Program Makan Bergizi Gratis Dipandang sebagai Ruang Pembentukan Karakter Siswa di Metro

Program Makan Bergizi Gratis Dipandang sebagai Ruang Pembentukan Karakter Siswa di Metro

Kota Metro Ada | Pendidikan karakter menjadi salah satu perhatian utama dalam kunjungan pelaksanaan revitalisasi sekolah di SD Negeri 5 Metro Timur dan SMP 9 Metro pada 8 Oktober 2026. Dalam perbincangan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro, Dr. Agus Muhammad Septiana, S.IP., M.H., bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti membahas pentingnya membangun sikap dan kepribadian siswa sejak jenjang pendidikan dasar hingga menengah pertama.

Pembahasan itu menempatkan sekolah bukan hanya sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga sebagai lingkungan yang membentuk kebiasaan, nilai, dan tanggung jawab peserta didik. Pendidikan karakter dinilai semakin penting karena siswa saat ini menghadapi tantangan zaman yang kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta interaksi yang semakin terbuka menuntut mereka memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.

Arus informasi global yang berlangsung tanpa filter dan tanpa batas turut menjadi perhatian dalam perbincangan tersebut. Siswa dapat menerima beragam informasi dalam waktu singkat, tetapi tidak seluruhnya sesuai dengan usia, kebutuhan, maupun nilai-nilai pendidikan. Karena itu, penguatan karakter diperlukan agar siswa mampu menyaring informasi, menghormati perbedaan, menjaga etika, serta menggunakan teknologi secara tepat.

Dalam konteks ini, pembentukan karakter dipandang sebagai bekal penting bagi siswa dalam menjalani kehidupan, bukan sekadar pelengkap pencapaian akademik. Nilai kejujuran, disiplin, kepedulian, kerja sama, dan tanggung jawab perlu ditanamkan melalui pembelajaran sekaligus praktik sehari-hari di lingkungan sekolah. Revitalisasi sekolah diharapkan dapat mendukung terciptanya ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan mendorong perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan demikian, peningkatan kualitas sarana pendidikan berjalan seiring dengan upaya menyiapkan generasi yang berpengetahuan, berintegritas, dan mampu menghadapi perubahan.

Prof. Abdul Mu’ti memandang Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo, tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik. Pelaksanaan program tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang pendidikan karakter melalui kebiasaan makan bersama di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan itu, siswa belajar menjalankan peran dan kewajibannya secara bertanggung jawab, baik ketika menerima makanan maupun saat menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.

Makan bersama juga dapat memperkenalkan sikap toleran dan saling menghormati. Peserta didik berinteraksi dengan teman-temannya yang memiliki kebiasaan, latar belakang, atau kebutuhan yang beragam. Mereka belajar menghargai orang lain, menunggu giliran, berbagi ruang, serta menjaga suasana agar tetap tertib. Kebiasaan tersebut dapat menjadi pengalaman nyata dalam memahami pentingnya hidup bersama dan memperlakukan setiap orang secara baik. Disiplin pun dapat dibangun melalui kepatuhan terhadap jadwal, aturan pelaksanaan, serta tanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan ketertiban setelah makan.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian akademik atau transfer pengetahuan teknis. Sekolah juga memiliki peran dalam membentuk karakter, moral, dan etika peserta didik melalui berbagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, MBG dapat ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan yang mempertemukan kebutuhan kesehatan dengan pembelajaran nilai. Gagasan ini berkaitan dengan kebutuhan membentuk generasi emas Indonesia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan emosional dan sosial. Melalui pembiasaan tanggung jawab, toleransi, disiplin, dan penghormatan terhadap sesama, siswa memperoleh pengalaman yang mendukung perkembangan dirinya sebagai bagian dari masyarakat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional tidak hanya dirancang sebagai intervensi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi peserta didik. Program ini juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesehatan, kesiapan belajar, dan kualitas tumbuh kembang anak. Di Kota Metro, pelaksanaan MBG diarahkan untuk melampaui ukuran kecukupan gizi semata. Makanan yang disediakan, cara penyajiannya, serta suasana ketika siswa menyantap hidangan dipandang sebagai unsur penting dalam membangun pengalaman pendidikan yang utuh.

Ruang makan sekolah dan momen makan bersama dapat berfungsi sebagai laboratorium sosial. Di tempat tersebut, siswa belajar berinteraksi, mengikuti aturan, dan memahami bahwa kebutuhan bersama perlu dihargai. Pembiasaan dimulai dari hal sederhana, seperti mencuci tangan, mengantre dengan tertib, mengambil makanan secukupnya, menjaga kebersihan, serta mengembalikan perlengkapan pada tempatnya. Guru dan tenaga pendidik berperan sebagai teladan sekaligus pendamping, sehingga nilai yang disampaikan tidak berhenti sebagai teori, melainkan terlihat dalam praktik sehari-hari. Pengaturan kelompok makan juga dapat mendorong siswa untuk saling membantu tanpa membedakan latar belakang.

Ekosistem pembiasaan positif itu dirancang untuk menumbuhkan toleransi, kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati. Siswa dilatih menghargai pilihan maupun kondisi teman, tidak mengambil bagian orang lain, serta menjaga kenyamanan selama kegiatan berlangsung. Penggunaan tiga kata ajaib—“terima kasih”, “silakan”, dan “mohon maaf”—dapat diintegrasikan dalam percakapan siswa, guru, petugas penyedia makanan, dan warga sekolah lainnya. Dengan pendekatan tersebut, MBG di Kota Metro diharapkan menjadi ruang pembentukan karakter yang konsisten, karena nilai-nilai sosial dipelajari melalui pengalaman langsung, diulang secara teratur, dan diperkuat oleh keteladanan seluruh komunitas sekolah.

Dalam pembahasan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembentukan karakter siswa dapat ditempatkan dalam kerangka pendidikan dan psikologi perkembangan. Kerangka ini membantu menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga berhubungan dengan proses pembentukan perilaku di lingkungan sekolah.

Salah satu landasan konseptual yang disebut adalah teori pembelajaran sosial atau social learning theory dari Albert Bandura. Teori ini ditempatkan sebagai dasar untuk memahami pembentukan perilaku siswa dalam lingkungan sosial sekolah. Dengan demikian, perilaku siswa dipandang dalam kaitannya dengan konteks pendidikan dan interaksi sosial yang melingkupinya.

Penempatan teori pembelajaran sosial dalam pembahasan MBG menunjukkan adanya perhatian terhadap dimensi pendidikan yang lebih luas. Program makan di sekolah tidak semata-mata dilihat sebagai kegiatan pemenuhan asupan makanan, melainkan juga sebagai bagian dari ruang pendidikan. Dalam kerangka tersebut, lingkungan sekolah menjadi konteks penting untuk memahami perilaku siswa dan pembentukan karakter.

Landasan pendidikan dan psikologi ini memberikan arah konseptual bagi pembahasan mengenai hubungan kegiatan MBG dan perilaku siswa. Teori Bandura disebut sebagai salah satu rujukan untuk melihat pembentukan perilaku dalam lingkungan sosial sekolah, tanpa memisahkan aspek kesehatan, pendidikan, dan perkembangan siswa dalam pembahasan yang sama.

Dengan kerangka tersebut, MBG dipahami dalam konteks yang mencakup lebih dari penyediaan makanan bergizi bagi siswa. Pembahasannya juga menempatkan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang berkaitan dengan pembentukan perilaku dan karakter. Oleh karena itu, MBG dalam konteks ini mencakup pemenuhan gizi sekaligus upaya pembiasaan karakter di lingkungan pendidikan.