Kota Sihanoukville. Penghentian | Para penghuni kapal pesiar Odyssey mendapati rencana pelayaran keliling dunia mereka terhenti mendadak di Kamboja. Kapal tersebut tiba di pelabuhan Sihanoukville pada 23 Oktober 2026, setelah berlayar dari Thailand. Menurut jadwal semula, Odyssey akan meninggalkan pelabuhan itu pada 28 Oktober untuk melanjutkan perjalanan menuju Vietnam. Namun, lima hari setelah kedatangannya, perusahaan pengelola, Villa Vie Residences, mengumumkan penghentian operasional pada 27 Oktober.
Ketika keputusan tersebut disampaikan, terdapat 203 penumpang dan 156 awak kapal di atas kapal. Pengumuman itu mengubah rencana perjalanan sekaligus memaksa para penghuni menghadapi situasi yang tidak mereka perkirakan. Mereka hanya diberi waktu sekitar tujuh jam untuk mengemasi barang-barang dan turun dari kapal. Tenggat yang singkat tersebut membuat para penumpang harus segera menentukan langkah berikutnya, meskipun perjalanan yang mereka ikuti semula dirancang berlangsung mengelilingi dunia.
Setelah turun, para penghuni menempuh pilihan yang berbeda untuk meninggalkan kapal dan mengatur tempat tinggal sementara. Sebagian penumpang meninggalkan Kamboja dengan pesawat, sementara yang lain mencari akomodasi di Sihanoukville. Bagi mereka yang masih berada di kota pelabuhan itu, pencarian tempat tinggal menjadi kebutuhan langsung setelah harus mengosongkan kabin. Situasi tersebut menandai perubahan mendadak dari kehidupan di kapal menuju urusan perjalanan dan penginapan di darat.
Penghentian operasi diumumkan hanya sehari sebelum jadwal keberangkatan Odyssey yang tercantum menuju Vietnam semakin dekat, sehingga para penghuni tidak memiliki waktu panjang untuk menyesuaikan rencana. Kapal yang baru beberapa hari sebelumnya tiba dari Thailand kini menjadi titik awal bagi penumpang dan awak untuk mencari cara melanjutkan perjalanan masing-masing. Kejadian di Sihanoukville mengakhiri rencana pelayaran Odyssey pada tahap yang tidak terduga, sementara para penghuni berupaya meninggalkan Kamboja atau memperoleh tempat tinggal sementara setelah pemberitahuan mendadak itu.
Kathy Villalba, CEO Villa Vie Residences, menyampaikan permintaan maaf kepada para penghuni Odyssey atas pengalaman yang mereka alami ketika pelayaran keliling dunia kapal tersebut terhenti di Kamboja. Dalam pesan yang dikirim melalui platform komunikasi internal Circle pada Jumat, 30 Oktober 2026, Villalba mengakui bahwa situasi itu telah membawa penderitaan, kehilangan, dan ketidakpastian bagi penumpang. Ia menyatakan menyesal atas dampak yang mereka rasakan, di tengah kondisi yang belum memberikan kepastian mengenai kelanjutan perjalanan maupun masa depan kapal.
Pesan tersebut sempat tersedia bagi anggota Circle, tetapi dihapus beberapa jam setelah diunggah. Tiga penumpang yang memiliki akses ke platform itu mengonfirmasi bahwa pesan Villalba memang pernah dipublikasikan dan kemudian tidak lagi dapat ditemukan. Penghapusan tersebut tidak mengubah isi permintaan maaf yang telah dibaca sejumlah penghuni, tetapi membuat komunikasi itu hanya tersedia dalam waktu terbatas. Keberadaan pesan dan konfirmasi para penumpang memberikan gambaran tentang cara CEO menanggapi kekhawatiran penghuni secara langsung melalui saluran internal perusahaan.
Dalam pesannya, Villalba juga menyampaikan bahwa ia masih berharap perusahaan dapat diselamatkan melalui masuknya investor baru. Ia menggambarkan proyek Odyssey sebagai bagian besar dari kehidupannya, bahkan mengibaratkan kapal itu seperti anak sendiri. Para penghuni, katanya, telah menjadi bagian dari keluarganya. Pernyataan tersebut menunjukkan keterikatan pribadi Villalba terhadap proyek dan komunitas yang terbentuk di kapal, tanpa menghapus beratnya masalah yang sedang dihadapi penumpang. Ia juga menyatakan harapan agar inisiatif para penghuni untuk mempertahankan kehidupan di kapal dapat berhasil. Upaya itu berlangsung ketika penghuni menghadapi situasi yang tidak pasti dan menunggu kejelasan tentang langkah berikutnya. Permintaan maaf CEO tersebut mencerminkan pengakuan atas kesulitan yang dialami, sementara harapan akan investor baru dan dukungan terhadap inisiatif penghuni menjadi bagian dari pesan yang disampaikannya. Hingga pesan itu dihapus, isi komunikasinya berfokus pada penyesalan, hubungan dengan penghuni, serta kemungkinan menyelamatkan perusahaan dan kehidupan komunitas Odyssey.
Menurut penjelasan perusahaan, lonjakan biaya bahan bakar menjadi tekanan utama terhadap pembiayaan operasional kapal. Pengeluaran yang sebelumnya rata-rata sekitar USD 1.800, atau setara Rp32,8 juta, per kabin setiap bulan meningkat tajam ketika kapal berlayar di sejumlah wilayah Asia. Dalam kondisi tersebut, biaya bahan bakar disebut mencapai sekitar USD 6.000 hingga USD 8.000 per kabin per bulan. Nilai tertinggi yang dicantumkan dalam laporan berada di kisaran Rp145 juta. Kenaikan itu membuat kebutuhan dana untuk menjalankan pelayaran jauh lebih besar dibandingkan perkiraan awal.
Biaya per kabin tersebut menggambarkan besarnya beban yang harus ditanggung untuk menjaga kapal tetap beroperasi selama perjalanan. Perusahaan menyatakan telah mencoba mengendalikan konsumsi bahan bakar melalui beberapa penyesuaian pada pola pelayaran. Salah satunya adalah memperlambat laju kapal, sehingga penggunaan bahan bakar dapat ditekan. Selain itu, kapal menghabiskan waktu lebih lama untuk bersandar di pelabuhan, sebagai bagian dari upaya mengurangi waktu perjalanan di laut dan menekan pengeluaran terkait bahan bakar.
Meski demikian, langkah penghematan tersebut belum cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya yang terjadi. Selisih rata-rata pengeluaran terdahulu dan biaya di sejumlah wilayah Asia menunjukkan besarnya tekanan terhadap anggaran operasional. Perusahaan menjelaskan bahwa perlambatan perjalanan dan masa sandar yang lebih panjang hanya dapat membantu mengurangi sebagian konsumsi, bukan menghapus dampak lonjakan harga bahan bakar. Dengan kebutuhan biaya yang meningkat hingga beberapa kali lipat per kabin, pembiayaan perjalanan menjadi semakin sulit dipertahankan sesuai rencana. Penjelasan perusahaan mengenai penghentian perjalanan itu berpusat pada persoalan biaya bahan bakar dan keterbatasan langkah penghematan yang telah dilakukan. Tidak ada perubahan pola pelayaran yang disebut mampu menutup seluruh kenaikan pengeluaran tersebut. Karena itu, tekanan biaya tersebut tetap menjadi hambatan bagi operasional kapal ketika berada di kawasan Asia, meskipun perusahaan telah menyesuaikan kecepatan dan lama kapal berada di pelabuhan. Angka yang disampaikan memperlihatkan skala perubahan beban bulanan yang harus diperhitungkan perusahaan untuk setiap kabin.Odyssey, kapal milik Villa Vie Residences, memulai pelayaran dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024. Keberangkatan tersebut menandai dimulainya sebuah proyek yang menawarkan cara hidup berbeda: penghuni dapat tinggal secara permanen di kapal sambil berlayar mengelilingi dunia. Gagasan itu dirancang untuk orang-orang yang ingin menjadikan perjalanan laut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar liburan singkat. Kapal ini menjadi tempat tinggal sekaligus sarana untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain.
Dalam rencana awalnya, Odyssey dijadwalkan mengunjungi lebih dari 425 pelabuhan di 147 destinasi selama tiga setengah tahun. Skala perjalanan itu menjanjikan kesempatan bagi para penghuni untuk mengenal beragam kota dan wilayah tanpa harus terus-menerus berpindah tempat tinggal dengan cara konvensional. Namun, rencana perjalanan jangka panjang semacam ini juga bergantung pada kepastian operasional kapal dan komunikasi yang jelas perusahaan dengan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Bagi para penghuni, perjalanan tersebut bukan hanya rangkaian persinggahan, melainkan juga lingkungan hidup yang mereka pilih untuk jangka waktu panjang.
Dalam memo permintaan maaf kepada penghuni, CEO Villa Vie Residences, Mikael Petterson Villalba, menyampaikan bahwa sorotan media terasa sangat membebani. Ia juga mengatakan telah menerima saran dari penasihat hukum agar tidak memberikan komentar lebih lanjut kepada publik. Pernyataan itu memberi gambaran mengenai terbatasnya informasi yang dapat disampaikan perusahaan di tengah perhatian terhadap situasi kapal dan para penghuninya. Meski rencana awal pelayaran telah menetapkan cakupan perjalanan yang luas, Villa Vie belum memberikan kepastian mengenai masa depan Odyssey.
Baca juga: Layanan SIM Keliling 4 Oktober 2026: Lokasi Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Bandung
51 kunjungan





