Makassar | Puluhan calon jemaah umrah asal Indonesia mengalami penundaan keberangkatan setelah penerbangan lanjutan yang mereka gunakan dibatalkan. Peristiwa ini berdampak langsung pada rombongan yang telah berangkat melalui Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Ahad, 11 Oktober. Mereka semula dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi pembatalan penerbangan membuat rangkaian perjalanan tidak dapat berlangsung sesuai jadwal.
Situasi tersebut menempatkan para calon jemaah dalam kondisi menunggu kepastian baru mengenai penerbangan lanjutan. Sebagian dari mereka telah menyelesaikan tahapan keberangkatan dari Makassar dan berada dalam perjalanan menuju tujuan berikutnya. Namun, perubahan jadwal penerbangan menyebabkan perjalanan rombongan tertunda, termasuk agenda yang telah disusun sebelum keberangkatan.
Informasi mengenai kejadian ini berfokus pada kondisi calon jemaah dari Makassar, yang menjadi pihak paling terdampak oleh pembatalan tersebut. Penundaan itu bukan merupakan peristiwa yang berlangsung di Arab Saudi, melainkan terjadi dalam rangkaian perjalanan udara dari Indonesia sebelum rombongan tiba di Tanah Suci. Karena itu, pembatalan penerbangan lanjutan menjadi faktor utama yang menghambat keberangkatan mereka.
Bagi calon jemaah, kepastian jadwal pengganti menjadi hal penting karena perjalanan umrah melibatkan sejumlah tahapan penerbangan dan pengaturan layanan. Setiap perubahan pada satu penerbangan dapat memengaruhi jadwal penerbangan berikutnya, termasuk waktu tiba, proses transit, serta layanan yang telah dipersiapkan bagi rombongan.
Penundaan keberangkatan ini juga menimbulkan perhatian terhadap penanganan rombongan selama menunggu informasi lanjutan. Calon jemaah membutuhkan penjelasan mengenai penyebab pembatalan, rencana penerbangan pengganti, dan waktu keberangkatan terbaru. Hingga terdapat kepastian resmi, mereka harus menunggu penyesuaian jadwal perjalanan dari pihak-pihak yang menangani keberangkatan umrah tersebut.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, menyampaikan bahwa terdapat 83 penumpang yang semula direncanakan melakukan perjalanan dari Makassar. Data tersebut mencakup penumpang reguler dan calon jemaah umrah yang terdampak oleh pembatalan penerbangan lanjutan. Berdasarkan keterangan pengelola bandara, tidak seluruh penumpang mengalami penundaan dalam perjalanan mereka.
Sebanyak 30 penumpang reguler tetap diberangkatkan menuju Kuala Lumpur sesuai rencana perjalanan yang tersedia. Keberangkatan kelompok ini menunjukkan bahwa layanan penerbangan bagi sebagian penumpang masih dapat dilaksanakan, meskipun terjadi kendala pada penerbangan lanjutan yang digunakan oleh rombongan lainnya. Sementara itu, sebanyak 53 calon jemaah umrah harus mengalami penundaan keberangkatan.
Ke-53 calon jemaah tersebut merupakan peserta perjalanan dari PT Mudah Menuju Baitullah. Mereka termasuk dalam kelompok penumpang yang terdampak langsung oleh pembatalan penerbangan lanjutan, sehingga jadwal perjalanan menuju tujuan berikutnya tidak dapat berjalan sesuai rencana awal. Penundaan itu kemudian menjadi perhatian karena menyangkut perjalanan ibadah yang telah dipersiapkan oleh para calon jemaah.
Menanggapi kondisi tersebut, manajemen Bandara Internasional Sultan Hasanuddin melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Koordinasi diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai situasi penerbangan, menyampaikan perkembangan kepada penumpang, serta membahas langkah yang dapat dilakukan setelah pembatalan penerbangan lanjutan. Pengelola bandara juga memantau penanganan terhadap calon jemaah yang masih menunggu kepastian keberangkatan.
Rincian jumlah penumpang itu memperlihatkan bahwa dampak pembatalan penerbangan tidak dirasakan secara merata. Dari keseluruhan 83 penumpang, kelompok reguler tetap melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur, sedangkan rombongan calon jemaah umrah dari PT Mudah Menuju Baitullah masih harus menunggu penjadwalan berikutnya. Informasi mengenai koordinasi dan perkembangan keberangkatan selanjutnya menjadi bagian penting dalam penanganan situasi tersebut.
Penundaan keberangkatan puluhan calon jemaah umrah dari Makassar berkaitan langsung dengan pembatalan penerbangan lanjutan Malaysia Airlines MH158 pada rute Kuala Lumpur–Madinah. Para calon jemaah tersebut tetap dapat berangkat dari Makassar menuju Kuala Lumpur sesuai rangkaian perjalanan yang telah direncanakan. Namun, setelah tiba di Kuala Lumpur, perjalanan mereka tidak dapat dilanjutkan ke Madinah karena penerbangan MH158 dibatalkan.
Pembatalan tersebut membuat rencana perjalanan jemaah terhenti pada tahap penerbangan lanjutan. Kuala Lumpur semestinya menjadi titik transit sebelum rombongan melanjutkan penerbangan menuju Madinah. Karena penerbangan Malaysia Airlines dengan nomor MH158 tidak beroperasi, calon jemaah yang telah sampai di Kuala Lumpur harus menunggu keberangkatan berikutnya. Kondisi itu kemudian berdampak pada tertundanya jadwal perjalanan umrah mereka.
Hubungan pembatalan penerbangan dan keterlambatan keberangkatan menjadi semakin jelas karena rute menuju Madinah merupakan bagian lanjutan dari perjalanan dari Makassar. Para jemaah bukan tidak dapat meninggalkan Makassar, melainkan tidak dapat meneruskan perjalanan setelah tiba di Kuala Lumpur. Dengan demikian, penundaan yang terjadi berada pada tahap penerbangan Kuala Lumpur–Madinah, bukan pada keberangkatan awal menuju Kuala Lumpur.
Pengelola Bandara Internasional Sultan Hasanuddin juga menyampaikan bahwa pada hari tersebut tidak tersedia penerbangan langsung menuju Madinah maupun Jeddah dari bandara itu. Keterangan ini menunjukkan bahwa calon jemaah tidak memiliki pilihan penerbangan langsung dari Makassar untuk menggantikan perjalanan lanjutan yang batal. Rute melalui Kuala Lumpur menjadi bagian dari rencana perjalanan, tetapi pembatalan MH158 menghambat kelanjutan perjalanan menuju Madinah. Akibatnya, puluhan calon jemaah umrah dari Makassar mengalami penundaan hingga tersedia pengaturan penerbangan berikutnya.
Calon jemaah umrah dan keluarga diimbau untuk terus berkomunikasi dengan maskapai penerbangan serta penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) masing-masing. Komunikasi tersebut penting untuk memperoleh informasi terbaru dan akurat mengenai jadwal keberangkatan, perubahan rute, kemungkinan penundaan, serta ketentuan perjalanan yang berlaku. Jemaah sebaiknya menanyakan langsung status tiket, penerbangan lanjutan, prosedur penginapan apabila terjadi keterlambatan, dan dokumen yang perlu disiapkan sebelum melakukan perjalanan.
Informasi mengenai penerbangan dan kebijakan perjalanan dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat disarankan memeriksa pemberitahuan melalui kanal resmi maskapai, bandara, Kementerian Agama, Kementerian Luar Negeri, serta PPIU yang menangani keberangkatan. Pesan berantai di media sosial atau grup percakapan hendaknya tidak langsung dipercaya, terutama apabila tidak mencantumkan sumber yang jelas. Jemaah dan keluarga perlu melakukan verifikasi sebelum mengambil keputusan, membagikan informasi, atau membayar biaya tambahan yang dikaitkan dengan perubahan perjalanan.
Perkembangan situasi regional juga menjadi bagian dari perhatian publik. Dalam konteks ketegangan di kawasan Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Arab Saudi dan Menteri Luar Negeri Iran disebut melakukan komunikasi melalui sambungan telepon. Fakta tersebut menunjukkan adanya komunikasi antarpihak sebagaimana diberitakan, tetapi tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan hubungan langsung dengan penundaan penerbangan dari Makassar. Oleh sebab itu, jemaah hendaknya mengikuti penjelasan resmi dari pihak yang berwenang dan penyelenggara perjalanan, sekaligus menjaga ketenangan selama menunggu kepastian jadwal. Dokumentasi komunikasi, bukti pemesanan, dan pemberitahuan resmi sebaiknya disimpan untuk memudahkan tindak lanjut apabila diperlukan.
Baca juga: Pasukan Airborne SGS 2026 Laksanakan Operasi Lanjutan Dalam Materi Jungle FTX | Gelar Latihan Live Fire Dan Penerbangan Malam Dalam SGS 2026 | Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Terus Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan

