Jakarta | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Pemerintah Kota Jakarta Timur mengadakan simulasi gempa bumi di kantor Wali Kota Jakarta Timur pada Kamis. Sekretaris BPBD DKI Jakarta, Ali Mansur Siregar, menjelaskan bahwa kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan petugas dan masyarakat sekaligus mengurangi risiko bencana. Latihan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman mengenai pentingnya kesiapan menghadapi kemungkinan gempa, terutama di lingkungan perkantoran pemerintahan yang menjadi tempat beraktivitas banyak orang.
Simulasi gempa memberi kesempatan bagi peserta untuk mengenali bahwa respons bencana memerlukan kesiapan, kewaspadaan, dan koordinasi. Dalam keadaan darurat, pemahaman tentang tindakan yang perlu dilakukan dapat membantu mengurangi kebingungan serta mendukung keselamatan diri dan orang lain. Karena itu, latihan kesiapsiagaan tidak hanya relevan bagi petugas yang memiliki tanggung jawab kebencanaan, tetapi juga bagi pegawai dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. Pengetahuan dasar yang dibangun melalui kegiatan semacam ini dapat menjadi bekal ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Penyelenggaraan latihan di kantor wali kota juga menegaskan pentingnya kesiapan di lingkungan kerja pemerintahan. Kesiapsiagaan perlu dipandang sebagai upaya bersama, bukan semata-mata tugas lembaga penanggulangan bencana. BPBD dan pemerintah kota dapat mendorong tumbuhnya kesadaran mengenai risiko serta kesiapan menghadapi gempa melalui kegiatan edukasi dan latihan. Dengan tujuan meningkatkan kesiapan petugas dan masyarakat, simulasi ini diharapkan membantu membentuk respons yang lebih terarah apabila terjadi keadaan darurat. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk menekan dampak bencana melalui peningkatan pemahaman dan kesiapan sebelum risiko benar-benar muncul.
Simulasi gempa di Balai Kota Jakarta Timur merupakan bagian dari tindak lanjut Instruksi Sekretaris Daerah Nomor 44 Tahun 2026. Instruksi tersebut mengatur pelaksanaan simulasi gempa secara serentak di wilayah DKI Jakarta, sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Melalui latihan bersama, pemerintah daerah mendorong petugas dan pegawai memahami langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa, mulai dari mengenali tanda peringatan hingga bergerak menuju area aman.
Gedung pemerintahan diprioritaskan sebagai proyek percontohan karena menjadi tempat bekerja dan berkumpulnya banyak orang, sekaligus pusat pelayanan publik. Pelaksanaan latihan di lingkungan tersebut diharapkan dapat membangun prosedur tanggap darurat yang lebih teruji dan mudah diterapkan. Simulasi tidak hanya berlangsung di Balai Kota Jakarta Timur, tetapi dilaksanakan serentak di seluruh wilayah DKI Jakarta sesuai arahan dalam instruksi. Keserentakan ini memberi kesempatan bagi berbagai instansi untuk menguji koordinasi, komunikasi, serta kesiapan personel secara terukur.
Kegiatan tersebut juga memperkenalkan Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS), sistem peringatan dini gempa bumi milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). InaEEWS dirancang untuk mendeteksi gelombang seismik awal yang muncul setelah gempa bermula. Berdasarkan rancangan sistem, informasi peringatan dapat diberikan beberapa detik sebelum getaran utama mencapai lokasi yang terdampak. Jeda singkat itu dapat dimanfaatkan untuk melakukan tindakan perlindungan sederhana, seperti menjauh dari benda yang berpotensi jatuh, berlindung di tempat yang lebih aman, atau menghentikan aktivitas yang berisiko.
Pengenalan InaEEWS dalam latihan membantu peserta memahami fungsi dan keterbatasan peringatan dini. Sistem ini bukan pengganti prosedur evakuasi maupun kesiapsiagaan, melainkan salah satu dukungan informasi untuk mempercepat respons. Peserta perlu mengetahui cara menerima peringatan, memahami pesan yang disampaikan, dan bertindak tanpa menunda. Dengan demikian, simulasi serentak menjadi sarana untuk menguji kesiapan manusia sekaligus mengenalkan dukungan teknologi. Evaluasi setelah latihan dapat digunakan untuk memperbaiki alur komunikasi dan prosedur keselamatan di gedung pemerintahan maupun lokasi lain di Jakarta.
Ali memantau pelaksanaan simulasi evakuasi di Balai Kota Jakarta Timur dan menyampaikan bahwa tahapan kegiatan dari lantai satu hingga lantai delapan berjalan lancar serta sukses. Pemantauan tersebut mencakup proses evakuasi yang dilakukan petugas dan pegawai di lokasi. Secara keseluruhan, pelaksanaan di setiap lantai berlangsung sesuai prosedur tetap kebencanaan yang berlaku. Kesiapan peserta dalam mengikuti arahan menjadi bagian penting dari pelaksanaan latihan, sementara petugas gabungan menjalankan peran masing-masing untuk mendukung proses evakuasi. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa rangkaian dari lantai terendah hingga lantai tertinggi yang menjadi cakupan kegiatan dapat dituntaskan dengan baik.
Dalam simulasi ini, sebanyak 20 petugas gabungan terlibat. Jumlah tersebut mencakup 10 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Timur serta petugas lain yang disiagakan. Keterlibatan personel gabungan mendukung pelaksanaan evakuasi dan penerapan prosedur di lingkungan gedung. Para petugas dan pegawai mengikuti tata cara kebencanaan sesuai aturan, sehingga langkah yang dilakukan di tiap lantai tetap terkoordinasi. Pemantauan terhadap proses tersebut menjadi dasar untuk melihat apakah prosedur tetap dapat dijalankan sebagaimana mestinya dalam kegiatan latihan. Ali menyebut seluruh tahapan berjalan tanpa kendala yang menghambat penyelesaian evakuasi dari lantai satu sampai lantai delapan.
Sesudah proses evakuasi, petugas melaporkan kondisi keamanan di setiap lantai kepada komandan peleton yang bertugas. Penyampaian laporan ini merupakan bagian dari alur koordinasi dalam simulasi, sekaligus memberikan informasi mengenai keadaan lantai yang telah dipantau. Dengan laporan tersebut, komandan peleton menerima pembaruan kondisi dari petugas di lapangan. Pelaksanaan evakuasi dan pelaporan dilakukan berdasarkan prosedur tetap kebencanaan yang diterapkan di lokasi. Pemantauan Ali menyimpulkan bahwa kegiatan berlangsung lancar dan sukses, dengan seluruh tahapan di lantai satu hingga lantai delapan berjalan sesuai aturan. Keterlibatan 20 petugas gabungan serta kepatuhan petugas dan pegawai pada prosedur menjadi unsur penting dalam terlaksananya latihan tersebut di Balai Kota Jakarta Timur.
Sejumlah peserta sempat terkejut ketika simulasi gempa di Balai Kota Jakarta Timur berlangsung secara mendadak. Mereka tidak terlebih dahulu menerima pemberitahuan mengenai waktu pelaksanaan sehingga kegiatan tersebut terasa seperti keadaan darurat yang benar-benar terjadi. Namun, setelah petugas memberikan arahan, peserta mulai memahami langkah yang harus dilakukan. Pegawai dan unsur yang hadir mengikuti instruksi secara tertib, termasuk menjaga ketenangan dan bergerak sesuai panduan. Situasi awal yang mengejutkan itu tidak berlangsung lama. Peserta dapat beradaptasi dengan cepat, mengarahkan perhatian kepada keselamatan, serta menjalankan tahapan latihan sebagaimana diarahkan petugas. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa arahan yang jelas membantu mengubah reaksi spontan menjadi tindakan yang lebih teratur.
Dalam evaluasi setelah latihan, Ali menyoroti perlunya meningkatkan kecepatan respons dalam penyampaian tanda bahaya. Pemberitahuan awal yang cepat memberi waktu bagi petugas dan pegawai untuk mengenali kondisi, mengikuti prosedur keselamatan, dan membantu orang lain. Sarana peringatan, termasuk sirene, perlu dipastikan dapat digunakan dan terdengar dengan baik sesuai kebutuhan. Selain kesiapan perangkat, kesiapsiagaan personel juga perlu diperkuat melalui pemahaman tugas, koordinasi, serta latihan yang dilakukan secara berkala. Dengan demikian, informasi darurat kepada masyarakat dapat disampaikan lebih cepat dan tepat, dengan isi yang mudah dipahami. Kejelasan pesan penting agar warga mengetahui tindakan yang perlu diambil, tanpa menambah kebingungan ketika menerima peringatan. Praktik komunikasi yang terarah juga mendukung petugas dalam menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan atau penjelasan tambahan.
Ali berharap kesiapan seluruh unsur petugas dan masyarakat terus ditingkatkan melalui kerja sama dan pembelajaran dari latihan. Setiap pihak memiliki peran, baik dalam mengenali informasi resmi, memahami jalur dan prosedur keselamatan, maupun mengikuti arahan yang diberikan. Keterlibatan masyarakat membantu penyampaian informasi berjalan lebih luas dan mendukung tindakan yang terkoordinasi. Kesiapan bersama tersebut berperan penting untuk meminimalkan risiko dampak bencana.
Baca juga: Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Jelang HUT ke-81 TNI, Puspom TNI Perkuat Kesiapan Pengamanan Wallakir | CYBEREX SGS 2026 Tingkatkan Kesiapan Siber Melalui Technical Review






