Kabupaten Serang | Hasan Syukur (HS), 56 tahun, pengemudi ojek online yang terlindas mobil BYD dalam kecelakaan di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan, telah menjalani operasi. Tindakan medis tersebut dilakukan pada Sabtu (24/10/2026) di RS Fatmawati. Kabar operasi disampaikan oleh putrinya, Ewis Hildayani (27), yang masih menunggu informasi lebih lanjut mengenai keadaan sang ayah setelah tindakan itu.
Ewis mengatakan Hasan mengalami patah tulang pada kaki kiri akibat kecelakaan tersebut. Selain itu, tulang belakang ayahnya disebut remuk. Cedera itu membuat Hasan harus menjalani penanganan medis dan operasi di rumah sakit. Keterangan mengenai kondisi tulang tersebut disampaikan keluarga berdasarkan informasi yang mereka terima terkait keadaan Hasan setelah peristiwa di Panglima Polim.
Meski operasi telah selesai, Ewis mengaku belum menerima kabar tentang kondisi Hasan setelah tindakan tersebut. Keluarga masih menanti penjelasan dari pihak rumah sakit mengenai hasil operasi dan perkembangan pemulihan ayahnya. Dalam situasi menunggu itu, Ewis menyebut ada orang di rumah sakit yang mengatakan bahwa Hasan kuat. Pernyataan tersebut menjadi informasi yang ia terima sejauh ini, sementara kondisi pascaoperasi belum diketahui secara pasti.
Peristiwa yang menimpa Hasan menjadi perhatian keluarga karena ia mengalami cedera serius setelah terlindas mobil BYD. Untuk saat ini, informasi yang disampaikan putrinya berfokus pada operasi, patah tulang kaki kiri, serta kondisi tulang belakang yang disebut remuk. Belum ada keterangan lebih lanjut dari Ewis mengenai langkah perawatan berikutnya ataupun perkiraan waktu pemulihan. Keluarga berharap dapat memperoleh kabar terbaru dari rumah sakit setelah tim medis mengevaluasi keadaan Hasan pascaoperasi. Sampai informasi tersebut diterima, mereka masih menunggu perkembangan dengan harapan kondisi Hasan tetap kuat menghadapi masa perawatan.
Ewis pertama kali mengetahui kecelakaan yang dialami ayahnya, Hasan, pada Jumat (23/10). Kabar tersebut diterimanya setelah Hasan dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati. Sebelum keluarga mendapat penjelasan lebih lanjut, Hasan sempat menghubungi putrinya melalui panggilan video. Momen itu menjadi informasi awal yang diterima Ewis mengenai keadaan ayahnya setelah kecelakaan.
Ewis memperkirakan panggilan video tersebut berlangsung sekitar waktu magrib. Menurut perkiraannya, saat itu Hasan baru saja dibawa ke rumah sakit. Ia tidak menyebutkan waktu secara pasti, sehingga keterangan mengenai kapan panggilan berlangsung disampaikan sebagai perkiraan. Setelah panggilan itu, seorang teman Hasan kemudian menjelaskan kondisi yang dialami ayahnya kepada keluarga.
Urutan kabar yang diterima keluarga bermula dari panggilan Hasan kepada putrinya, lalu dilanjutkan dengan penjelasan dari temannya. Ewis menyampaikan bahwa ia pertama kali mendapat kabar pada hari Jumat, setelah Hasan berada di RS Fatmawati. Keterangan tersebut menggambarkan bagaimana keluarga mulai mengetahui keadaan Hasan setelah insiden di Panglima Polim, ketika ia telah dibawa untuk mendapatkan penanganan di rumah sakit.
Dalam penuturannya, Ewis hanya memperkirakan panggilan itu terjadi sekitar waktu magrib dan menyatakan bahwa ayahnya baru dibawa ke rumah sakit pada saat tersebut. Tidak ada rincian lain mengenai isi percakapan video yang disampaikan dalam keterangan ini. Karena itu, informasi yang dapat dipastikan dari cerita keluarga terbatas pada waktu perkiraan panggilan, lokasi perawatan Hasan, serta adanya penjelasan kondisi dari teman Hasan setelah panggilan tersebut.
Keterangan Ewis memberikan gambaran tentang awal keluarga menerima informasi, bukan uraian lengkap mengenai komunikasi yang berlangsung. Hasan sempat terhubung dengan putrinya melalui video, kemudian temannya menyampaikan penjelasan mengenai kondisinya. Selebihnya, keluarga memperoleh kabar setelah Hasan dibawa ke RS Fatmawati pada Jumat (23/10). Perkiraan waktu magrib tetap menjadi penanda waktu yang diberikan Ewis, bukan waktu pasti yang dikonfirmasi secara terpisah.
Kompol Kharisma Arbita Bangsa, Kasi Laka Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa kecelakaan beruntun di Jalan Panglima Polim terjadi pada Jumat (23/10) sekitar pukul 16.48 WIB. Insiden berlangsung di wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu, sebuah mobil BYD bernomor polisi B-1220-KDP dikemudikan pria berinisial S, berusia 46 tahun, dan melaju dari arah selatan menuju utara. Keterangan tersebut menjadi dasar untuk menguraikan urutan kendaraan yang terlibat sebelum mobil BYD berakhir di trotoar.
Dalam perjalanan, BYD tersebut menabrak mobil Honda Brio bernomor polisi B-2967-NGY yang bergerak searah di depannya. Setelah benturan pertama, mobil BYD oleng ke kiri. Kendaraan itu kemudian menabrak sepeda motor Honda Beat bernomor polisi A-3867-DD yang dikendarai Hasan. Pada rangkaian yang sama, BYD juga menabrak mobil Wuling dengan nomor polisi B-1835-ERZ. Urutan ini menunjukkan bahwa benturan tidak berhenti pada kendaraan yang berada tepat di depan, melainkan berlanjut ke sisi kiri jalan.
Sesudah menabrak Honda Beat dan Wuling, mobil BYD naik ke trotoar. Di area tersebut, kendaraan itu menabrak dua mobil lain yang sedang terparkir. Dengan demikian, berdasarkan keterangan kepolisian, rangkaian insiden melibatkan mobil BYD, Honda Brio, Honda Beat, Wuling, serta dua kendaraan yang berada dalam keadaan parkir. Penjelasan kronologi ini menggambarkan pergerakan BYD dari jalur jalan raya hingga ke trotoar, berikut benturan-benturan yang terjadi sepanjang lintasannya. Polisi menyampaikan identitas kendaraan dan arah perjalanan sebagai bagian dari uraian awal peristiwa. Adapun pengemudi BYD diketahui berinisial S, sementara pengendara Honda Beat yang disebut dalam keterangan adalah Hasan. Rincian tersebut menjelaskan bagaimana kecelakaan di Panglima Polim berkembang secara berurutan pada sore hari itu.
Ewis tinggal bersama dua anaknya di rumah milik Hasan yang berada di Ciomas, Kabupaten Serang, Banten. Sementara itu, sejumlah anggota keluarga merantau ke Jakarta. Ewis menyampaikan bahwa ayah, ibu, dan suaminya berada di Jakarta, sehingga ia tinggal bersama anak-anaknya di Serang. Keterangan mengenai keluarga tersebut memberi gambaran tentang kondisi rumah tangga Hasan, tetapi perhatian utama keluarga saat ini tertuju pada pemulihan korban setelah kecelakaan beruntun di Panglima Polim. Hasan menjalani operasi akibat cedera yang dialaminya dalam insiden tersebut dan masih mendapatkan perawatan medis.
Ewis merupakan anak tunggal Hasan. Ia mengatakan ayahnya terakhir kali pulang ke rumah sekitar dua bulan sebelum kejadian. Sebelumnya, Hasan biasanya pulang ke Serang satu kali dalam sebulan. Jarak tempat tinggal dan perantauan itu membuat pertemuan mereka tidak berlangsung setiap hari, sehingga keterangan mengenai jadwal kepulangan menjadi bagian dari cerita keluarga setelah kecelakaan. Meski begitu, informasi tersebut tidak mengubah fokus keluarga terhadap keadaan Hasan. Mereka menantikan kabar mengenai penanganan medis dan kondisi korban, sembari menjalani aktivitas di rumah bersama dua anak Ewis. Rumah di Ciomas menjadi tempat tinggal Ewis dan anak-anaknya, sedangkan Hasan bekerja serta tinggal di Jakarta.
Keluarga juga harus menghadapi situasi ketika Hasan dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan. Berdasarkan keterangan kepolisian, Hasan mengalami patah tulang pada kaki kiri serta luka lecet. Cedera tersebut membuatnya mendapat perawatan di RS Fatmawati. Informasi kepolisian itu menjelaskan kondisi fisik korban setelah kejadian, sementara keluarga memberikan konteks mengenai tempat tinggal dan hubungan mereka dengan Hasan. Dengan adanya patah tulang dan luka lecet, perawatan medis menjadi hal yang penting bagi proses pemulihan. Ewis dan keluarga menaruh perhatian pada perkembangan kondisi Hasan selama menjalani penanganan di rumah sakit. Hingga keterangan yang disampaikan, Hasan masih dirawat di RS Fatmawati untuk menangani cedera yang dialaminya akibat kecelakaan beruntun tersebut.
Baca juga: Panglima TNI Ziarah ke Makam Presiden RI Ke-2 dan Panglima Besar Jenderal Soedirman | Jelang HUT Ke-81 TNI, Pasahli Panglima TNI Anjangsana kepada Mantan Panglima TNI | Panglima TNI Resmi Tutup Lomba Tembak Piala Panglima TNI 2026






