MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, memeriksa kesiapan operasional dapur Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Sulawesi Selatan di Kota Makassar, Minggu, 4 Oktober 2026. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan dapur siap mendukung penyediaan makanan bergizi bagi para siswa.
Dalam agenda itu, Gus Ipul didampingi Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. Keduanya meninjau kondisi fasilitas dapur serta berbagai bagian yang berkaitan dengan pelaksanaan operasionalnya. Pemeriksaan diarahkan pada kesiapan sarana yang akan digunakan untuk mendukung penyediaan makanan bagi siswa SRT 3.
Selain melihat fasilitas, peninjauan juga mencakup alur kerja dapur. Rangkaian kerja tersebut menjadi perhatian untuk memastikan setiap tahapan operasional dapat disiapkan dengan baik. Pemeriksaan dilakukan secara langsung di lokasi sebagai bagian dari upaya mengecek kesiapan dapur sebelum mendukung layanan makanan bergizi bagi para siswa.
Kesiapan dapur menjadi fokus utama dalam agenda tersebut. Fasilitas dan alur kerja diperiksa secara menyeluruh sesuai kebutuhan operasional yang telah disiapkan. Dengan pemeriksaan ini, kondisi dapur SRT 3 Sulawesi Selatan di Makassar dapat dilihat secara langsung, termasuk kesiapan tempat dan pengaturan kerja yang mendukung penyediaan makanan bergizi.
Peninjauan oleh Menteri Sosial bersama Wali Kota Makassar menegaskan perhatian terhadap kesiapan operasional dapur SRT 3. Agenda pada Minggu tersebut berlangsung dengan fokus pada fasilitas dan mekanisme kerja dapur, sehingga dukungan makanan bergizi untuk siswa dapat dipersiapkan melalui sarana yang tersedia.
Pengecekan kesiapan dapur SRT 3 Sulawesi Selatan dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas pendukung penyediaan makanan bergizi bagi siswa dapat berfungsi sesuai standar. Dalam kunjungan tersebut, Gus Ipul didampingi konsultan dapur, Syahrudin Hamun atau yang akrab disapa Udhi. Keduanya meninjau sejumlah bagian penting yang menjadi penunjang alur kerja dapur, mulai dari penerimaan hingga pencucian peralatan makan.
Area pertama yang diperiksa adalah tempat penyiapan bahan makanan. Pemeriksaan kemudian dilanjutkan ke ruang racik, yakni lokasi untuk menimbang, mengolah, dan menyiapkan bahan sebelum dimasak. Gus Ipul dan Udhi juga melihat area memasak untuk memastikan penataan peralatan serta sistem pendukungnya telah disiapkan dengan baik. Setiap bagian ditinjau agar proses kerja dapat berlangsung teratur, higienis, dan efisien ketika dapur mulai beroperasi.
Selain itu, rombongan mengecek cold storage yang akan digunakan untuk menyimpan bahan pangan dengan kebutuhan suhu tertentu. Area pemorsian turut diperiksa karena berperan dalam pembagian makanan kepada siswa sesuai jumlah dan ketentuan yang ditetapkan. Pemeriksaan juga mencakup tempat pencucian peralatan makan, termasuk kesiapan ruang dan fasilitasnya untuk menjaga kebersihan perlengkapan setelah digunakan.
Dari hasil pengecekan, instalasi kompor, jaringan gas, serta sejumlah peralatan pendukung masih berada dalam proses penyelesaian. Gus Ipul meminta seluruh instalasi tersebut segera dirampungkan agar dapur dapat memenuhi target kesiapan operasional. Udhi menyanggupi permintaan itu dan memastikan penyelesaian akan dikebut. Gus Ipul menyampaikan pada Senin, 5 Oktober 2026, bahwa seluruh pekerjaan ditargetkan selesai pada 6 Oktober 2026. Target tersebut diharapkan menjadi acuan bagi tim untuk mempercepat penyelesaian tanpa mengabaikan aspek keselamatan, kebersihan, dan kelayakan fasilitas.
Dapur SRT 3 Sulsel disiapkan untuk mendukung seluruh rangkaian penyediaan makanan bergizi bagi siswa Sekolah Rakyat. Kesiapan fasilitas tidak hanya berkaitan dengan kegiatan memasak, tetapi juga dengan keteraturan alur kerja sejak bahan baku diterima hingga makanan disajikan. Setiap fungsi dirancang agar proses berlangsung secara berurutan, efisien, dan mudah dikendalikan oleh tenaga yang bertugas.
Tahap awal dilakukan melalui area penyimpanan bahan baku. Fasilitas ini berperan menjaga bahan tetap tertata sebelum digunakan dalam proses produksi. Setelah itu, bahan dipindahkan ke bagian penyiapan dan pencacahan. Pada tahap tersebut, bahan dibersihkan, dipersiapkan, serta dipotong sesuai kebutuhan menu. Penempatan fungsi secara berurutan membantu memisahkan kegiatan penyimpanan dari pengolahan, sekaligus mendukung kelancaran perpindahan bahan di dalam dapur.
Berikutnya, bahan yang telah disiapkan masuk ke tahap peracikan dan pengolahan. Peracikan dilakukan untuk menggabungkan bahan serta bumbu sesuai kebutuhan, sedangkan pengolahan mencakup proses memasak hingga makanan siap dikonsumsi. Dengan adanya ruang dan fungsi yang mendukung tahapan tersebut, kegiatan produksi dapat berjalan lebih terstruktur. Setelah makanan selesai diolah, proses dilanjutkan dengan pemorsian agar setiap sajian dapat dibagikan secara tertib kepada penerima manfaat.
Tahap terakhir adalah penyajian. Makanan yang telah diporsikan kemudian disiapkan untuk diberikan kepada siswa Sekolah Rakyat sebagai bagian dari dukungan terhadap pemenuhan makanan bergizi. Seluruh alur itu nantinya melibatkan sekitar 18 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana). Mereka akan mendukung pelaksanaan pekerjaan sesuai fungsi dapur, mulai dari penanganan bahan, persiapan, pengolahan, hingga pemorsian dan penyajian. Keterpaduan fasilitas dapur dan tenaga pelaksana menjadi unsur penting agar penyediaan makanan berlangsung konsisten, tertata, dan memenuhi kebutuhan siswa.
Gus Ipul mendorong agar lingkungan Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga dimanfaatkan untuk kegiatan produktif yang mendukung kemandirian pangan. Menurutnya, area sekolah memiliki potensi yang dapat dikembangkan sesuai kondisi setempat, sehingga mampu membantu memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi siswa dan warga sekolah. Pemanfaatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan produktif, gotong royong, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Salah satu contoh yang dapat diterapkan ialah budidaya ikan lele. Kegiatan ini relatif mudah dikembangkan, tidak membutuhkan lahan yang sangat luas, dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk mendukung penyediaan menu makanan bergizi. Kolam lele dapat ditempatkan di area yang sesuai, sementara proses pemeliharaannya melibatkan pengelola sekolah dan pihak terkait. Selain menghasilkan bahan pangan, budidaya tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran praktis bagi siswa mengenai perawatan, tanggung jawab, dan ketahanan pangan.
Gus Ipul menegaskan bahwa pasokan bahan baku harus diupayakan tersedia sendiri. Karena itu, pemanfaatan lingkungan sekolah diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan dari area sekolah, meskipun tidak seluruh kebutuhan dapat dipenuhi secara mandiri. Pendekatan ini dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan luar sekaligus memastikan bahan yang digunakan lebih mudah dipantau. Perencanaan tetap perlu memperhatikan ketersediaan air, kebersihan, keamanan pangan, kapasitas pengelolaan, serta kesinambungan produksi agar kegiatan benar-benar memberi manfaat bagi dapur Sekolah Rakyat.
Kegiatan tersebut turut didukung oleh Staf Khusus Menteri Sosial Malik Haramain, Tenaga Ahli Menteri Sosial Andy Kurniawan, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Supomo, Kepala BBPPKS Makassar Wiwit Widiansyah, Kepala Sentra Wirajaya Makassar Syamsudin, Kepala Sentra Pangurangi Takalar Nur Alam, Kepala Sentra Gau Mabaji Gowa Hasatama Hikmah, serta Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Abd. Malik Faisal.







