Kota Denpasar | Kekeringan ekstrem yang dipicu fenomena El Niño membuat permukaan air di sejumlah sungai menyusut dan alurnya mengalami pendangkalan parah. Perubahan kondisi tersebut menghambat kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menggunakan sungai sebagai jalur distribusi. Kapal membutuhkan kedalaman air yang cukup agar dapat berlayar dengan aman dan membawa muatan sesuai kapasitas. Ketika dasar sungai semakin dekat ke permukaan, pergerakan kapal menjadi terbatas, bahkan pelayaran dapat tertunda atau tidak memungkinkan pada bagian alur tertentu.
Gangguan ini berpengaruh terutama terhadap wilayah yang mengandalkan transportasi sungai untuk memasok BBM. Dalam kondisi normal, jalur air dapat menjadi penghubung penting bagi pengiriman bahan bakar ke berbagai lokasi. Namun, saat debit air turun dan pendangkalan meningkat, jadwal perjalanan sulit dipertahankan. Kapal mungkin perlu menunggu perubahan kondisi, mengurangi muatan agar lebih ringan, atau menempuh rute yang masih dapat dilalui. Penyesuaian tersebut dapat memperpanjang waktu pengiriman dan menambah kerumitan pengelolaan distribusi.
Dampak kekeringan juga membuat proses pengangkutan lebih rentan terhadap hambatan operasional. Kedalaman sungai yang berubah-ubah menuntut pemantauan kondisi alur secara berkala sebelum kapal diberangkatkan. Jika informasi mengenai tingkat air tidak memadai, risiko keterlambatan maupun gangguan keselamatan pelayaran dapat meningkat. Karena itu, kelancaran distribusi BBM tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga pada kemampuan armada untuk menjangkau titik tujuan melalui jalur yang aman.
Ketika jalur sungai tidak lagi dapat diandalkan, distribusi perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, termasuk dengan mengalihkan sebagian pengiriman ke jalur darat. Peralihan ini menjadi langkah penting untuk menjaga pasokan tetap bergerak, meskipun membutuhkan pengaturan armada, waktu, dan rute yang berbeda. Dengan demikian, pendangkalan sungai akibat kekeringan El Niño menunjukkan bagaimana perubahan cuaca dapat langsung memengaruhi rantai pasok energi, khususnya di kawasan yang bergantung pada transportasi air.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa Pertamina mengubah strategi distribusi bahan bakar minyak (BBM). Sebagian pengiriman yang sebelumnya dilakukan melalui jalur air dialihkan menggunakan transportasi darat. Keterangan itu disampaikan Bahlil seusai rapat di Terminal BBM Pesanggaran Pertamina, Kota Denpasar, Bali, pada Senin (19/10).
Perubahan jalur tersebut menjadi langkah Pertamina dalam mengatur pengiriman BBM di tengah kondisi yang dibahas dalam rapat. Bahlil menerangkan bahwa pengiriman tidak sepenuhnya berpindah ke darat, melainkan hanya sebagian. Dengan demikian, strategi distribusi yang disebutkan mencakup pengalihan sebagian pengiriman dari jalur air ke jalur darat. Pernyataan tersebut tidak merinci jumlah pengiriman yang dialihkan ataupun wilayah yang akan dilayani melalui rute darat.
Bahlil juga mengakui bahwa penggunaan jalur darat dapat membuat proses pengiriman memerlukan waktu lebih lama. Artinya, perubahan moda distribusi bukan berarti BBM akan tiba lebih cepat; waktu yang dibutuhkan dapat bertambah dibandingkan pengiriman melalui air. Ia menyampaikan hal itu sebagai bagian dari penjelasan mengenai penyesuaian yang dilakukan Pertamina. Tidak disampaikan rincian durasi tambahan ataupun jadwal khusus bagi pengiriman tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil menyatakan tekad untuk memaksimalkan upaya agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi lagi. Pernyataan itu disampaikan setelah rapat di Depo atau Terminal BBM Pesanggaran, Denpasar. Keterangan mengenai pengalihan sebagian pengiriman dan kemungkinan waktu yang lebih panjang menjadi bagian dari penjelasan Bahlil tentang langkah yang ditempuh Pertamina. Ia menegaskan upaya akan dimaksimalkan, tanpa merinci bentuk langkah lain di luar perubahan strategi distribusi yang telah disampaikan.
Abra Talattov, Kepala Pusat Energi dan Pangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menilai El Niño yang memicu kondisi lebih kering dapat memperburuk pendangkalan sungai. Dampaknya berpotensi terasa pada distribusi bahan bakar minyak (BBM), terutama di wilayah yang selama ini mengandalkan sungai sebagai jalur angkutan. Ketika kedalaman air berkurang, kapal pengangkut mungkin tidak dapat melintas dengan muatan dan pola operasi seperti biasa. Situasi tersebut dapat membatasi kapasitas pengiriman atau mendorong pelaku distribusi mencari rute lain. Karena itu, perubahan kondisi sungai perlu diperhitungkan dalam perencanaan pasokan, tanpa menganggap gangguan sudah terjadi di semua daerah.
Salah satu alternatif yang dapat digunakan ialah mengalihkan pengiriman dari jalur sungai ke jalur darat. Namun, pilihan ini membawa konsekuensi operasional. Menurut penilaian Abra, distribusi melalui darat membutuhkan armada tambahan agar volume BBM yang sebelumnya diangkut lewat sungai tetap dapat disalurkan. Perusahaan juga perlu menyesuaikan pengaturan kendaraan, jadwal perjalanan, dan proses pemindahan muatan. Kebutuhan sumber daya tersebut dapat meningkatkan biaya operasional dibandingkan penggunaan jalur sungai, khususnya ketika rute darat lebih panjang atau kapasitas angkutan yang tersedia terbatas. Besarnya tambahan beban akan bergantung pada kondisi setempat dan kesiapan infrastruktur yang mendukung pengiriman.
Selain biaya, waktu tempuh pengiriman juga berpotensi bertambah. Perjalanan darat dapat memerlukan waktu lebih lama, sementara pengaturan armada dan pemindahan BBM dapat menambah tahapan distribusi. Jika pengalihan rute tidak diimbangi kapasitas yang memadai, kedatangan pasokan berisiko terlambat. Keterlambatan tersebut pada gilirannya dapat meningkatkan risiko kelangkaan BBM di sejumlah daerah yang bergantung pada angkutan sungai, terutama bila kebutuhan tidak segera dipenuhi melalui jalur alternatif. Risiko ini bukan kepastian bahwa kelangkaan telah berlangsung, melainkan kemungkinan yang perlu diantisipasi. Pemantauan kedalaman sungai, kesiapan kendaraan, dan koordinasi distribusi dapat membantu pihak terkait merespons perubahan kondisi lebih awal.
Abra menilai tersendatnya distribusi bahan bakar minyak (BBM) akibat kondisi sungai yang dangkal dapat menimbulkan efek berantai bagi kegiatan ekonomi. Persoalannya tidak berhenti pada keterlambatan pengiriman BBM ke suatu wilayah. Ketika pasokan yang dibutuhkan pelaku usaha tidak tersedia tepat waktu, kegiatan produksi, transportasi, dan perdagangan berpotensi ikut terganggu. Ketiga sektor tersebut saling berkaitan dalam menjaga kelancaran produksi barang dan pergerakannya hingga sampai ke pasar. Karena itu, hambatan distribusi BBM dapat berpengaruh lebih luas daripada urusan pengangkutan bahan bakar semata.
Salah satu contoh yang disampaikan dalam analisis tersebut adalah pasokan solar. Jika pasokan solar tersendat, angkutan logistik dapat mengalami hambatan, sehingga barang lebih sulit dipindahkan dari satu titik ke titik lain. Pada saat yang sama, mesin pertanian yang memerlukan bahan bakar juga dapat terpengaruh. Gangguan pada alat dan kegiatan pengangkutan itu dapat menyulitkan proses produksi maupun distribusi. Dampaknya berpotensi terasa pada pelaku usaha yang mengandalkan kelancaran pasokan BBM untuk menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk pengiriman bahan dan barang.
Ketika kegiatan angkutan logistik melambat dan penggunaan mesin pertanian terkendala, biaya produksi serta biaya distribusi barang dapat meningkat. Kenaikan biaya tersebut berkaitan dengan kebutuhan menjaga kegiatan tetap berjalan di tengah pasokan yang tidak lancar. Pada sektor perdagangan, hambatan pengiriman juga dapat mengganggu kelancaran penyaluran barang. Risiko tersebut menjadi perhatian dalam konteks El Niño, yang telah membuat sejumlah sungai dangkal dan mendorong distribusi BBM beralih ke jalur darat. Jika pasokan BBM ikut tersendat, keterbatasan bahan bakar dapat menambah tekanan pada kegiatan pertanian dan pengangkutan hasilnya. Rangkaian risiko ini terkait dengan potensi gangguan produksi pangan akibat El Niño, terutama apabila mesin pertanian dan distribusi logistik sama-sama menghadapi kendala pasokan.





