Aplikasi Iblis Hadir di Bioskop Indonesia, Angkat Kisah Cinta Remaja dan Tanggung Jawab

Aplikasi Iblis Hadir di Bioskop Indonesia, Angkat Kisah Cinta Remaja dan Tanggung Jawab

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Film horor Aplikasi Iblis dijadwalkan hadir di seluruh bioskop Indonesia pada bulan ini. Kehadiran film tersebut menjadi kabar penting bagi penikmat horor sekaligus penonton yang tertarik pada cerita remaja dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui penayangannya secara nasional, karya ini diharapkan dapat menjangkau penonton dari berbagai daerah.

Aplikasi Iblis merupakan film horor perdana yang diproduksi oleh Nih Pictures. Film ini disutradarai oleh Dimas Anggara, yang menghadirkan kisah dengan latar persoalan percintaan remaja. Tema tersebut dipilih karena berkaitan dengan fenomena hubungan anak muda saat ini, sehingga cerita yang diangkat memiliki konteks yang relevan dengan pengalaman serta perbincangan generasi muda.

Jajaran pemeran yang terlibat terdiri atas Junior Robert, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, dan Aulia Deas. Kehadiran para pemain tersebut menjadi bagian dari daya tarik film yang memadukan unsur horor dengan dinamika hubungan remaja. Film ini tidak hanya membawa penonton pada suasana menegangkan, tetapi juga menempatkan persoalan perasaan dan tanggung jawab sebagai bagian dari gagasan ceritanya.

Dengan mengangkat isu percintaan anak muda, Aplikasi Iblis menawarkan pendekatan yang menghubungkan genre horor dengan realitas sosial yang dikenal oleh penonton masa kini. Persoalan hubungan remaja menjadi pijakan utama dalam memperkenalkan film ini, tanpa terlepas dari identitasnya sebagai karya horor. Penonton dapat menyaksikan film perdana Nih Pictures tersebut di bioskop-bioskop Indonesia sepanjang jadwal penayangannya pada bulan ini.

Senior produser Delly Malik menjelaskan bahwa Aplikasi Iblis tidak hanya menghadirkan kisah horor, tetapi juga mengangkat pengalaman emosional yang dekat dengan kehidupan remaja. Film ini menyoroti fase puber, ketika seseorang mulai mengenal ketertarikan dan rasa cinta dengan intensitas yang belum selalu diimbangi kematangan dalam mengelola emosi. Dalam kondisi tersebut, rasa suka dapat berkembang menjadi kecenderungan mencintai secara berlebihan.

Delly menyebut fenomena itu sebagai perilaku “bucin” atau “bulol”, istilah yang menggambarkan seseorang yang terlalu terpaku pada orang yang dicintainya. Perhatian, waktu, dan pikirannya terserap hampir sepenuhnya oleh hubungan tersebut. Melalui karakter dan konflik dalam film, penonton diajak melihat bahwa perasaan cinta tetap perlu disertai kesadaran, batasan, serta tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.

Pesan tersebut disampaikan Delly agar anak muda tidak kehilangan kendali karena cinta. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya mencintai orang lain secara berlebihan, apalagi sampai memiliki keinginan untuk terus-menerus berkomunikasi dengan arwah. Keinginan itu menjadi bagian dari konflik film sekaligus gambaran tentang bagaimana rasa kehilangan dan keterikatan yang terlalu kuat dapat mendorong seseorang mengambil keputusan di luar batas kewajaran.

Film Aplikasi Iblis menempatkan keikhlasan sebagai salah satu tema penting dalam perjalanan para tokohnya. Delly Malik menekankan bahwa bersikap ikhlas bukan perkara yang mudah, meskipun kata tersebut sering disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Keikhlasan menuntut penerimaan dan ketulusan ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Melalui cerita ini, penonton diingatkan untuk melihat kembali makna ikhlas, bukan sekadar mengucapkannya, melainkan berusaha menerapkannya dalam tindakan.

Pesan tersebut berjalan beriringan dengan gagasan tentang tanggung jawab. Setiap perbuatan memiliki hal yang harus dipertanggungjawabkan, sehingga pilihan yang dibuat seseorang tidak berdiri sendiri. Dalam konteks cerita, tindakan para tokoh membawa konsekuensi yang perlu mereka hadapi. Penekanan ini disampaikan sebagai bagian dari gagasan film mengenai hubungan perbuatan, sikap, dan akibat yang muncul setelahnya. Film tidak hanya menghadirkan ketegangan, tetapi juga membawa perhatian penonton pada beban yang mengikuti setiap keputusan.

Bagi Dimas Anggara, Aplikasi Iblis menjadi pengalaman pertamanya menggarap film horor. Tantangan utama muncul ketika ia harus memadukan unsur horor dan action dalam satu rangkaian cerita. Kedua unsur tersebut membutuhkan pengolahan yang berbeda, baik dalam membangun teror maupun menata adegan dengan intensitas gerak yang lebih tinggi. Karena itu, proses penyutradaraan menuntut perhatian terhadap keseimbangan agar unsur horor dan action tetap menjadi bagian dari alur yang sama.

Dimas memandang teror dalam film sebagai akibat dari perbuatan tokoh Arya. Pandangan tersebut menjadi dasar dalam membentuk ketegangan yang dialami karakter, tanpa memisahkannya dari tindakan yang telah dilakukan. Ia juga meyakini bahwa iblis tidak memiliki bentuk yang diketahui secara pasti. Pemahaman itu memberi ruang bagi film untuk menghadirkan teror melalui pengalaman dan situasi yang dialami tokoh, bukan hanya melalui penampakan makhluk dalam wujud tertentu.

Persiapan sebelum menjalani proses produksi menjadi bagian penting bagi para pemain Aplikasi Iblis. Setiap pemeran perlu memahami tuntutan perannya, termasuk ketika cerita menghadirkan adegan action dan tokoh dengan karakter yang tidak biasa. Bagi Junior Robert, yang memerankan Arya, persiapan tersebut membuat proses syuting tidak terasa terlalu sulit. Ia memiliki waktu untuk mempersiapkan diri sebelum kamera mulai digunakan.

Junior menjelaskan bahwa persiapannya mencakup keikutsertaan dalam workshop. Kegiatan itu membantunya mengenali kebutuhan karakter sekaligus memahami alur kerja produksi secara lebih menyeluruh. Selain workshop, ia juga menjalani latihan koreografi untuk mendukung adegan action. Latihan tersebut diperlukan agar setiap gerakan dapat dilakukan dengan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan adegan.

Menurut Junior, jumlah adegan action dalam film ini cukup banyak. Karena itu, menjaga kondisi tubuh selama produksi menjadi perhatian tersendiri. Ia menyebut kopi hitam sebagai salah satu cara yang digunakan untuk membantu mempertahankan stamina. Kebiasaan tersebut mendukungnya ketika harus menghadapi rangkaian pengambilan gambar yang membutuhkan energi dan konsentrasi. Dengan persiapan yang dilakukan lebih awal, ia dapat menjalankan peran Arya dengan kesiapan yang lebih baik.

Pengalaman berbeda disampaikan Dosma Hazenbosch, pemeran tokoh hantu dalam film tersebut. Untuk mempersiapkan perannya, Dosma sempat berlatih menggunakan suara. Latihan ini menjadi bagian dari proses persiapan sebelum ia menjalani kebutuhan akting untuk karakter yang dipercayakan kepadanya.

Keterangan mengenai persiapan Dosma berhenti pada informasi tentang latihan suara tersebut. Tidak terdapat rincian lebih lanjut mengenai bentuk latihan, karakter tokoh hantu, maupun pengalaman Dosma selama menjalani proses syuting. Dengan demikian, persiapan para pemain menunjukkan adanya pendekatan yang disesuaikan dengan tuntutan peran masing-masing: Junior berfokus pada workshop, koreografi, dan stamina untuk adegan action, sementara Dosma menyiapkan penggunaan suara bagi perannya.