Serang | Para cosplayer dan keluarga berkumpul di Santiago, Chile, untuk mengikuti Zombie Walk tahunan pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Acara ini menghadirkan suasana Halloween di pusat kota, ketika jalan-jalan dipenuhi peserta dengan kostum dan properti bertema zombi. Beragam penampilan kreatif menjadikan perayaan tersebut sebuah ruang bersama bagi orang-orang yang ingin merayakan Halloween melalui karakter dan dandanan yang menyeramkan. Kehadiran keluarga bersama para cosplayer menunjukkan bahwa kegiatan ini menarik beragam kalangan. Di tengah kawasan perkotaan, Zombie Walk menyatukan peserta dalam sebuah perayaan publik yang berfokus pada kreativitas kostum dan tema zombi.
Setiap kostum memberi peserta cara tersendiri untuk menampilkan sosok zombi, sementara properti bertema serupa melengkapi penampilan mereka. Paduan tersebut mengubah jalan-jalan pusat kota menjadi latar perayaan Halloween yang mudah dikenali, tanpa menghilangkan suasana ruang kota yang digunakan bersama. Bagi para peserta, mengenakan kostum menjadi bagian penting dari pengalaman Zombie Walk. Keluarga dan cosplayer dapat mengambil bagian dalam acara yang sama, dengan pilihan dandanan yang mencerminkan imajinasi masing-masing. Ragam penampilan itu membuat perayaan terasa berwarna dan memperlihatkan bagaimana tema zombi dapat ditafsirkan secara kreatif oleh orang-orang dari berbagai kalangan.
Zombie Walk di Santiago menjadi salah satu cara masyarakat merayakan Halloween secara bersama-sama di ruang publik. Fokus acara pada kostum dan properti bertema zombi memberi perayaan ini identitas yang khas, sekaligus menjadikan jalan-jalan pusat kota sebagai bagian dari suasananya. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, para peserta berkumpul untuk mengikuti acara tahunan tersebut dan meramaikan pusat kota dengan penampilan mereka. Pertemuan cosplayer dan keluarga memperlihatkan sisi komunal dari perayaan ini: Halloween tidak hanya hadir melalui kostum, tetapi juga melalui kesempatan untuk berkumpul dan berbagi tema yang sama. Dengan demikian, Zombie Walk menghadirkan perayaan Halloween yang terlihat langsung di jalan-jalan Santiago.
Bagi banyak peserta, Zombie Walk di pusat kota Santiago bukan sekadar kesempatan mengenakan riasan menyeramkan, melainkan kegiatan yang dapat dinikmati bersama keluarga. Acara ini dipandang ramah bagi berbagai usia karena orang dapat hadir sebagai bagian dari kelompok, menyaksikan kostum, atau ikut berjalan dengan penampilan pilihan mereka. Kehadiran anak-anak bersama keluarga memperlihatkan bahwa perayaan Halloween tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang dewasa atau penggemar film horor. Dalam konteks ini, tema zombi menjadi cara bermain dengan imajinasi tanpa menghilangkan sifat terbuka acara bagi warga yang datang bersama orang terdekat. Pilihan untuk berpartisipasi pun dapat disesuaikan dengan minat dan kenyamanan masing-masing pengunjung.
Kreativitas peserta tampak melalui kostum zombi dengan rancangan yang beragam. Sebagian penampilan dapat dibangun dari pakaian yang dibuat tampak usang, sementara pilihan lain menonjolkan riasan wajah, warna, atau detail tertentu untuk menghadirkan karakter berbeda. Properti pendukung turut melengkapi penampilan dan membantu peserta menyampaikan gagasan masing-masing. Ragam pilihan tersebut menjadikan setiap kostum sebagai bentuk ekspresi personal, bukan sekadar seragam untuk mengikuti tema. Peserta dapat menentukan seberapa dramatis atau sederhana penampilan mereka, lalu memadukan unsur yang dirasa sesuai. Dengan demikian, Zombie Walk memberi ruang bagi kreativitas tanpa mensyaratkan satu rancangan atau standar kostum tertentu. Keragaman itu juga membuat pengunjung dapat melihat berbagai tafsir atas tema zombi dalam satu kegiatan.
Sifat ramah keluarga dari acara ini hadir berdampingan dengan kesempatan untuk menampilkan diri secara kreatif. Anak-anak yang datang bersama keluarga dapat menyaksikan atau ikut menikmati perayaan, sementara orang dewasa juga memiliki ruang untuk bereksperimen dengan kostum dan properti. Kebersamaan tersebut memungkinkan Halloween dirayakan sebagai kegiatan bersama, bukan hanya tontonan bagi kelompok tertentu. Setiap keluarga dapat memilih cara berpartisipasi sesuai minat, termasuk menentukan kostum yang nyaman bagi anggotanya. Tidak semua orang perlu mengenakan penampilan yang sama mencoloknya; kehadiran dan keterlibatan dapat mengambil beragam bentuk. Perpaduan partisipasi keluarga dan kebebasan berekspresi inilah yang memberi Zombie Walk karakter terbuka, sekaligus menjadikan kostum zombi sebagai medium untuk berbagi imajinasi di ruang publik Santiago.
Fernando Monserrat menjadi salah satu peserta perayaan Halloween di pusat kota Santiago dengan mengenakan kostum tokoh utama serial HBO The Last of Us. Kehadirannya memberi kesempatan untuk menyaksikan langsung ragam penampilan yang dibawa peserta lain. Di kostum-kostum yang terlihat, Monserrat paling terkesan oleh berbagai kreasi zombi buatan sendiri. Pengalamannya memperlihatkan bahwa acara tersebut tidak hanya menampilkan kostum karakter dari serial, tetapi juga memberi ruang bagi peserta untuk menghadirkan interpretasi zombi melalui karya yang mereka siapkan sendiri. Ragam kostum itu menjadi bagian dari pengalaman Monserrat selama mengikuti perayaan di kawasan pusat kota.
Kostum buatan sendiri menjadi sorotan dalam pandangan Monserrat karena bentuknya beragam. Ia melihat banyak kreasi zombi yang dibuat oleh para peserta, tanpa harus bergantung pada kostum yang seragam. Setiap penampilan menunjukkan pilihan masing-masing pembuat dalam menerjemahkan sosok zombi menjadi kostum. Pengamatan tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman Monserrat di acara Halloween itu. Berada di peserta dengan penampilan yang berbeda memberinya kesempatan untuk memperhatikan kreativitas yang hadir dalam perayaan. Ia menyampaikan kesan terhadap variasi karya tersebut, bukan sekadar menyebut kostum yang dikenakannya sendiri. Perhatian pada kreasi para peserta lain memperluas gambaran tentang bagaimana suasana acara dirasakan oleh salah satu orang yang hadir.
Pengalaman Monserrat juga menghubungkan kostumnya dari The Last of Us dengan tema zombi yang tampak dalam beragam karya peserta. Ia hadir sebagai penggemar serial melalui pilihan kostum tokoh utamanya, sementara kreasi buatan sendiri memperlihatkan cara peserta lain menampilkan tema yang sama. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai tokoh yang diperankan Monserrat maupun bentuk khusus setiap kostum zombi yang ia lihat. Namun, kesan yang ia sampaikan tetap jelas: variasi kostum buatan sendiri menjadi hal yang menonjol baginya. Dari pengalaman tersebut, perayaan Halloween di pusat kota Santiago tampak sebagai kesempatan bagi peserta untuk menampilkan pilihan kostum masing-masing dan bagi Monserrat untuk mengamati beragam kreasi zombi secara langsung.
Carla Leon memandang Zombie Walk sebagai kegiatan yang terbuka bagi siapa saja, tanpa mempersoalkan latar belakang, usia, atau pengalaman peserta. Menurutnya, daya tarik acara ini terletak pada kesempatan untuk berkumpul dan merayakan kreativitas secara bersama-sama. Setiap orang dapat mengambil bagian dengan cara yang sesuai bagi dirinya, baik melalui kostum, riasan, maupun sekadar hadir menyaksikan suasana. Dengan demikian, perayaan tersebut tidak hanya menjadi parade penampilan menyeramkan, tetapi juga ruang perjumpaan yang memberi tempat bagi beragam ekspresi.
Keberagaman tampak dalam pilihan karakter dan cara peserta menafsirkan sosok zombi. Ada yang menyiapkan penampilan secara terperinci, sementara yang lain memilih pendekatan sederhana. Perbedaan itu menjadi bagian dari suasana acara, bukan alasan untuk membatasi keikutsertaan. Pandangan Leon menekankan bahwa kreativitas dapat dinikmati bersama ketika orang-orang dari berbagai kalangan berkumpul dalam kegiatan yang sama. Interaksi semacam ini turut membentuk pengalaman komunal: peserta saling melihat ide, berbagi suasana, dan menikmati perayaan tanpa harus memiliki alasan atau identitas yang seragam.
Zombie Walk juga memiliki perjalanan sejarah yang melampaui satu kota. Fenomena ini bermula di Sacramento, California, pada 2001, sebelum kemudian menyebar ke sejumlah kota besar di berbagai belahan dunia. Di antaranya adalah New York, Buenos Aires, Bogota, Singapura, Sao Paulo, dan Frankfurt.




