektor peternakan juga dinilai menjanjikan, khususnya untuk komoditas ayam dan babi. Pertukaran pengalaman mengenai budidaya, pengelolaan usaha, kesehatan hewan, serta rantai pasok dapat mendukung ketersediaan pangan dan memperluas peluang perdagangan.
Dalam pengembangan peternakan, Bali tetap menjaga kemurnian sapi Bali dengan melarang masuknya ternak dari luar. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan karakteristik dan kualitas sumber daya genetik sapi Bali. Pada sektor pariwisata, peluang kerja sama terlihat dari tingginya arus kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata. Hingga 30 September 2026, tercatat 4,6 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Bali, dan sekitar 30 ribu di antaranya berasal dari Timor Leste. Data itu menunjukkan adanya pasar potensial yang dapat diperkuat melalui promosi bersama, pengembangan paket perjalanan, serta peningkatan konektivitas. Dengan pendekatan tersebut, kerja sama pariwisata dan perdagangan diharapkan memberi manfaat lebih luas bagi pelaku usaha, masyarakat, dan perekonomian kedua wilayah.
Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Republik Demokratik Timor Leste, Marcos da Cruz, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bali atas sambutan serta dukungan yang diberikan selama pelaksanaan forum bisnis Bali–Timor Leste. Menurutnya, penerimaan tersebut mencerminkan keterbukaan dan komitmen untuk memperkuat hubungan kedua pihak, khususnya dalam membahas peluang pengembangan sektor-sektor strategis.
Dalam forum tersebut, pembahasan kerja sama diarahkan pada tiga pilar utama, yakni blue economy, green economy, dan gold economy. Ketiga pilar itu dipandang memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas hubungan Bali dan Timor Leste. Bagi Timor Leste, forum ini juga menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai pengelolaan berbagai sumber daya dan potensi ekonomi yang dimiliki.
Marcos menjelaskan bahwa Timor Leste mempunyai lahan pertanian yang subur dan luas. Wilayah tersebut menghasilkan beragam komoditas yang dapat menjadi bagian penting dari penguatan sektor pertanian dan perekonomian nasional. Potensi itu menjadi salah satu alasan Timor Leste memberikan perhatian pada pilar green economy, yang mencakup pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan serta pemanfaatan potensi alam dengan tetap memperhatikan keberlanjutan.
Namun, pengembangan sektor tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait kualitas sumber daya manusia. Keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dinilai perlu menjadi perhatian agar potensi lahan dan komoditas pertanian dapat dikelola secara lebih optimal. Karena itu, Timor Leste ingin mempelajari cara Bali mengelola sektor pertanian dan potensi ekonomi hijaunya. Ketertarikan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Bali dipandang relevan sebagai rujukan dalam memahami pengelolaan potensi pertanian secara lebih baik, tanpa mengabaikan kondisi dan kebutuhan Timor Leste.
Pilar blue economy menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan kerja sama Bali dan Timor Leste. Sektor kelautan dinilai memiliki ruang pengembangan yang besar, terutama karena Timor Leste menyimpan potensi stok ikan sekitar 700 ribu ton per tahun. Potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung perekonomian nasional. Pengelolaan yang lebih terarah dapat membuka peluang peningkatan nilai tambah, memperkuat kegiatan usaha masyarakat pesisir, serta mendorong pengembangan sektor perikanan secara berkelanjutan.
Pemanfaatan sumber daya perikanan tidak hanya berkaitan dengan penangkapan ikan, tetapi juga mencakup pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan pemasaran. Pengalaman Bali dalam mengembangkan kegiatan ekonomi yang terhubung dengan pariwisata dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Timor Leste. Dengan memperhatikan kelestarian ekosistem laut dan kebutuhan masyarakat setempat, potensi tersebut dapat diarahkan untuk mendukung ketahanan ekonomi sekaligus menciptakan kesempatan usaha yang lebih luas.
Selain blue economy, forum tersebut turut menyoroti pilar gold economy. Dalam konteks ini, pemerintah Timor Leste mengajak sejumlah pengusaha untuk berdiskusi dan melihat secara langsung pengembangan bisnis di Bali. Kunjungan serta pertukaran pengalaman itu diharapkan memberikan gambaran mengenai model usaha, pengelolaan layanan, dan pengembangan kegiatan ekonomi yang dapat dipertimbangkan penerapannya di Timor Leste.
Marcos menyampaikan bahwa berbagai praktik baik yang ditemukan di Bali diharapkan dapat diterapkan di Timor Leste. Penerapannya tentu perlu disesuaikan dengan peluang, kebutuhan, serta potensi yang dimiliki setiap daerah. Pendekatan tersebut memungkinkan pengalaman Bali menjadi referensi yang relevan tanpa mengabaikan karakteristik Timor Leste, termasuk kondisi sumber daya, kapasitas pelaku usaha, dan lingkungan bisnis setempat.

