Dari Fitofarmaka hingga Biogas, Empat Agenda Riset BRIN yang Dilaporkan kepada Presiden

Dari Fitofarmaka hingga Biogas, Empat Agenda Riset BRIN yang Dilaporkan kepada Presiden

Jakarta | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan 19 kandidat obat herbal untuk dikembangkan lebih lanjut hingga dapat memenuhi persyaratan sebagai fitofarmaka. Upaya ini menjadi bagian dari agenda riset yang dilaporkan kepada Presiden, sekaligus langkah untuk memperkuat pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia dalam bidang kesehatan. Pengembangan tersebut tidak berarti seluruh kandidat sudah dapat digunakan dengan status fitofarmaka. Sejumlah hasil penelitian masih berada pada tingkat obat herbal terstandar (OHT), sehingga perlu melalui tahapan pembuktian dan penilaian sesuai ketentuan yang berlaku.

Peralihan dari OHT menuju fitofarmaka menuntut pengujian yang lebih lengkap, termasuk pembuktian keamanan dan manfaat melalui uji klinis. Tahap-tahap tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa produk memiliki bukti yang memadai sebelum memperoleh klasifikasi yang lebih tinggi. BRIN menyebut uji klinis untuk beberapa kandidat sedang berlangsung, sementara kandidat lainnya masih perlu melanjutkan rangkaian penelitian dan pengujian. Karena itu, jumlah kandidat yang disiapkan merupakan potensi yang sedang dikembangkan, bukan daftar produk yang seluruhnya telah dinyatakan siap dipasarkan sebagai fitofarmaka.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa obat herbal memiliki potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas. Menurutnya, BRIN telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses pengembangan, mulai dari penelitian hingga tahapan yang dibutuhkan agar produk dapat memenuhi persyaratan. Kerja sama lintas lembaga dan pemangku kepentingan dinilai penting karena pengembangan obat memerlukan dukungan keahlian, fasilitas, serta proses pengawasan yang terkoordinasi.

BRIN juga berencana berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendorong percepatan proses menuju klasifikasi fitofarmaka. Koordinasi ini diharapkan membantu memperjelas kebutuhan pengujian, memperkuat sinergi antarinstansi, dan menjaga agar setiap tahap tetap mengikuti standar keamanan serta mutu. Dengan demikian, pengembangan 19 kandidat dapat berlangsung lebih terarah, sementara keputusan mengenai klasifikasi tetap didasarkan pada hasil penelitian dan evaluasi yang diperlukan.

Arif Satria menemui Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa. Dalam pertemuan tersebut, Arif menyampaikan sejumlah penugasan riset yang berkaitan dengan agenda pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu hal yang dibahas ialah pengembangan obat herbal. Pelaporan ini menempatkan riset sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan nasional, khususnya dalam penyediaan obat. Pertemuan itu juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan arahan Presiden mengenai prioritas yang perlu ditindaklanjuti. Informasi yang disampaikan berfokus pada penugasan riset dan dorongan untuk mewujudkan kemandirian obat, tanpa merinci agenda lain yang tidak disebutkan.

Menurut Arif, Presiden menekankan pentingnya mewujudkan kemandirian obat dengan segera. Arahan tersebut memberi penekanan pada urgensi, sehingga pengembangan obat tidak berhenti pada perencanaan atau pembahasan, tetapi perlu didorong melalui kegiatan riset yang berkelanjutan. Kemandirian obat berkaitan dengan kemampuan mengembangkan dan menyediakan produk yang dibutuhkan di dalam negeri. Dalam konteks pertemuan itu, pengembangan obat herbal menjadi salah satu jalur riset yang disampaikan kepada Presiden. Penekanan untuk bergerak cepat menunjukkan bahwa riset perlu diarahkan pada langkah nyata, dengan tetap bertumpu pada proses pengembangan yang bertanggung jawab. Arif menyampaikan arahan tersebut sebagai bagian dari pesan Presiden terkait tugas riset.

BRIN dapat menindaklanjuti arahan itu dengan mempercepat pengembangan kandidat herbal yang berpotensi menjadi obat. Percepatan ini memberi ruang bagi riset untuk bergerak lebih terarah, mulai dari pengembangan kandidat hingga tahapan yang diperlukan untuk menilai kelayakannya. Fokus pada kandidat herbal juga menghubungkan penugasan yang dilaporkan Arif dengan sasaran kemandirian obat yang ditekankan Presiden. Upaya tersebut memerlukan kesinambungan prioritas riset dan kebutuhan obat nasional, serta perhatian pada mutu dan dasar ilmiah pengembangan. Dengan demikian, laporan di Istana menandai pentingnya menindaklanjuti penugasan riset secara cepat dan terukur. Pengembangan herbal ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar BRIN dalam mendukung tersedianya obat yang lebih mandiri.

Dalam pertemuan yang sama, Arif turut menyampaikan kepada Presiden perkembangan riset vaksin malaria yang dikerjakan BRIN. Laporan tersebut menempatkan penelitian vaksin sebagai salah satu agenda riset yang dibahas, berdampingan dengan berbagai bidang lain yang dipaparkan kepada kepala negara. Menanggapi paparan itu, Presiden meminta agar penelitian vaksin malaria dipercepat. Permintaan tersebut menegaskan perhatian terhadap kelanjutan riset, sekaligus menjadi arahan agar upaya yang tengah dikerjakan dapat berjalan lebih cepat. Namun, informasi yang disampaikan dalam laporan pertemuan ini terbatas pada jumlah kandidat, pihak yang terlibat dalam kolaborasi, dan arahan percepatan dari Presiden.

BRIN saat ini memiliki empat kandidat vaksin malaria. Keempat kandidat itu dikembangkan melalui kolaborasi BRIN, Kementerian Kesehatan, dan Bio Farma. Keterlibatan ketiga pihak tersebut menjadi unsur utama dalam paparan Arif mengenai penelitian vaksin malaria. Dengan demikian, riset ini bukan hanya disampaikan sebagai pekerjaan BRIN secara tersendiri, melainkan sebagai pengembangan yang melibatkan mitra dari sektor kesehatan dan industri farmasi. Jumlah empat kandidat memberikan gambaran mengenai keluasan kandidat yang sedang dikembangkan bersama, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana masing-masing kandidat diproses atau dibandingkan.

Arahan Presiden agar penelitian dipercepat menjadi pesan penting dari pembahasan tersebut. Permintaan itu disampaikan setelah Arif melaporkan riset vaksin malaria, termasuk keberadaan empat kandidat dan kerja sama dengan Kementerian Kesehatan serta Bio Farma. Fokus informasi yang tersedia adalah dorongan untuk mempercepat penelitian, bukan rincian teknis mengenai proses pengembangan. Karena itu, laporan ini tidak merinci tahap penelitian, kelompok sasaran, maupun jadwal pengembangan vaksin. Hal yang dapat ditegaskan ialah BRIN mengembangkan empat kandidat vaksin malaria bersama dua mitra tersebut, dan Presiden meminta agar penelitian terkait dipercepat. Keterangan ini mencatat pokok kolaborasi serta arahan yang disampaikan dalam pertemuan, tanpa menambahkan klaim mengenai hasil atau langkah berikutnya.

Dalam agenda penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BRIN mengembangkan riset yang mendukung upaya pengendalian sekaligus memperkuat kesiapsiagaan. Arif menyampaikan bahwa BRIN bekerja sama dengan BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI AU dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Langkah ini ditujukan untuk membantu menghadirkan kondisi yang lebih mendukung penanganan kebakaran, terutama ketika wilayah terdampak mengalami kekeringan. Kolaborasi lintas lembaga tersebut menggabungkan dukungan riset, pemantauan cuaca, koordinasi kebencanaan, serta kemampuan operasional di lapangan dan udara. Di sisi lain, peneliti BRIN juga mengkaji model perambatan api pada lokasi karhutla. Pemahaman mengenai bagaimana api bergerak dan meluas dapat membantu memperkirakan area berisiko, memperbaiki strategi respons, dan menyediakan dasar ilmiah bagi pengambilan keputusan. Dengan demikian, riset tidak hanya berfokus pada tindakan saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada informasi yang dapat digunakan untuk mengantisipasi dampaknya.

Agenda riset lain berkaitan dengan pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai sumber energi. Limbah cair pabrik kelapa sawit atau POME, bersama tandan kosong sawit, berpotensi diolah menjadi biogas. Menurut paparan Arif, potensi bahan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan listrik sekitar 3,9 gigawatt. Pengembangan pemanfaatan ini dapat membantu mengubah limbah menjadi sumber daya, sekaligus membuka peluang penyediaan energi yang lebih beragam. Potensi tersebut tetap memerlukan pengolahan dan infrastruktur yang sesuai agar biogas dapat dimanfaatkan secara efektif. Salah satu tantangan yang diteliti adalah penyimpanan gas. Biogas umumnya membutuhkan penanganan khusus, sehingga kemudahan menyimpan dan mengangkutnya menjadi bagian penting dalam pemanfaatan lebih luas.

BRIN memperkenalkan teknologi metal-organic framework (MOF), yaitu material yang dapat menyimpan gas dalam jumlah lebih besar. Karakteristik tersebut berpotensi memungkinkan biogas dikemas dalam tabung, sehingga penyimpanan dan distribusinya dapat menjadi lebih praktis.

Baca juga: Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Panglima TNI Ziarah ke Makam Presiden RI Ke-2 dan Panglima Besar Jenderal Soedirman | Janji Keuntungan dan Pemberangkatan Umrah Dipersoalkan, Dugaan Investasi MCI Tuban Dilaporkan