Jakarta | Kecerdasan buatan (AI) mulai menempati posisi penting dalam menentukan arah perekonomian global. Dana Moneter Internasional (IMF) menilai perkembangan teknologi tersebut tidak lagi sekadar menjadi isu sektor teknologi, melainkan telah menjadi salah satu faktor utama yang membedakan kinerja ekonomi dan prospek pertumbuhan antarnegara. Negara yang mampu mengembangkan infrastruktur digital, menyiapkan tenaga kerja terampil, serta mendorong pemanfaatan AI di berbagai sektor berpeluang memperoleh produktivitas dan daya saing yang lebih tinggi.
Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyampaikan pandangan tersebut dalam pidatonya pada annual meeting IMF di Thailand. Pernyataan itu dikutip pada 13 Oktober 2026, ketika perhatian dunia terhadap dampak AI terhadap investasi, pasar tenaga kerja, dan kebijakan ekonomi terus meningkat. Menurut Georgieva, perbedaan kesiapan setiap negara dalam mengadopsi AI dapat memperlebar jarak pertumbuhan. Perekonomian dengan akses modal, data, dan teknologi yang lebih baik berpotensi bergerak lebih cepat, sedangkan negara yang tertinggal menghadapi risiko semakin sulit mengejar ketertinggalan.
IMF juga memproyeksikan bahwa rasio investasi global untuk pengembangan dan penerapan AI terhadap produk domestik bruto (PDB) akan terus meningkat. Skala investasi tersebut bahkan berpotensi melampaui tingkat investasi historis yang pernah diarahkan untuk membangun jaringan kereta api, listrik, dan telekomunikasi. Proyeksi ini menunjukkan bahwa AI dapat menjadi pusat gelombang investasi baru dengan dampak luas terhadap industri dan kebijakan publik. Namun, besarnya peluang tersebut juga menuntut kerja sama internasional agar manfaat teknologi tidak hanya terkonsentrasi di negara maju. Penguatan pendidikan, konektivitas digital, perlindungan sosial, dan akses pembiayaan menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko kesenjangan antarnegara.
Perdagangan perangkat keras kecerdasan artifisial (AI) kini menempati posisi yang semakin penting dalam arus barang dunia. Kristalina Georgieva memperkirakan perangkat keras AI dan berbagai produk teknologi terkait telah menyumbang lebih dari sepersepuluh perdagangan barang global. Porsi tersebut masih berpotensi meningkat karena permintaan pengguna terus berkembang, baik untuk layanan digital, komputasi awan, aplikasi perusahaan, maupun perangkat konsumen. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan telah menjadi salah satu penggerak utama perdagangan internasional.
Kenaikan nilai perdagangan itu juga mencerminkan lonjakan investasi di negara-negara yang terhubung dengan rantai nilai AI. Investasi diarahkan untuk memperluas kapasitas produksi, membangun pusat data, memperkuat jaringan energi dan komunikasi, serta mengembangkan fasilitas riset dan manufaktur. Dengan demikian, peningkatan ekspor dan impor perangkat AI tidak berlangsung secara terpisah dari strategi pembangunan industri. Negara yang mampu menarik modal, menguasai teknologi, dan menyediakan infrastruktur memadai memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh manfaat ekonomi dari ekspansi sektor tersebut.
Dalam daftar negara dengan keterkaitan kuat terhadap ekosistem ini, Amerika Serikat, China, dan India disebut sebagai importir bersih perangkat keras AI. Pada saat yang sama, ketiganya sedang membangun infrastruktur dan kapasitas teknologi untuk menjadi penyedia AI utama. Posisi tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan domestik sekaligus ambisi untuk menguasai tahapan bernilai tinggi dalam rantai pasok global. Dari tujuh negara lain yang termasuk dalam 10 besar, lima di antaranya merupakan negara Asia yang berperan sebagai pemasok komponen dan teknologi penting. Kontribusi mereka mencakup mikroprosesor kelas atas, memory chip, mesin pembuat chip, serta robotika. Konsentrasi perdagangan pada kelompok negara tersebut menegaskan bahwa manfaat ekonomi AI belum tersebar merata. Negara yang tidak memiliki basis industri, modal, atau akses teknologi berisiko hanya menjadi pengguna, sementara nilai tambah terbesar terkumpul di pusat produksi dan inovasi.
Pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) yang berlangsung tidak merata dapat memperlebar kesenjangan ekonomi antarnegara. Kristalina Georgieva menekankan bahwa sebagian besar negara belum banyak merasakan manfaat dari perkembangan AI. Negara maju, dengan infrastruktur digital, tenaga kerja terampil, dan akses pembiayaan yang lebih kuat, berada pada posisi lebih siap untuk meningkatkan produktivitas. Sebaliknya, negara berkembang berisiko tertinggal karena keterbatasan jaringan, investasi, data, serta kemampuan adaptasi tenaga kerja. Perbedaan kesiapan tersebut dapat membuat manfaat AI terkonsentrasi pada sejumlah kecil perekonomian dan memperbesar jarak pendapatan global.
IMF juga menduga perkembangan AI telah memengaruhi pasar obligasi swasta global melalui sedikitnya dua jalur. Pertama, meningkatnya penerbitan obligasi swasta berjangka panjang, terutama untuk membiayai pusat data, jaringan energi, dan infrastruktur komputasi, dapat memperketat persaingan dalam memperoleh dana tabungan atau sumber pembiayaan. Permintaan dana yang lebih besar berpotensi mendorong biaya pinjaman dan imbal hasil obligasi. Kedua, sebagian kenaikan imbal hasil obligasi acuan mungkin mencerminkan ekspektasi bahwa AI akan mempercepat pertumbuhan ekonomi pada masa depan. Dalam pandangan ini, investor menyesuaikan harga aset berdasarkan prospek produktivitas dan kebutuhan investasi jangka panjang.
Namun, lonjakan pembangunan infrastruktur AI cenderung bersifat inflasioner, khususnya ketika permintaan terhadap energi, semikonduktor, lahan, konstruksi, dan tenaga ahli meningkat lebih cepat daripada pasokannya. Tekanan tersebut dapat menaikkan biaya produksi serta memperketat kondisi keuangan sebelum manfaat produktivitas AI benar-benar dirasakan secara luas.
Kristalina mengaitkan situasi ini dengan Amara’s Law, yakni kecenderungan dunia melebih-lebihkan dampak teknologi baru dalam jangka pendek, tetapi meremehkan pengaruhnya dalam jangka panjang. Karena itu, masa transisi pembangunan infrastruktur dan pemanfaatan AI merupakan periode dengan tingkat risiko tertinggi. Pada tahap tersebut, biaya investasi, tekanan inflasi, dan persaingan memperoleh pembiayaan sudah muncul, sementara manfaat ekonomi masih belum merata. Kebijakan publik perlu menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memperluas akses agar transformasi AI tidak memperdalam kesenjangan global.
IMF menilai kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi besar untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi global dalam jangka panjang. Namun, peluang tersebut tidak akan terwujud secara otomatis hanya karena investasi pada pusat data, jaringan, perangkat keras, dan infrastruktur digital meningkat. Dampak awal pembangunan infrastruktur bahkan dapat lebih banyak terlihat melalui dorongan permintaan jangka pendek. Manfaat utama AI baru akan semakin nyata ketika teknologi ini digunakan secara luas dan mampu meningkatkan produktivitas di berbagai sektor.
Peningkatan produktivitas dapat terjadi melalui otomatisasi tugas rutin, pengambilan keputusan yang lebih akurat, inovasi produk, serta efisiensi dalam layanan publik dan kegiatan usaha. Perusahaan yang mampu memanfaatkan AI secara bertanggung jawab berpeluang menghasilkan lebih banyak nilai dengan sumber daya yang sama. Di tingkat masyarakat, teknologi tersebut juga dapat mempercepat penelitian, memperluas akses terhadap pengetahuan, dan membantu menciptakan solusi bagi tantangan ekonomi maupun sosial.
Penelitian IMF menunjukkan bahwa AI, apabila dikembangkan dan diterapkan dengan tepat, berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi global hingga 0,5% setiap tahun dalam jangka panjang. Kristalina Georgieva menggambarkan besarnya peluang ini melalui sebuah ilustrasi: apabila pertumbuhan global meningkat dari 3% menjadi 3,5%, tambahan nilai ekonomi yang tercipta selama satu dekade dapat setara dengan ukuran perekonomian ASEAN. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa selisih pertumbuhan yang tampak kecil dapat menghasilkan dampak kumulatif yang sangat besar.
Meski demikian, manfaat itu tetap bergantung pada karakteristik pengembangan dan penerapan AI, termasuk tingkat akses, kesiapan tenaga kerja, perlindungan data, serta kemampuan negara mengelola perubahan di pasar kerja. Kebijakan global yang tepat diperlukan agar teknologi tidak hanya menguntungkan negara dan perusahaan yang telah unggul, tetapi juga mempersempit kesenjangan antarnegara. Karena itu, investasi pada pendidikan, keterampilan digital, infrastruktur, dan tata kelola harus berjalan bersama dengan inovasi AI. Besarnya manfaat ekonomi tersebut pada akhirnya ditentukan oleh bagaimana AI dikembangkan, diterapkan, dan didukung oleh kebijakan global yang inklusif.

