JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kecukupan asupan serat menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan anak. Serat membantu mendukung proses pencernaan agar berjalan dengan baik, sehingga kebutuhan zat gizi anak dapat terpenuhi secara optimal. Karena itu, pemenuhan serat perlu menjadi bagian dari pola pemberian makanan bergizi, bukan sekadar pelengkap dalam menu harian.
dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., menyampaikan bahwa pemberian zat-zat bergizi, termasuk serat dalam jumlah cukup, terbukti secara klinis dan melalui penelitian di Indonesia dapat membantu sistem pencernaan bekerja dengan baik. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa asupan serat yang memadai memiliki dasar ilmiah dalam mendukung fungsi pencernaan anak. Dengan dukungan nutrisi yang tepat, sistem pencernaan dapat menjalankan perannya secara lebih baik dalam mengolah makanan dan menyerap zat gizi.
Keterangan itu disampaikan di Jakarta pada Kamis dalam diskusi bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal”. Dalam diskusi tersebut, kecukupan serat ditempatkan sebagai bagian dari pemenuhan zat-zat bergizi yang dibutuhkan anak. Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya memastikan asupan serat dalam jumlah cukup agar sistem pencernaan anak tetap bekerja dengan baik. Pemenuhan kebutuhan ini menjadi perhatian penting dalam mendukung kesehatan pencernaan anak melalui pemberian makanan yang mengandung zat gizi secara memadai.
Saluran pencernaan anak dihuni oleh triliunan bakteri baik yang secara alami membentuk ekosistem penting bagi kesehatan tubuh. Kumpulan mikroorganisme ini membantu menjalankan berbagai proses pencernaan dan mendukung pemanfaatan zat gizi dari makanan. Keberadaan serta aktivitasnya dipengaruhi oleh makanan yang masuk ke dalam saluran cerna, termasuk serat yang menjadi bagian penting dari pola makan sehari-hari.
Serat tidak hanya berperan dalam membantu keteraturan proses pencernaan. Komponen pangan ini juga dapat menjadi sumber bagi bakteri baik di usus untuk menjalankan perannya. Ketika serat mencapai bagian saluran cerna yang sesuai, bakteri tersebut memanfaatkannya melalui proses fermentasi. Karena itu, kecukupan serat berkaitan dengan terpeliharanya lingkungan saluran cerna dan fungsi mikrobiota yang mendukung kesehatan pencernaan anak.
Sumber serat dapat ditemukan dalam beragam kelompok pangan. Sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber yang umum dikenal, sementara kacang-kacangan serta biji-bijian juga menyumbang serat bagi tubuh. Keragaman sumber tersebut dapat membantu menyediakan komponen pangan yang diperlukan oleh bakteri baik. Setiap kelompok pangan memiliki karakteristik dan kandungan yang berbeda, sehingga pengenalan terhadap beragam makanan berserat menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan pencernaan.
Pemenuhan kebutuhan serat dapat menjadi tantangan, terutama pada anak berusia di bawah lima tahun. Pada tahap ini, sebagian anak kadang sulit menerima atau mengonsumsi sayur dan buah. Kondisi tersebut membuat orang tua perlu mencari cara dan bersiasat agar serat tetap terpenuhi dari sumber pangan yang tersedia. Perhatian terhadap pilihan makanan sehari-hari penting dilakukan tanpa mengabaikan penerimaan anak, karena kebiasaan makan dan respons terhadap makanan dapat berkembang secara bertahap. Dengan demikian, pemahaman mengenai hubungan serat, bakteri baik, dan pencernaan dapat membantu orang tua mendukung kesehatan saluran cerna anak secara lebih menyeluruh.
Menurut dr. Ray, pangan yang diperkaya serat dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan serat anak, terutama ketika asupan dari menu harian belum mencukupi. Produk semacam ini umumnya mengandung jenis serat tertentu, termasuk inulin, fruktooligosakarida (FOS), dan galakto-oligosakarida (GOS). Ketiganya merupakan serat yang tidak sepenuhnya dicerna di saluran pencernaan bagian atas, sehingga dapat mencapai usus dan dimanfaatkan oleh mikroorganisme tertentu.
Dr. Ray menjelaskan bahwa inulin, FOS, dan GOS secara klinis telah dikaitkan dengan dukungan terhadap kolonisasi bakteri yang baik di saluran pencernaan. Selain itu, ketiga jenis serat tersebut disebut dapat meningkatkan produksi short-chain fatty acid (SCFA), atau zat asam rantai pendek, melalui proses fermentasi oleh bakteri usus. Senyawa ini berperan dalam lingkungan usus dan menjadi salah satu indikator aktivitas mikrobiota yang mendukung fungsi pencernaan.
Dalam penjelasan tersebut, peningkatan bakteri baik dan produksi SCFA dihubungkan dengan beberapa manfaat pada konsistensi serta kenyamanan buang air besar anak. Serat tambahan dapat membantu menjaga agar feses tidak terlalu lunak, sekaligus berpotensi membantu mencegah kolik dan mengurangi konstipasi. Dengan demikian, pemilihan pangan berserat dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan pencernaan, bersama pola makan seimbang dan asupan cairan yang memadai.
Namun, respons setiap anak terhadap serat dapat berbeda, bergantung pada usia, kondisi kesehatan, jumlah konsumsi, serta komposisi makanan secara keseluruhan. Klaim manfaat tersebut tidak berarti semua anak pasti mengalami hasil yang sama setelah mengonsumsi produk dengan inulin, FOS, atau GOS. Pengenalan sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan, dengan memperhatikan perubahan pada feses, kembung, atau keluhan pencernaan lainnya. Bila konstipasi atau kolik berlanjut, orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memperoleh saran yang sesuai.
Menurut dr. Ray, masalah pencernaan dapat memengaruhi kenyamanan dan perilaku anak sehari-hari. Ketika anak mengalami kembung, nyeri perut, sulit buang air besar, atau keluhan lain yang berulang, ia dapat menjadi lebih mudah marah, cemas, dan mengalami tantrum. Rasa tidak nyaman yang belum mampu dijelaskan dengan baik sering kali ditunjukkan melalui perubahan suasana hati, penolakan, atau ledakan emosi. Karena itu, perubahan perilaku tersebut perlu dilihat bersama kondisi fisik anak, termasuk pola makan dan kesehatan saluran pencernaannya.
Dr. Ray menjelaskan bahwa saluran pencernaan dan otak memiliki keterkaitan melalui komunikasi dua arah. Kondisi pencernaan dapat mengirimkan sinyal ke otak, sementara keadaan emosional juga dapat memengaruhi fungsi pencernaan. Sinyal yang baik dari saluran pencernaan, yang didukung oleh kondisi tubuh yang nyaman, berpotensi membantu anak mengelola respons emosinya secara lebih baik. Hubungan ini tidak berarti setiap perubahan emosi disebabkan oleh gangguan pencernaan, tetapi menunjukkan bahwa kesehatan pencernaan merupakan salah satu aspek yang patut diperhatikan dalam keseharian anak.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian berjudul “Breaking the Cycle: Psychological and Social Dimensions of Pediatric Functional Gastrointestinal Disorders” yang diterbitkan dalam World Journal of Clinical Pediatrics pada 2025. Penelitian itu melaporkan bahwa sekitar 58 persen anak dengan gangguan fungsi pencernaan menunjukkan tanda-tanda disregulasi emosi. Data ini memperlihatkan adanya hubungan yang perlu dipahami secara menyeluruh keluhan pencernaan, kondisi psikologis, dan lingkungan sosial anak. Perhatian terhadap kesehatan saluran pencernaan, pola makan, kenyamanan fisik, serta perubahan perilaku menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.




