Kabupaten Kutai Kartanegara | Produk hilirisasi perikanan dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, mulai menjajaki pasar Afrika melalui kerja sama ekspor dengan perusahaan asal Kamerun. Kesepakatan ini mempertemukan produsen lokal PT Ganiya Bogatama dengan Aqua Conv S.A. sebagai mitra dari negara Afrika Tengah tersebut. Kolaborasi itu membuka peluang bagi produk olahan ikan daerah untuk menjangkau konsumen di luar pasar domestik sekaligus memperluas hubungan dagang Indonesia dengan Kamerun.
Kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman dalam The 2nd Indonesia-Cameroon Business Forum. Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian 41st Trade Expo Indonesia 2026 yang berlangsung di ICE BSD City, Tangerang, Banten. Penandatanganan itu menjadi langkah awal bagi penjajakan kerja sama komersial pelaku usaha Indonesia dan Kamerun, khususnya dalam pengembangan perdagangan produk perikanan. Melalui kemitraan ini, produk yang diolah oleh perusahaan lokal Kukar berkesempatan memasuki jalur pemasaran baru di kawasan Afrika.
Kerja sama tersebut dirancang untuk mendukung diplomasi ekonomi Indonesia ke Afrika Tengah, sekaligus memperkuat keterhubungan dunia usaha kedua negara. Bagi sektor perikanan nasional, peluang ini sejalan dengan upaya diversifikasi pasar ekspor nontradisional, sehingga tujuan perdagangan tidak hanya bertumpu pada pasar yang telah lama menjadi mitra. Perluasan jangkauan dapat membantu memperkenalkan produk olahan perikanan Indonesia kepada pembeli baru dan membuka ruang bagi peningkatan nilai tambah komoditas. Namun, penjajakan pasar juga memerlukan tindak lanjut, termasuk pemahaman atas kebutuhan konsumen, ketentuan perdagangan, serta persyaratan yang berlaku di negara tujuan. Dengan demikian, nota kesepahaman ini menjadi landasan awal untuk mengembangkan peluang ekspor produk perikanan Kukar ke Kamerun dan kawasan sekitarnya. Keberlanjutan kerja sama akan bergantung pada kesiapan para pihak dalam menerjemahkan kesepakatan menjadi transaksi dan distribusi yang efektif.
Produk olahan perikanan dari Kutai Kartanegara memiliki ragam yang mencerminkan ketersediaan bahan baku sekaligus kemampuan pengembangan usaha lokal. Produk unggulan yang disebutkan meliputi abon ikan gabus, tuna, dan nila, dengan pilihan rasa serta bentuk olahan yang dapat menjangkau kebutuhan konsumen berbeda. Selain abon, pelaku usaha juga menghasilkan camilan berbahan ikan, makanan olahan beku, serta ikan asin yang dikemas menggunakan teknologi vakum. Variasi tersebut memberi nilai tambah pada hasil tangkapan maupun budidaya, karena ikan dapat dipasarkan dalam bentuk yang lebih praktis dan memiliki karakter penyimpanan berbeda dibandingkan ikan segar.
PT Ganiya Bogatama menjadi salah satu produsen yang mengembangkan inovasi di bidang pengolahan perikanan. Perusahaan ini disebut mengolah sedikitnya 35 produk inovasi perikanan, mencakup berbagai jenis makanan dan cara pengemasan. Banyaknya pilihan produk menunjukkan bahwa pengolahan tidak terbatas pada satu komoditas atau satu bentuk sajian. Namun, informasi mengenai ragam produk unggulan dan kapasitas inovasi tersebut tidak berarti bahwa seluruh produk telah dikirim ke luar negeri. Kerja sama ekspor yang dijajaki dengan Kamerun membuka peluang pemasaran internasional, sementara produk tertentu dan kesiapan pemenuhannya perlu mengikuti kesepakatan serta kebutuhan pasar tujuan.
Kesiapan produsen lokal untuk memasuki pasar yang lebih luas turut didukung pemenuhan persyaratan mutu. Produk disebut telah mengantongi standardisasi internasional, termasuk Sertifikat Kelayakan Pengolahan, sertifikasi halal, dan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP). Sertifikat Kelayakan Pengolahan berkaitan dengan kelayakan proses produksi, sedangkan sertifikasi halal memberi kepastian bagi konsumen mengenai aspek kehalalan produk. Penerapan GMP membantu menjaga kebersihan, konsistensi, dan tata kelola produksi. Dukungan tersebut penting bagi usaha yang ingin membangun kepercayaan pembeli dan memenuhi standar distribusi. Dengan ragam olahan serta perhatian pada mutu, produsen Kutai Kartanegara memiliki landasan untuk menawarkan produk perikanan bernilai tambah. Penjajakan ekspor dapat menjadi tahapan untuk memperkenalkan potensi itu, dengan tetap memastikan produk yang diperdagangkan sesuai persyaratan dan ruang lingkup kerja sama.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa keikutsertaan pelaku usaha daerah dalam Trade Expo Indonesia (TEI) membuka kesempatan untuk bertransaksi maupun menjalin komunikasi dengan calon mitra dari luar negeri. Sejumlah UMKM Kalimantan Timur memperoleh respons dari pengunjung dan calon pembeli, meskipun tahapan tindak lanjut setiap produk berbeda. Menurut Sri, interaksi yang berlangsung di pameran tersebut menunjukkan adanya minat sekaligus menjadi awal penjajakan, bukan dengan sendirinya menandakan bahwa seluruh produk telah memperoleh kontrak ekspor.
Sri menjelaskan, sebagian komunikasi UMKM dan calon pembeli dilanjutkan melalui Letter of Intent (LoI). Dokumen tersebut mencatat adanya keseriusan untuk menjajaki kerja sama, tetapi masih memerlukan proses lanjutan sebelum dapat disebut sebagai transaksi ekspor yang terealisasi. Sementara itu, produk lain masih berada dalam tahap evaluasi dan penyempurnaan. Masukan dari calon pembeli dapat berkaitan dengan karakteristik produk, mutu, kemasan, kapasitas pasokan, maupun persyaratan lain yang perlu dipenuhi agar produk lebih sesuai dengan kebutuhan pasar tujuan.
Bagi Sri, kesempatan bertemu langsung dengan calon pembeli memiliki nilai penting karena pelaku usaha dapat memperoleh gambaran lebih jelas mengenai standar dan preferensi pasar internasional. Penilaian tersebut tidak hanya berguna bagi UMKM untuk memperbaiki produk dan menyiapkan tindak lanjut, tetapi juga menjadi bahan bagi pemerintah provinsi dalam merancang dukungan yang tepat. Pemerintah dapat mencermati kebutuhan yang muncul, lalu menyesuaikan fasilitasi bagi pelaku usaha, misalnya dalam peningkatan kualitas, pemenuhan persyaratan, atau penguatan kesiapan pemasaran. Dengan demikian, hasil partisipasi di TEI dapat digunakan sebagai masukan untuk tahap pengembangan berikutnya. Sri menempatkan komunikasi dan evaluasi itu sebagai bagian dari proses memperluas akses pasar, tanpa menyamakan minat awal atau LoI dengan kepastian pengiriman barang. Bagi produk olahan ikan dari Kutai Kartanegara yang dijajaki untuk pasar Kamerun, proses tersebut memberi ruang bagi pelaku usaha untuk memahami ekspektasi calon mitra serta menilai langkah perbaikan yang diperlukan. Tindak lanjut dan kesiapan produk tetap menjadi penentu perkembangan kerja sama berikutnya.
Penandatanganan kesepakatan ekspor produk olahan ikan asal Kutai Kartanegara berlangsung dengan dukungan sejumlah pemangku kepentingan dari Indonesia dan Kamerun. Prosesi tersebut disaksikan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun Agung Cahaya Sumirat. Kehadiran para pejabat ini menegaskan dukungan pemerintah daerah dan perwakilan diplomatik dalam membuka peluang perdagangan bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kalimantan Timur.
Forum itu juga dihadiri Direktur Kerja Sama Negara Berkembang Kementerian Ekonomi Kamerun, Dr. Nana Emmanuel Mbafong, serta Wakil Ketua Komite Tetap Afrika Kadin Indonesia, Sylvie Tomasoa. Pertemuan tersebut digagas oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaoundé untuk Kamerun. Selain menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku usaha dan mitra, forum ini membuka kesempatan bagi produk lokal untuk diperkenalkan kepada calon pembeli serta jaringan perdagangan di pasar Afrika.
Sri menyampaikan apresiasi atas kolaborasi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kalimantan Timur dengan berbagai lembaga dan perusahaan yang turut membantu UMKM memperoleh akses pasar. Dukungan para mitra itu berperan dalam memperluas jejaring, memberikan pendampingan, dan membantu usaha lokal menjajaki peluang kerja sama. Sejumlah lembaga dan perusahaan tersebut bertindak sebagai mitra atau “bapak angkat” bagi UMKM, yakni Bank Indonesia, PT KPC, PT Berau Coal, PT Kaltim Nitrat Indonesia, PT Pupuk Kaltim, dan PHM.
Kolaborasi lintas pihak dinilai penting agar peluang yang tercipta melalui forum dagang dapat berlanjut menjadi hubungan usaha yang berkelanjutan.




