Jakarta | ARM, Microsoft, Google, dan Amazon Web Services (AWS) bekerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan sektor semikonduktor dan infrastruktur digital. Kolaborasi ini membuka ruang bagi talenta nasional untuk terlibat langsung dalam bidang yang menjadi dasar bagi banyak teknologi modern, mulai dari perangkat komputasi hingga layanan kecerdasan buatan. Keterlibatan perusahaan global tersebut juga berpotensi mempertemukan keahlian industri dengan kemampuan perancang chip dan peneliti Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa perancang chip serta peneliti kecerdasan buatan Indonesia dapat berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Peluang itu tidak hanya berkaitan dengan pertukaran pengetahuan, tetapi juga diarahkan pada pengembangan solusi yang dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata. Dengan begitu, kompetensi riset dan rekayasa dalam negeri diharapkan terhubung dengan pengalaman serta ekosistem teknologi berskala internasional.
Sasaran praktis yang disampaikan mencakup pengembangan perangkat untuk membantu guru mengajar, mendukung dokter dalam mendiagnosis, serta membantu dunia usaha meningkatkan produktivitas. Contohnya, teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan pendidikan dapat memperkaya proses belajar dan membantu pekerjaan pengajar. Di bidang kesehatan, perangkat berbasis teknologi dapat mendukung proses diagnosis, sementara di sektor usaha, pemanfaatan teknologi dapat membuat kegiatan operasional lebih efisien. Penerapannya tetap perlu memperhatikan konteks pengguna dan kebutuhan masing-masing sektor.
Fokus pada penggunaan tersebut memberi gambaran bahwa pengembangan semikonduktor dan infrastruktur digital bukan semata-mata agenda teknis. Keduanya dapat menjadi landasan bagi produk dan layanan yang bermanfaat bagi masyarakat, apabila dikembangkan bersama talenta lokal dan diterapkan secara tepat. Kolaborasi dengan perusahaan global juga dapat memperluas akses terhadap keahlian, jejaring, dan perkembangan teknologi, sementara perancang chip serta peneliti Indonesia membawa pemahaman tentang kebutuhan di dalam negeri.
Pernyataan Brian disampaikan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta pada Senin, 26 Oktober 2026. Forum tersebut menjadi kesempatan untuk menyoroti hubungan investasi, inovasi teknologi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Arah kolaborasi yang dipaparkan menempatkan peneliti serta insinyur Indonesia sebagai mitra dalam menghasilkan teknologi, bukan sekadar pengguna. Keberhasilan langkah ini akan bergantung pada tindak lanjut, pengembangan talenta, serta kemampuan mengubah kerja sama menjadi perangkat dan solusi yang dapat dimanfaatkan secara luas.
Brian mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk membangun kerja sama dengan Danantara dan pelaku industri. Dorongan ini menempatkan kampus sebagai bagian penting dalam upaya menghubungkan pendidikan tinggi, sains, dan kebutuhan sektor produktif. Hubungan tersebut diharapkan membuka ruang agar pengetahuan serta kapasitas akademik dapat berkontribusi lebih besar terhadap perkembangan industri, tanpa mengabaikan peran masing-masing pihak. Perguruan tinggi memiliki kegiatan pendidikan dan riset, sementara industri menjalankan kegiatan usaha dan pengembangan sektor. Danantara juga disebut sebagai pihak yang diharapkan dapat terhubung dalam upaya tersebut.
Harapan Brian bukan sekadar agar perguruan tinggi berhubungan dengan dunia usaha, melainkan agar ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dampak yang lebih nyata bagi sektor industri. Pendidikan tinggi dan sains dapat menjadi landasan bagi pengembangan industri berbasis pengetahuan, apabila riset dan talenta dalam negeri ditempatkan sebagai bagian penting dari prosesnya. Dengan demikian, penguatan kapasitas lokal perlu berjalan seiring dengan upaya mengembangkan industri, sehingga kemampuan yang tumbuh di kampus dan potensi sumber daya manusia Indonesia tidak terpisah dari arah pembangunan sektor produktif.
Gagasan tersebut juga menekankan arti penting talenta Indonesia dalam ekosistem industri berbasis riset. Keterhubungan perguruan tinggi, Danantara, dan pelaku industri diharapkan mendukung perhatian yang lebih besar terhadap kemampuan ilmiah dan teknologi di dalam negeri. Penekanan ini tidak berarti bahwa kegiatan atau hasil kolaborasi tertentu telah berlangsung; yang disampaikan adalah dorongan dan harapan agar hubungan antarpihak dapat dikembangkan. Dalam kerangka itu, riset menjadi unsur yang relevan bagi pengembangan industri, sedangkan pendidikan tinggi berperan menyiapkan pengetahuan dan talenta. Arah yang diharapkan ialah agar sains, teknologi, dan kemampuan lokal memperoleh ruang lebih kuat dalam membangun industri yang bertumpu pada pengetahuan.
Menurut Brian, kolaborasi dunia riset, perusahaan, dan mitra teknologi global bukan sekadar gagasan, melainkan sudah mulai diwujudkan dalam sejumlah proyek. Salah satu contohnya berada di sektor energi, ketika PLN dan para peneliti bekerja bersama berbagai pihak, termasuk CTL dan Siemens, untuk mengembangkan jaringan listrik yang lebih cerdas dan terjangkau. Upaya ini penting karena sistem kelistrikan perlu mampu merespons perubahan kebutuhan, mengelola pasokan secara lebih baik, serta mendukung pemanfaatan teknologi baru. Keterlibatan peneliti memungkinkan keputusan teknis ditopang kajian dan pengetahuan, sementara pengalaman perusahaan serta mitra teknologi membantu menghubungkan hasil pengembangan dengan kebutuhan operasional. Dengan demikian, kerja sama tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi diarahkan pada solusi yang dapat digunakan.
Contoh lain terdapat di bidang perkapalan. Sejumlah perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Oxford Maritimes untuk mengembangkan kapal yang efisien. Kolaborasi ini mempertemukan kapasitas akademik dan riset nasional dengan pengalaman serta perspektif dari mitra internasional. Pengembangan kapal yang efisien dapat melibatkan beragam pertimbangan, mulai dari desain hingga penggunaan energi dan kinerja operasional. Karena itu, keterhubungan peneliti, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku industri menjadi penting sejak proses pengembangan berlangsung. Kerja bersama semacam ini juga membuka ruang bagi pengetahuan yang diperoleh melalui riset untuk diterapkan pada produk dan kemampuan yang relevan bagi sektor maritim Indonesia.
Kedua contoh tersebut menggambarkan harapan Brian agar kolaborasi riset dan industri menjadi bagian dari cara Indonesia membangun sektor-sektor strategis. Teknologi global dapat memberi akses pada pengalaman dan keahlian, tetapi penguatan kapasitas peneliti, perguruan tinggi, serta industri di dalam negeri tetap menjadi unsur utama. Jika hubungan antarpihak dirancang berkelanjutan, hasil penelitian berpeluang diterjemahkan menjadi teknologi, produk, dan proses yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Pada saat yang sama, perusahaan dapat menyampaikan persoalan nyata yang perlu dijawab oleh riset. Siklus kerja yang saling terhubung itu dapat membantu membentuk industri Indonesia yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan hanya pada penggunaan solusi dari luar. Kolaborasi yang konsisten pun berpotensi memperkuat kemampuan nasional untuk berinovasi dan bersaing dalam jangka panjang.
Brian mengutip ajakan Presiden Prabowo Subianto kepada para mitra internasional untuk datang ke Indonesia, bekerja sama, berinvestasi, dan memproduksi sesuatu di dalam negeri. Ajakan tersebut menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai pasar atau lokasi kegiatan ekonomi, melainkan sebagai tempat untuk membangun kemampuan produksi bersama. Dalam kerja sama itu, mitra dari berbagai negara diharapkan berkolaborasi dengan talenta unggul Indonesia, sehingga pengetahuan dan kapasitas yang dikembangkan dapat melibatkan sumber daya manusia dalam negeri.
Menurut Brian, ajakan tersebut sejalan dengan cita-cita yang disampaikan Prabowo agar Indonesia mampu menciptakan teknologi, menguasainya, lalu memproduksinya. Ketiga kemampuan itu menggambarkan tahapan yang saling berkaitan: membangun pengetahuan dan gagasan, mengembangkan pemahaman serta kendali atas teknologi, kemudian menghasilkan produk secara nyata. Dengan demikian, kerja sama internasional dapat diarahkan untuk memperkuat kapasitas nasional, bukan hanya menghadirkan teknologi dari luar. Talenta Indonesia menjadi bagian penting dalam upaya tersebut, baik melalui keterlibatan dalam proses pengembangan maupun produksi.
Brian juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang yang ditopang oleh sumber daya alam dan pasar yang besar. Namun, menurut pandangannya, kedua modal itu saja tidak otomatis menghasilkan kemakmuran jangka panjang.





