Ulang Tahun Prabowo, Istana Sampaikan Apresiasi dan Serukan Persatuan

Prabowo Subianto Genap 75 Tahun: Perjalanan dari Militer hingga Presiden

Jakarta | Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada masyarakat Indonesia atas perhatian yang diberikan dalam rangka ulang tahun Presiden Prabowo Subianto. Apresiasi itu juga disampaikan kepada para tokoh bangsa, sahabat, serta berbagai pihak lain yang ikut menyampaikan perhatian. Bentuk perhatian tersebut mencakup ucapan selamat, doa, harapan, karangan bunga, hingga ungkapan kasih sayang. Prasetyo menyatakan bahwa setiap ucapan dan doa yang disampaikan merupakan dukungan berarti bagi Presiden.

Pernyataan tersebut menempatkan perhatian masyarakat sebagai bagian penting dari peringatan ulang tahun kepala negara. Ucapan yang datang dari berbagai kalangan menunjukkan adanya kepedulian terhadap Prabowo pada momen tersebut. Selain pesan langsung, karangan bunga menjadi salah satu bentuk perhatian yang turut disebutkan. Sementara itu, doa dan harapan yang disampaikan masyarakat mencerminkan dukungan serta keinginan baik bagi Presiden. Istana menyampaikan penghargaan atas seluruh bentuk perhatian itu tanpa membedakan pihak yang menyampaikannya.

Prasetyo secara khusus mengapresiasi masyarakat Indonesia, para tokoh bangsa, dan sahabat yang menyampaikan pesan maupun doa. Ia juga mengakui perhatian dari pihak-pihak lain yang turut merayakan atau menandai hari ulang tahun Prabowo melalui ungkapan kasih sayang. Ragam ungkapan tersebut, menurut pernyataannya, memiliki nilai tersendiri. Setiap pesan yang diterima tidak dipandang sekadar sebagai formalitas, melainkan sebagai bentuk dukungan yang berarti pada hari istimewa bagi Presiden.

Penyampaian terima kasih dari Istana sekaligus menjadi tanggapan atas perhatian yang diterima dalam peringatan tersebut. Ucapan selamat, doa, harapan, karangan bunga, dan ungkapan kasih sayang merupakan beberapa cara masyarakat serta berbagai kalangan menyampaikan kepedulian. Prasetyo menegaskan bahwa semua itu dihargai. Dengan demikian, pesan utama yang disampaikan Istana adalah apresiasi kepada setiap pihak yang meluangkan perhatian untuk Prabowo. Dukungan berupa ucapan dan doa, sebagaimana disampaikan Prasetyo, menjadi hal yang bermakna bagi Presiden.

Apresiasi tersebut juga mencakup perhatian yang disampaikan secara beragam, baik melalui pesan maupun bentuk lain yang disebutkan. Istana menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang ikut menyampaikan ucapan selamat dan harapan pada momen ulang tahun itu. Dalam keterangannya, Prasetyo menekankan arti setiap doa dan ucapan sebagai dukungan. Pernyataan ini menjadi inti respons Istana atas perhatian masyarakat, tokoh bangsa, sahabat, serta pihak lain yang turut memberikan ungkapan kasih sayang kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dalam menyampaikan pesan pada momentum ulang tahun Presiden Prabowo Subianto, Prasetyo menekankan bahwa doa dan harapan baik tidak hanya menjadi ungkapan pribadi, tetapi juga dapat menjadi pengingat akan pentingnya saling mendoakan. Ia berharap setiap doa membawa keberkahan, kesehatan, kebahagiaan, serta kebaikan bagi semua. Harapan tersebut ditujukan kepada masyarakat luas, sekaligus mencerminkan keinginan agar suasana kebersamaan terus tumbuh di tengah kehidupan berbangsa.

Prasetyo juga mengajak masyarakat menjaga persatuan dan mempererat persaudaraan. Menurutnya, perbedaan di tengah masyarakat perlu disikapi dengan rasa saling menghormati dan semangat untuk bekerja bersama. Persatuan menjadi landasan penting agar seluruh elemen bangsa dapat menghadapi tantangan dan berkontribusi bagi masa depan Indonesia. Ajakan itu selaras dengan harapan agar pembangunan tidak hanya mendorong kemajuan, tetapi juga menghadirkan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan yang dapat dirasakan bersama.

Dalam pesannya, Prasetyo menyampaikan, “Semoga doa dan harapan baik ini membawa keberkahan, kesehatan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi kita semua. Mari kita terus menjaga persatuan, mempererat persaudaraan, dan bersama-sama membangun Indonesia yang kuat, maju, adil, makmur, dan sejahtera. Semoga kebersamaan dan semangat persatuan tetap terjaga demi Indonesia yang semakin maju dan sejahtera.” Pesan tersebut menempatkan kebersamaan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya seruan pada satu kesempatan. Dengan menjaga hubungan baik, memperkuat rasa persaudaraan, dan mengutamakan kepentingan bangsa, masyarakat dapat ikut mendukung cita-cita Indonesia yang lebih kuat dan maju. Harapan akan kehidupan yang adil, makmur, serta sejahtera pun memerlukan partisipasi dan kepedulian semua pihak. Karena itu, ajakan Prasetyo menjadi dorongan untuk merawat persatuan dalam keseharian dan terus bekerja sama membangun bangsa.

Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, putra ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo dan Dora Marie Sigar. Masa kecilnya dijalani di sejumlah negara, yakni Singapura, Hong Kong, Malaysia, Swiss, dan Inggris, mengikuti perjalanan keluarganya. Pengalaman hidup di lingkungan internasional itu turut memberinya kemampuan berbahasa Inggris, Prancis, Belanda, dan Jerman, selain bahasa Indonesia.

Ketertarikan Prabowo pada dunia militer membawanya masuk Akademi Militer di Magelang pada 1970. Ia menyelesaikan pendidikan dan lulus pada 1974, kemudian menjalani penugasan di Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Dalam karier militernya, ia memimpin sejumlah operasi, termasuk Operasi Mapenduma di kawasan pegunungan Papua pada 1996. Perjalanan tersebut menempatkannya dalam berbagai tugas dan posisi di lingkungan militer. Pada 20 Maret 1998, Prabowo diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Ia juga dikenal dengan julukan “08” dan “Pandu”, yang disebut berakar dari lingkungan Kopassus dan Kostrad.

Setelah kiprah panjang di militer, Prabowo beralih ke dunia politik. Pada 2008, ia turut membentuk Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), sebuah langkah yang menandai keterlibatannya secara lebih langsung dalam politik nasional. Enam tahun kemudian, pada 2014, ia menjadi ketua umum partai tersebut. Peralihan dari akademi militer ke organisasi politik memperlihatkan perubahan ruang pengabdian Prabowo, dari tugas dalam institusi pertahanan menuju kepemimpinan partai dan arena demokrasi. Latar belakang keluarga, pengalaman lintas negara, serta perjalanan kariernya di Kopassus dan Kostrad menjadi bagian dari riwayat yang relevan untuk memahami kiprahnya hingga memasuki politik. Sejumlah tahap itu membentuk perjalanan yang panjang dan beragam, dari pendidikan serta penugasan militer hingga peran dalam pendirian dan kepemimpinan Gerindra.

Perjalanan politik Prabowo Subianto di tingkat nasional berlangsung melalui beberapa kontestasi pemilihan presiden. Ia beberapa kali mengikuti pemilihan tersebut sebelum akhirnya menjabat sebagai presiden. Setiap pencalonan menempatkannya dalam persaingan untuk memperoleh dukungan pemilih, dengan hasil yang berbeda pada setiap pemilu. Salah satu kontestasi yang tercatat adalah Pilpres 2019. Dalam pemilihan itu, Prabowo belum memperoleh kemenangan. Setelah proses pemilu tersebut, Presiden Joko Widodo mengangkatnya menjadi menteri pertahanan. Penunjukan itu membawa Prabowo masuk ke dalam pemerintahan yang dipimpin oleh tokoh yang sebelumnya menjadi lawannya dalam kontestasi presiden. Ia kemudian menjalankan tugas sebagai menteri pertahanan sebelum kembali mengikuti pemilihan presiden berikutnya. Urutan peristiwa tersebut menjadi bagian dari perjalanan politiknya menuju pencalonan pada 2024.

Pada Pilpres 2024, Prabowo kembali maju sebagai calon presiden, kali ini berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden. Pasangan tersebut mengikuti pemilihan yang menentukan kepemimpinan nasional untuk periode pemerintahan berikutnya. Berdasarkan hasil yang disebutkan dalam sumber, Prabowo dan Gibran memperoleh 58 persen suara. Perolehan tersebut mengantarkan keduanya menjadi presiden dan wakil presiden terpilih. Setelah tahapan pemilihan selesai, pasangan itu dilantik pada 20 Oktober 2024 untuk memimpin Indonesia selama periode 2024–2029. Dengan pelantikan tersebut, Prabowo memulai masa jabatan sebagai presiden, sementara Gibran menjalankan tugas sebagai wakil presiden. Perjalanan dari beberapa kali mengikuti pemilihan presiden, kemudian menjabat menteri pertahanan setelah Pilpres 2019, hingga kembali maju pada 2024, tercatat sebagai rangkaian jabatan dan pencalonan Prabowo di tingkat nasional.

Tanggal pelantikan menjadi penanda awal periode pemerintahan Prabowo-Gibran.

Baca juga: Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan