Chika Jessica Lanjut S2 Bersama Dwi Andhika Setelah Sempat Bimbang

Chika Jessica Lanjut S2 Bersama Dwi Andhika Setelah Sempat Bimbang

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Chika Jessica kembali melanjutkan pendidikan formal dengan mengambil jenjang magister atau S2 di Universitas Sangga Buana Bandung. Kabar tersebut disampaikan Chika saat ditemui di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Selasa (6/10/2026). Keputusan untuk kembali berkuliah menjadi langkah baru bagi presenter dan komedian tersebut setelah sebelumnya sempat merasa bimbang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dalam perkuliahan tersebut, Chika tidak sendiri. Ia menjalani pendidikan pascasarjana bersama Dwi Andhika, yang sudah dikenalnya sejak keduanya menempuh pendidikan S1. Kebersamaan itu membuat proses perkuliahan terasa lebih ringan, terutama karena mereka telah memiliki pengalaman dan hubungan pertemanan yang cukup lama. Kehadiran teman lama di lingkungan kampus juga menjadi salah satu hal yang membantu Chika beradaptasi dengan kesibukan akademik.

Sistem pembelajaran yang diterapkan dalam program S2 tersebut bersifat hybrid. Artinya, kegiatan perkuliahan berlangsung melalui dua metode, yakni secara daring dan tatap muka. Sebagian materi serta aktivitas akademik dilakukan melalui aplikasi Zoom, sehingga mahasiswa dapat mengikuti kelas tanpa harus selalu datang ke kampus. Namun, pada waktu tertentu, Chika tetap diwajibkan hadir secara langsung untuk mengikuti perkuliahan dan kegiatan lain yang memerlukan kehadiran mahasiswa.

Model perkuliahan tersebut dinilai cukup sesuai dengan aktivitas Chika yang masih padat di dunia hiburan. Dengan adanya pilihan mengikuti kelas secara daring, ia dapat menyesuaikan jadwal pendidikan dengan pekerjaan profesionalnya. Di sisi lain, pertemuan langsung tetap memberikan kesempatan bagi Chika untuk berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa lain secara lebih intensif.

Keputusan Chika mengambil S2 menunjukkan komitmennya untuk terus mengembangkan diri di tengah kesibukan karier. Ia juga dapat menjalani proses tersebut bersama Dwi Andhika, sosok yang telah menjadi teman sejak masa kuliah S1. Keduanya kini kembali berada dalam lingkungan akademik yang sama, meski harus membagi waktu jadwal perkuliahan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya.

Keputusan Chika Jessica untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 tidak diambil dengan mudah. Sebelum benar-benar mendaftar, ia sempat diliputi keraguan karena merasa lelah jika harus kembali menjalani rutinitas belajar. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dan meraih gelar S.E., Chika sempat berpikir bahwa pencapaian tersebut sudah cukup untuk mendukung perjalanan hidup serta kariernya.

Keraguan itu muncul karena ia mempertanyakan kembali manfaat ilmu yang telah diperoleh. Chika juga memikirkan apakah dirinya masih perlu memperdalam pendidikan, mengingat ia sudah memiliki gelar akademik dan berbagai pengalaman di luar bangku kuliah. Bagi Chika, kembali menjadi mahasiswa berarti harus menyiapkan waktu, tenaga, serta fokus untuk mengikuti proses perkuliahan yang tidak selalu mudah.

Pandangannya perlahan berubah setelah Dwi Andhika memberikan dorongan. Dwi mengingatkan Chika agar memanfaatkan kesempatan tersebut selagi keduanya masih memiliki semangat untuk belajar. Dukungan itu membuat Chika melihat rencana kuliah dari sudut pandang yang berbeda. Pendidikan lanjutan tidak hanya berkaitan dengan memperoleh gelar baru, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menambah wawasan dan mengembangkan kemampuan.

Chika kemudian menyadari bahwa kesempatan untuk melanjutkan studi tidak sebaiknya dilewatkan begitu saja. Ia menilai keinginan untuk belajar masih ada, sehingga rasa lelah dan bimbang tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mencoba. Setelah mempertimbangkan dorongan dari Dwi serta kesiapan dirinya, Chika merasa mampu menjalani pendidikan magister. Keyakinan tersebut akhirnya menguatkan langkahnya untuk kembali ke dunia akademik bersama Dwi.

Di balik pembawaannya yang ceria, Chika Jessica mengakui bahwa dirinya tetap memiliki sisi personal yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang kerap menghibur dan mencairkan suasana. Namun, peran tersebut tidak berarti bahwa Chika selalu berada dalam keadaan bahagia. Seperti manusia pada umumnya, ia juga dapat merasakan kesedihan dan membutuhkan ruang untuk memahami perasaannya.

Chika menyampaikan bahwa orang yang terbiasa menghibur orang lain pun sesekali ingin mendapatkan hiburan. Keinginan itu muncul ketika dirinya sedang menghadapi kesedihan. Ia tidak selalu dapat terus-menerus menjadi sumber keceriaan bagi lingkungan sekitar. Ada kalanya, ia juga ingin didengarkan, ditemani, atau memperoleh dukungan emosional dari orang lain.

Perasaan tersebut biasanya muncul ketika melihat ibunya sedang lesu atau sakit. Situasi itu dapat membuat Chika merasakan kesedihan, meskipun dalam kesehariannya ia tetap berusaha tampil ceria. Pernyataannya memperlihatkan bahwa ekspresi bahagia yang tampak dari luar tidak selalu menggambarkan keseluruhan perasaan seseorang. Di balik sikap ringan dan menghibur, tetap ada pengalaman emosional yang ia rasakan secara pribadi.

Bagi Chika, kesedihan merupakan bagian dari perasaan manusia yang tidak dapat dihilangkan begitu saja. Seseorang tidak selalu berada dalam kondisi bahagia setiap waktu, termasuk mereka yang dikenal mampu membuat orang lain tertawa. Pengakuan ini menunjukkan sisi Chika yang lebih terbuka dan manusiawi. Ia dapat menghibur orang lain, tetapi pada saat tertentu juga membutuhkan hiburan ketika sedang merasakan kesedihan. Keceriaan dan kesedihan dapat hadir dalam diri yang sama tanpa saling meniadakan.

Chika Jessica mengaku tidak memiliki kiat khusus untuk selalu terlihat aktif atau ceria dalam menjalani berbagai kegiatan. Menurutnya, energi tidak selalu berada pada tingkat yang sama, sehingga rasa lelah merupakan hal yang wajar. Ia tidak memaksakan diri untuk terus tampak bersemangat ketika tubuh mulai membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Bagi Chika, mengenali kondisi tubuh menjadi langkah penting agar aktivitas tetap dapat dijalani dengan baik.

Salah satu hal sederhana yang biasa dilakukan Chika ketika mulai merasa lelah adalah memesan es teh manis. Minuman tersebut dipilih sebagai cara untuk membuat tubuh terasa lebih segar sebelum kembali melanjutkan kegiatan. Kebiasaan itu bukanlah kiat khusus yang rumit, melainkan langkah sederhana yang ia lakukan sesuai dengan kebutuhannya pada saat itu. Dengan begitu, ia dapat memberikan jeda singkat bagi tubuh tanpa harus mencari cara yang berlebihan untuk menjaga suasana hati dan tenaganya.

Namun, ketika kelelahan yang dirasakan sudah sangat berat, Chika memilih untuk beristirahat di rumah. Ia memahami bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga atau melakukan recharge. Dalam kondisi seperti itu, memaksakan diri untuk tetap beraktivitas justru bukan pilihan yang diambilnya. Beristirahat menjadi cara Chika untuk mengembalikan kondisi tubuh hingga kembali siap menjalani kegiatan.

Setelah merasa pulih, Chika bersiap kembali menghibur orang lain melalui aktivitasnya. Cara tersebut menunjukkan bahwa menjaga energi tidak selalu memerlukan metode khusus. Chika cukup mengenali rasa lelah, memberikan waktu untuk beristirahat, lalu kembali beraktivitas ketika kondisinya sudah membaik. Siklus sederhana itu menjadi caranya mempertahankan tenaga, sehingga ia dapat kembali hadir dan menghibur dengan kondisi yang lebih siap.