Siera 2026 Bahas Lima Unsur untuk Memperkuat Ketahanan Kesehatan Indonesia

Siera 2026 Bahas Lima Unsur untuk Memperkuat Ketahanan Kesehatan Indonesia

Jakarta | Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (Pertasindo) akan menyelenggarakan The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (Siera) pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta. Pertemuan ini menjadi ruang bagi pemangku kepentingan untuk membahas cara memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi ancaman kesehatan, baik yang berlangsung secara bertahap maupun muncul sebagai krisis mendadak. Siera 2026 mengusung tema “Advancing Health Resilience Through the 5M Framework: Man, Money, Material, Machine, and Methods”. Tema tersebut menempatkan lima unsur sebagai kerangka untuk melihat kapasitas sistem secara menyeluruh, mulai dari tenaga yang menjalankan layanan hingga tata cara kerja yang menghubungkan berbagai sumber daya.

Kerangka 5M mencakup Man, Money, Material, Machine, dan Methods, atau manusia, pendanaan, material, mesin, serta metode. Unsur manusia merujuk pada tenaga kesehatan dan para pihak pendukung yang membutuhkan kompetensi, perlindungan, dan koordinasi memadai. Money menyoroti ketersediaan serta pengelolaan pembiayaan agar program kesiapsiagaan dan respons dapat berjalan berkelanjutan. Material mencakup obat, alat kesehatan, perlengkapan pelindung, dan kebutuhan penting lain yang harus tersedia saat diperlukan. Machine berkaitan dengan peralatan, teknologi, dan infrastruktur yang mendukung layanan serta pengelolaan informasi. Sementara itu, Methods meliputi kebijakan, prosedur, standar, dan mekanisme kolaborasi untuk memastikan setiap unsur bekerja secara terpadu.

Melalui simposium ini, Pertasindo bertujuan mendorong penguatan sistem ketahanan kesehatan nasional dengan memperhatikan keterkaitan kelima elemen tersebut. Ketersediaan peralatan, misalnya, tidak akan cukup tanpa tenaga terlatih, pembiayaan yang sesuai, rantai pasok yang andal, dan prosedur yang jelas. Karena itu, pembahasan 5M dapat membantu peserta mengenali kesenjangan kapasitas sekaligus merumuskan prioritas perbaikan yang relevan bagi konteks Indonesia. Pertemuan di Jakarta ini juga membuka kesempatan untuk bertukar pengalaman, mempertemukan perspektif lintas sektor, dan membangun pemahaman bersama mengenai kesiapan menghadapi risiko kesehatan. Dengan menelaah setiap unsur sebagai bagian dari satu sistem, Siera 2026 diharapkan mendukung langkah yang lebih terkoordinasi, tangguh, dan berkelanjutan bagi kesehatan masyarakat.

Kerangka 5M menawarkan cara untuk melihat kebutuhan ketahanan kesehatan secara utuh, bukan sebagai daftar program yang berdiri sendiri. Lima unsurnya mencakup sumber daya manusia (man), pembiayaan (money), material, teknologi dan peralatan (machine), serta metode kerja (methods). Masing-masing menopang fungsi yang berbeda, tetapi keberhasilan satu unsur bergantung pada kesiapan unsur lainnya. Tenaga kesehatan, misalnya, memerlukan alat yang berfungsi, pasokan medis yang tersedia, pendanaan yang memadai, dan prosedur kerja yang jelas agar dapat memberikan layanan dengan aman dan tepat waktu. Karena itu, penguatan sistem perlu memperhatikan keseluruhan rangkaian tersebut.

Unsur man mencakup ketersediaan tenaga kesehatan, kompetensi, distribusi, dan kesiapan mereka dalam menghadapi keadaan rutin maupun krisis. Money menyediakan dukungan anggaran untuk merekrut dan melatih tenaga, membeli material, memelihara peralatan, serta menjalankan layanan. Material meliputi obat, vaksin, alat pelindung diri, dan berbagai kebutuhan medis yang harus tersedia dengan mutu serta jumlah sesuai kebutuhan. Sementara itu, machine merujuk pada teknologi dan peralatan, termasuk sarana diagnostik, sistem informasi, dan perangkat layanan. Methods mengatur cara seluruh sumber daya itu direncanakan, dikoordinasikan, digunakan, dan dievaluasi. Tanpa metode yang efektif, ketersediaan sumber daya belum tentu menghasilkan pelayanan yang konsisten.

Ketua Pertasindo, Mayjen (Purn) dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi, memandang kelima unsur tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Pandangan ini menegaskan bahwa ketahanan kesehatan tidak cukup dibangun dengan menambah anggaran atau teknologi saja, jika tenaga terampil, pasokan, maupun tata kerja belum siap. Sebaliknya, tenaga yang kompeten juga sulit bekerja optimal ketika alat rusak, kebutuhan material terlambat, atau pembiayaan tidak berkelanjutan. Mengabaikan satu unsur saja dapat melemahkan unsur lain dan pada akhirnya menggagalkan upaya mewujudkan sistem ketahanan kesehatan nasional yang memadai bagi masyarakat luas. Kerangka 5M karena itu dapat membantu pemangku kepentingan mengenali kesenjangan, menyusun prioritas, dan memastikan kebijakan berjalan terpadu, dari perencanaan hingga pelaksanaan di fasilitas kesehatan dan tingkat komunitas.

Dian menjelaskan bahwa ketahanan kesehatan Indonesia tidak dapat dibangun hanya dengan menambah fasilitas atau menerapkan inovasi teknologi. Keduanya memang berperan dalam mendukung layanan, tetapi tidak akan cukup apabila berdiri sendiri. Fasilitas yang tersedia perlu ditopang tenaga manusia berkualitas, pembiayaan yang berkelanjutan, serta metode kerja yang sistematis. Karena itu, penguatan ketahanan kesehatan perlu dipahami sebagai upaya membangun ekosistem yang menghubungkan berbagai unsur, bukan sekadar menyediakan satu jenis sumber daya atau memperkenalkan perangkat baru.

Kerangka 5M membantu menunjukkan keterkaitan tersebut melalui unsur manusia, pembiayaan, bahan atau sarana pendukung, mesin atau teknologi, dan metode. Setiap unsur memiliki fungsi, tetapi efektivitasnya bergantung pada hubungan dengan unsur lainnya. Teknologi, misalnya, perlu didukung oleh tenaga yang mampu memanfaatkannya dan metode kerja yang jelas. Demikian pula, fasilitas dan sarana pendukung memerlukan pembiayaan yang dapat menjaga keberlangsungan pemanfaatannya. Dengan demikian, perhatian pada satu elemen saja belum mencerminkan penguatan yang utuh.

Unsur manusia mencakup tenaga kesehatan dan pihak lain yang memiliki kapasitas untuk menjalankan fungsi dalam ekosistem kesehatan. Pembiayaan berkelanjutan diperlukan agar berbagai kebutuhan dapat ditopang secara konsisten, bukan hanya pada tahap pengadaan. Sarana dan teknologi perlu terhubung dengan kebutuhan layanan, sementara metode kerja yang sistematis membantu memastikan seluruh unsur dapat bekerja secara terarah. Penjelasan ini menekankan pentingnya keselarasan, bukan perlombaan untuk menonjolkan fasilitas atau teknologi tertentu.

Oleh sebab itu, seluruh pemangku kepentingan perlu menyelaraskan kelima elemen 5M dalam upaya memperkuat ketahanan kesehatan. Keselarasan berarti tiap unsur dipertimbangkan sebagai bagian dari ekosistem yang saling mendukung. Jika pengembangan fasilitas, kapasitas manusia, pembiayaan, teknologi, dan metode berjalan tanpa hubungan yang jelas, potensi masing-masing unsur tidak akan terwujud secara optimal. Pendekatan yang menghubungkan kelima elemen tersebut menjadi landasan penting agar penguatan ketahanan kesehatan berlangsung secara menyeluruh dan berkelanjutan, sesuai dengan penekanan Dian.

Ketua Panitia Siera, Kolonel (Purn) dr. dr. Agus Sutarman, menyebut penyelenggaraan Siera 2026 untuk ketiga kalinya sebagai wujud semangat kolaborasi di para pemangku kepentingan kesehatan. Menurutnya, upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional memerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, peneliti, dan komunitas profesi. Forum ini dirancang agar para peserta dapat bertemu dalam suasana yang mendorong dialog terbuka serta kerja sama lintas bidang. Dengan mempertemukan beragam pengalaman dan sudut pandang, Siera diharapkan membantu membangun pemahaman bersama mengenai tantangan kesehatan Indonesia dan peluang untuk mengatasinya secara kolaboratif.

Selama tiga hari, forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat jejaring, bertukar pengetahuan, serta mengembangkan gagasan dan inovasi bagi kemajuan kesehatan Indonesia. Pertemuan langsung memungkinkan peserta membagikan pengalaman, membahas kebutuhan di lapangan, dan mencermati perkembangan kebijakan maupun praktik kesehatan. Pertukaran itu juga dapat membuka peluang kemitraan baru serta mendorong tindak lanjut setelah acara berakhir. Siera tidak hanya menyediakan tempat untuk menyampaikan pandangan, tetapi juga memberi kesempatan bagi berbagai unsur ekosistem kesehatan untuk mengenali prioritas bersama. Melalui diskusi dan hubungan profesional yang terjalin, forum diharapkan berkontribusi pada penguatan kapasitas serta kesiapan Indonesia menghadapi persoalan kesehatan.

Peserta forum mencakup regulator, praktisi kesehatan, akademisi, peneliti, dan komunitas medis militer. Keberagaman latar belakang tersebut mencerminkan kebutuhan untuk menghubungkan kebijakan, ilmu pengetahuan, pelayanan, dan pengalaman operasional. Sejumlah pejabat dan pemimpin lembaga dijadwalkan hadir, lain Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Kesehatan Ir. Budi Gunawan Sadikin, Kepala BPOM Prof. Dr.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Jamin Keselamatan Personel, Tim Kesehatan Latgabma SGS 2026 Gelar Medical Exchange Method | Dankodiklat TNI Tinjau Bakti Kesehatan Dan Bakti Sosial SGS 2026 Di Martapura