BYD Menembus Lima Besar, Peta Persaingan Merek Mobil Indonesia hingga September 2026

BYD Menembus Lima Besar, Peta Persaingan Merek Mobil Indonesia hingga September 2026

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Persaingan merek mobil di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 menunjukkan perubahan posisi yang menonjol. Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), BYD mencatat pengiriman kendaraan dari pabrik ke diler sebanyak 43.727 unit. Angka tersebut menempatkan BYD di peringkat kelima dalam daftar merek dengan volume wholesales terbesar di pasar nasional.

Dengan capaian itu, BYD membukukan pangsa pasar sebesar 6,4 persen selama periode Januari–September 2026. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa BYD telah berada di dalam kelompok lima besar merek mobil berdasarkan distribusi kendaraan dari pabrik ke diler. Data Gaikindo menjadi dasar pencatatan volume dan pangsa pasar dalam periode sembilan bulan pertama tahun ini.

Di sisi lain, Honda mencatat wholesales sebanyak 29.903 unit dengan pangsa pasar 4,4 persen. Perolehan tersebut menempatkan Honda di peringkat ketujuh secara nasional. Dengan demikian, jumlah pengiriman BYD tercatat lebih tinggi dibandingkan Honda, dengan selisih 13.824 unit. Honda juga berada di bawah Mitsubishi Fuso, yang membukukan 32.111 unit dan menempati posisi di atasnya dalam daftar tersebut.

Susunan peringkat hingga September 2026 menunjukkan BYD berada di posisi kelima, sementara Mitsubishi Fuso berada di atas Honda dengan capaian 32.111 unit. Honda berada di posisi ketujuh dengan volume 29.903 unit. Perbandingan ini menjadi salah satu gambaran utama perkembangan peta persaingan merek mobil di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026, khususnya berdasarkan pengiriman kendaraan dari pabrik ke diler dan pangsa pasar yang dicatat oleh Gaikindo.

Data wholesales sepanjang Januari–September 2026 menunjukkan persaingan merek mobil di Indonesia masih dipimpin oleh Toyota. Istilah wholesales merujuk pada pengiriman kendaraan dari pabrik ke diler, sehingga angka ini menggambarkan distribusi unit sebelum kendaraan sampai kepada konsumen akhir. Toyota mencatat 197.809 unit dengan pangsa pasar 29,1 persen, menempatkannya di peringkat pertama. Posisi kedua ditempati Daihatsu dengan 112.442 unit atau 16,6 persen pangsa pasar.

Suzuki berada di urutan ketiga setelah membukukan 53.224 unit. Mitsubishi Motors menyusul di posisi keempat dengan 48.414 unit. Perubahan penting terlihat pada BYD yang berhasil menembus lima besar. Merek kendaraan listrik tersebut mencatat wholesales sebanyak 43.727 unit dan berada di peringkat kelima. Pencapaian ini menempatkan BYD di atas sejumlah merek mapan dalam daftar distribusi nasional hingga September 2026.

Di posisi keenam, Mitsubishi Fuso mencatat 32.111 unit, sedangkan Honda menempati peringkat ketujuh dengan 29.903 unit. Jaecoo berada di urutan kedelapan setelah membukukan 27.234 unit, dengan pangsa pasar 4 persen. Daftar sepuluh besar kemudian dilengkapi Isuzu di posisi kesembilan dengan 22.975 unit dan Hino di posisi kesepuluh sebanyak 20.233 unit. Urutan tersebut memperlihatkan bahwa pasar nasional tidak hanya diisi merek penumpang konvensional, tetapi juga pemain kendaraan listrik serta merek yang kuat di segmen kendaraan komersial.

Berdasarkan data retail sales hingga September 2026, Toyota masih memimpin pasar kendaraan bermotor Indonesia dengan penjualan sebanyak 194.519 unit. Angka ini menempatkan Toyota pada posisi teratas dalam penjualan langsung dari jaringan diler kepada konsumen. Posisi berikutnya ditempati Daihatsu dengan 109.376 unit, sehingga kedua merek tersebut masih menunjukkan jarak yang cukup besar dibandingkan para pesaingnya.

Suzuki berada di peringkat ketiga dengan capaian 54.179 unit. Di bawahnya, Mitsubishi Motors mencatat penjualan 50.407 unit dan menempati posisi keempat. Selisih kedua merek relatif terbatas, sehingga persaingan di kelompok atas menengah tetap berlangsung ketat. Performa tersebut juga memperlihatkan kuatnya permintaan terhadap kendaraan dari berbagai segmen yang ditawarkan masing-masing merek.

BYD menempati posisi kelima dengan retail sales sebanyak 42.710 unit. Capaian ini membuat BYD tetap berada di depan Honda, yang membukukan 35.885 unit. Susunan tersebut menegaskan posisi BYD sebagai merek dengan penjualan langsung yang lebih tinggi daripada Honda pada periode yang sama. Selain itu, keberadaan BYD di lima besar menunjukkan semakin kuatnya penerimaan merek kendaraan listrik tersebut di pasar Indonesia.

Di bawah Honda, Mitsubishi Fuso mencatat 31.409 unit dan berada di peringkat ketujuh. Jaecoo menyusul dengan 26.886 unit, kemudian Isuzu dengan 22.018 unit. Hino melengkapi daftar sepuluh besar melalui penjualan 19.223 unit. Rangkaian angka ini menunjukkan bahwa peta retail sales tidak hanya dipengaruhi oleh merek mobil penumpang, tetapi juga oleh pemain kendaraan niaga dan merek baru yang mulai memperluas jangkauan pasarnya. Urutan berdasarkan penjualan dari diler kepada konsumen tersebut memberikan gambaran mengenai respons pembeli di tingkat pasar akhir hingga September 2026.

Data hingga September 2026 menunjukkan bahwa BYD telah menempati posisi lima besar dalam peta persaingan merek mobil di Indonesia. Pencapaian tersebut tidak hanya terlihat dari volume wholesales, yaitu penjualan dari produsen kepada jaringan dealer, tetapi juga dari retail sales yang mencerminkan penjualan kepada konsumen melalui dealer. Dalam kedua kategori tersebut, BYD berhasil mencatat posisi di atas Honda.

Posisi itu menjadi bagian penting dari perkembangan persaingan di pasar otomotif nasional. BYD bukan sekadar membukukan volume penjualan yang besar, melainkan juga mampu berada di atas salah satu merek yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pemain utama industri mobil Indonesia. Perbandingan pada dua ukuran penjualan sekaligus memperlihatkan bahwa kehadiran BYD telah tercermin dalam data distribusi maupun penjualan ritel hingga periode September 2026.

Di sisi lain, Honda tetap memiliki konteks historis yang kuat dalam peta otomotif Indonesia. Selama bertahun-tahun, merek tersebut menjadi salah satu pemain utama yang diperhitungkan di pasar nasional. Karena itu, posisi BYD yang berada di atas Honda, baik dalam wholesales maupun retail sales, merupakan perkembangan penting dalam susunan persaingan merek mobil saat ini.

Gambaran tersebut turut memperlihatkan semakin kuatnya persaingan merek China di Indonesia. Data BYD hingga September 2026 menunjukkan bahwa merek China kini hadir dalam persaingan dengan capaian volume yang signifikan, sekaligus menempati posisi yang lebih tinggi daripada Honda pada dua kategori penjualan. Dengan demikian, peta persaingan merek mobil Indonesia menjadi semakin beragam, sebagaimana tercermin dari posisi BYD dalam peringkat lima besar dan pencapaiannya di atas Honda pada periode yang sama.