Daisy Fajarina Adukan Dugaan Premanisme ke Bareskrim, Soroti Kondisi Keluarga

Daisy Fajarina Adukan Dugaan Premanisme ke Bareskrim, Soroti Kondisi Keluarga

Jakarta | Daisy Fajarina mengadukan dugaan tindakan premanisme dan perbuatan tidak menyenangkan yang disebut terjadi di tempat usahanya kepada Bareskrim. Pengaduan tersebut disampaikan sebagai langkah untuk melaporkan peristiwa yang menurut pengakuannya telah menimbulkan kerugian materiil sekaligus membuat dirinya merasa dipermalukan.

Daisy datang ke Bareskrim di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kedatangannya dilakukan bersama pengacaranya, Erles Rareral. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pengaduan terkait dugaan kejadian yang dialaminya di lingkungan usaha tersebut. Laporan itu menjadi bentuk penyampaian resmi atas keberatan Daisy terhadap peristiwa yang dinilainya merugikan.

Selain menyoroti dampak materiil, Daisy juga menekankan beban yang dirasakan setelah insiden tersebut. Ia mengaku merasa dipermalukan, sehingga persoalan itu tidak hanya berkaitan dengan kerugian yang dapat dihitung, tetapi juga menyentuh kondisi pribadi dan keluarganya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari alasan Daisy membawa persoalan itu ke Bareskrim bersama pendamping hukumnya.

Pengaduan itu berangkat dari dugaan tindakan premanisme dan perbuatan tidak menyenangkan yang dikaitkan dengan tempat usaha Daisy. Melalui kedatangannya ke Bareskrim, ia menyampaikan keluhan serta kerugian yang diklaim dialami. Pendampingan Erles Rareral turut menyertai proses penyampaian pengaduan tersebut pada hari yang sama. Daisy berharap persoalan yang telah berdampak terhadap dirinya dan keluarganya dapat memperoleh perhatian melalui pengaduan yang diajukan. Dalam keterangannya, fokus utama yang disampaikan adalah adanya dugaan perbuatan yang membuatnya mengalami kerugian materiil dan merasa dipermalukan. Pengaduan di Jakarta itu menandai langkah Daisy untuk menyampaikan persoalan tersebut kepada Bareskrim secara langsung.

Dampak emosional yang dirasakan Daisy turut menjadi bagian dari keterangannya setelah ia memikirkan kondisi keluarganya. Dalam proses menyampaikan pengaduan dugaan premanisme ke Bareskrim, ia tidak hanya menyoroti kerugian materiil dan perasaan dipermalukan, tetapi juga menyampaikan kekhawatiran terhadap keadaan anak pertamanya, Dewi.

Daisy mengatakan bahwa ia sempat tidak bisa tidur ketika menghadapi keadaan tersebut. Pernyataan itu disampaikan saat ia menjelaskan beban pikiran yang muncul setelah memikirkan keluarganya. Ia menyebut Dewi mengalami stres, tanpa menguraikan penyebabnya lebih lanjut. Keterangan tersebut menjadi bagian dari penjelasan Daisy mengenai dampak yang ia rasakan secara pribadi setelah insiden yang dilaporkannya.

Menurut Daisy, persoalan yang ia hadapi tidak berhenti pada dugaan tindakan yang merugikan secara materiil atau pengalaman dipermalukan. Situasi itu juga membuatnya memikirkan kondisi orang-orang terdekat, terutama anak pertamanya. Kekhawatiran terhadap keluarga kemudian ikut memengaruhi keadaan emosional Daisy, sebagaimana ia sampaikan dalam keterangannya kepada pihak berwenang.

Ia berharap laporan yang diajukan dapat diproses sesuai ketentuan dan memberikan kejelasan atas perkara tersebut. Bagi Daisy, penyampaian pengaduan merupakan upaya untuk mendapatkan penanganan terhadap dugaan premanisme yang ia alami sekaligus menyuarakan dampak yang dirasakan di lingkungan keluarganya. Mengenai kondisi Dewi, Daisy hanya menyampaikan bahwa anaknya mengalami stres dan bahwa keadaan itu membuatnya khawatir serta sempat mengalami kesulitan tidur.

Ketika ditanya mengenai Manohara, Daisy Fajarina tidak memberikan penjelasan lebih jauh atas nama putrinya. Ia menyarankan agar hal tersebut ditanyakan langsung kepada Manohara karena menurutnya sang putri sudah dewasa dan dapat menyampaikan pandangan maupun keterangannya sendiri. Pernyataan itu disampaikan Daisy tanpa menguraikan sikap Manohara terhadap persoalan yang sedang dibicarakan. Daisy juga tidak menyebutkan secara spesifik apakah Manohara mengetahui atau mengikuti perkembangan pengaduan yang ia sampaikan.

Daisy tidak memerinci bentuk komunikasi yang dilakukan dengan Manohara berkaitan dengan pengaduan tersebut. Ia tidak menjelaskan isi percakapan, waktu komunikasi, ataupun tanggapan yang mungkin disampaikan oleh putrinya. Karena itu, keterangan Daisy hanya menggambarkan sikapnya untuk tidak berbicara atas nama Manohara. Informasi mengenai pandangan Manohara tetap perlu diperoleh langsung darinya, apabila ia berkenan memberikan pernyataan. Hal ini juga membuat posisi atau keterlibatan Manohara dalam perkara tersebut tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan pernyataan Daisy.

Di tengah pembahasan mengenai persoalan keluarga, Daisy menegaskan bahwa anak-anaknya saling menyayangi. Menurutnya, perhatian dan kepedulian di anggota keluarga merupakan hal yang wajar, termasuk ketika seorang anak menunjukkan sikap protektif terhadap keluarganya. Sikap tersebut dipandang sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian, bukan sesuatu yang perlu ditafsirkan secara berlebihan. Daisy menyampaikan pandangan itu dalam konteks hubungan keluarganya, tanpa mengaitkannya dengan posisi tertentu dari masing-masing anak dalam pengaduan. Dengan demikian, keterangannya berfokus pada hubungan personal serta nilai saling melindungi di dalam keluarga. Ia tetap tidak memerinci apakah sikap tersebut berkaitan langsung dengan komunikasi atau langkah hukum yang sedang ditempuhnya.

Ketika ditanya mengenai komunikasi terakhir dengan Manohara, Daisy Fajarina menyampaikan bahwa dirinya tetap berkomunikasi melalui doa. Bagi Daisy, doa menjadi cara untuk menyampaikan kasih sayang, perhatian, dan harapan kepada putrinya, meskipun komunikasi secara langsung tidak selalu dapat dilakukan. Ia mengatakan selalu mendoakan hal-hal baik untuk anak-anaknya, termasuk kesehatan, keselamatan, ketenangan, serta masa depan yang lebih baik.

Daisy berharap Manohara senantiasa berada dalam keadaan selamat dan memperoleh perlindungan. Ia juga mendoakan agar putrinya memiliki pengasihan, sehingga dikelilingi niat baik, kasih sayang, dan orang-orang yang dapat memberikan dukungan. Harapan tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian seorang ibu yang ingin anaknya terhindar dari berbagai keadaan yang dapat merugikan atau membahayakan.

Selain memohon keselamatan, Daisy berharap Manohara dijauhkan dari hal-hal jahat, pengaruh buruk, serta situasi yang dapat mengganggu kehidupannya. Doa yang ia panjatkan juga ditujukan bagi anak-anaknya yang lain, dengan harapan mereka selalu mendapat penjagaan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Daisy memilih menyampaikan doa serta harapan perlindungan bagi putrinya, tanpa memberikan keterangan tambahan mengenai perkembangan laporan maupun membuat penilaian lebih jauh tentang hubungan keluarga mereka.