Jakarta | Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menjalankan berbagai program dekarbonisasi sebagai bagian dari upaya menangani dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan bisnis. Langkah ini ditempuh melalui pendekatan yang terukur dan terintegrasi, sehingga pengurangan emisi dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas. Bagi perusahaan, dekarbonisasi bukan semata-mata kewajiban lingkungan, melainkan strategi untuk membangun operasi yang lebih efisien, adaptif, dan kompetitif dalam jangka panjang.
Pendekatan pertama berfokus pada peningkatan efisiensi energi. Pupuk Kaltim mengoptimalkan penggunaan bahan bakar dan listrik melalui perbaikan proses produksi, pengendalian konsumsi energi, serta pemanfaatan teknologi yang mampu mengurangi pemborosan. Efisiensi tersebut berpotensi menekan emisi sekaligus menurunkan biaya operasional. Dengan demikian, setiap upaya penghematan energi dapat memberikan manfaat ganda, yaitu memperbaiki kinerja lingkungan dan meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya di fasilitas produksi.
Pendekatan kedua dilakukan melalui pemanfaatan energi terbarukan. Pengembangan sumber energi yang lebih bersih, termasuk pemanfaatan tenaga surya dan peluang integrasi energi rendah emisi lainnya, menjadi bagian dari proses transisi perusahaan. Bersamaan dengan itu, Pupuk Kaltim mengembangkan teknologi rendah karbon untuk mengurangi intensitas emisi dalam rantai produksi. Inovasi tersebut dapat mencakup peningkatan teknologi proses, pengelolaan emisi, serta solusi yang mendukung penggunaan bahan baku dan energi secara lebih berkelanjutan.
Rangkaian program ini diarahkan untuk meningkatkan daya saing perusahaan, mendukung target pemerintah dalam nationally determined contribution (NDC), dan berkontribusi pada pencapaian net zero emission (NZE) Indonesia 2060. Strategi tersebut juga menjawab permintaan pasar yang semakin besar terhadap produk hijau. Di tengah penguatan regulasi dan tuntutan rantai pasok global, produk dengan jejak karbon lebih rendah memiliki nilai strategis yang semakin penting. Karena itu, agenda dekarbonisasi Pupuk Kaltim dirancang untuk menghasilkan penghematan energi, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat posisi perusahaan dan produknya dalam persaingan industri yang mengutamakan keberlanjutan.
Program revamping ammonia Pabrik-2 menjadi salah satu langkah konkret Pupuk Kaltim dalam menjalankan dekarbonisasi sekaligus memperkuat operational excellence. Proyek ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi konsumsi energi pada fasilitas produksi ammonia. Dengan penggunaan energi yang lebih rendah, perusahaan tidak hanya dapat menekan biaya produksi, tetapi juga berpotensi mengurangi emisi sekitar 110.000 ton CO2 ekuivalen per tahun.
Berdasarkan hasil performance test, konsumsi energi Pabrik-2 turun dari 39,28 menjadi 35,25 million British thermal unit (MMBtu) per ton ammonia. Penurunan sebesar 4,03 MMBtu per ton tersebut menunjukkan peningkatan efisiensi yang signifikan setelah revamping. Capaian ini diproyeksikan menghasilkan penghematan biaya produksi sekitar US$14,3 juta per tahun, atau setara dengan Rp228 miliar per tahun. Efisiensi tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri pupuk, terutama ketika perusahaan menghadapi tuntutan pengurangan emisi dan kebutuhan menjaga biaya produksi tetap kompetitif.
Pengujian kinerja berlangsung selama 168 jam dan menunjukkan bahwa seluruh parameter operasional telah terpenuhi secara optimal. Hasil tersebut menjadi dasar bahwa fasilitas telah siap melanjutkan kegiatan produksi secara penuh dengan tingkat kinerja yang lebih baik. Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra menyampaikan bahwa penyelesaian performance test menandai kesiapan fasilitas untuk memasuki fase operasional penuh. Menurutnya, fasilitas tersebut tidak sekadar kembali beroperasi, tetapi juga mampu menghasilkan kinerja yang lebih efisien dan andal.
Keberhasilan revamping memperlihatkan bahwa peningkatan efisiensi energi dapat berjalan seiring dengan penguatan keandalan operasional. Kapasitas produksi yang lebih efisien membantu Pupuk Kaltim mempertahankan posisi di industri pupuk, sekaligus mendukung pengelolaan emisi yang lebih bertanggung jawab. Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini turut mendukung agenda ketahanan pangan nasional karena memperkuat kemampuan perusahaan menyediakan pupuk secara berkelanjutan, efisien, dan kompetitif.
Pembangunan pabrik soda ash pertama di Indonesia menjadi bagian penting dari agenda dekarbonisasi Pupuk Kaltim. Fasilitas ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan bahan baku industri, tetapi juga dirancang sebagai solusi yang menghubungkan pengurangan emisi dengan penguatan kapasitas manufaktur nasional. Kehadirannya mencerminkan upaya perusahaan untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, sekaligus membangun fondasi industri rendah karbon yang lebih mandiri.
Pabrik tersebut memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mendukung pengurangan emisi melalui penyerapan karbon dioksida dari fasilitas eksisting. Kapasitas yang dirancang memungkinkan pemanfaatan hingga sekitar 174.000 ton CO2 ekuivalen per tahun. Kedua, fasilitas ini mendorong ekonomi sirkular dengan mengolah emisi menjadi produk bernilai tambah, sehingga karbon tidak semata-mata dipandang sebagai limbah. Ketiga, produksi soda ash di dalam negeri diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor.
Pengembangan soda ash dapat memperkuat industri nasional melalui tersedianya bahan baku yang lebih dekat dengan pengguna domestik. Pada saat yang sama, pemanfaatan karbon dari fasilitas eksisting berpotensi mengurangi jejak karbon dalam rantai pasok, termasuk emisi yang berkaitan dengan pengangkutan dan pengadaan produk dari luar negeri. Dengan demikian, proyek ini memiliki dampak yang melampaui lingkungan operasional Pupuk Kaltim karena turut mendukung ketahanan industri dan efisiensi sumber daya.
Langkah lain diwujudkan melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berkapasitas 3,8 megawatt (MW). Instalasi ini digunakan untuk meningkatkan bauran listrik bersih dalam konsumsi energi perusahaan dan telah menurunkan emisi sebesar 4.017 ton CO2 ekuivalen. Penerapan tersebut menunjukkan bahwa energi terbarukan tetap dapat diintegrasikan pada industri dengan kebutuhan energi tinggi. Kombinasi teknologi penangkapan karbon, ekonomi sirkular, dan listrik surya memperlihatkan pendekatan berlapis untuk menekan emisi tanpa mengabaikan produktivitas serta daya saing perusahaan.
Salah satu inisiatif jangka pendek Pupuk Kaltim dalam menekan emisi adalah penerapan co-firing pada boiler berbahan bakar batu bara. Co-firing merupakan proses substitusi sebagian bahan bakar fosil dengan biomassa, sehingga kebutuhan batu bara dapat dikurangi tanpa mengubah seluruh sistem pembangkitan yang telah beroperasi. Pendekatan ini diterapkan pada boiler batu bara berkapasitas 220 x 2 ton per jam. Pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pendamping diharapkan dapat menurunkan intensitas emisi dari kegiatan operasional, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Melalui proyek tersebut, Pupuk Kaltim memproyeksikan pengurangan emisi sekitar 59.000 ton karbon dioksida per tahun pada 2030. Angka ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mengendalikan dampak lingkungan dari penggunaan energi dalam proses produksi pupuk. Selain mendukung sasaran penurunan emisi, co-firing biomassa juga mencerminkan langkah transisi yang bersifat bertahap dan terukur. Perusahaan dapat mengoptimalkan infrastruktur yang tersedia sambil mengembangkan pemakaian bahan bakar alternatif sesuai dengan kesiapan teknologi, pasokan biomassa, dan kebutuhan operasi.
Inisiatif tersebut ditempatkan dalam peta jalan dekarbonisasi Pupuk Kaltim yang menggabungkan sejumlah pendekatan. Arah ini mencakup peningkatan efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan, penerapan ekonomi sirkular, pemanfaatan co-firing biomassa, serta rencana pengembangan clean ammonia. Kombinasi program itu diproyeksikan menekan emisi secara signifikan melalui perbaikan kinerja energi dan diversifikasi sumber daya, sembari mendukung keberlanjutan lingkungan. Bagi perusahaan, agenda tersebut juga berkaitan dengan penguatan kinerja bisnis dan daya saing jangka panjang. Dengan demikian, Pupuk Kaltim diarahkan untuk mempertahankan perannya sebagai pemain strategis dalam transformasi industri pupuk menuju masa depan yang lebih rendah karbon.

