Kabupaten Badung | Tanah longsor menimpa Eco Park Pelaga Glamping Retreat di Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Bali, pada Senin, 2 November 2026. Tebing di sekitar area penginapan dilaporkan mendadak runtuh dan membawa material tanah ke kawasan tempat unit-unit glamping berada. Satu unit penginapan yang saat itu sedang ditempati dua pengunjung tertimbun longsoran. Kedua orang tersebut dilaporkan hilang dan diduga masih berada di bawah material yang menutup unit itu.
Informasi awal mengenai kejadian ini menempatkan dua pengunjung sebagai orang yang belum diketahui keberadaannya setelah longsor terjadi. Hingga keterangan yang tersedia, belum ada informasi bahwa keduanya telah ditemukan. Karena itu, status mereka tetap dilaporkan hilang, sementara dugaan tertimbun material longsor belum dapat diperlakukan sebagai kepastian mengenai kondisi maupun nasib mereka. Perbedaan laporan orang hilang dan konfirmasi hasil pencarian penting disampaikan secara cermat, terutama pada tahap awal penanganan peristiwa.
Runtuhnya tebing secara mendadak membuat satu unit yang sedang dihuni langsung terdampak. Material tanah menimbun bangunan tersebut, sehingga keberadaan para pengunjung di dalamnya belum dapat dipastikan. Kejadian di kawasan penginapan itu menjadi fokus perhatian karena menyangkut keselamatan dua orang yang belum ditemukan. Informasi mengenai lokasi, waktu, dan unit yang tertimbun memberikan gambaran awal tentang peristiwa di Pelaga, tetapi belum menjelaskan secara lengkap penyebab runtuhnya tebing ataupun perkembangan penanganan di lapangan. Sampai ada keterangan lanjutan yang memastikan keadaan mereka, pemberitaan perlu tetap menggunakan istilah hilang dan diduga tertimbun, tanpa menyatakan bahwa korban telah ditemukan atau meninggal dunia.
Basarnas Bali bergerak setelah menerima laporan resmi mengenai longsor yang menimpa sebuah penginapan di kawasan Pelaga, Kabupaten Badung. Laporan tersebut diterima pada pukul 06.10 WITA. Menindaklanjuti informasi itu, kantor Basarnas Bali segera menyiapkan dan memberangkatkan satu tim rescue dari Pos Jimbaran menuju lokasi kejadian. Tim tersebut terdiri atas sembilan personel dan ditugaskan untuk melakukan pencarian serta evakuasi terhadap dua pengunjung yang dilaporkan hilang.
Perjalanan dari Pos Jimbaran menuju titik bencana diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua jam. Lokasi kejadian berada di wilayah Badung utara, sehingga tim perlu menempuh perjalanan sebelum dapat tiba dan menjalankan tugas di area terdampak. Perkiraan waktu tempuh tersebut menjadi bagian dari informasi awal pengerahan, bukan kepastian waktu kedatangan. Setibanya di lokasi, personel diharapkan dapat menindaklanjuti laporan dan melaksanakan upaya pencarian terhadap kedua pengunjung.
Pengerahan sembilan personel menunjukkan langkah awal Basarnas Bali dalam merespons laporan orang hilang akibat longsor tersebut. Fokus tim adalah melakukan evakuasi terhadap dua pengunjung yang belum diketahui keberadaannya, sesuai informasi yang diterima kantor. Dalam situasi seperti ini, koordinasi dan penilaian kondisi di lokasi menjadi penting agar proses pencarian dapat dilakukan dengan memperhatikan keadaan area bencana. Namun, informasi mengenai perkembangan operasi, kondisi penginapan, maupun hasil pencarian belum tercantum dalam laporan awal yang tersedia.
Basarnas Bali mengirimkan tim dari Pos Jimbaran setelah laporan resmi masuk pada pagi hari, dengan estimasi perjalanan sekitar dua jam menuju kawasan Pelaga. Penugasan sembilan personel itu diarahkan khusus untuk menangani pencarian dan evakuasi dua pengunjung yang dilaporkan hilang. Perkembangan selanjutnya bergantung pada proses penanganan setelah tim mencapai titik longsor. Karena itu, rincian mengenai hasil operasi perlu menunggu keterangan resmi berikutnya dari pihak berwenang, sementara informasi awal menegaskan bahwa upaya pencarian telah mulai dikerahkan menuju lokasi.
Cuaca ekstrem berupa hujan lebat dilaporkan mengguyur Desa Pelaga dan wilayah sekitarnya sejak Ahad malam, 1 November 2026. Kondisi tersebut menjadi faktor yang disebut berkaitan dengan longsor yang menimpa penginapan di kawasan itu. Informasi mengenai hujan menggambarkan keadaan cuaca sebelum kejadian, sementara hubungan hujan dan longsor disampaikan sebagai dugaan pemicu, bukan kepastian mengenai seluruh proses terjadinya peristiwa.
Keterangan tentang bagian tebing yang longsor serta unit penginapan yang tertimbun berasal dari pemilik glamping, Kadek Suardika. Berdasarkan laporan tersebut, material dari tebing bergerak dan menimpa unit penginapan. Hujan lebat yang berlangsung sejak malam sebelumnya menjadi konteks penting untuk memahami peristiwa, tetapi informasi yang tersedia tidak merinci kondisi tanah, durasi hujan secara terukur, ataupun faktor lain yang mungkin terlibat. Karena itu, penjelasan mengenai penyebab perlu tetap terbatas pada cuaca ekstrem yang telah disebutkan.
Hujan yang mengguyur Pelaga dan sekitarnya sebelum longsor menunjukkan bahwa kejadian berlangsung setelah wilayah tersebut mengalami cuaca basah. Namun, keterangan itu tidak dengan sendirinya membuktikan secara teknis bagaimana longsor bermula atau seberapa besar pengaruh hujan terhadap tebing. Laporan Kadek Suardika menjadi sumber bagi informasi tentang tebing yang longsor dan unit-unit yang tertimbun, sedangkan hujan lebat sejak Ahad malam menjadi kondisi pemicu yang diduga berkaitan dengan kejadian. Pemisahan keterangan saksi dan dugaan penyebab penting agar informasi yang disampaikan tetap akurat. Dengan demikian, laporan awal mengaitkan longsor dengan hujan lebat, tanpa menyatakan penyebab tambahan yang belum dikonfirmasi. Perkembangan informasi selanjutnya dapat memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai kejadian tersebut.
Pendataan sementara terhadap pengunjung yang tertimbun longsor di sebuah penginapan di Pelaga, Bali, baru berhasil mengidentifikasi satu korban. Korban tersebut bernama Bangkit Mubarok, laki-laki berusia 30 tahun dan berkewarganegaraan Indonesia. Informasi identitas itu disampaikan oleh Kepala Kantor Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya, berdasarkan data yang telah diperoleh tim hingga saat ini.
Sementara itu, identitas pengunjung kedua yang juga dilaporkan tertimbun belum diketahui. Data personal, termasuk nama dan usia, belum dapat dipastikan. Status kewarganegaraan orang tersebut juga masih belum teridentifikasi. Karena itu, informasi mengenai jumlah korban yang sudah diketahui identitasnya harus dibedakan dari pendataan terhadap pengunjung kedua yang masih berlangsung.
Keterangan Basarnas tersebut merupakan informasi sementara, bukan hasil pendataan akhir. Dalam situasi penanganan bencana, identifikasi dapat memerlukan proses pemeriksaan dan pencocokan informasi sebelum data seseorang dinyatakan terverifikasi. Hingga keterangan yang disampaikan Sidakarya, belum ada rincian lebih lanjut mengenai identitas pengunjung kedua yang dapat dipastikan untuk disampaikan kepada publik.
Perkembangan ini menegaskan bahwa informasi korban masih dapat berubah seiring masuknya data baru dan proses verifikasi. Nama Bangkit Mubarok menjadi satu-satunya identitas yang telah disebutkan dalam pendataan sementara tersebut, sedangkan informasi tentang pengunjung lainnya belum tersedia. Publik sebaiknya merujuk pada keterangan resmi Basarnas Bali dan tidak menyimpulkan sendiri identitas maupun kewarganegaraan orang yang belum teridentifikasi.
Basarnas Bali, melalui Kepala Kantornya I Nyoman Sidakarya, menjadi sumber keterangan mengenai perkembangan pendataan tersebut. Dengan demikian, penyebutan satu korban yang telah teridentifikasi tidak berarti seluruh data pengunjung yang tertimbun sudah diketahui. Kepastian mengenai identitas pengunjung kedua masih menunggu informasi yang dapat dikonfirmasi. Sampai ada pembaruan resmi, detail yang belum terverifikasi perlu diperlakukan sebagai belum diketahui, tanpa menambahkan dugaan tentang latar belakang atau status korban.
Baca juga: Dugaan Sewa Kios Tak Masuk Kas Desa, Kades Mander Tuban Dilaporkan | TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi | Janji Keuntungan dan Pemberangkatan Umrah Dipersoalkan, Dugaan Investasi MCI Tuban Dilaporkan
20 kunjungan


