Kabupaten Lebak | Program Bisa Pandai Numerasi merupakan inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Telkom Indonesia untuk mendukung penguatan pembelajaran matematika dan STEM pada jenjang sekolah dasar. Melalui program ini, Telkom menjangkau 100 sekolah dasar yang berada di tiga wilayah dengan karakteristik geografis dan akses pendidikan yang beragam. Cakupan tersebut meliputi Kabupaten Lebak di Provinsi Banten, Kabupaten Lombok Utara di Nusa Tenggara Barat, serta Kota Tual di Maluku. Penetapan lokasi menempatkan perhatian pada sekolah-sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang kerap menghadapi tantangan dalam memperoleh dukungan pembelajaran yang memadai.
Dengan menyasar sekolah dasar, program ini memberi perhatian pada tahap awal pembentukan kemampuan numerasi. Penguatan matematika membantu siswa memahami konsep, mengenali pola, dan menggunakan penalaran untuk menyelesaikan persoalan. Sementara itu, cakupan STEM menghubungkan pembelajaran sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Dukungan pada bidang-bidang tersebut dapat memperkaya pengalaman belajar siswa serta memperkuat dasar keterampilan yang berguna bagi pendidikan selanjutnya. Jangkauan 100 sekolah juga menunjukkan upaya membawa dukungan pembelajaran kepada komunitas sekolah di lebih dari satu pulau dan provinsi.
Pemilihan Lebak, Lombok Utara, dan Tual menegaskan dimensi pemerataan dalam pelaksanaan Bisa Pandai Numerasi. Sekolah di wilayah 3T memiliki konteks dan kebutuhan yang beragam, sehingga akses terhadap dukungan pendidikan menjadi perhatian penting. Kehadiran program TJSL di tiga lokasi tersebut mengarahkan perhatian pada pentingnya kesempatan belajar matematika dan STEM yang lebih luas bagi siswa sekolah dasar. Dengan demikian, pemberitaan mengenai program ini tidak hanya menyoroti jumlah sekolah yang dijangkau, tetapi juga fokusnya pada sekolah-sekolah yang berada di kawasan dengan tantangan akses.
Secara keseluruhan, Bisa Pandai Numerasi merupakan bentuk dukungan Telkom terhadap pembelajaran dasar melalui jangkauan lintas wilayah. Sebanyak 100 sekolah di Kabupaten Lebak, Kabupaten Lombok Utara, dan Kota Tual menjadi sasaran penguatan pembelajaran matematika dan STEM. Fokus pada wilayah 3T menempatkan sekolah-sekolah tersebut sebagai bagian penting dari upaya memperluas dukungan pendidikan. Program ini mencerminkan peran TJSL dalam mendorong pembelajaran yang relevan bagi siswa, sekaligus memberi perhatian pada pemerataan kesempatan belajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Program numerasi Telkom tidak hanya menghadirkan kegiatan belajar bagi siswa, tetapi juga memperkuat peran guru sebagai pendamping utama pembelajaran. Guru mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dalam mengajarkan matematika dan numerasi dengan cara yang lebih mudah dipahami serta relevan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pendampingan, mereka memperoleh dukungan untuk menerapkan pendekatan tersebut di kelas, menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah. Penguatan kapasitas ini diharapkan membantu guru membangun suasana belajar yang mendorong siswa bertanya, mencoba, dan memahami gagasan matematika secara bertahap, bukan sekadar menghafal rumus atau mengikuti prosedur tanpa mengetahui maknanya. Dengan bekal tersebut, guru dapat mengarahkan aktivitas kelas agar konsep numerasi hadir dalam pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Komponen lainnya adalah penyediaan perangkat pembelajaran numerasi dan STEM yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan di sekolah. Materi dan alat bantu tersebut menjadi sarana bagi guru untuk menyampaikan konsep melalui contoh, aktivitas, dan eksplorasi yang lebih konkret. Perangkat pembelajaran juga mendukung keterkaitan matematika, sains, teknologi, dan situasi yang dijumpai siswa. Dengan demikian, pelajaran tidak berhenti pada penjelasan abstrak di papan tulis. Siswa dapat berinteraksi dengan bahan belajar, mengamati hasil, membandingkan cara, dan mendiskusikan temuan bersama teman maupun guru. Metode yang interaktif dan aplikatif memberi ruang bagi pengalaman langsung, sehingga siswa dapat menghubungkan konsep dengan hal-hal yang mereka lihat dan lakukan dalam keseharian.
Melalui praktik langsung, siswa didorong untuk memahami konsep matematika dengan mencoba dan mengalami prosesnya sendiri. Guru dapat mengajak mereka menyelesaikan kegiatan yang melibatkan pengamatan, pengukuran, pengelompokan, atau pemecahan persoalan sederhana, sesuai materi yang dipelajari. Pendekatan ini membuat siswa memiliki kesempatan untuk menjelaskan pemikiran, menguji jawaban, dan belajar dari proses maupun hasil. Tujuan yang dinyatakan dalam program adalah menumbuhkan minat anak terhadap matematika dan sains, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah sejak dini. Pengalaman belajar yang aktif diharapkan membantu siswa melihat matematika bukan hanya sebagai mata pelajaran yang harus dikuasai, tetapi juga sebagai alat untuk memahami keadaan dan mencari solusi. Dukungan guru serta perangkat yang sesuai menjadi bagian penting dalam menghadirkan pengalaman tersebut secara konsisten di sekolah.
Program numerasi Telkom untuk 100 sekolah dasar di tiga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) resmi diperkenalkan melalui kegiatan kick-off hybrid. Acara utama berlangsung di Plasa Telkom Rangkasbitung, Banten, sementara para pendidik dari Kota Tual dan Kabupaten Lombok Utara mengikuti kegiatan secara daring. Format ini memungkinkan para peserta di lokasi berbeda untuk terhubung dalam satu peluncuran, sekaligus menandai dimulainya rangkaian dukungan pembelajaran numerasi di sekolah-sekolah sasaran. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi penyelenggara dan pendidik untuk memahami arah program serta pentingnya memperkuat kemampuan dasar berhitung dan bernalar.
Peluncuran dihadiri Direktur Human Capital Management Telkom, Willy Saelan, serta Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, M.A., Ph.D., staf khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bidang peningkatan STEM dan kompetensi guru. Kehadiran unsur perusahaan dan pemerintah memperlihatkan perhatian bersama terhadap pengembangan kompetensi numerasi serta peningkatan kapasitas pendidik. Penguatan numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan operasi hitung, tetapi juga mencakup kecakapan memahami informasi kuantitatif, menggunakan penalaran, dan menerapkan konsep matematika dalam situasi sehari-hari. Karena kemampuan tersebut berkembang melalui proses belajar, dukungan yang berkelanjutan bagi guru dan siswa menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.
Kebutuhan untuk menjaga penguatan numerasi secara konsisten juga tercermin dalam Rapor Pendidikan Indonesia 2025. Data nasional menunjukkan proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum numerasi meningkat dari 39,04 persen pada 2022 menjadi 52,48 persen pada 2024. Perubahan tersebut menggambarkan perkembangan capaian siswa secara umum, sekaligus menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk memperluas dan mempertahankan kemajuan. Angka ini bukan pengukuran khusus atas dampak program Telkom, melainkan konteks pendidikan yang menegaskan pentingnya berbagai upaya peningkatan numerasi. Dalam konteks itu, pelaksanaan program di sekolah-sekolah 3T dapat menjadi salah satu bentuk dukungan, dengan perhatian pada kebutuhan setempat, praktik pembelajaran, dan keterlibatan pendidik sepanjang proses.
Willy Saelan menekankan bahwa penguatan numerasi dan STEM merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan. Perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan menuntut anak-anak memiliki bekal untuk memahami informasi, menalar persoalan, serta menyesuaikan diri dengan situasi baru. Karena itu, pembelajaran numerasi sejak dini perlu dipandang bukan sekadar penguasaan hitungan, melainkan sebagai dasar untuk membangun cara berpikir yang berguna dalam kehidupan dan proses belajar. Bekal tersebut relevan bagi anak-anak di berbagai wilayah, termasuk daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar. Melalui penguatan kemampuan dasar, mereka dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kesiapan menghadapi lingkungan yang semakin dipengaruhi teknologi.
Dalam pandangan tersebut, numerasi mendukung anak untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah secara terarah. Kemampuan memahami angka, pola, dan hubungan antarinformasi dapat membantu mereka menilai persoalan dan mempertimbangkan pilihan. Sementara itu, pendekatan STEM memberi ruang bagi pembelajaran yang menghubungkan konsep dengan penerapannya.
Baca juga: Ciptakan Wilayah Aman, Babinsa Pererat Komsos dengan Warga | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Salurkan 77.000 Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan






