Makassar | PSM Makassar mengalahkan tuan rumah PSIM Yogyakarta dengan skor 2-1 pada pekan kelima Super League 2026-2027. Pertandingan berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada Jumat, 16 Oktober. Hasil tersebut menjadi kemenangan perdana PSM di kompetisi musim ini sekaligus kemenangan pertama tim di bawah asuhan Darije Kalezic. Tiga poin dari laga tandang itu memberi arti penting bagi perjalanan PSM, yang sebelumnya belum meraih kemenangan dalam empat pekan awal.
Kemenangan ini terasa semakin berarti karena PSM harus menyelesaikan pertandingan dengan sepuluh pemain. Bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit membuat tim perlu menjaga disiplin dan mengelola keunggulan di tengah tekanan tuan rumah. Namun, PSM mampu mempertahankan selisih satu gol hingga pertandingan berakhir. Ketahanan tersebut menjadi bagian penting dari hasil di Bantul, terlebih PSIM bermain di kandang sendiri dan berusaha memanfaatkan situasi untuk mengejar ketertinggalan.
Skor 2-1 juga menunjukkan bahwa PSM berhasil mengubah peluang menjadi hasil konkret dalam pertandingan yang berlangsung kompetitif. Meski selisih gol tipis, kemenangan ini dapat menjadi bekal bagi tim untuk menatap laga-laga berikutnya dengan kepercayaan diri yang lebih baik. Bagi Darije Kalezic, hasil tersebut menandai awal yang positif setelah belum memperoleh kemenangan bersama PSM pada empat pertandingan sebelumnya di liga. Tim tetap perlu menjaga konsistensi, sebab satu hasil baik belum cukup untuk menentukan posisi akhir dalam persaingan panjang musim ini.
Bagi PSIM, kekalahan di hadapan pendukungnya tentu menjadi hasil yang perlu dievaluasi, terutama karena mereka gagal menyamakan kedudukan meski PSM bermain dengan sepuluh pemain. Sementara itu, PSM dapat membawa pulang tiga poin berharga dari Bantul. Kemenangan perdana ini bukan hanya memutus penantian atas raihan penuh, tetapi juga menjadi dorongan awal bagi skuad untuk membangun momentum di Super League 2026-2027. Perhatian berikutnya akan tertuju pada kemampuan PSM mempertahankan performa dan meneruskan hasil positif tersebut pada pekan-pekan mendatang.
PSM membuka keunggulan atas PSIM melalui gol Achmat Fahrul Aditia pada menit ke-50. Gol tersebut menjadi penanda bahwa tim Makassar itu lebih dahulu mencatatkan angka dalam pertandingan. Berdasarkan informasi yang tersedia, tidak dijelaskan bagaimana proses gol tercipta, sehingga uraian mengenai umpan, pergerakan pemain, atau situasi di depan gawang tidak dapat dipastikan. Hal yang dapat dicatat adalah nama pencetak gol dan waktu terjadinya, yakni Aditia pada awal babak kedua.
Keunggulan PSM bertambah pada menit ke-66. Stefan Jevtoski mencetak gol kedua, membuat PSM memiliki jarak dua gol dari PSIM pada fase pertandingan tersebut. Seperti gol pertama, informasi sumber hanya menyebutkan pencetak gol dan menitnya, tanpa menerangkan rangkaian kejadian yang mendahului penyelesaian. Karena itu, catatan pertandingan dapat disampaikan secara faktual tanpa menambahkan detail teknis yang tidak tersedia. Dua nama pencetak gol itu menjadi sorotan dalam jalannya skor PSM pada laga ini.
Kedua gol tersebut tercipta sebelum PSM harus melanjutkan pertandingan dengan sepuluh pemain akibat kartu merah. Urutan waktunya penting: Aditia membawa PSM unggul lebih dahulu, Jevtoski kemudian menambah keunggulan, dan situasi kartu merah terjadi setelah rangkaian gol itu. Dengan demikian, keunggulan yang dibangun sebelum jumlah pemain PSM berkurang menjadi bagian penting dari konteks kemenangan perdana atas PSIM. Fakta ini juga menjelaskan bahwa gol kedua hadir ketika PSM masih belum berada dalam situasi bermain dengan sepuluh pemain.
Catatan skor menunjukkan PSM mampu mencetak dua gol melalui dua pemain berbeda dalam rentang 16 menit, dari menit ke-50 hingga menit ke-66. Informasi tersebut memberi gambaran dasar tentang perubahan kedudukan, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan pola serangan atau dominasi permainan. Tanpa rincian proses gol, pembahasan paling akurat berfokus pada urutan pencetak dan waktunya. Setelah Jevtoski mencetak gol, PSM memiliki keunggulan yang kemudian harus dijaga dalam kondisi jumlah pemain yang berkurang. Dengan batas informasi itu, kontribusi Aditia dan Jevtoski tetap jelas sebagai pencetak dua gol PSM sebelum kartu merah, sekaligus sebagai momen penting dalam kemenangan perdana tim tersebut atas PSIM.
PSM harus menuntaskan pertandingan melawan PSIM dengan jumlah pemain yang berkurang setelah Dusan Lagator menerima kartu merah pada menit ke-79. Keputusan tersebut membuat PSM melanjutkan laga hanya dengan 10 pemain, sementara pertandingan masih berlangsung dan keunggulan mereka belum aman. Situasi itu menjadi perubahan penting pada fase akhir pertandingan, sebab PSM perlu menjaga keunggulan dengan satu pemain lebih sedikit. Hingga saat itu, PSM masih berada di depan dengan skor 0-2, sehingga tugas mempertahankan hasil menjadi semakin menantang setelah Lagator meninggalkan lapangan.
Tiga menit setelah kartu merah tersebut, PSIM memperoleh kesempatan untuk memperkecil jarak. Gelandang Ze Valente mencetak gol dari titik penalti pada menit ke-82. Gol itu mengubah skor menjadi 1-2 dan membuat selisih kedua tim kembali menjadi satu gol. Urutan kejadian ini menempatkan PSM dalam tekanan pada penghujung laga: terlebih dahulu kehilangan Lagator akibat kartu merah, kemudian harus menghadapi gol penalti yang dicetak Ze Valente. Tidak ada perubahan pada fakta pokok tersebut; PSM bermain dengan 10 pemain, sedangkan PSIM berhasil mencatatkan satu gol setelah tertinggal dua gol.
Meski menghadapi keadaan itu, PSM tetap mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir. Skor akhir tercatat 1-2 untuk kemenangan PSM atas PSIM. Dengan demikian, kartu merah pada menit ke-79 dan gol penalti pada menit ke-82 menjadi dua kejadian berurutan yang menandai akhir pertandingan. PSM harus bermain dengan 10 pemain setelah Lagator diusir, lalu melihat PSIM memperkecil ketertinggalan melalui Ze Valente. Namun, skor tidak berubah lagi setelah gol tersebut. Hasil akhir tetap memberikan kemenangan 1-2 kepada PSM, meskipun PSIM sempat memangkas jarak pada menit-menit akhir dan PSM menjalani sisa pertandingan dengan jumlah pemain yang lebih sedikit.
Darije Kalezic menilai kemenangan PSM atas PSIM tidak lepas dari kemampuan para pemain mengontrol jalannya pertandingan. Menurut pelatih tersebut, timnya dapat menjalankan strategi secara efektif sehingga tetap mampu mengendalikan situasi di lapangan. Penilaian itu menjadi penting karena PSM harus menghadapi pertandingan dengan jumlah pemain yang berkurang. Dalam kondisi tersebut, para pemain tetap mengikuti pendekatan yang telah disiapkan dan menjaga kendali permainan sesuai kebutuhan tim.
Kalezic menjelaskan bahwa PSM tidak berusaha merebut penguasaan bola setiap saat. Sebaliknya, timnya membiarkan pemain PSIM lebih banyak menguasai pertandingan. Keputusan tersebut didasarkan pada penilaiannya terhadap kemampuan lawan dalam memanfaatkan bola. Meski PSIM terlihat mengendalikan penguasaan, Kalezic menilai mereka kesulitan mengubah situasi itu menjadi peluang berbahaya. Karena itu, PSM tetap merasa dapat mengelola pertandingan tanpa harus selalu menjadi tim yang menguasai bola.
Dalam penjelasan Kalezic, ukuran keberhasilan strategi bukan sekadar seberapa sering sebuah tim memegang bola, melainkan juga dampak penguasaan tersebut terhadap peluang dan gol. Ia melihat PSIM belum mampu menciptakan peluang yang cukup untuk mengancam PSM maupun mencetak gol. Situasi itu membuat pendekatan PSM berjalan sesuai tujuan: memberi lawan ruang untuk menguasai permainan, tetapi tetap mengontrol jalannya laga. Dengan strategi yang efektif dan pelaksanaan yang baik dari para pemain, PSM mampu mempertahankan kendali hingga meraih kemenangan. Penilaian tersebut menggambarkan alasan Kalezic memilih untuk tidak menjadikan penguasaan bola sebagai prioritas utama.
Baca juga: Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Anak-anak, Siti Nurlaela Dorong Budaya Bermain dan Berkarya





