Peluang Mengubah Kebiasaan Merokok Dimulai dari Layanan Kesehatan

Peluang Mengubah Kebiasaan Merokok Dimulai dari Layanan Kesehatan

Jakarta | Merokok masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang besar di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang yang merokok, tetapi juga dapat memengaruhi keluarga dan lingkungan melalui paparan asap rokok. Meski risiko kesehatan telah banyak diketahui, berhenti merokok bukan semata-mata persoalan kemauan. Nikotin dapat menimbulkan ketergantungan, sehingga sebagian orang membutuhkan pendampingan, informasi yang tepat, atau layanan profesional untuk mengubah kebiasaan tersebut. Karena itu, upaya pengendalian tembakau perlu mencakup dukungan nyata bagi mereka yang ingin berhenti, selain penyampaian informasi mengenai bahayanya.

Praktisi kesehatan dr. Jeffrey Ariesta Putra menyampaikan gambaran mengenai kebutuhan tersebut berdasarkan data tahun 2021. Saat itu, jumlah perokok di Indonesia diperkirakan sedikitnya mencapai 70 juta orang. Dari kelompok tersebut, sekitar 63 persen menyatakan ingin berhenti merokok. Angka ini menunjukkan adanya keinginan yang cukup luas untuk melakukan perubahan. Namun, niat berhenti tidak selalu berujung pada keberhasilan, terutama ketika seseorang menghadapi ketergantungan nikotin tanpa bantuan yang sesuai. Keinginan tersebut menjadi peluang bagi layanan kesehatan untuk menawarkan edukasi dan dukungan yang lebih terarah.

Di sisi lain, sekitar 38 persen perokok memperoleh edukasi atau bantuan ketika datang ke rumah sakit. Perbandingan ini memperlihatkan kesenjangan banyaknya orang yang ingin berhenti dan terbatasnya bagian yang menerima dukungan melalui layanan kesehatan. Kunjungan ke rumah sakit dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kebiasaan merokok, membahas kesiapan berhenti, serta menghubungkan pasien dengan bantuan yang tersedia. Jika kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan secara konsisten, kebutuhan perokok berisiko luput dari perhatian, meskipun mereka telah berinteraksi dengan tenaga kesehatan.

Kesenjangan dalam identifikasi dan penanganan inilah yang menjadi perhatian Jeffrey dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (Siera III) 2026 di Jakarta. Pembahasan tersebut menyoroti pentingnya menjadikan layanan kesehatan sebagai bagian dari dukungan berhenti merokok, bukan hanya tempat untuk menangani dampak penyakit. Dengan mengenali perokok dan menawarkan edukasi secara tepat, rumah sakit dapat membantu menjembatani niat untuk berhenti dengan langkah yang dapat dijalankan. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi percakapan yang tidak menghakimi serta dukungan berkelanjutan sesuai kebutuhan setiap orang.

Jeffrey memandang kunjungan ke rumah sakit sebagai kesempatan penting untuk mengenali kebiasaan merokok pasien dan menawarkan dukungan yang sesuai. Dalam situasi ini, tenaga kesehatan dapat menanyakan apakah pasien merokok dengan cara yang wajar, terbuka, dan tidak menghakimi. Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal percakapan yang bermakna, terutama bagi orang yang belum pernah membicarakan kebiasaan merokoknya dengan tenaga medis. Rumah sakit tidak hanya berperan menangani keluhan yang sedang dialami, tetapi juga dapat membantu pasien mempertimbangkan langkah untuk menjaga kesehatannya dalam jangka panjang.

Pengenalan dan edukasi tidak harus menunggu pasien datang khusus untuk meminta bantuan berhenti merokok. Percakapan dapat berlangsung ketika pasien menjalani pemeriksaan rutin, berkonsultasi mengenai kondisi tertentu, atau mempersiapkan tindakan operasi. Pada kesempatan tersebut, tenaga kesehatan dapat menjelaskan secara ringkas bagaimana merokok mungkin berkaitan dengan kesehatan dan proses perawatan, kemudian menawarkan informasi atau pendampingan lebih lanjut. Penyampaian yang relevan dengan situasi pasien dapat membuat edukasi terasa lebih dekat dengan kebutuhannya, tanpa mengalihkan perhatian dari tujuan utama kunjungan medis.

Namun, tujuan bertanya bukan sekadar mencatat bahwa seseorang merokok. Informasi itu sebaiknya menjadi pintu untuk memahami pengalaman dan kebutuhan pasien: apakah ia ingin berhenti, pernah mencoba sebelumnya, menghadapi kesulitan tertentu, atau masih belum siap mengambil keputusan. Setiap orang dapat berada pada tahap yang berbeda, sehingga respons tenaga kesehatan perlu memberi ruang bagi pasien untuk berbicara tanpa tekanan. Jika pasien bersedia, tenaga kesehatan dapat membantu membahas pilihan dukungan yang tersedia dan menentukan langkah awal yang realistis. Jika belum siap, edukasi singkat tetap dapat diberikan dan kesempatan untuk berdiskusi kembali dapat dibuka. Dengan pendekatan tersebut, kunjungan rumah sakit berpotensi menjadi titik awal pendampingan yang lebih personal, menghargai pilihan pasien, dan berorientasi pada upaya berhenti merokok.

Pendekatan 5A memberi tenaga kesehatan kerangka terstruktur untuk membicarakan kebiasaan merokok dan menyesuaikan dukungan dengan kebutuhan setiap pasien. Lima tahapnya adalah Ask, Advise, Assess, Assist, dan Arrange. Urutan ini membantu percakapan berlangsung secara sistematis, tanpa menganggap semua pasien memiliki tingkat ketergantungan, pengalaman, atau kesiapan yang sama. Pendekatan tersebut bukan jaminan seseorang akan berhenti merokok, melainkan cara untuk mengenali situasi pasien dan menentukan bantuan yang sesuai.

Pada tahap Ask, tenaga kesehatan menanyakan apakah pasien merokok, seberapa sering, serta bentuk produk tembakau atau nikotin yang digunakan. Pertanyaan dapat mencakup durasi kebiasaan, jumlah konsumsi, dan pengalaman berhenti sebelumnya. Informasi ini membantu mengenali pola penggunaan serta kemungkinan tingkat ketergantungan. Tahap Advise dilanjutkan dengan saran yang jelas, singkat, dan disampaikan secara profesional agar pasien berhenti. Anjuran sebaiknya dikaitkan dengan kondisi kesehatan dan disampaikan tanpa menyalahkan, sehingga pasien tetap merasa dihargai dan dapat mengungkapkan kekhawatirannya.

Melalui Assess, tenaga kesehatan menilai apakah pasien berniat berhenti, seberapa siap ia mengambil langkah, dan hambatan apa yang dirasakan. Kesiapan dapat berubah dari waktu ke waktu; karena itu, jawaban pasien menjadi dasar untuk menentukan percakapan berikutnya, bukan alasan untuk memberi label. Pada tahap Assist, dukungan disesuaikan dengan kebutuhan dan pilihan pasien. Bantuan dapat berupa penyusunan rencana berhenti, strategi menghadapi dorongan merokok, informasi tentang konseling, atau pembahasan terapi yang relevan bersama tenaga kesehatan. Jika pasien belum siap, dukungan tetap dapat berfokus pada eksplorasi alasan dan kekhawatirannya.

Terakhir, Arrange berarti mengatur tindak lanjut, misalnya melalui kunjungan berikutnya, konsultasi, atau kontak lain yang disepakati. Pemantauan memberi kesempatan untuk meninjau kemajuan, mengenali kesulitan, dan menyesuaikan rencana bila diperlukan. Jika pasien kembali merokok setelah mencoba berhenti, tenaga kesehatan dapat membahas pengalaman itu secara terbuka dan merencanakan langkah selanjutnya, bukan menganggap upaya sebelumnya sia-sia. Dengan demikian, 5A menghubungkan penilaian kebiasaan dan kesiapan dengan bantuan serta tindak lanjut yang proporsional. Keputusan dan hasil tetap bergantung pada keadaan, pilihan, dan perjalanan masing-masing pasien.

Jeffrey menekankan bahwa upaya mengubah kebiasaan merokok tidak dapat bergantung pada satu profesi atau satu kali penyampaian informasi. Kolaborasi lintas profesi diperlukan agar pasien memperoleh edukasi yang konsisten ketika berinteraksi dengan berbagai tenaga kesehatan. Pesan yang selaras membantu membangun pemahaman mengenai risiko merokok dan pilihan dukungan yang tersedia, sekaligus mengurangi kemungkinan pasien menerima arahan yang berbeda-beda. Dalam layanan kesehatan, komunikasi terkoordinasi juga memberi ruang bagi tiap tenaga kesehatan untuk berkontribusi sesuai perannya. Dengan demikian, pembicaraan tentang kebiasaan merokok dapat menjadi bagian dari perhatian yang berkelanjutan, bukan percakapan terpisah yang hanya terjadi pada satu kunjungan.

Selain menyepakati pesan edukasi, tim kesehatan perlu menjalankan prosedur operasional standar secara konsisten. Prosedur tersebut dapat menjadi acuan bersama dalam memberikan informasi, mengidentifikasi kebutuhan pasien, dan mengarahkan tindak lanjut sesuai layanan yang tersedia. Penekanan pada standar bukan berarti mengabaikan kondisi setiap individu; justru, kerangka kerja yang sama dapat membantu menjaga mutu proses sementara komunikasi tetap mempertimbangkan kebutuhan pasien. Jeffrey menyampaikan bahwa tujuan pendekatan ini adalah mendukung pasien mengurangi bahaya merokok. Fokusnya bukan sekadar menyampaikan larangan, melainkan membuka percakapan yang dapat membantu pasien memahami pilihan dan memperoleh dukungan dari tim kesehatan. Konsistensi edukasi dan koordinasi antarprofesi karena itu menjadi unsur penting dalam menjalankan tujuan tersebut.

Kolaborasi juga dapat memperkuat kesinambungan.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Menangkap Bukan Akhir Penegakan Hukum: Pertanggungjawaban Bukti Justru Baru Dimulai | Sambut HUT TNI ke-81, Kodim 1710/Mimika Gelar Bakti Kesehatan