Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa, 3 November 2026, dengan nada positif. Pada sesi I, indeks dibuka menguat di level 5.126,53 dan sempat melanjutkan kenaikan hingga mencapai puncak intrahari 5.143,58. Namun, penguatan pada awal perdagangan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang muncul kemudian mengubah arah pergerakan indeks, sehingga kenaikan awal beralih menjadi pelemahan.
Dalam menit-menit pertama setelah pembukaan, IHSG turun ke kisaran 5.100. Indeks sempat menunjukkan pantulan tipis, tetapi dorongan tersebut belum cukup kuat untuk memulihkan momentum kenaikan. Setelah bergerak naik sesaat, IHSG kembali melemah secara bertahap. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual tetap dominan sepanjang periode pengamatan, meskipun indeks sempat mencoba bertahan setelah penurunan awal.
Hingga pukul 09.59 WIB, IHSG tercatat berada di posisi 5.045,08, atau turun 51,75 poin setara 1,02% dibandingkan penutupan sebelumnya. Posisi itu mendekati titik terendah intrahari yang tercatat pada level 5.044,90. Dengan demikian, selisih level indeks saat pemantauan dan titik terendah hari itu relatif tipis. Perubahan arah dari puncak 5.143,58 menuju area 5.045 juga menggambarkan besarnya tekanan yang terjadi pada sesi pagi.
Aktivitas perdagangan pada waktu yang sama mencatat volume sebesar 64,45 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp2.404,16 miliar. Data tersebut memberikan gambaran mengenai kegiatan transaksi ketika IHSG bergerak melemah. Meski dibuka menguat dan sempat menyentuh level tertinggi intrahari, indeks akhirnya berada di zona merah menjelang pukul 10.00 WIB. Perkembangan sesi pagi ini memperlihatkan bahwa arah pembukaan belum menjadi petunjuk yang cukup untuk memastikan pergerakan selanjutnya. Pelaku pasar akan mencermati apakah tekanan jual berlanjut atau indeks mampu menemukan pijakan setelah bergerak mendekati level terendah intrahari.Pelemahan IHSG pada sesi pagi berlangsung seiring tekanan yang meluas di sejumlah sektor. Sektor konsumer kritikal mencatat penurunan terbesar di sektor yang disebut, yakni 1,8%. Sektor energi juga melemah 1,5%, sementara sektor infrastruktur turun 1,4%. Pergerakan tersebut menjadi gambaran langsung tekanan sektoral yang membebani indeks pada awal perdagangan. Meski demikian, angka penurunan sektor tidak dengan sendirinya menunjukkan seberapa besar kontribusi masing-masing terhadap perubahan IHSG. Data yang tersedia hanya mencantumkan kinerja sektor dan nama saham yang menjadi pemberat, tanpa merinci nilai kontribusi atau urutan bobot setiap emiten. Karena itu, besaran pengaruh tiap saham terhadap pelemahan indeks tidak dapat dipastikan.
Di saham yang disebut sebagai pemberat IHSG, terdapat PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ). Daftar tersebut mencakup emiten dari beberapa bidang usaha, termasuk telekomunikasi, sumber daya alam, dan layanan kesehatan. Kehadiran saham-saham tersebut dalam daftar pemberat menunjukkan bahwa tekanan indeks tidak hanya berkaitan dengan satu kelompok perusahaan. Namun, tanpa data perubahan harga masing-masing pada periode yang sama maupun perhitungan kontribusi terhadap indeks, daftar itu sebaiknya dibaca sebagai identifikasi saham yang menekan IHSG, bukan sebagai dasar untuk membandingkan dampaknya secara kuantitatif.
Saham lain yang turut menekan indeks adalah PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Nama-nama tersebut menambah cakupan saham yang berada di sisi pemberat pada sesi pagi, bersama emiten-emiten yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan tekanan pada sektor konsumer kritikal, energi, dan infrastruktur serta sejumlah saham dari berbagai bidang usaha, pelemahan IHSG mencerminkan kondisi pasar yang tertekan secara lebih luas. Informasi yang tersedia belum menjelaskan faktor spesifik di balik pergerakan setiap saham, sehingga tidak tepat mengaitkan penurunan tersebut dengan katalis tertentu tanpa keterangan tambahan. Perkembangan selanjutnya dapat memberi gambaran apakah tekanan sektoral dan saham pemberat itu berlanjut hingga penutupan perdagangan.
Dua perkembangan global menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi sentimen terhadap aset Indonesia, termasuk saham dan nilai tukar rupiah. Pertama, pemilu sela Amerika Serikat yang berlangsung pada 3 November 2026 dapat menentukan keseimbangan kekuasaan di Kongres. Partai Demokrat berupaya merebut kendali Kongres di tengah penurunan popularitas Presiden Donald Trump dan tekanan biaya hidup yang dirasakan masyarakat. Hasil pemilu dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintah AS, sehingga investor mencermati dampaknya terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan global.
Partisipasi pemilih awal menunjukkan tingginya perhatian terhadap pemilu tersebut. Menurut University of Florida Election Lab, lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara lebih awal hingga Senin. Jumlah itu melampaui sekitar 46 juta pemilih awal pada pemilu sela 2022. Meski angka partisipasi awal belum memastikan hasil akhir, dinamika pemilu dan kemungkinan perubahan konfigurasi politik di Kongres dapat mendorong volatilitas di pasar global. Pergerakan aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi ikut terpengaruh oleh perubahan persepsi investor mengenai kebijakan ekonomi dan politik AS.
Sentimen kedua datang dari penurunan tajam harga minyak mentah pada 2 November. Harga Brent ditutup turun 7,63% menjadi US$104,77 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 7,36% ke US$96,46 per barel. Pelemahan ini muncul setelah pasar melihat harapan bahwa konflik AS-Israel dengan Iran dapat diselesaikan melalui perundingan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa upaya dialog terus ditempuh, sementara Trump mengatakan kesepakatan mungkin tercapai. Pernyataan tersebut memberi ruang bagi optimisme, meskipun perkembangan diplomatik selanjutnya tetap menjadi faktor penting bagi harga energi.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak berpotensi memberikan manfaat karena negara ini merupakan importir neto minyak. Biaya impor energi yang lebih rendah dapat membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), terutama melalui kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Harga minyak yang lebih lunak juga berpotensi menahan tekanan inflasi dari biaya transportasi dan produksi. Namun, dampak akhirnya bergantung pada keberlanjutan penurunan harga, nilai tukar rupiah, serta kebijakan pemerintah. Karena itu, investor akan memantau perkembangan pemilu AS dan perundingan terkait Iran bersamaan dengan faktor domestik yang memengaruhi pasar.Agenda domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar pada Selasa, 3 November 2026, adalah rapat dan konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Dalam kesempatan tersebut, pemerintah dan otoritas terkait dijadwalkan menyampaikan hasil kajian mengenai kondisi sistem keuangan Indonesia pada kuartal III. Penilaian itu mencakup perkembangan stabilitas, risiko yang perlu diantisipasi, serta ruang kebijakan untuk menjaga ketahanan sektor keuangan di tengah dinamika pasar. Pasar juga menantikan apakah KSSK akan mengumumkan langkah baru atau memberi petunjuk tentang respons kebijakan ke depan.
Selain paparan kajian, tanggapan anggota KSSK mengenai pelemahan pasar modal dan nilai tukar rupiah berpotensi menjadi sorotan. Investor akan mencermati penjelasan mengenai faktor yang dinilai memengaruhi pergerakan aset domestik, sekaligus pandangan otoritas terhadap perkembangan tersebut. Pembahasan aturan baru pasar modal juga dinantikan, terutama terkait tujuan penerapan, tahapan pelaksanaan, dan dampaknya bagi emiten maupun investor. Informasi dari konferensi pers dapat membantu pasar memahami prioritas kebijakan, meski arah respons harga tetap bergantung pada beragam pertimbangan dan perkembangan berikutnya.
25 kunjungan



