Bisnis  

IHSG Berbalik Melemah, Investor Mencermati Proyeksi dan Rekomendasi Saham

IHSG Berbalik Melemah, Investor Mencermati Proyeksi dan Rekomendasi Saham

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis, 28 Oktober 2026, dengan penguatan. Indeks dibuka pada level 5.305,19, naik dari posisi penutupan sebelumnya sebesar 5.282,31. Namun, penguatan pada awal sesi itu tidak bertahan lama. Tekanan jual muncul dan mendorong indeks bergerak turun, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam merespons kondisi perdagangan pagi.

Pada pukul 09.04 WIB, IHSG tercatat melemah hingga 5.257,72, sekaligus menjadi level terendah pada awal perdagangan. Setelah penurunan tersebut, indeks sempat mencoba pulih. Pada pukul 09.11 WIB, IHSG naik 0,11% ke 5.283,19. Akan tetapi, pemulihan itu kembali kehilangan tenaga. Lima menit kemudian, tepatnya pukul 09.15 WIB, indeks terkoreksi 0,18% ke 5.272,97. Pergerakan yang berbalik arah dalam waktu singkat menunjukkan volatilitas pasar masih terasa pada awal sesi.

Sepanjang rentang awal perdagangan yang tercatat, IHSG bergerak level tertinggi 5.320,19 dan terendah 5.257,72. Sementara itu, indeks LQ45 turun 0,42% ke posisi 536,64. Pelemahan LQ45 menambah gambaran bahwa saham-saham berkapitalisasi besar juga menghadapi tekanan jual. Sebagian besar indeks acuan berada di zona merah, meskipun pergerakannya tidak seragam. Jakarta Islamic Index (JII) termasuk indeks yang masih mampu bertahan di zona hijau.

Perbedaan arah ant indeks tersebut menandakan tekanan pasar belum merata pada seluruh kelompok saham. Meski demikian, dominasi indeks yang melemah menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung berhati-hati ketika perdagangan baru berlangsung. Investor dapat mencermati perubahan level IHSG, keluasan saham yang bergerak turun atau naik, serta pergerakan indeks sektoral untuk memperoleh gambaran lebih lengkap. Data pada awal sesi ini juga perlu dibaca sebagai potret sementara, sebab arah indeks dapat berubah seiring masuknya transaksi dan informasi baru sepanjang hari.

Pada awal sesi perdagangan, pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia menunjukkan kondisi yang beragam. Data pasar mencatat 256 saham menguat, sementara 270 saham melemah dan 205 saham bergerak stagnan. Jumlah saham yang turun sedikit lebih banyak daripada yang naik, sehingga gambaran perdagangan pada periode tersebut cenderung bervariasi. Meski demikian, angka ini hanya menggambarkan kondisi awal sesi dan belum mencakup perubahan yang mungkin terjadi sepanjang perdagangan.

Aktivitas transaksi tercatat berlangsung sebanyak 169.795 kali. Dari transaksi tersebut, volume perdagangan mencapai 3,4 miliar saham dengan nilai keseluruhan sekitar Rp1,4 triliun. Data frekuensi, volume, dan nilai transaksi memberikan gambaran mengenai kegiatan jual beli yang telah berlangsung pada awal perdagangan. Namun, angka-angka itu tidak dengan sendirinya menunjukkan arah pergerakan indeks pada penutupan sesi, sebab aktivitas dan harga saham dapat berubah selama pasar masih beroperasi.

Di pasar valuta asing, kurs dolar Amerika Serikat tercatat berada pada level US$1 setara dengan Rp18.117. Nilai tukar tersebut menjadi salah satu data pasar yang turut dicermati investor dalam memantau kondisi perdagangan. Perkembangan kurs dan pergerakan saham disampaikan sebagai informasi pada waktu pengamatan, tanpa mengaitkannya dengan faktor tertentu karena tidak tersedia keterangan mengenai penyebab perubahan tersebut.

Dari sisi sektoral, sejumlah kelompok industri berada di zona hijau. Sektor energi, barang baku, barang konsumen non-primer, kesehatan, teknologi, serta transportasi dan logistik tercatat menguat pada awal sesi. Sebaliknya, sektor-sektor lainnya berada di zona merah. Dengan demikian, kinerja antarsektor tidak bergerak seragam: penguatan terkonsentrasi pada beberapa kelompok, sedangkan kelompok lain mengalami pelemahan. Data tersebut memperlihatkan variasi pergerakan saham berdasarkan sektor, tetapi tidak menjelaskan alasan di balik perbedaan kinerja itu. Kondisi pasar pada awal sesi ini dapat menjadi bahan pemantauan investor, sambil tetap memperhatikan bahwa angka perdagangan dan posisi sektoral dapat berubah seiring berlangsungnya transaksi.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang melemah pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Pelaku pasar mencermati area pengujian di kisaran 5.116–5.180 setelah indeks mencatat penguatan pada sesi sebelumnya. Pada penutupan Rabu, 28 Oktober 2026, IHSG naik 0,31% ke level 5.282. Kenaikan tersebut disertai kemunculan volume pembelian, yang menjadi salah satu petunjuk bagi investor dalam menilai arah pergerakan berikutnya.

Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menilai, selama IHSG mampu bertahan di atas level 4.907, pergerakan indeks diperkirakan masih berada pada wave (iv) dari wave [v]. Dalam skenario tersebut, koreksi dapat membawa IHSG menguji rentang 5.116–5.180. Area ini menjadi perhatian karena pergerakan harga di sekitarnya dapat memberi gambaran mengenai ketahanan indeks sebelum arah selanjutnya terbentuk. Apabila tekanan jual mereda setelah pengujian, peluang penguatan masih terbuka menuju kisaran 5.456–5.564.

Untuk level teknikal yang dicermati, Herditya menyebut support IHSG berada di 5.185 dan 4.915, sedangkan resistance berada di 5.460 dan 5.563. Perbedaan rentang proyeksi dengan level support dan resistance tersebut mencerminkan beberapa area yang perlu diperhatikan investor dalam membaca pergerakan indeks. Level 5.185 juga berada dekat dengan batas atas area koreksi yang diperkirakan, sementara 4.915 menjadi acuan penting dalam skenario gelombang yang disampaikan analis.

Secara terpisah, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melemah secara terbatas. Sekuritas tersebut menetapkan rentang support dan resistance pada 5.185–5.590 untuk perdagangan Kamis. Dengan demikian, investor dapat memantau respons indeks terhadap area support, volume transaksi, serta kemampuannya mendekati resistance. Pergerakan di area-area itu dapat membantu menilai apakah koreksi berlangsung terbatas atau tekanan jual berkembang lebih jauh, tanpa mengabaikan kemungkinan penguatan apabila minat beli kembali meningkat.

Dalam daftar saham yang menjadi perhatian, Pilarmas Investindo Sekuritas memilih PGAS, TINS, dan AMMN. Rekomendasi ini merupakan pilihan Pilarmas dan perlu dibedakan dari daftar yang disampaikan Herditya Wicaksana. Herditya merekomendasikan BRPT, EMAS, JPFA, serta TINS. Dengan demikian, TINS muncul dalam kedua daftar, sementara saham lain yang disebutkan masing-masing berasal dari sumber rekomendasi berbeda. Daftar tersebut memberi investor sejumlah emiten untuk dicermati, tetapi bukan berarti seluruh saham memiliki dasar analisis teknis yang sama atau disertai penjelasan dengan tingkat perincian serupa.

Untuk catatan teknis, MNC Sekuritas menyebut BRPT berstatus buy on weakness setelah terkoreksi 6,79% ke level 1.235. Tekanan jual pada saham ini masih dominan, dan pergerakannya diperkirakan berada di bagian wave (v) dari wave [c]. EMAS juga berstatus buy on weakness. Saham tersebut terkoreksi 0,81% ke 6.150; tekanan jual masih dominan, meskipun volume transaksi tercatat mengecil. Secara teknikal, posisi EMAS diperkirakan berada pada bagian wave 5 dari wave (a). Kedua catatan ini menggambarkan kondisi koreksi yang berbeda, sehingga investor tetap perlu memperhatikan perkembangan harga dan volume sebelum mengambil keputusan.

JPFA memperoleh status buy on weakness setelah naik 1,40% ke level 1.810. MNC Sekuritas mencatat volume pembelian saham ini masih terbatas. Dari sisi pola gelombang, JPFA diperkirakan berada pada wave 4 (hitam) atau mulai memasuki wave b (merah). Skenario tersebut disampaikan sebagai perkiraan posisi gelombang, bukan kepastian arah pergerakan berikutnya. Untuk TINS, PGAS, dan AMMN, informasi yang tersedia hanya mencantumkan saham-saham tersebut dalam rekomendasi masing-masing sumber.