BANDUNG | Peralihan menuju energi bersih di Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena pasokan energi nasional sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Ketergantungan tersebut membuat perubahan pada sistem kelistrikan tidak dapat berlangsung seketika: pembangkit yang sudah beroperasi, kebutuhan listrik yang terus berjalan, serta investasi pada infrastruktur energi perlu dipertimbangkan dalam proses transisi. Namun, kondisi ini juga menunjukkan pentingnya mempercepat pengembangan sumber energi terbarukan agar pemenuhan kebutuhan listrik secara bertahap tidak terus bertumpu pada batu bara.
Reka Maharwati, Koordinator Enter Nusantara sekaligus bagian dari tim Sedekah Energi Mosaic, menyampaikan bahwa lebih dari 60 persen pasokan energi Indonesia masih berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Menurut Reka, besarnya porsi tersebut menggambarkan kuatnya posisi batu bara dalam sistem energi nasional. Angka itu juga menegaskan bahwa upaya mengurangi emisi dari sektor energi berkaitan erat dengan perubahan sumber pasokan listrik, bukan hanya dengan mendorong penggunaan teknologi yang lebih efisien.
Reka juga menyebut realisasi bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional masih berada di kisaran 12–13 persen. Data dan penilaian mengenai besarnya pasokan dari PLTU batu bara serta capaian bauran EBT tersebut bersumber dari pernyataan Reka Maharwati. Dengan capaian yang masih berada pada kisaran itu, peningkatan pemanfaatan energi terbarukan menjadi pekerjaan penting dalam agenda transisi energi. Pengembangan energi surya, termasuk pemasangan panel surya di fasilitas publik dan rumah ibadah, dapat menjadi salah satu langkah untuk memperluas penggunaan sumber energi bersih. Meski demikian, kontribusinya perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas, bersama kebijakan, pendanaan, dan infrastruktur yang mendukung peralihan pasokan energi.
Nuur Fest bertajuk “Let There Be Nuur” digelar di Kota Bandung pada Minggu, 8 November 2026. Festival ini menghadirkan ruang pertemuan bagi warga dan komunitas untuk membicarakan energi bersih, keadilan, serta peran lembaga sosial dalam menghadapi perubahan lingkungan. Kegiatan tersebut melibatkan Ruang Eskalasi, Rute Berkeadilan Jawa Barat, dan Konsorsium Nuur. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas percakapan tentang transisi energi agar tidak berhenti pada aspek teknologi, tetapi juga mempertimbangkan akses, manfaat, dan keterlibatan masyarakat.
Salah satu agenda yang diangkat adalah solarisasi masjid, yaitu pemanfaatan energi matahari melalui pemasangan panel surya di rumah ibadah. Gagasan ini menempatkan masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah dan berkegiatan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari upaya penggunaan energi yang lebih bersih. Dengan panel surya, sebagian kebutuhan listrik masjid berpotensi dipenuhi dari sumber terbarukan. Penerapannya dapat membuka pembahasan mengenai pengelolaan energi, biaya operasional, serta bagaimana fasilitas bersama bisa berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap sumber energi fosil.
Melalui Nuur Fest, isu tersebut diperkenalkan dalam konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Masjid memiliki peran penting di banyak lingkungan, sehingga pembicaraan mengenai energi matahari di tempat ibadah dapat menjangkau jamaah dan komunitas sekitar. Namun, pelaksanaan pemasangan panel surya tetap memerlukan perencanaan, termasuk penilaian kebutuhan listrik, kondisi bangunan, pembiayaan, dan pemeliharaan. Dialog antarpihak juga diperlukan agar keputusan sesuai dengan kebutuhan pengelola masjid dan masyarakat. Dengan mengangkat solarisasi masjid sebagai salah satu agenda, festival ini mendorong warga untuk melihat energi bersih sebagai isu bersama, sekaligus membuka peluang bagi lembaga keagamaan untuk terlibat dalam perubahan menuju pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan di Bandung.
Festival ini mengajak generasi muda untuk mengambil bagian dalam mendorong penggunaan energi terbarukan melalui solarisasi masjid. Ajakan tersebut menempatkan anak muda bukan sekadar sebagai penonton perubahan, melainkan sebagai bagian dari percakapan dan gerakan yang tumbuh di tengah masyarakat. Dengan mengenalkan pemanfaatan tenaga surya di lingkungan rumah ibadah, festival membuka ruang bagi generasi muda untuk memahami bagaimana pilihan energi dapat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan kepedulian terhadap lingkungan.
Solarisasi masjid menjadi pintu masuk untuk membahas energi bersih secara dekat dan mudah dipahami. Masjid merupakan bagian dari lingkungan sosial yang akrab bagi banyak warga, sehingga gagasan penggunaan energi terbarukan dapat dibicarakan bersama dalam konteks komunitas. Keterlibatan generasi muda penting dalam proses ini karena mereka dapat membantu menyebarkan pemahaman, menghubungkan berbagai pihak, serta mendorong diskusi yang berkelanjutan. Peran tersebut tidak harus dimulai dari tindakan besar; perhatian, kemauan belajar, dan partisipasi dalam percakapan publik juga dapat menjadi langkah awal.
Ajakan festival ini berangkat dari lingkungan masyarakat, bukan semata-mata dari gagasan yang disampaikan secara terpusat. Pendekatan berbasis komunitas memberi ruang bagi warga untuk mengenali kebutuhan dan peluang di sekitar mereka, lalu mempertimbangkan pemanfaatan energi surya secara bersama. Generasi muda dapat ikut membawa isu tersebut ke ruang-ruang pergaulan dan kegiatan komunitas, sekaligus mendengarkan pandangan masyarakat setempat. Dengan demikian, solarisasi masjid dibicarakan sebagai upaya kolektif yang membutuhkan keterlibatan dan pemahaman bersama, bukan hanya sebagai pemasangan teknologi.
Melalui ajakan ini, festival mendorong anak muda agar melihat energi terbarukan sebagai bagian dari kepedulian sosial dan lingkungan. Keterlibatan mereka dapat membantu menjaga pembahasan tetap dekat dengan kebutuhan warga serta membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk mengenal energi bersih. Semangatnya bertumpu pada partisipasi masyarakat: perubahan didorong dari lingkungan yang sehari-hari mereka kenal, melalui dialog dan kerja bersama. Solarisasi masjid pun menjadi salah satu cara untuk menghubungkan gagasan energi bersih dengan kehidupan komunitas di Bandung.
Reka menilai peralihan menuju energi bersih masih menghadapi dua kendala penting, yakni ketergantungan pada bahan bakar fosil dan persoalan pembiayaan. Keduanya perlu diperhatikan ketika upaya penggunaan energi surya, termasuk di lingkungan masjid, mulai didorong. Selama kebutuhan energi masih banyak dipenuhi sumber fosil, perubahan menuju pilihan yang lebih bersih tidak dapat berlangsung begitu saja. Diperlukan langkah yang terencana agar pemanfaatan sumber energi alternatif dapat berkembang, sekaligus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan pihak yang hendak menerapkannya. Tantangan tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai bagaimana mendorong perubahan tanpa mengabaikan kebutuhan nyata masyarakat dan lembaga.
Menurut Reka, pembiayaan merupakan aspek yang dapat memengaruhi keputusan untuk beralih. Rencana pemasangan sistem energi surya memerlukan pertimbangan biaya, sementara kemampuan menyediakan dana tidak selalu sama pada setiap pihak. Karena itu, dorongan terhadap energi bersih perlu disertai perhatian pada cara pembiayaan yang memungkinkan inisiatif tersebut dijalankan. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan keputusan untuk menggunakan teknologi, tetapi juga dengan kesiapan menanggung kebutuhan investasi. Di saat yang sama, ketergantungan pada bahan bakar fosil masih menjadi tantangan yang lebih luas. Kedua hal itu menunjukkan bahwa percepatan peralihan membutuhkan perhatian terhadap sumber energi yang digunakan serta dukungan untuk membiayai perubahan.
Reka juga menekankan bahwa energi matahari yang melimpah dan terjangkau merupakan salah satu hal yang dapat dimanfaatkan untuk menahan laju krisis iklim agar tidak semakin parah. Pernyataan tersebut menempatkan matahari sebagai sumber energi yang layak dipertimbangkan dalam upaya memperluas pilihan energi bersih. Potensi ketersediaannya menjadi alasan untuk melihat pemanfaatannya secara serius, termasuk dalam pembahasan solarisasi masjid. Namun, pandangan itu tidak menghapus tantangan yang telah disebutkan: ketergantungan terhadap energi fosil dan persoalan pembiayaan tetap perlu dihadapi. Menghubungkan potensi energi matahari dengan kebutuhan dukungan pembiayaan dapat membantu menjelaskan mengapa langkah peralihan memerlukan perhatian bersama.
Baca juga: Pakar Energi ITS Apresiasi Langkah Bahlil dalam Menjaga Ketahanan Energi Nasional | Suahasil Paparkan Langkah Memperkuat Rasio Pajak dan Kinerja APBN | Persib Bangkit di Thailand, Tiga Gol Menit Akhir Antar Maung Bandung Menang
20 kunjungan

