Kota Milan | Polisi Italia menangkap 28 orang, termasuk 12 anak di bawah umur, setelah bentrokan pecah dalam demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di sejumlah kota pada Sabtu. Aksi tersebut digelar untuk menyuarakan keresahan masyarakat atas tekanan ekonomi yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Unjuk rasa berlangsung di beberapa pusat kota, dan sebagian peserta terlibat dalam kericuhan dengan aparat penegak hukum.
Demonstrasi diorganisasi oleh gerakan Italia In Piazza. Para peserta mengangkat persoalan kenaikan biaya hidup, harga bahan bakar, serta beban pajak yang dinilai semakin berat. Menurut data kepolisian, sekitar 5.000 orang mengikuti aksi di Milan, sementara jumlah peserta di Turin mencapai 3.000 orang. Di Bologna, sekitar 2.000 orang turun ke jalan. Demonstrasi yang lebih kecil berlangsung di Brescia dengan sekitar 600 peserta dan di Bergamo dengan sekitar 800 peserta.
Rangkaian kerusuhan juga berujung pada langkah kepolisian terhadap sejumlah orang yang terlibat. Sebanyak 197 orang telah diidentifikasi dan dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dari jumlah tersebut dan orang-orang yang ditindak dalam peristiwa itu, 43 orang dilaporkan kepada otoritas peradilan. Bentrokan menyebabkan 141 anggota aparat penegak hukum terluka, menurut angka yang dicantumkan dalam laporan kepolisian. Data tersebut menggambarkan skala dampak kericuhan, meskipun tidak berarti seluruh peserta demonstrasi terlibat dalam kekerasan.
Perdana Menteri Giorgia Meloni mengakui bahwa ribuan peserta lainnya mengikuti aksi secara damai. Pernyataan itu membedakan mayoritas demonstran yang menyampaikan tuntutan tanpa kekerasan dari kelompok yang terlibat dalam bentrokan. Aksi tersebut memperlihatkan bagaimana kenaikan pengeluaran rumah tangga, biaya energi dan transportasi, serta pajak menjadi sumber kekhawatiran publik. Namun, demonstrasi yang berlangsung damai di sejumlah lokasi berubah menjadi kerusuhan di beberapa titik, sehingga memicu penangkapan dan korban luka di kalangan aparat. Peristiwa ini kembali menempatkan persoalan daya beli dan keamanan saat unjuk rasa dalam sorotan pemerintah Italia.
Ketegangan di pusat kota Milan masih berlanjut pada Minggu, ketika aksi demonstrasi mengenai biaya hidup berubah menjadi bentrokan sejumlah kelompok dan aparat keamanan. Situasi yang semula berpusat pada penyampaian protes kemudian diwarnai aksi kekerasan, kerusakan bangunan, serta penjarahan sejumlah toko. Petugas berupaya mengendalikan massa dan memulihkan keadaan di kawasan pusat kota.
Dalam bentrokan tersebut, sejumlah orang melemparkan batu, botol, dan petasan ke arah petugas. Barikade juga digunakan atau dilemparkan dalam menghadapi aparat. Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan massa. Langkah itu dilakukan saat ketegangan meningkat dan kerumunan sulit dikendalikan. Bentrokan dan upaya pembubaran tersebut turut menyebabkan kerusakan di area perkotaan.
Beberapa toko di pusat Milan dilaporkan rusak dan dijarah selama kerusuhan. Dampaknya tidak hanya terlihat pada bangunan dan barang dagangan, tetapi juga menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha setempat. Sebuah kendaraan milik Carabinieri, pasukan kepolisian nasional Italia, juga dihancurkan. Kerusakan tersebut menjadi salah satu gambaran skala kekerasan yang terjadi di tengah demonstrasi, ketika fasilitas dan properti usaha ikut terdampak.
Polisi menangkap 17 orang di Milan sehubungan dengan kerusuhan tersebut. Sementara itu, asosiasi perdagangan Confcommercio memperkirakan kerugian yang dialami toko dan pelaku usaha akibat kekacauan itu melampaui 500.000 euro, setara sekitar USD 561.860 sebagaimana disebutkan dalam laporan. Angka tersebut mencakup dampak kerusakan dan penjarahan terhadap kegiatan usaha di kawasan yang terdampak. Peristiwa di Milan memperlihatkan bagaimana demonstrasi terkait tekanan biaya hidup dapat berkembang menjadi gangguan keamanan dan menimbulkan beban ekonomi langsung bagi bisnis lokal. Ketegangan yang bertahan hingga Minggu juga membuat kondisi pusat kota menjadi perhatian, baik bagi aparat yang berupaya mengendalikan situasi maupun bagi pemilik toko yang harus menghadapi kerusakan dan kehilangan barang. Penangkapan serta estimasi kerugian menjadi bagian dari dampak yang tercatat setelah kekerasan meluas di pusat kota.
Perkembangan aksi protes juga tercatat di Turin, dengan sejumlah penangkapan yang berkaitan dengan dugaan tindakan berbeda. Polisi menangkap seorang pria dewasa karena melawan petugas. Dalam penindakan terpisah, tiga anak di bawah umur ditangkap karena diduga membawa bom molotov. Rincian tersebut menunjukkan bahwa aparat menangani beberapa situasi di kota itu, tetapi tidak berarti seluruh penangkapan memiliki latar belakang atau dugaan pelanggaran yang sama. Informasi yang tersedia membedakan secara jelas alasan penangkapan pria dewasa dan dugaan terhadap tiga anak di bawah umur. Perkembangan ini berlangsung di tengah rangkaian demonstrasi yang juga memicu ketegangan di sejumlah kota Italia.
Di Turin, sebuah kelompok juga memasuki toko buku Feltrinelli yang berada di stasiun Porta Nuova. Mereka melemparkan buku-buku ke lantai di dalam toko. Insiden itu menjadi bagian lain dari kericuhan yang terjadi di kota tersebut, terpisah dari penangkapan terkait perlawanan terhadap petugas maupun dugaan kepemilikan bom molotov. Keterangan mengenai kejadian di toko buku menggambarkan kerusakan atau gangguan terhadap ruang usaha, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan identitas kelompok maupun hubungan anggotanya dengan orang-orang yang ditangkap. Karena itu, setiap peristiwa perlu dipahami berdasarkan rincian yang dilaporkan, tanpa menganggap seluruh tindakan dilakukan oleh kelompok yang sama.
Sementara itu, di Bologna, lima anak di bawah umur ditangkap setelah bentrokan terjadi di dekat stasiun kereta api. Dalam insiden tersebut, demonstran melemparkan botol, batu, dan barikade ke arah petugas. Polisi kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Peristiwa di Bologna memiliki gambaran tersendiri: bentrokan di area stasiun, benda-benda yang dilemparkan ke petugas, serta penggunaan perangkat pengendalian massa oleh aparat. Rincian itu berbeda dari kejadian di Turin, yang mencakup penangkapan atas dugaan berbeda dan insiden di toko buku Feltrinelli. Kedua kota sama-sama mengalami ketegangan selama demonstrasi, tetapi bentuk kericuhan dan respons aparat yang dilaporkan tidak identik.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyampaikan solidaritas kepada aparat penegak hukum yang terluka dalam kericuhan saat demonstrasi menentang biaya hidup. Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap petugas tidak dapat diterima dan mendesak partai-partai oposisi untuk mengecam tindakan tersebut secara tegas. Seruan itu disampaikan di tengah situasi ketika aksi yang semula membawa berbagai tuntutan sosial berujung pada bentrokan dan kerusakan di sejumlah lokasi. Meski demikian, Meloni juga mengakui bahwa ribuan orang turun ke jalan dengan damai. Pengakuan tersebut membedakan para peserta yang menyampaikan aspirasi tanpa kekerasan dari kelompok yang terlibat dalam kerusuhan. Sikap pemerintah, menurut pernyataan itu, tidak meniadakan hak warga untuk berdemonstrasi, tetapi menekankan batas penyampaian pendapat dan tindakan yang membahayakan orang lain maupun fasilitas publik.
Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini menyoroti kemungkinan kerugian yang timbul dari demonstrasi berisiko. Ia mengatakan partainya, Liga, akan kembali mengajukan usulan di parlemen agar penyelenggara aksi yang dinilai berpotensi menimbulkan kerusakan diwajibkan menyediakan jaminan keuangan. Dana tersebut dimaksudkan untuk menanggung biaya kerusakan yang mungkin terjadi. Usulan itu mencerminkan dorongan untuk meminta penyelenggara ikut bertanggung jawab atas dampak sebuah kegiatan, sekaligus menjadi bagian dari perdebatan politik mengenai cara mengelola demonstrasi. Namun, keterangan yang disampaikan tidak merinci bagaimana tingkat risiko akan ditentukan atau bagaimana kebijakan tersebut akan diterapkan. Rencana pengajuan kembali usulan itu menunjukkan bahwa isu tanggung jawab penyelenggara diperkirakan akan dibahas lebih lanjut di parlemen, terutama setelah kerusuhan menimbulkan kerusakan dan korban luka.
Di tingkat kota.
Baca juga: Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel | Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Terus Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan






