Jakarta | Pemerintah Italia menyiapkan pengerahan 500 tentara tambahan untuk menjaga Milan setelah kota tersebut dilanda kerusuhan selama dua hari. Rencana itu disampaikan Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini melalui media sosial pada Senin. Ia menyatakan bahwa penambahan personel diperlukan untuk mempertahankan Milan, sekaligus memperkuat pengamanan di tengah situasi yang masih menjadi perhatian pemerintah. Pengumuman tersebut menandai langkah lanjutan otoritas dalam merespons gangguan ketertiban di kota itu, bukan sekadar pernyataan umum mengenai keamanan nasional.
Salvini menggambarkan pengerahan tersebut sebagai upaya mempertahankan Milan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah ingin menempatkan dukungan keamanan tambahan di kota yang baru saja mengalami kerusuhan. Meski demikian, rincian operasional, termasuk lokasi penugasan dan waktu kedatangan pasukan, belum dijelaskan dalam pengumuman yang disampaikan di media sosial. Jumlah yang direncanakan, yakni 500 tentara tambahan, menjadi unsur utama dari langkah yang diumumkan. Kehadiran pasukan itu diharapkan membantu menjaga ketertiban, sementara pemerintah menyiapkan keputusan formal melalui proses kabinet.
Rencana pengerahan diperkirakan menjadi bagian dari paket keamanan yang akan dibahas dalam rapat kabinet pada Selasa, 20 Oktober. Dengan demikian, pengumuman Salvini pada Senin mendahului pembahasan resmi pemerintah mengenai langkah keamanan tersebut. Rapat kabinet akan menjadi forum untuk mempertimbangkan paket itu, termasuk penambahan personel bagi Milan. Hingga pembahasan berlangsung, rencana tersebut tetap merupakan langkah yang disiapkan pemerintah, dan rincian pelaksanaannya bergantung pada keputusan yang diambil. Pengumuman ini menegaskan fokus pemerintah pada pengamanan kota setelah dua hari kerusuhan, sementara kesiapan pasukan tambahan dan pembahasan kabinet menjadi bagian dari respons yang sedang ditempuh. Salvini menyampaikan rencana itu dengan menyebutnya sebagai upaya mempertahankan Milan, tanpa mengubah inti pesannya dalam pengumuman media sosial tersebut.
Pada Senin, pusat kota Milan tampak lebih lengang dari biasanya setelah kerusuhan memicu kekhawatiran akan terjadinya kekerasan susulan. Sejumlah toko memilih tutup lebih awal, sementara pemilik usaha melindungi jendela dengan papan kayu sebagai langkah berjaga-jaga. Suasana siaga terlihat jelas di kawasan perbelanjaan, tempat aktivitas komersial berjalan terbatas dan pengunjung hanya sesekali melintas. Langkah tersebut diambil untuk mengurangi risiko kerusakan jika situasi kembali memburuk, bukan karena seluruh toko di kawasan itu mengalami kerusakan. Polisi berpatroli di jalan-jalan pusat kota, mengawasi area yang biasanya ramai oleh pembeli, pekerja, dan wisatawan.
Di Via Montenapoleone, salah satu kawasan belanja mewah Milan, sebagian besar toko menyingkirkan barang-barang dari etalase. Tindakan pencegahan itu dilakukan meskipun banyak gerai tidak menjadi sasaran langsung, karena pemilik berupaya mengamankan produk dan menghindari kerugian lebih lanjut. Jalan tersebut menaungi butik dan merek internasional, termasuk Chanel, Tiffany, dan Dior. Namun, pada hari itu hanya segelintir wisatawan terlihat di sekitar kawasan, kontras dengan suasana ramai yang lazim dijumpai di pusat perbelanjaan tersebut. Kehadiran petugas yang berpatroli turut menegaskan bahwa keamanan menjadi perhatian utama bagi pelaku usaha setempat.
Langkah perlindungan juga terlihat di gerai-gerai lain. Levi’s, Under Armour, dan Decathlon termasuk toko yang memasang penutup dari kardus atau kayu pada bagian depan, untuk membatasi kemungkinan kerusakan dan melindungi barang di dalam. Sementara itu, rekaman televisi memperlihatkan bahwa toko Decathlon, Arc’teryx, dan Vodafone termasuk gerai yang dijarah dalam kerusuhan. Perbedaan toko yang mengamankan fasad sebagai pencegahan dan gerai yang tampak dalam rekaman penjarahan menunjukkan luasnya dampak yang dikhawatirkan para pemilik usaha. Dengan sebagian etalase dikosongkan, pintu tertutup lebih awal, dan patroli polisi berlangsung di jalan, kawasan perdagangan Milan menjalani Senin dalam suasana . Aktivitas belanja pun berlangsung jauh lebih terbatas ketika warga dan pengusaha menunggu keadaan kembali aman.
Demonstrasi yang berlangsung di Milan pada Sabtu bermula sebagai aksi damai. Peserta menyuarakan keluhan tentang buruknya layanan publik dan meningkatnya biaya hidup, isu yang dirasakan banyak warga di tengah tekanan ekonomi. Pada tahap awal, suasana relatif tertib dan tuntutan diarahkan kepada pemerintah serta pihak berwenang agar memperhatikan kebutuhan masyarakat. Namun, situasi berubah menjelang akhir pekan ketika sekelompok orang mulai melakukan tindakan perusakan di pusat kota.
Ratusan pengunjuk rasa, sebagian mengenakan penutup kepala untuk menyamarkan identitas, kemudian terlibat dalam kerusuhan. Banyak di mereka diduga masih berusia di bawah umur, meski usia setiap orang belum dipastikan secara terperinci. Mereka membakar tempat sampah, menjarah sejumlah toko, merusak properti, dan bentrok dengan polisi. Kerusakan di kawasan pusat Milan membuat aktivitas usaha terganggu dan mendorong pemilik toko untuk melindungi tempat mereka. Peristiwa tersebut menandai perubahan tajam dari demonstrasi yang semula damai menjadi aksi kekerasan.
Insiden di Milan bukan satu-satunya bentrokan yang dilaporkan pada Sabtu. Gangguan juga terjadi di Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin, sehingga aparat menghadapi situasi keamanan di beberapa kota pada waktu yang hampir bersamaan. Menurut laporan kepolisian yang dirilis pada Minggu, sebanyak 28 pengunjuk rasa ditangkap sehubungan dengan peristiwa pada Sabtu. Angka itu merujuk pada penangkapan dalam rangkaian kejadian tersebut, sementara penyelidikan terhadap kerusakan dan keterlibatan masing-masing orang masih menjadi bagian dari proses penegakan hukum.
Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana ketidakpuasan terhadap layanan publik dan biaya hidup dapat beriringan dengan gangguan ketertiban, tanpa berarti seluruh peserta protes terlibat dalam kekerasan. Perbandingan dengan keresahan di Prancis, negara tetangga Italia, hanya menggambarkan kemiripan dalam perhatian terhadap kerusuhan perkotaan; peristiwa yang dibahas di sini terjadi di Italia. Pembedaan tersebut penting agar konteks geografis dan penyebab tiap kejadian tidak tercampur. Bagi warga Milan, kerusakan toko dan fasilitas umum menambah dampak nyata, sedangkan penanganan demonstrasi perlu mempertimbangkan keselamatan, hak berkumpul, dan tuntutan sosial yang disampaikan.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni memimpin rapat pada Senin bersama sejumlah menteri dan pimpinan lembaga keamanan untuk membahas situasi setelah kerusuhan di Milan. Pertemuan tersebut berfokus pada perkembangan keamanan dan langkah yang dapat diambil pemerintah menyusul kekerasan yang terjadi pada Minggu. Meloni mengecam tindakan kekerasan itu, sementara pemerintah menyatakan akan menanggapi insiden tersebut secara serius.
Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Antonio Tajani mengatakan pemerintah akan memberikan respons tegas terhadap serangan yang ditujukan kepada negara. Ia juga menyinggung upaya untuk menekan kekerasan yang dilakukan anak di bawah umur. Pernyataan itu muncul di tengah perhatian terhadap keterlibatan anak muda dalam kerusuhan dan pembahasan mengenai cara mencegah kejadian serupa terulang.
Menurut laporan kepolisian, sebanyak 271 anak muda ditahan selama kerusuhan Milan pada Minggu. Dari jumlah tersebut, 32 orang ditangkap secara resmi. Kelompok yang ditangkap mencakup 23 anak di bawah umur dan 13 warga negara asing; kedua kategori itu tidak harus terpisah satu sama lain. Selain itu, 28 orang lainnya dilaporkan kepada otoritas kehakiman. Angka-angka tersebut menggambarkan skala tindakan penegakan hukum, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan peran setiap orang dalam kerusuhan.
Corriere della Sera melaporkan bahwa Meloni mempertimbangkan sejumlah opsi terkait penanganan anak di bawah umur. Opsi yang disebutkan mencakup kemungkinan memperpanjang masa penahanan preventif bagi mereka serta mengambil tindakan terhadap kelompok pemuda. Laporan itu juga menyebut pemerintah mempertimbangkan percepatan beberapa ketentuan dalam rancangan undang-undang keamanan yang sedang dibahas parlemen. Rencana-rencana tersebut masih berupa pertimbangan sebagaimana diberitakan, sehingga belum dapat diperlakukan sebagai kebijakan yang telah ditetapkan.
Respons pemerintah berlangsung menjelang pemilihan umum nasional Italia yang dijadwalkan tahun.





