Kabupaten Tanggamus | Gempa beruntun mengguncang Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Rabu sore, 28 Oktober 2026. Getaran yang muncul beberapa kali dalam waktu berdekatan membuat warga terkejut dan memilih keluar dari bangunan. Respons itu terjadi ketika guncangan kembali terasa, sementara aktivitas di sejumlah tempat masih berlangsung. Warga berhamburan keluar untuk berada di luar bangunan hingga situasi dirasakan lebih tenang.
Pengalaman serupa dirasakan Danu, warga Pugung yang saat itu berada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Kotaagung. Ketika aktivitas kantor masih berlangsung, ia merasakan guncangan sebanyak dua kali. Getaran berulang tersebut menjadi penanda bahwa gempa tidak hanya terasa sekali pada sore itu. Keadaan tersebut memicu warga yang berada di dalam bangunan untuk keluar ketika guncangan muncul.
Kejadian yang berlangsung berdekatan membuat suasana sempat diwarnai kepanikan. Warga merespons dengan meninggalkan bangunan saat getaran dirasakan, termasuk di lingkungan tempat aktivitas kantor masih berjalan. Danu mengalami dua kali guncangan dalam situasi tersebut. Pengalaman itu menggambarkan bagaimana gempa yang terasa berulang mendorong orang-orang untuk segera mencari tempat di luar bangunan.
Setelah beberapa kali getaran, keadaan kemudian mereda. Suasana yang sempat membuat warga keluar dari bangunan berangsur tenang, seiring guncangan tidak lagi dirasakan seperti sebelumnya. Warga pun tidak lagi berada dalam suasana yang sama seperti ketika getaran muncul berulang dalam waktu berdekatan. Peristiwa sore itu meninggalkan pengalaman singkat namun menegangkan bagi mereka yang merasakannya secara langsung.
Di Tanggamus, rangkaian guncangan tersebut terasa di tengah kegiatan sehari-hari dan aktivitas kantor yang belum selesai. Respons warga yang keluar dari bangunan berlangsung ketika getaran datang, sedangkan suasana kemudian perlahan kembali tenang. Danu menjadi salah satu warga yang merasakan dua kali guncangan saat berada di lingkungan Pemkab Tanggamus di Kotaagung. Tanpa menambahkan rincian lain, kejadian itu menunjukkan bahwa gempa berulang pada sore tersebut sempat membuat warga sebelum keadaan mereda.
Devi Triyani, warga Pekon Banyu Urip, Kecamatan Wonosobo, merasakan gempa ketika sedang beristirahat di rumah. Dalam pengalamannya, guncangan itu terasa singkat, tetapi datang berulang kali. Ia merasakan tubuh dan keadaan di sekitarnya bergoyang dalam beberapa kali hentakan, bukan hanya satu guncangan yang berlangsung terus-menerus. Sensasi tersebut ia gambarkan seperti sedang diayak. Keterangan Devi menggambarkan bagaimana gempa terasa baginya saat berada di rumah, dengan gerakan yang muncul berkali-kali dan jeda di antaranya.
Meski tiap guncangan dirasakannya berlangsung sebentar, pengulangan itu membuat pengalaman tersebut terasa berbeda dari satu hentakan singkat saja. Devi menyampaikan bahwa ia sempat khawatir apabila guncangan berlangsung lebih lama. Kekhawatiran itu berkaitan dengan kemungkinan guncangan yang dirasakan tidak segera berhenti, sementara ia berada di rumah dalam keadaan beristirahat. Ia juga mewaspadai gempa susulan yang dirasakannya cukup kuat. Dengan demikian, kesaksiannya memuat dua hal yang dirasakan secara langsung: guncangan datang singkat dan berulang, serta adanya gempa susulan yang terasa kuat.
Pengalaman Devi berpusat pada apa yang ia rasakan selama berada di rumah, tanpa uraian mengenai kerusakan atau dampak lain. Ia merasakan guncangan tersebut berkali-kali dan menggambarkan gerakannya dengan perbandingan seperti diayak. Ia sempat memikirkan kemungkinan apabila guncangan berlangsung lebih lama, dan tetap mewaspadai susulan yang menurut pengalamannya terasa cukup kuat. Kesaksian warga ini menyampaikan sensasi gempa sebagaimana dialami Devi di Pekon Banyu Urip, Kecamatan Wonosobo. Guncangan yang sebentar tetapi berulang menjadi ciri utama dalam keterangannya, disertai kewaspadaan terhadap susulan yang juga ia rasakan. Tidak ada penafsiran tambahan dalam keterangannya tentang penyebab ataupun kondisi lain di luar pengalaman tersebut.
BMKG mencatat aktivitas gempa beruntun di wilayah Tanggamus, Lampung, pada sore hari. Berdasarkan pemantauan yang disampaikan Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati, hingga pukul 16.14 WIB telah terjadi 20 aktivitas gempa susulan. Catatan tersebut menggambarkan rangkaian kegempaan yang berlangsung setelah gempa awal, dengan kejadian-kejadian berikutnya terpantau dalam rentang waktu yang relatif berdekatan. Informasi pemantauan ini menjadi dasar bagi masyarakat untuk mengikuti perkembangan resmi, terutama ketika getaran masih dirasakan atau kondisi setempat memerlukan perhatian.
Gempa pertama tercatat pada pukul 15.22 WIB dengan magnitudo 3,9. BMKG melaporkan pusat gempa berada di darat, sekitar 9 kilometer barat laut Tanggamus, pada kedalaman 4 kilometer. Satu menit kemudian, pukul 15.23 WIB, gempa kedua tercatat dengan magnitudo 4,1. Pusat gempa kedua juga berada di darat, sekitar 6 kilometer barat laut Tanggamus, dengan kedalaman 5 kilometer. Perbedaan waktu yang singkat dan lokasi yang berdekatan menunjukkan bahwa kedua kejadian menjadi bagian dari rangkaian aktivitas gempa di kawasan tersebut, menurut data yang disampaikan lembaga pemantau.
BMKG menjelaskan bahwa rangkaian gempa di Tanggamus tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif. Kedalaman yang relatif kecil menjadi salah satu karakteristik yang dicatat dalam informasi kejadian, sementara penyebab tektoniknya berkaitan dengan pergerakan pada struktur sesar. Data mengenai magnitudo, lokasi, kedalaman, dan jumlah susulan membantu menggambarkan perkembangan aktivitas seismik secara terukur. Angka 20 susulan merujuk pada kejadian yang terpantau hingga batas waktu pemutakhiran, yaitu pukul 16.14 WIB, sehingga bukan pernyataan bahwa aktivitas setelah waktu itu telah berhenti. Masyarakat dapat merujuk pembaruan dari BMKG untuk memperoleh keterangan yang lebih mutakhir, serta memperhatikan arahan otoritas setempat. Penyampaian data secara berkala penting agar laporan mengenai gempa awal dan susulannya dipahami berdasarkan catatan resmi, bukan perkiraan atau kabar yang belum terverifikasi.Laporan intensitas gempa menunjukkan bahwa getaran paling kuat dirasakan di Kotaagung, dengan tingkat III MMI. Pada skala ini, guncangan terasa nyata di dalam rumah dan dapat menyerupai getaran ketika sebuah truk melintas. Pengalaman tersebut membuat sebagian warga menyadari adanya gempa saat berada di dalam ruangan. Meski terasa cukup jelas, intensitas yang dilaporkan menggambarkan dampak getaran yang dirasakan masyarakat, bukan dengan sendirinya menunjukkan adanya kerusakan. Tingkat guncangan dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain, bergantung pada lokasi dan kondisi lingkungan sekitar.
Di Kotabumi, Pringsewu, Ulu Belu, Gisting, Sumberejo, dan Kotaagung Timur, gempa tercatat dirasakan pada skala II MMI. Pada tingkat tersebut, getaran dapat dirasakan oleh sebagian orang, terutama ketika berada di dalam rumah atau sedang beristirahat. Benda-benda ringan yang digantung juga dapat tampak bergoyang, sehingga menjadi salah satu tanda yang mudah dikenali oleh penghuni. Perbedaan tingkat intensitas di sejumlah wilayah ini mencerminkan bagaimana guncangan dirasakan secara lokal. Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan hingga laporan ini dibuat, belum ada keterangan mengenai kerusakan bangunan akibat gempa tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mengambil kesimpulan berdasarkan kabar yang belum dipastikan kebenarannya. Informasi yang beredar tanpa verifikasi dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika gempa susulan masih menjadi perhatian warga. Masyarakat sebaiknya memeriksa setiap kabar melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengutamakan pembaruan resmi dari BMKG. Langkah ini membantu warga memperoleh keterangan yang akurat mengenai kondisi gempa dan perkembangan yang terjadi, sekaligus menghindari penyebaran informasi keliru. Warga juga diminta mengikuti kanal resmi BMKG untuk mendapatkan informasi terbaru, serta tetap tanpa panik sembari menunggu pembaruan lebih lanjut dari pihak berwenang.






