JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Poltekkes Kemenkes Jakarta I menyelenggarakan kegiatan pembelajaran melalui kerja sama dengan PT Asatif dan Ossur. Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam bentuk kuliah umum yang membahas pemasangan kaki palsu berbasis teknologi baru. Agenda ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal perkembangan teknologi prostetik serta memahami penerapannya dalam mendukung kebutuhan pengguna kaki palsu.
Pelaksanaan kuliah umum menunjukkan adanya upaya untuk memperluas pembelajaran mahasiswa melalui keterlibatan mitra yang memiliki keterkaitan dengan bidang teknologi kaki palsu. Melalui kegiatan ini, pembahasan tidak hanya berfokus pada pemahaman dasar mengenai perangkat prostetik, tetapi juga mengarahkan perhatian pada proses pemasangan yang memanfaatkan pendekatan dan teknologi terkini. Materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memperkenalkan hubungan pengetahuan kesehatan, kebutuhan pengguna, dan inovasi dalam pengembangan kaki palsu.
Kerja sama Poltekkes Kemenkes Jakarta I, PT Asatif, dan Ossur juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam mendukung pendidikan vokasi kesehatan. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mendalami pemasangan kaki palsu secara lebih terarah melalui materi yang relevan dengan perkembangan teknologi. Penyelenggaraan kuliah umum ini menjadi bagian dari proses pengayaan wawasan akademik, terutama bagi mahasiswa yang perlu memahami cara teknologi baru diterapkan untuk menghasilkan layanan prostetik yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Kegiatan ini berfokus pada tema “Direct Socket Transtibial Prosthesis: From Assessment to Definitive Socket”, yang membahas alur pemahaman prostesis transtibial secara menyeluruh. Prostesis transtibial berkaitan dengan prostesis untuk pengguna yang mengalami kehilangan anggota gerak pada bagian bawah tungkai, sehingga perhatian utama diarahkan pada hubungan penilaian kondisi pengguna dan pembentukan soket yang bersifat definitif. Tema tersebut menempatkan proses pembelajaran dalam suatu rangkaian yang dimulai dari assessment atau penilaian, kemudian mengarah pada definitive socket atau soket definitif.
Assessment merupakan tahap awal yang penting dalam memahami kebutuhan dan kondisi yang berkaitan dengan prostesis transtibial. Dalam konteks tema ini, penilaian menjadi dasar untuk melihat bagaimana proses menuju soket definitif dipahami secara terstruktur. Pembahasan tidak hanya menempatkan prostesis sebagai hasil akhir, tetapi juga menekankan pentingnya tahapan awal sebelum soket definitif dibahas. Dengan demikian, peserta dapat melihat keterkaitan proses penilaian dan tujuan akhir dalam penyusunan prostesis transtibial.
Istilah direct socket transtibial prosthesis menunjukkan fokus khusus pada soket prostesis transtibial yang dibahas melalui rangkaian dari assessment hingga definitive socket. Struktur topik ini menegaskan adanya kesinambungan tahap awal dan tahap akhir. Assessment menjadi bagian pembuka untuk memahami konteks kebutuhan prostesis, sedangkan definitive socket menjadi bagian akhir yang menggambarkan soket dalam bentuk definitif. Kedua istilah tersebut dipelajari sebagai unsur yang saling berkaitan, bukan sebagai pembahasan yang berdiri sendiri.
Melalui tema ini, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta I mendalami proses pembahasan prostesis transtibial dengan perhatian pada urutan tahapan yang jelas. Materi diarahkan untuk memperkenalkan perjalanan dari penilaian menuju soket definitif secara hati-hati, sesuai cakupan topik yang tersedia. Fokus tersebut membantu membangun pemahaman bahwa pengembangan prostesis melibatkan proses bertahap, dengan assessment sebagai dasar dan definitive socket sebagai tujuan pembahasan. Dengan kerangka ini, kegiatan menempatkan pemahaman konsep sebagai bagian utama dalam mempelajari pemasangan kaki palsu berbasis teknologi baru.
Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta I terlibat dalam kegiatan praktik yang berkaitan dengan pemasangan kaki palsu. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan situasi praktik di bidang pelayanan kesehatan. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa penyediaan alat bantu bagi penyandang amputasi memerlukan perhatian, ketelitian, dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna.
Praktik pemasangan kaki palsu yang diikuti mahasiswa juga mencerminkan perkembangan teknologi baru dalam layanan rehabilitasi. Kehadiran pendekatan berbasis teknologi memberikan gambaran mengenai perubahan yang berlangsung dalam pengembangan dan pemanfaatan alat bantu. Meskipun rincian mengenai bentuk teknologi dan tahapan pemasangannya tidak dijelaskan, pengalaman ini menunjukkan pentingnya kesiapan calon tenaga kesehatan untuk mengikuti perkembangan pengetahuan serta inovasi yang diterapkan di lingkungan profesional.
Keterlibatan dalam kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai hubungan pembelajaran, keterampilan praktik, dan kebutuhan pemulihan fungsi pengguna. Pengalaman secara langsung membantu menghadirkan pemahaman yang lebih kontekstual dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas. Mahasiswa juga dapat melihat pentingnya sikap profesional, kepedulian, serta perhatian terhadap kualitas layanan ketika berhadapan dengan isu alat bantu dan rehabilitasi.
Melalui praktik pemasangan kaki palsu berbasis teknologi baru, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta I mendapatkan pengalaman yang relevan dengan bidang pendidikan dan layanan kesehatan. Kegiatan ini memperkuat keterkaitan institusi pendidikan dan perkembangan praktik di lapangan, sekaligus menegaskan perlunya pembelajaran yang terus menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk pemahaman mahasiswa terhadap tantangan dan peluang di bidang rehabilitasi.
Poltekkes Kemenkes Jakarta I berkolaborasi dengan PT Asatif dan Ossur dalam penyelenggaraan kuliah umum yang mengangkat tema Direct Socket Transtibial Prosthesis. Kegiatan tersebut menjadi ruang penyampaian materi mengenai salah satu pendekatan dalam pembuatan dan pemasangan prostesis untuk pengguna dengan amputasi pada bagian bawah tungkai. Informasi yang disampaikan dalam kegiatan berfokus pada topik teknologi serta proses yang berkaitan dengan kaki palsu berbasis pendekatan direct socket.
Dalam rangkaian kegiatan itu, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta I juga mengikuti praktik terkait pemasangan kaki palsu. Praktik tersebut menjadi bagian dari agenda pembelajaran yang diselenggarakan bersama para mitra. Materi kuliah umum dan kegiatan praktik berada dalam satu rangkaian dengan tema prostesis transtibial, sehingga pembahasan dan aktivitas yang dilakukan tetap berkaitan dengan pemasangan kaki palsu serta teknologi yang digunakan dalam proses tersebut.
Keterlibatan PT Asatif dan Ossur tercatat sebagai bagian dari kolaborasi dalam kegiatan kuliah umum tersebut, sedangkan Poltekkes Kemenkes Jakarta I menjadi institusi pendidikan yang menyelenggarakannya bersama mitra. Mahasiswa tercatat mengikuti sesi praktik mengenai pemasangan kaki palsu, sementara tema utama yang dibahas adalah Direct Socket Transtibial Prosthesis. Fakta-fakta tersebut menjadi ruang informasi yang dapat disampaikan mengenai kegiatan, tanpa menambahkan penilaian mengenai manfaat, dampak, tanggapan peserta, maupun capaian yang dihasilkan.

