Jakarta | Survei Nasional Adidaya Institute mencatat bahwa mayoritas responden menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Tingkat kepuasan yang tercatat mencapai 60,3 persen. Sementara itu, sebanyak 36,2 persen responden menyatakan tidak puas, dan 3,5 persen lainnya tidak menjawab. Angka tersebut menggambarkan jawaban responden mengenai kinerja presiden dalam survei yang dilakukan menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo.
Untuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hasil survei menunjukkan 51,4 persen responden menyatakan puas terhadap kinerjanya. Sebanyak 44,8 persen menyatakan tidak puas, sedangkan 3,8 persen responden tidak menjawab. Dengan demikian, data survei mencatat persentase kepuasan terhadap presiden dan wakil presiden secara terpisah, bersama angka ketidakpuasan serta jawaban yang tidak diberikan pada masing-masing pertanyaan.
Temuan ini merupakan potret penilaian publik sebagaimana tercatat dalam Survei Nasional Adidaya Institute menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo. Dalam data tersebut, tingkat kepuasan terhadap Prabowo tercatat sebesar 60,3 persen, sementara tingkat kepuasan terhadap Gibran berada pada 51,4 persen. Angka untuk responden yang tidak puas masing-masing tercatat 36,2 persen terhadap presiden dan 44,8 persen terhadap wakil presiden. Adapun bagian responden yang tidak menjawab mencapai 3,5 persen untuk Prabowo dan 3,8 persen untuk Gibran. Seluruh persentase itu menyajikan hasil jawaban responden mengenai kepuasan atas kinerja kedua pejabat negara tersebut pada saat survei dilaksanakan. Hasil ini memperlihatkan distribusi jawaban yang berbeda untuk kedua posisi, dengan kategori puas, tidak puas, dan tidak menjawab. Survei tersebut memotret tanggapan publik pada periode menjelang dua tahun pemerintahan, tanpa mengubah angka yang tercantum untuk masing-masing kategori penilaian. Persentase disampaikan sesuai hasil survei nasional yang dirilis Adidaya Institute.
Untuk penilaian terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran secara keseluruhan, hasil survei Adidaya mencatat bahwa 52,8 persen responden menyatakan puas. Angka tersebut menggambarkan pandangan responden terhadap kinerja pemerintahan sebagai satu kesatuan, bukan penilaian yang hanya ditujukan kepada salah satu pejabat. Sementara itu, sebanyak 30,4 persen responden menyatakan tidak puas. Sebanyak 4 persen lainnya tidak menjawab. Ketiga angka ini perlu disampaikan sebagaimana tercantum dalam bahan survei, tanpa menambahkan perhitungan atau mengasumsikan jawaban responden yang tidak disebutkan.
Dengan demikian, hasil tersebut menyediakan gambaran mengenai tingkat kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan secara kolektif. Porsi responden yang menyatakan puas lebih besar daripada porsi yang menyatakan tidak puas dalam angka yang dilaporkan. Namun, informasi ini tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik setiap jawaban, isu kebijakan yang memengaruhi penilaian, ataupun tingkat kepuasan terhadap program tertentu. Tanpa keterangan tambahan, angka-angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai jawaban responden atas penilaian umum terhadap kinerja pemerintahan, bukan sebagai uraian mengenai faktor penyebabnya.
Penilaian kolektif ini juga berbeda dari penilaian responden terhadap Prabowo dan Gibran secara terpisah. Angka 52,8 persen, 30,4 persen, dan 4 persen merujuk pada pemerintahan Prabowo-Gibran sebagai keseluruhan. Karena itu, angka-angka tersebut tidak dapat digunakan untuk menyatakan tingkat kepuasan kepada Prabowo saja atau kepada Gibran saja. Penilaian individual merupakan kategori yang berbeda dan perlu disajikan berdasarkan hasilnya sendiri. Pemisahan ini penting agar pembaca tidak mencampuradukkan evaluasi terhadap dua pejabat dengan evaluasi terhadap kinerja pemerintahan bersama. Hasil yang tersedia juga tidak menjelaskan kategori jawaban lain di luar angka yang disebutkan. Oleh sebab itu, tidak tepat untuk mengisi selisih persentase, menetapkan pilihan responden yang tidak dirinci, atau menarik kesimpulan tambahan. Penyajian yang cermat mempertahankan batas informasi yang tersedia dan membuat cakupan penilaian tetap jelas.Hasil survei Adidaya mencatat sejumlah penilaian responden yang dapat menjadi konteks dalam membaca kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo. Penilaian tersebut mencakup beberapa bidang yang berkaitan dengan keamanan, stabilitas politik, kebebasan berpendapat, dan upaya pemberantasan korupsi. Angka-angka ini menggambarkan pandangan responden yang dihimpun dalam survei, bukan pengukuran objektif atas keadaan nasional. Karena itu, temuan tersebut perlu dipahami sebagai persepsi publik pada saat survei dilakukan dan sebagai salah satu unsur dalam penilaian masyarakat terhadap pemerintah.
Dalam aspek pertahanan, sebanyak 61,3 persen responden menilai pertahanan nasional, termasuk TNI, cukup kuat. Pada ranah keamanan sehari-hari, 54,8 persen menyebut keamanan dan ketertiban masyarakat terjaga. Sementara itu, 53,5 persen responden memandang kondisi politik nasional cukup stabil. Ketiga hasil tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden memberikan penilaian positif atau cukup positif pada bidang-bidang terkait. Namun, hasil survei ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh masyarakat memiliki pandangan serupa ataupun bahwa kondisi pada bidang tersebut sepenuhnya bebas dari tantangan.
Survei yang sama juga mencatat penilaian responden terhadap kebebasan menyampaikan pendapat dan pemberantasan korupsi. Sebanyak 54,1 persen menilai kebebasan berpendapat sudah baik, sedangkan 54 persen menilai pemerintah bekerja baik dalam pemberantasan korupsi. Kedua angka itu melengkapi gambaran persepsi responden atas kinerja pemerintahan di sejumlah isu publik. Jika dibaca bersama penilaian mengenai pertahanan, keamanan, dan stabilitas politik, temuan ini memberi konteks atas tingkat kepuasan yang dilaporkan survei terhadap Prabowo. Meski demikian, persepsi pada tiap isu dapat berbeda, dan angka agregat tersebut tidak menjelaskan alasan setiap responden memberikan penilaian tertentu. Survei juga menyajikan pendapat pada waktu pengumpulan data, sehingga tidak sepatutnya diperlakukan sebagai kepastian mengenai kondisi mendatang atau sebagai klaim bahwa semua aspek telah berjalan tanpa persoalan. Dengan demikian, temuan tersebut paling tepat dibaca sebagai rangkuman pandangan responden mengenai sejumlah aspek pemerintahan yang berhubungan dengan kepuasan publik, bukan sebagai verifikasi independen atas kinerja atau situasi di lapangan.
Adidaya Institute melaksanakan survei secara tatap muka pada 15–21 September 2026. Pengumpulan data berlangsung selama tujuh hari dan mencakup 38 provinsi. Cakupan lintas provinsi tersebut menjadi bagian dari rancangan survei yang digunakan untuk menghimpun pandangan responden mengenai Prabowo dan Gibran. Informasi mengenai waktu dan cakupan ini memberi konteks penting bagi pembaca dalam memahami hasil survei yang dilaporkan, tanpa mengubah hasil tersebut menjadi gambaran yang melampaui data yang tersedia.
Jumlah responden dalam survei ini adalah 1.240 orang. Adidaya Institute menyebut pemilihan responden dilakukan secara acak bertingkat dengan pendekatan probability sampling. Secara umum, probability sampling berarti pemilihan sampel didasarkan pada peluang, sedangkan keterangan acak bertingkat menjelaskan bentuk rancangan pemilihan yang digunakan. Namun, rincian mengenai tahapan atau kriteria pembentukan tingkatan tidak dicantumkan dalam informasi yang tersedia, sehingga tidak dapat dijabarkan lebih jauh.
Kerangka pengambilan sampel mencakup 124 titik sampling yang tersebar di 122 kabupaten/kota. Dengan demikian, jumlah titik sampling lebih banyak daripada jumlah wilayah kabupaten/kota yang disebutkan; informasi yang tersedia tidak merinci distribusi titik pada masing-masing wilayah. Angka-angka tersebut menjelaskan lokasi dan cakupan pelaksanaan, bukan jumlah responden di setiap provinsi atau kabupaten/kota. Rincian pembagian responden per wilayah juga tidak disertakan dalam keterangan metodologi ini.
Survei mencantumkan margin of error sekitar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Margin of error tersebut merupakan ukuran ketidakpastian statistik yang disampaikan bersama hasil, dengan tingkat kepercayaan sebagaimana dicantumkan oleh lembaga. Angka ini perlu dibaca sesuai konteks desain sampel dan informasi yang tersedia, bukan sebagai kepastian bahwa setiap temuan bebas dari ketidakpastian.
Baca juga: Surat Kuasa Bukan Mandat Tanpa Batas: DAF & Partners Resmi Akhiri Kuasa terhadap AD | Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan






