Jakarta | Program Cahaya Hati Indonesia menggelar tausiyah di Masjid Baitul Mu’minin, Jalan Malaka II, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Sejak pagi, puluhan jemaah telah berdatangan dan memenuhi area masjid sebelum kegiatan dimulai. Kehadiran peserta lebih awal menunjukkan besarnya minat masyarakat untuk mengikuti acara keagamaan tersebut. Suasana di lingkungan masjid pun terasa ramai menjelang pukul 10.00 WIB, waktu yang dijadwalkan sebagai awal tausiyah. Para jemaah berkumpul dengan tertib, sementara area masjid semakin dipenuhi peserta yang terus berdatangan.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai kelompok usia dan latar belakang. Ibu-ibu, bapak-bapak, serta anak muda tampak menjadi bagian dari jemaah yang mengikuti kegiatan ini. Keragaman tersebut menciptakan suasana kebersamaan di dalam dan sekitar masjid, dengan warga dari berbagai kalangan datang untuk menyimak tausiyah. Tidak hanya masyarakat dari Duren Sawit, peserta juga datang dari sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, beberapa jemaah menempuh perjalanan dari luar daerah untuk menghadiri kegiatan Cahaya Hati Indonesia ini.
Antusiasme yang terlihat sejak pagi menjadi gambaran sambutan masyarakat terhadap acara tersebut. Sebelum tausiyah dimulai, para peserta mengisi area masjid dan bersiap mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan. Waktu pelaksanaan pada pukul 10.00 WIB memberi kesempatan bagi jemaah untuk datang lebih awal, mencari tempat, dan berkumpul bersama peserta lain. Kehadiran puluhan orang dari berbagai wilayah turut menjadikan suasana Masjid Baitul Mu’minin semakin semarak. Dengan jemaah yang telah memenuhi area sejak pagi, kegiatan di Duren Sawit ini mempertemukan warga setempat dan peserta dari luar kawasan dalam satu forum keagamaan. Tausiyah Cahaya Hati Indonesia pun disambut ramai oleh masyarakat yang hadir, mulai dari keluarga hingga anak muda, untuk mengikuti acara di masjid tersebut pada Sabtu pagi.
Tausiyah Cahaya Hati Indonesia yang berlangsung di Duren Sawit menghadirkan susunan pengisi acara dengan pembagian peran yang jelas. Habib Muhammad Syahab dan Ustazah Lulung Mumtaza hadir sebagai penceramah, sedangkan Ustaz Abdul Kaafi bertugas sebagai pembawa acara. Ketiga nama tersebut menjadi bagian dari kegiatan religi yang disambut ramai oleh masyarakat setempat. Kehadiran mereka melengkapi rangkaian acara dan menandai kembali hadirnya program Cahaya Hati Indonesia di tengah masyarakat.
Sebagai penceramah, Habib Muhammad Syahab dan Ustazah Lulung Mumtaza tercatat mengisi tausiyah dalam kegiatan tersebut. Informasi yang tersedia menyebutkan keduanya sebagai penyampai ceramah, tanpa merinci tema khusus atau pokok bahasan yang disampaikan. Karena itu, susunan acara dapat dijelaskan secara faktual dengan menempatkan keduanya pada peran utama sebagai penceramah, tanpa mengaitkan kegiatan ini dengan materi tertentu yang tidak tercantum dalam sumber.
Ustaz Abdul Kaafi menjalankan tugas sebagai pembawa acara. Peran tersebut menempatkannya sebagai pengantar rangkaian kegiatan dan penghubung bagian-bagian acara, sementara penyampaian tausiyah dilakukan oleh para penceramah. Pembagian tugas ini membantu menggambarkan susunan pengisi acara secara ringkas: Habib Muhammad Syahab dan Ustazah Lulung Mumtaza menyampaikan tausiyah, sedangkan Ustaz Abdul Kaafi memandu jalannya kegiatan. Tidak ada keterangan tambahan mengenai urutan penampilan atau rincian teknis acara.
Kegiatan di Duren Sawit ini merupakan bagian dari program religi Cahaya Hati Indonesia, yang kembali menyapa masyarakat melalui tausiyah. Sambutan ramai yang disebutkan pada acara tersebut menunjukkan adanya perhatian masyarakat terhadap kehadiran program ini, meski informasi yang tersedia tidak merinci jumlah pengunjung ataupun bentuk respons mereka. Dengan susunan penceramah dan pembawa acara yang telah diketahui, gambaran kegiatan tetap dapat disampaikan tanpa menambahkan tema ceramah, kutipan, maupun detail lain yang belum dijelaskan. Fokusnya adalah kehadiran para pengisi acara dan peran masing-masing dalam kegiatan Cahaya Hati Indonesia di Duren Sawit.
Kehadiran jemaah dalam Tausiyah Cahaya Hati Indonesia di Duren Sawit menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan secara langsung mendapat perhatian dari masyarakat. Peserta datang dari berbagai kalangan dan daerah, sehingga acara mempertemukan jemaah dengan latar yang beragam. Di mereka, tumbuh harapan agar ruang belajar dan mendengarkan tausiyah seperti ini terus tersedia. Kehadiran langsung memberi kesempatan bagi peserta untuk mengikuti rangkaian kegiatan bersama-sama dan menerima materi keagamaan dari narasumber. Ramainya peserta juga memperlihatkan besarnya minat masyarakat terhadap program yang menghadirkan pesan keagamaan secara terbuka. Bagi jemaah, kegiatan semacam ini menjadi salah satu kesempatan untuk memperoleh ilmu dan manfaat melalui pertemuan langsung dengan sesama peserta.
Sejumlah jemaah berharap TV dan MNC Group terus menghadirkan program keagamaan yang memberi ilmu serta manfaat bagi masyarakat. Harapan tersebut tidak hanya tertuju pada satu kegiatan, melainkan juga pada keberlanjutan tayangan dan acara yang dapat menjangkau publik. Program keagamaan dinilai penting sebagai ruang untuk memperoleh pengetahuan, menyimak tausiyah, dan memperluas pemahaman. Dengan menghadirkan kegiatan yang bisa diikuti secara langsung, penyelenggara turut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk hadir dan belajar bersama. Jemaah yang datang dari berbagai daerah dan kalangan menjadi bagian dari gambaran antusiasme tersebut. Mereka mengikuti acara di Duren Sawit, sementara harapan agar program serupa berlanjut disampaikan sebagai dukungan terhadap kegiatan yang membawa pesan dan manfaat keagamaan.
Keinginan agar TV dan MNC Group terus menyelenggarakan program serupa berjalan seiring dengan kehadiran peserta secara langsung. Jemaah yang datang dari beragam latar dan wilayah memperlihatkan bahwa acara ini diikuti oleh masyarakat yang luas, tanpa membedakan asal maupun kalangan. Bagi peserta, keberlanjutan program keagamaan dapat menyediakan kesempatan lain untuk menyimak materi dan memperoleh ilmu. Harapan tersebut berangkat dari pengalaman mengikuti kegiatan di Duren Sawit, bukan dari asumsi mengenai alasan pribadi masing-masing jemaah. Dukungan peserta menjadi dorongan agar ruang keagamaan yang bermanfaat tetap hadir di tengah masyarakat. Dengan demikian, Tausiyah Cahaya Hati Indonesia tidak hanya menjadi pertemuan di satu lokasi, tetapi juga mencerminkan harapan jemaah terhadap program yang terus memberi ilmu dan manfaat.
Elita, Ketua Majelis Taklim Baitul Mu’minin, menyampaikan rasa syukur atas kembali terselenggaranya kegiatan Cahaya Hati Indonesia di masjid tersebut. Baginya, kesempatan menjadi tuan rumah lagi merupakan hal yang patut disambut dengan penuh apresiasi. Kehadiran kegiatan tausiyah ini memberi ruang bagi jemaah untuk berkumpul, mendengarkan pesan keagamaan, serta memperkuat hubungan dengan sesama. Elita juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan acara di lingkungan masjid dapat menghadirkan suasana yang mendukung kegiatan belajar dan pembinaan rohani. Sambutan ramai dari jemaah menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini dinantikan dan memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Karena itu, ia menyambut baik kembalinya Cahaya Hati Indonesia ke Baitul Mu’minin.
Menurut Elita, salah satu manfaat penting kegiatan tersebut adalah kesempatan bagi jemaah untuk memperdalam ilmu agama. Tausiyah dapat membantu peserta memperoleh pemahaman dan pengingat mengenai nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Ilmu yang disampaikan tidak berhenti sebagai pengetahuan yang didengar saat acara berlangsung, tetapi diharapkan dapat direnungkan dan dipraktikkan setelah jemaah kembali ke rumah maupun menjalankan aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi bagian dari proses belajar yang berkelanjutan. Jemaah dapat mengambil pesan yang relevan, kemudian berupaya menerapkannya dalam sikap, pilihan, dan hubungan dengan orang lain. Bagi Elita, manfaat tersebut membuat acara ini berarti bagi pengembangan kehidupan keagamaan para peserta.
Ia berharap kesempatan untuk mengikuti tausiyah dapat mendorong jemaah semakin tekun menambah wawasan dan menjaga nilai-nilai agama dalam keseharian.
Baca juga: Semarak HUT ke-81 TNI, Bakti Sosial di Nawaripi Disambut Antusias Warga




