Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid di tengah gejolak pasar dan ketidakpastian global. Pernyataan itu disampaikan saat kondisi ekonomi nasional dikhawatirkan oleh sebagian pihak menyerupai bom waktu. Airlangga menegaskan bahwa tekanan yang sedang berlangsung tidak serta-merta mengubah kekuatan dasar perekonomian Indonesia. Penilaian tersebut menjadi sorotan ketika pasar modal mengalami gejolak dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok. Pergerakan indeks itu dikaitkan dengan sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang turut menjadi konteks pembicaraan mengenai ketahanan ekonomi nasional. Dalam situasi tersebut, perhatian publik tertuju pada apakah tekanan pasar mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih luas.
Airlangga membedakan tekanan di pasar modal dari penilaian terhadap fundamental ekonomi secara keseluruhan. Penurunan IHSG menjadi perhatian karena terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, namun menurutnya keadaan tersebut tidak menghapus fondasi ekonomi nasional yang tetap kuat. Pernyataan ini tidak meniadakan gejolak yang terlihat di pasar; sebaliknya, ia menempatkannya dalam konteks yang lebih luas. Dengan demikian, pesan utamanya adalah bahwa dinamika pasar yang sedang berlangsung perlu dibaca bersama kondisi fundamental, bukan langsung disamakan dengan gambaran bahwa ekonomi Indonesia berada dalam keadaan rapuh. Pemerintah, melalui Airlangga, menyampaikan bahwa dasar ekonomi masih solid, meski sentimen pasar menghadirkan tekanan dan menjadi bahan perhatian.
Gejolak IHSG dan sentimen MSCI menjadi latar bagi pernyataan tersebut, sementara ketidakpastian global tetap menjadi faktor yang membayangi suasana ekonomi. Airlangga tidak menyatakan bahwa tekanan pasar telah berakhir, tetapi menegaskan bahwa hal itu tidak mengubah penilaian mengenai fundamental ekonomi Indonesia. Sikap ini memberi konteks terhadap kekhawatiran ekonomi nasional seperti bom waktu: kekhawatiran itu muncul bersamaan dengan perkembangan pasar yang bergejolak, sedangkan pemerintah menilai fondasi ekonomi masih solid. Karena itu, inti pernyataan Airlangga adalah pembedaan ketidakstabilan pasar yang sedang terjadi dan kekuatan fundamental nasional. Kedua hal tersebut hadir dalam waktu bersamaan, tanpa menjadikan gejolak IHSG sebagai bukti bahwa fundamental ekonomi telah berubah.
Airlangga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu alasan utama fundamental perekonomian nasional tetap solid di tengah gejolak pasar dan tekanan global. Capaian pertumbuhan sebesar 5,45 persen menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi domestik masih berjalan dengan cukup kuat. Menurutnya, angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia, sehingga Indonesia memiliki pijakan yang relatif baik saat menghadapi situasi eksternal yang tidak menentu.
Ia memandang capaian itu bukan sekadar angka statistik, melainkan salah satu penopang daya tahan ekonomi. Pertumbuhan yang tetap terjaga dapat membantu memperkuat keyakinan bahwa perekonomian Indonesia memiliki kapasitas untuk bertahan di tengah perubahan kondisi pasar global. Dalam konteks tersebut, kinerja pertumbuhan menjadi bagian penting dari gambaran fundamental nasional, meskipun tekanan dari luar tetap perlu dicermati.
Airlangga juga menyampaikan bahwa pertumbuhan Indonesia termasuk yang tertinggi di berbagai negara. Pernyataan itu menegaskan posisi kinerja ekonomi Indonesia dalam perbandingan lintas negara tanpa menyebutkan angka pembanding tertentu. Dengan pertumbuhan 5,45 persen yang berada di atas rata-rata dunia, ia melihat adanya dasar yang mendukung ketahanan perekonomian nasional. Capaian tersebut menjadi faktor yang relevan ketika pasar menghadapi gejolak, karena menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh. Penilaian ini tidak berarti tekanan global telah hilang, tetapi menggambarkan bahwa ekonomi domestik memiliki penopang untuk meresponsnya. Pertumbuhan yang terjaga, menurut pandangan tersebut, membantu menjelaskan mengapa fundamental Indonesia dinilai tetap solid dalam situasi penuh tantangan. Karena itu, angka pertumbuhan tersebut menjadi salah satu tolok ukur yang digunakan Airlangga untuk menjelaskan daya tahan ekonomi Indonesia, serta alasan ia menilai kinerja nasional relatif kuat di tengah ketidakpastian global yang memengaruhi berbagai negara.
Selain menyoroti indikator lain yang menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia, Airlangga menyebut inflasi berada di kisaran 3 persen dan masih terkendali. Angka tersebut menjadi salah satu gambaran yang ia gunakan untuk menjelaskan kondisi fundamental ekonomi di tengah gejolak pasar. Dengan menempatkan inflasi sebagai indikator penting, Airlangga menyampaikan bahwa tekanan yang berlangsung belum mengubah penilaiannya bahwa perekonomian tetap memiliki daya tahan. Pernyataan ini berfokus pada tingkat inflasi yang disebutnya dan penilaian mengenai keterkendaliannya, tanpa menyiratkan rincian lebih jauh tentang perkembangan harga.
Indikator lainnya adalah cadangan devisa yang disebut relatif kuat. Menurut Airlangga, posisi tersebut dapat menopang kebutuhan impor selama lima bulan. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan impor dalam rentang itu menjadi bagian dari alasan cadangan devisa dipandang sebagai penyangga bagi perekonomian. Dalam konteks gejolak pasar, ketersediaan dukungan untuk kebutuhan impor memberi gambaran mengenai kapasitas yang tersedia, sebagaimana dijelaskan oleh Airlangga. Namun, penilaian tersebut tidak disertai angka nilai cadangan devisa dalam informasi yang disampaikan di sini.
Kedua indikator itu melengkapi pandangan Airlangga mengenai fundamental ekonomi yang tetap solid. Inflasi yang berada di kisaran 3 persen dan dinilai terkendali menunjukkan kondisi yang ia anggap masih terjaga, sedangkan cadangan devisa relatif kuat memberi dukungan bagi kebutuhan impor selama lima bulan. Keduanya menggambarkan aspek yang berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian dari penjelasan tentang ketahanan ekonomi. Inflasi berkaitan dengan indikator domestik yang disoroti, sementara cadangan devisa berhubungan dengan kemampuan menopang impor.
Airlangga menggunakan dua hal tersebut untuk mendukung penilaiannya di tengah situasi pasar yang bergejolak. Penekanan pada inflasi dan cadangan devisa bukan merupakan pernyataan mengenai seluruh aspek perekonomian, melainkan paparan atas sejumlah indikator yang dianggap relevan. Karena itu, keterangan tersebut dapat dipahami sebatas pandangan bahwa inflasi masih terkendali dan cadangan devisa mampu menopang impor selama lima bulan. Dengan dasar itu, ia menilai ketahanan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, tanpa menyampaikan klaim tambahan mengenai harga, besaran cadangan devisa, ataupun proyeksi ekonomi ke depan.
Pernyataan Airlangga mengenai kondisi fundamental ekonomi Indonesia disampaikan kepada wartawan di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026. Keterangan waktu dan tempat ini penting untuk menempatkan penjelasan tersebut dalam konteks pemberitaan, terutama ketika pasar tengah mengalami gejolak. Dengan demikian, pandangan yang disampaikan dapat dipahami sebagai pernyataan publik pada hari dan lokasi tersebut, bukan sebagai kutipan dari kesempatan lain.
Airlangga berbicara setelah rapat koordinasi dukungan kementerian dan lembaga untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) pada triwulan III 2026. Urutan peristiwa ini menjadi bagian dari atribusi: ia memberikan keterangan kepada wartawan seusai rapat koordinasi itu. Informasi yang tersedia tidak merinci isi pembahasan rapat, pihak lain yang hadir, maupun keputusan yang dihasilkan, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat diasumsikan sebagai dasar atau bagian dari pernyataannya.
Dalam laporan mengenai pernyataan tersebut, pembaca perlu membedakan konteks penyampaian dari substansi pandangan Airlangga. Rapat koordinasi menjadi penanda waktu sebelum sesi keterangannya kepada pers, sementara pernyataan tentang fundamental ekonomi merupakan pokok yang disampaikan kepada wartawan. Penyebutan Jakarta dan tanggal Rabu, 21 Oktober 2026, membantu memastikan kronologi berita tercatat dengan jelas. Konteks ini juga menjaga agar kutipan tidak dilepaskan dari situasi ketika disampaikan, sekaligus menghindari pengaitan yang tidak didukung informasi dengan agenda rapat atau kebijakan tertentu. Karena itu, atribusi yang tepat cukup menyebut bahwa Airlangga memberikan keterangan kepada wartawan seusai rapat koordinasi dukungan kementerian/lembaga untuk pengembangan KEK triwulan III 2026 di Jakarta.





