Bisnis  

Saham RANS Ditutup di Rp117, Turun 31,18% dari Harga IPO

Saham RANS Ditutup di Rp117, Turun 31,18% dari Harga IPO

Jakarta | Saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), emiten yang dikenal sebagai perusahaan milik Raffi Ahmad, ditutup pada Rp117 per saham dalam perdagangan Rabu (28/10/2026). Pada sesi tersebut, harga RANS terkoreksi Rp7 atau 5,65% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan harian itu menempatkan saham di bawah harga penawaran perdana, yang ditetapkan sebesar Rp170 per saham ketika perusahaan melantai di bursa.

Dibandingkan dengan harga IPO, nilai saham RANS saat ini telah berkurang Rp53 per saham. Penurunan tersebut setara dengan sekitar 31,18% dari harga penawaran perdana. Dengan demikian, investor yang membeli saham pada harga IPO dan membandingkannya dengan harga penutupan pada 28 Oktober menghadapi selisih nominal Rp53 untuk setiap saham, sebelum memperhitungkan biaya transaksi maupun faktor lain yang dapat memengaruhi hasil investasi.

Perbandingan harga penutupan dan harga IPO memberikan gambaran mengenai perubahan nilai saham sejak pencatatan perdana, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab pergerakan harga. Koreksi sebesar 5,65% pada hari perdagangan tersebut juga merupakan perubahan dalam satu sesi, sedangkan penurunan 31,18% mengacu pada perbedaan terhadap harga penawaran perdana. Kedua angka itu menggunakan titik pembanding yang berbeda sehingga perlu dibaca secara terpisah.

Harga penutupan Rp117 mencerminkan nilai transaksi pasar pada akhir perdagangan hari tersebut, bukan harga yang dijamin untuk sesi berikutnya. Harga saham dapat bergerak naik atau turun mengikuti aktivitas perdagangan dan penilaian pelaku pasar. Karena itu, informasi mengenai penurunan harian dan jarak terhadap harga IPO sebaiknya dipahami sebagai data historis pada tanggal yang disebutkan. Investor dapat menilai angka tersebut bersama informasi perusahaan, kondisi pasar, serta profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan.

Perjalanan saham RANS di Bursa Efek Indonesia memperlihatkan kontras debut yang menguat tajam dan posisi perdagangan yang tercatat kemudian. Pada Jumat (10/7/2026), ketika resmi melantai, saham RANS dibuka pada Rp228 per saham. Angka pembukaan tersebut berada jauh di atas harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp170 per saham, sekaligus menandai awal perdagangan dengan kenaikan yang menonjol.

Dibandingkan harga IPO, pembukaan di Rp228 mencerminkan kenaikan Rp58 per saham atau sekitar 34,12%. Pada sesi debut itu, saham RANS juga menyentuh batas atas pergerakan harga, yang dikenal sebagai auto reject atas (ARA). Dengan demikian, perhatian terhadap saham tersebut pada hari pertama perdagangan terutama terlihat dari selisih harga penawaran dan harga pasar saat pembukaan, serta pencapaian batas kenaikan harian.

Posisi terkini dalam laporan ini tercatat di Rp117 per saham. Jika dibandingkan dengan harga IPO Rp170, level tersebut lebih rendah Rp53, setara dengan penurunan sekitar 31,18%. Perbandingan ini menunjukkan bahwa harga RANS telah bergerak ke bawah dari patokan yang ditetapkan saat penawaran perdana. Namun, ukuran penurunan terhadap harga IPO berbeda dari perhitungan yang memakai harga pembukaan pada hari debut.

Dari pembukaan perdana Rp228 menuju Rp117, selisihnya mencapai Rp111 per saham. Berdasarkan harga pembukaan itu, penurunan berada di kisaran 48,68%. Angka tersebut menggambarkan jarak yang lebih besar karena titik awalnya adalah harga pasar ketika perdagangan pertama berlangsung, bukan harga IPO. Kedua perbandingan—Rp117 terhadap Rp170 dan Rp117 terhadap Rp228—memberikan konteks berbeda mengenai posisi saham RANS setelah debutnya di bursa. Data tersebut menjelaskan perubahan harga sejumlah titik acuan, tanpa dengan sendirinya menerangkan faktor yang mendasari pergerakannya.Dalam penawaran umum perdana saham, PT RANS Entertainment Tbk (RANS) menerbitkan 2,525 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dari penerbitan saham itu, perseroan menghimpun dana sebesar Rp429,25 miliar. Dana yang diperoleh direncanakan untuk mendukung sejumlah kegiatan usaha dan ekspansi, mulai dari penyelenggaraan konser hingga pengembangan bisnis hiburan, produk konsumen, serta teknologi. Rencana penggunaan dana tersebut menggambarkan beberapa bidang yang menjadi tujuan pengembangan RANS setelah menjadi perusahaan terbuka. Alokasi dana juga mencakup kebutuhan operasional dan pembayaran kewajiban pembiayaan perseroan maupun entitas anak.

Alokasi terbesar, sebesar Rp161,5 miliar atau 37,61% dari dana IPO, ditujukan untuk penyelenggaraan konser. Berikutnya, RANS menganggarkan Rp85 miliar atau 19,80% untuk mengakuisisi 51% saham PT Rans Kosmetika Indonesia. Sebesar Rp80 miliar, setara 18,64%, dialokasikan bagi pengembangan wahana bermain dan belajar Cipungland. Ketiga pos tersebut mencakup kegiatan hiburan langsung, bisnis kosmetik, dan pengembangan destinasi keluarga. Dengan demikian, sebagian besar dana yang dihimpun diarahkan pada pengembangan atau penguatan lini usaha yang berhubungan dengan hiburan dan gaya hidup. Besaran serta persentase masing-masing alokasi menunjukkan porsi yang direncanakan untuk setiap kebutuhan, bukan keterangan mengenai hasil yang telah dicapai.

Perseroan juga merencanakan investasi sebesar Rp35 miliar atau 8,15% pada perusahaan patungan berbasis kecerdasan buatan bersama PT Feedloop Global Teknologi. Selain itu, Rp29,95 miliar atau 6,98% akan digunakan untuk membayar sebagian fasilitas kredit investasi. Sisa alokasi yang tercantum, yakni Rp37,8 miliar atau 8,82%, diperuntukkan bagi penguatan modal kerja PT Rans Nikmat Sejahtera. Seluruh pos tersebut, berdasarkan rincian yang diumumkan, berjumlah Rp429,25 miliar. Penggunaan dana mencakup investasi baru, pembayaran pembiayaan, dan dukungan terhadap modal kerja entitas anak, sehingga tidak seluruhnya dialokasikan pada ekspansi langsung. Rincian ini memberikan gambaran mengenai tujuan dana IPO; pelaksanaannya tetap bergantung pada realisasi rencana perseroan. Informasi alokasi membantu investor melihat bagaimana hasil penawaran umum direncanakan untuk menunjang kegiatan usaha RANS dan perusahaan terkait.

Dalam konferensi pers pada Selasa (11/8/2026), sekitar sebulan setelah penawaran umum perdana saham atau IPO, Direktur Utama RANS, Nagita Slavina, memberikan keterangan mengenai realisasi penggunaan dana hasil penghimpunan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pada saat itu dana IPO yang telah direalisasikan baru digunakan untuk pelunasan utang. Keterangan tersebut menggambarkan penggunaan dana yang sudah terlaksana hingga konferensi pers berlangsung, bukan keseluruhan alokasi yang tercantum dalam prospektus.

Nagita menjelaskan bahwa alokasi dana IPO lainnya masih berjalan sesuai dengan rencana dalam prospektus. Karena itu, pelunasan utang merupakan bagian yang sudah direalisasikan, sementara penggunaan untuk keperluan lain belum dinyatakan selesai pada kesempatan tersebut. Prospektus menjadi acuan untuk melihat peruntukan dana yang direncanakan, sedangkan keterangan perusahaan memberikan pembaruan mengenai bagian yang telah dilaksanakan pada saat itu. Tidak ada rincian lebih lanjut dalam keterangan tersebut yang mengubah gambaran bahwa proses penggunaan alokasi lainnya masih berlangsung.

Pembedaan dana yang telah digunakan dan alokasi yang masih berjalan penting dalam membaca informasi pasca-IPO. Pernyataan itu tidak menyebut bahwa seluruh dana telah terserap, dan juga tidak menyatakan perubahan terhadap rencana yang tercantum dalam prospektus. Dengan demikian, informasi yang disampaikan terbatas pada realisasi pelunasan utang serta status alokasi lainnya yang masih mengikuti rencana. Penilaian mengenai tahap berikutnya memerlukan informasi perusahaan selanjutnya; keterangan dalam konferensi pers tersebut sendiri hanya mencerminkan kondisi pada waktu penyampaian.

Di sisi pasar, kapitalisasi pasar RANS berada di kisaran Rp1,48 triliun. Rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings (P/E) tercatat sebesar 24,17 kali. Kedua angka itu memberikan gambaran mengenai nilai pasar perusahaan dan perbandingan harga saham terhadap laba, tetapi tidak mengubah rincian mengenai realisasi dana IPO yang disampaikan manajemen.