Jakarta | Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati menegaskan bahwa pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi peserta didik jenjang SMA/MA/SMK sederajat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus mengutamakan keselamatan serta kesehatan siswa. Ia menyampaikan pernyataan tersebut di Jakarta pada Senin. Menurutnya, asesmen akademik tidak boleh dijalankan dengan mengabaikan kondisi lingkungan yang dapat menimbulkan risiko bagi peserta didik. Perlindungan terhadap anak perlu menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan mengenai pelaksanaan kegiatan sekolah, termasuk ketika jadwal TKA telah ditetapkan. Tujuan mengukur kemampuan akademik tetap penting, tetapi tidak dapat ditempatkan di atas keselamatan.
Kurniasih mengingatkan bahwa sekolah tidak seharusnya memaksa siswa menembus kabut asap yang berisiko bagi kesehatan hanya agar mengikuti jadwal asesmen. Kehadiran dalam ujian bukan alasan untuk meminta peserta didik menghadapi keadaan yang berpotensi membahayakan tubuh mereka. Jika kondisi di sekitar sekolah atau perjalanan menuju lokasi TKA menimbulkan kekhawatiran, keselamatan siswa perlu menjadi dasar pertimbangan. Pesan tersebut menekankan bahwa kepatuhan terhadap agenda akademik harus disertai kepekaan terhadap situasi yang sedang dihadapi masyarakat. Penyelenggara dan pihak sekolah perlu memastikan keputusan yang diambil tidak menambah risiko bagi anak, baik saat menuju tempat ujian maupun selama kegiatan berlangsung.
Penegasan itu juga menunjukkan pentingnya pendekatan yang mengutamakan kemanusiaan dalam penyelenggaraan asesmen. Jadwal dan tata cara pelaksanaan dapat dipertimbangkan kembali apabila keadaan membuat siswa tidak aman untuk hadir, sehingga mereka tidak merasa harus memilih menjaga kesehatan dan memenuhi kewajiban akademik. Prinsip tersebut tidak berarti mengabaikan pentingnya TKA, melainkan memastikan proses penilaian berlangsung dalam kondisi yang layak dan aman. Dengan menempatkan keselamatan sebagai prioritas, sekolah dapat menunjukkan bahwa kepentingan peserta didik tetap menjadi pusat kebijakan pendidikan. Pesan Kurniasih menjadi pengingat bahwa evaluasi akademik seharusnya mendukung perkembangan siswa, bukan menuntut mereka menghadapi kabut asap berisiko demi mengikuti jadwal semata.
Kurniasih berharap fleksibilitas pelaksanaan dan mekanisme ujian susulan yang disediakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh siswa, orang tua, serta sekolah. Kemudahan akses dinilai penting agar keluarga mengetahui pilihan yang tersedia ketika kondisi di sekitar tempat tinggal atau sekolah belum mendukung pelaksanaan tes secara aman. Informasi mengenai prosedur, jadwal, dan pihak yang perlu dihubungi juga perlu disampaikan secara jelas, sehingga siswa terdampak tidak kebingungan menentukan langkah berikutnya. Dengan komunikasi yang baik, sekolah dapat membantu memastikan setiap murid memperoleh kesempatan mengikuti asesmen sesuai kondisi masing-masing.
Fleksibilitas tersebut bertujuan menjaga hak siswa untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA), tanpa mengharuskan mereka mempertaruhkan keselamatan. Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk asap yang mengganggu aktivitas di sejumlah wilayah, dapat membuat perjalanan ke lokasi ujian maupun kegiatan di ruang tes menjadi berisiko. Karena itu, keputusan untuk menunda atau mengikuti ujian susulan seharusnya dapat diambil dengan mempertimbangkan situasi nyata di lapangan. Siswa yang tidak dapat mengikuti jadwal awal karena terdampak karhutla tetap perlu memperoleh kesempatan yang setara untuk menjalani tes pada waktu yang lebih aman.
Kemendikdasmen telah menyiapkan skema khusus agar pelaksanaan TKA bagi murid di wilayah karhutla berlangsung aman. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa skema itu mencakup penjadwalan tersendiri bagi daerah yang kondisinya belum memungkinkan siswa mengikuti tes dengan aman. Pengaturan jadwal dapat disesuaikan dengan keadaan setempat, sehingga keselamatan murid menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu pelaksanaan. Sekolah dan pemerintah daerah diharapkan berkoordinasi untuk memantau perkembangan kondisi serta menyampaikan informasi kepada keluarga. Dengan begitu, penyesuaian jadwal dan ujian susulan dapat diterapkan secara tepat, bukan menjadi hambatan administratif bagi siswa yang terdampak. Kurniasih menekankan pentingnya memastikan mekanisme tersebut benar-benar mudah dijangkau, agar setiap murid dapat mengikuti TKA setelah situasi memungkinkan, tanpa mengabaikan perlindungan kesehatan dan keselamatan selama karhutla masih berlangsung.
Kurniasih berpandangan bahwa hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen untuk memetakan kemampuan akademik siswa. Namun, pemanfaatannya perlu dilakukan secara proporsional dan ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Skor yang diperoleh dapat memberi gambaran mengenai penguasaan materi pada saat asesmen berlangsung, tetapi tidak seharusnya dianggap sebagai ukuran tunggal atas kemampuan, potensi, atau keberhasilan seorang anak. Dengan cara pandang tersebut, data TKA dapat membantu sekolah dan pemangku kepentingan memahami kondisi pembelajaran tanpa menyederhanakan capaian siswa menjadi sekadar angka.
Menurut Kurniasih, nilai penting asesmen terletak pada kemampuannya menyediakan informasi yang berguna untuk memperbaiki proses belajar. Hasilnya dapat menunjukkan bidang yang telah dikuasai siswa sekaligus bagian yang masih memerlukan penguatan. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengevaluasi kualitas pembelajaran, menyesuaikan strategi pengajaran, serta menentukan dukungan yang dibutuhkan oleh siswa. Karena itu, hasil TKA sebaiknya dibaca bersama informasi lain tentang proses belajar dan kondisi pendidikan di sekolah, bukan ditafsirkan secara terpisah atau digunakan hanya untuk membuat perbandingan.
Ia juga mengingatkan bahwa perhatian yang terlalu terpusat pada skor berisiko membuat unsur penting dalam pendidikan kurang terlihat. Proses belajar, perkembangan karakter, dan potensi anak tidak seluruhnya tercermin melalui hasil tes akademik. Jika angka menjadi satu-satunya sasaran, kebutuhan siswa untuk berkembang secara menyeluruh dapat luput dari perhatian, sementara kegiatan pembelajaran berpotensi lebih diarahkan pada pencapaian nilai daripada pemahaman. Pandangan tersebut bukan berarti menolak pelaksanaan TKA. Sebaliknya, asesmen tetap dapat berperan apabila digunakan secara bijak: hasilnya membantu mengenali capaian dan kebutuhan belajar, lalu menjadi dasar perbaikan yang memperhatikan siswa secara utuh. Dengan demikian, TKA dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran tanpa menggeser tujuan pendidikan yang lebih luas.
Kurniasih berharap Tes Kemampuan Akademik (TKA) dapat dilaksanakan secara tertib dan objektif, dengan tetap memperhatikan situasi yang dihadapi setiap peserta didik. Ketertiban pelaksanaan diperlukan agar proses asesmen berlangsung teratur, sementara prinsip objektivitas penting supaya hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kemampuan akademik siswa. Dalam pelaksanaannya, perhatian terhadap kondisi di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga pengalaman asesmen tetap positif.
Menurut Kurniasih, TKA diharapkan memberi pengalaman yang baik bagi siswa, bukan menambah beban ketika mereka berada dalam keadaan yang belum mendukung. Hasil tes nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran kemampuan akademik yang terukur. Namun, pemaknaan terhadap hasil tersebut perlu tetap menghormati kondisi, kebutuhan, dan hak setiap siswa. Dengan demikian, asesmen dapat menjalankan fungsinya sebagai pengukur kemampuan tanpa mengabaikan keadaan peserta didik yang mengikuti maupun yang belum dapat mengikuti tes karena situasi di daerahnya.
Perhatian terhadap keselamatan juga disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Ia menegaskan bahwa keamanan, keselamatan, dan kesehatan murid menjadi prioritas dalam pelaksanaan TKA. Karena itu, bagi daerah yang kondisinya belum aman, pelaksanaan asesmen akan dijadwalkan secara tersendiri. Penegasan tersebut menjadi landasan agar penyelenggaraan tes tidak mengesampingkan perlindungan terhadap murid. Harapan Kurniasih agar TKA berlangsung tertib dan objektif sejalan dengan pentingnya memastikan asesmen tetap menghargai hak peserta didik, sekaligus memberi pengalaman yang positif. Hasilnya diharapkan menyajikan gambaran akademik yang dapat diukur tanpa melepaskan perhatian terhadap kebutuhan dan keadaan masing-masing siswa.
Baca juga: Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas






