Udara Palembang Berangsur Membaik Setelah Dua Bulan Diselimuti Asap

Kabut Asap Hentikan Penerbangan di Sampit hingga 25 Oktober

Palembang | Setelah lebih dari dua bulan terdampak asap kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara di Palembang menunjukkan perbaikan bertahap. Pada 24 Oktober 2026, kondisi udara di kota ini berada dalam kategori sedang, menandai perubahan dibandingkan pekan-pekan sebelumnya ketika asap masih menyelimuti wilayah dan kualitas udara kerap mencapai level berbahaya. Perkembangan tersebut menjadi indikasi bahwa paparan partikulat mulai berkurang, meskipun pemantauan tetap diperlukan untuk mengetahui apakah perbaikan ini berlanjut.

Data Stasiun Talang Betutu pada pukul 09.00 WIB mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 51,4 mikrogram per meter kubik. Angka itu turun dari 69,1 mikrogram per meter kubik yang terukur satu jam sebelumnya. Perbedaan dalam rentang waktu tersebut menunjukkan penurunan konsentrasi partikel halus pada pagi hari, tetapi belum dengan sendirinya menggambarkan kondisi udara sepanjang hari atau di seluruh bagian Palembang. Hasil pengukuran satu stasiun merupakan gambaran kondisi di lokasi pemantauan pada waktu pencatatan.

PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat terbawa dalam asap kebakaran. Karena ukurannya, partikel ini dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, sehingga perubahan konsentrasinya menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam menilai kondisi udara. Kategori sedang menunjukkan bahwa situasi telah membaik dibandingkan periode dengan kualitas udara berbahaya, namun masyarakat tetap perlu mengikuti informasi terbaru, terutama bila asap kembali meningkat. Kondisi dapat berubah seiring cuaca, arah angin, dan aktivitas kebakaran di wilayah sekitar.

Dengan demikian, pembacaan terbaru dari Talang Betutu memberikan gambaran yang lebih baik setelah periode panjang terdampak asap. Penurunan konsentrasi PM2.5 dari satu jam sebelumnya serta kategori sedang menjadi perkembangan positif, tetapi belum berarti dampak kebakaran sepenuhnya berakhir. Pemantauan berkala akan membantu memastikan kecenderungan kualitas udara, sementara informasi resmi dapat menjadi rujukan bagi warga dalam menyesuaikan kegiatan luar ruang. Perbandingan dengan pekan-pekan sebelumnya juga memperlihatkan perubahan dari kondisi yang kerap berbahaya menuju keadaan yang lebih terkendali, tanpa menghapus perlunya kewaspadaan.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa arah angin di wilayah tersebut kini bergerak dari tenggara ke selatan, lalu menuju utara. Perubahan pola ini berpengaruh terhadap pergerakan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk yang berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Sebelumnya, kondisi angin dapat membawa asap dari kawasan kebakaran ke arah Palembang. Kini, aliran udara tidak lagi mendorong sebagian besar asap menuju kota tersebut.

Arah angin menentukan ke mana partikel asap yang berada di udara terbawa. Ketika angin bergerak menuju suatu kawasan, asap dari sumber kebakaran dapat ikut terbawa dan meningkatkan paparan di wilayah yang dilalui. Sebaliknya, jika arah alirannya menjauhi kawasan permukiman, kiriman asap ke kawasan itu berkurang. Dalam situasi saat ini, perubahan jalur angin membuat sebagian besar asap dari pusat karhutla di OKI tidak masuk ke Palembang sebanyak sebelumnya.

Penjelasan tersebut membantu menggambarkan salah satu faktor yang mendukung perbaikan kualitas udara di Palembang setelah kota itu diselimuti asap selama sekitar dua bulan. Berkurangnya asap yang terbawa angin dapat menurunkan konsentrasi partikel pencemar di udara, sehingga kondisi yang dirasakan masyarakat berangsur membaik. Meski begitu, perubahan arah angin bukan berarti kebakaran telah berhenti atau seluruh asap hilang. Asap dari titik api masih dapat memengaruhi wilayah lain, bergantung pada lokasi kebakaran, intensitasnya, serta kondisi atmosfer setempat.

Karena itu, kondisi udara tetap perlu dipantau bersama perkembangan karhutla dan cuaca. Arah serta kecepatan angin dapat berubah, sehingga jalur perpindahan asap juga dapat bergeser. Perbaikan yang terjadi di Palembang menunjukkan bahwa paparan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya titik api, tetapi juga oleh bagaimana angin mengangkut asap dari sumbernya. Informasi mengenai pola angin dan kualitas udara dapat membantu warga memahami perubahan kondisi harian, sekaligus menjadi dasar bagi pihak terkait untuk menyampaikan peringatan apabila asap kembali bergerak mendekati kawasan kota.

Perbaikan kondisi udara di Palembang tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya sumber asap, tetapi juga dipengaruhi keadaan atmosfer yang memungkinkan asap bergerak menjauhi permukaan. Salah satu faktor yang berperan ialah lapisan inversi dekat permukaan yang tergolong tipis. Lapisan ini penting karena dapat memengaruhi seberapa mudah udara dan partikel di dalamnya bercampur secara vertikal. Ketika inversi cukup kuat atau tebal, pencampuran udara ke lapisan yang lebih tinggi dapat terhambat sehingga polutan cenderung bertahan di dekat permukaan. Namun, kondisi inversi yang tipis memberikan hambatan yang lebih terbatas terhadap pergerakan tersebut.

Wandayantolis menjelaskan mekanisme ini melalui peluang bagi asap untuk terdispersi secara vertikal. Dengan lapisan inversi dekat permukaan yang tipis, asap tidak sepenuhnya tertahan pada lapisan udara rendah. Partikel asap dapat bergerak naik dan menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Perpindahan ini mengubah sebaran asap secara vertikal, sehingga jumlah atau konsentrasi partikel yang berada di dekat permukaan dapat menurun. Penjelasan tersebut menggambarkan peran kondisi atmosfer, bukan berarti asap lenyap seketika ataupun seluruh partikel telah hilang dari udara.

Karena itu, lapisan inversi yang tipis dapat mendukung penurunan paparan asap di permukaan melalui proses penyebaran ke atas. Mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa mutu udara dapat berangsur membaik ketika kondisi atmosfer memberi ruang bagi pencampuran vertikal. Meski demikian, berkurangnya konsentrasi dekat permukaan perlu dipahami sebagai perubahan distribusi asap, bukan bukti bahwa sumber emisi sudah tidak ada. Asap yang terangkat juga tidak serta-merta berarti udara telah bersih sepenuhnya; keadaan tetap bergantung pada keberadaan partikel dan dinamika atmosfer. Dalam konteks Palembang, faktor inversi tersebut merupakan salah satu unsur yang membantu menerangkan perubahan kondisi udara setelah periode panjang diselimuti asap. Dengan demikian, ketebalan lapisan inversi menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana asap tersebar dan mengapa konsentrasinya di dekat permukaan dapat berkurang.

Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi hujan dapat meningkat di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Peluang turunnya hujan menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan setelah Palembang dan sekitarnya mengalami periode panjang dengan paparan asap. Meski demikian, prakiraan cuaca tidak memastikan hujan akan turun merata ataupun berlangsung dengan intensitas yang sama di setiap daerah. Kondisi aktual tetap dapat berubah, sehingga masyarakat perlu mengikuti informasi dan pembaruan cuaca resmi dari BMKG.

Hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Palembang. Sementara itu, hujan ringan diprakirakan berpeluang turun di Musi Rawas, Pagar Alam, Empat Lawang, Lahat, Lubuklinggau, serta Prabumulih. Perbedaan prakiraan antardaerah tersebut menunjukkan bahwa potensi hujan di Sumatera Selatan dapat bervariasi. Karena itu, kemungkinan hujan di satu wilayah belum tentu menjadi gambaran bagi wilayah lainnya.

Di samping memantau perkembangan cuaca, tim gabungan berupaya memanfaatkan potensi awan hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca. Salah satu teknik yang digunakan adalah penyemaian dry ice atau es kering pada awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan. Penyemaian dry ice juga dilakukan pada pagi hari dengan tujuan membantu membuka lapisan inversi, yaitu kondisi atmosfer yang dapat menghambat pergerakan udara dan penyebaran asap.

Baca juga: Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun