Studi 75 Hari Menguji Anggapan tentang Emosi Perempuan dan Laki-laki

Studi 75 Hari Menguji Anggapan tentang Emosi Perempuan dan Laki-laki

Jakarta | Temuan dari studi selama 75 hari mengajak pembaca meninjau ulang anggapan bahwa perempuan lebih sulit mengendalikan perasaan, sedangkan laki-laki cenderung rasional. Perbedaan emosi tidak sesederhana pembagian tersebut. Pengalaman emosional setiap orang dipengaruhi banyak hal, termasuk situasi yang dihadapi, kebiasaan mengekspresikan diri, lingkungan sosial, dan cara seseorang memahami perasaannya. Karena itu, jenis kelamin saja tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana seseorang merasakan atau mengelola emosi.

Anggapan tentang perempuan yang lebih emosional telah lama beredar dalam percakapan sehari-hari maupun budaya populer. Hormon kerap disebut sebagai penjelasan utama, seolah perubahan biologis secara langsung menentukan kestabilan emosi dan berlaku seragam bagi semua perempuan. Namun, hubungan faktor biologis dan pengalaman emosional lebih rumit. Hormon dapat menjadi salah satu unsur yang relevan dalam konteks tertentu, tetapi tidak menghapus pengaruh pengalaman, kondisi hidup, maupun perbedaan individual. Penjelasan tunggal berisiko mengubah variasi manusia menjadi stereotip.

Gambaran yang lebih cermat juga mempertimbangkan bahwa emosi dapat dirasakan, dikenali, dan ditampilkan dengan cara berbeda. Norma sosial, misalnya, dapat memengaruhi perilaku yang dianggap pantas bagi perempuan atau laki-laki. Seseorang mungkin lebih terbiasa mengungkapkan kesedihan, sementara orang lain menahan atau menampilkan perasaan itu secara berbeda; ekspresi yang tampak bukan ukuran langsung dari intensitas emosi di dalam diri. Dengan demikian, sikap tenang tidak otomatis berarti seseorang lebih rasional, sebagaimana ekspresi terbuka tidak membuktikan bahwa seseorang kehilangan kendali.

Dengan mengikuti pengalaman peserta dalam rentang waktu yang panjang, studi ini membantu menggeser perhatian dari pelabelan berdasarkan gender menuju pola emosi yang lebih beragam. Temuannya tidak menyatakan bahwa salah satu gender secara alami memiliki emosi yang lebih kuat atau lebih tidak stabil. Sebaliknya, hasil tersebut mendorong pemahaman yang tidak menggeneralisasi: perempuan dan laki-laki sama-sama dapat mengalami berbagai emosi, dan cara menghadapinya dipengaruhi oleh gabungan faktor personal serta konteks. Kerangka ini memberi ruang bagi bukti dan pengalaman nyata, alih-alih mengandalkan asumsi yang diwariskan.Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada 2021 menguji anggapan bahwa emosi perempuan lebih berfluktuasi daripada emosi laki-laki. Peneliti mengamati 142 laki-laki dan perempuan selama 75 hari. Kelompok perempuan mencakup mereka yang menggunakan kontrasepsi oral serta mereka yang mengalami siklus menstruasi alami. Rentang pengamatan yang panjang memungkinkan penelitian membandingkan perubahan emosi pada kedua kelompok gender dalam periode yang sama, alih-alih bertumpu pada kesan umum atau satu pengamatan sesaat.

Hasil utamanya perlu dibaca secara hati-hati: fluktuasi emosi yang diamati pada laki-laki berada pada tingkat yang kurang lebih serupa dengan fluktuasi pada perempuan. Dengan kata lain, temuan tersebut tidak mendukung anggapan sederhana bahwa perubahan emosi merupakan ciri khas perempuan, sementara emosi laki-laki relatif tetap. Perbedaan gender tidak dapat diringkas begitu saja menjadi satu pihak yang selalu lebih stabil dan pihak lain yang selalu lebih mudah berubah. Variasi emosi ditemukan pada kedua kelompok dalam masa penelitian.

Perbandingan itu juga mencakup perempuan dengan pola penggunaan kontrasepsi yang berbeda, tetapi ringkasan hasil ini tidak berarti bahwa semua peserta menunjukkan pola yang identik. Temuan mengenai tingkat fluktuasi yang serupa bukan bukti bahwa pengalaman, penyebab, atau bentuk perubahan emosi setiap orang sama. Studi ini memberi gambaran berdasarkan pengamatan selama 75 hari terhadap kelompok yang diteliti, bukan kesimpulan mutlak tentang setiap perempuan atau laki-laki. Karena itu, hasilnya paling tepat dipahami sebagai koreksi terhadap generalisasi luas: variasi emosi tidak semestinya langsung dikaitkan dengan gender tanpa mempertimbangkan bukti dan batas penelitian.

Perbedaan yang tampak dalam cara perempuan dan laki-laki mengekspresikan emosi tidak selalu mencerminkan sifat bawaan. Norma sosial dan pola pengasuhan turut membentuk perilaku sejak masa kanak-kanak: emosi tertentu lebih diterima pada satu gender, sementara emosi lain dianggap kurang pantas. Anak perempuan, misalnya, kerap memperoleh ruang lebih besar untuk membicarakan perasaan, menunjukkan kesedihan, menangis, atau meminta bantuan. Respons orang dewasa terhadap perilaku tersebut dapat menguatkan pesan bahwa mengungkapkan kerentanan adalah hal yang wajar bagi perempuan. Namun, kebiasaan yang dipelajari ini tidak berarti semua perempuan merasakan atau mengekspresikan emosi dengan cara yang sama.

Ruang yang lebih terbuka untuk menunjukkan kesedihan tidak selalu berlaku bagi kemarahan. Perempuan yang menyampaikan ketidaksetujuan dengan tegas atau memperlihatkan kemarahan dapat dinilai terlalu emosional, sulit diajak bekerja sama, atau tidak profesional. Penilaian semacam itu dapat muncul dalam pergaulan maupun lingkungan kerja, bahkan ketika perilaku yang sama dianggap wajar pada orang lain. Akibatnya, sebagian perempuan mungkin berusaha mengendalikan atau menyamarkan kemarahan agar tidak menghadapi konsekuensi sosial. Norma ini membatasi cara mereka menyampaikan batasan dan keberatan, sekaligus memengaruhi bagaimana orang lain menafsirkan ekspresi mereka.

Laki-laki sering menerima pesan yang berbeda: kemarahan lebih dapat diterima, sedangkan kesedihan, ketakutan, dan kerentanan dapat dianggap tidak sesuai dengan gambaran maskulinitas. Ungkapan seperti “harus kuat” atau “jangan menangis” mengajarkan bahwa memperlihatkan perasaan tertentu berisiko mengundang ejekan atau penolakan. Tekanan tersebut dapat membuat sebagian laki-laki memilih memendam emosi, menghindari percakapan tentang masalah pribadi, atau hanya mengungkapkannya dalam bentuk yang dinilai lebih dapat diterima. Hal ini bukan bukti bahwa mereka kurang merasakan emosi; kesempatan dan kebebasan untuk menunjukkannya mungkin berbeda. Memahami pengaruh norma sosial membantu menafsirkan perbedaan yang terlihat secara lebih cermat, tanpa menganggap pengalaman seluruh perempuan atau laki-laki seragam.

Emosi yang tidak diungkapkan tidak serta-merta menghilang. Ketika seseorang memilih diam atau menekan perasaan tanpa memahami penyebabnya, pengalaman itu tetap dapat memengaruhi cara ia menilai situasi, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi ketegangan yang tertahan dapat muncul sebagai sikap mudah tersinggung, kecenderungan menarik diri, atau respons yang tidak sebanding dengan pemicunya. Mengelola emosi bukan berarti menuruti setiap dorongan, melainkan mengenali apa yang dirasakan, memprosesnya, lalu memilih respons yang sesuai. Langkah ini dapat membantu mencegah perasaan yang belum tertangani mengarahkan perilaku secara tidak disadari.

Perempuan yang terbiasa membicarakan perasaan dan mencari cara untuk memahaminya mungkin memperoleh keunggulan dalam beberapa aspek kecerdasan emosional, seperti mengenali emosi atau menyampaikannya kepada orang lain. Namun, hal itu bukan kemampuan bawaan yang dimiliki semua perempuan, dan bukan pula sesuatu yang hanya dapat dipelajari perempuan. Sebaliknya, tekanan sosial terhadap sebagian laki-laki—misalnya harapan untuk selalu tampak tegar dan tidak menunjukkan kerentanan—dapat membuat mereka lebih sulit mengenali atau mengungkapkan perasaan. Pengalaman tiap orang berbeda, sementara lingkungan, pola asuh, dan kesempatan untuk belajar mengelola emosi turut berperan.

Apabila emosi tertekan tidak dikenali atau dikelola, emosi tersebut dapat berkaitan dengan perilaku yang merugikan, termasuk mengemudi secara agresif, penyalahgunaan zat, atau kekerasan. Hubungan ini tidak berarti setiap orang yang memendam perasaan akan melakukan tindakan tersebut, ataupun bahwa emosi menjadi satu-satunya penyebabnya. Perilaku berisiko dipengaruhi banyak faktor dan perlu dipahami dalam konteksnya. Penting pula untuk tidak menggeneralisasi temuan atau pola sosial kepada seluruh laki-laki: banyak laki-laki mampu mengenali dan mengungkapkan emosi secara sehat. Perempuan juga dapat bertindak agresif atau melakukan kekerasan. Dengan demikian, uraian tentang perbedaan kecenderungan tidak menetapkan sifat tetap berdasarkan gender, dan tidak melampaui batas temuan yang dibahas.

Baca juga: Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Masyarakat Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri | Latgabma SGS 2026, Menguji Ketangguhan Sinergi Land Joint Strike Antar Negara Pada Latihan Puncak