Bentrokan di Pidie Usai Penertiban Bendera, 14 Warga dan Enam Personel TNI Jadi Korban

Bentrokan di Pidie Usai Penertiban Bendera, 14 Warga dan Enam Personel TNI Jadi Korban

Kabupaten Pidie | Bentrokan terjadi pada Rabu, 4 November 2026, di meunasah Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh. Peristiwa tersebut menimbulkan korban dari kalangan warga maupun personel TNI. Berdasarkan keterangan yang disampaikan TNI Angkatan Darat, jumlah warga yang menjadi korban mencapai 14 orang. Dari jumlah itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia, sedangkan 13 lainnya mengalami luka-luka. Informasi tersebut menjadi gambaran awal mengenai dampak bentrokan di lokasi kejadian.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menyampaikan rincian tersebut melalui keterangan tertulis pada Kamis, 5 November 2026. Dengan demikian, data jumlah korban yang beredar dalam laporan ini merujuk pada informasi resmi yang disampaikan sehari setelah peristiwa. Keterangan itu memisahkan jumlah warga yang meninggal dan terluka, sehingga keseluruhan korban dari pihak warga tercatat sebanyak 14 orang. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai identitas para korban dalam informasi yang disampaikan tersebut.

Selain warga, enam personel TNI juga mengalami luka-luka dalam bentrokan di meunasah tersebut. Mereka mendapat penanganan medis sesuai kondisi masing-masing. Keterangan mengenai perawatan ini disampaikan tanpa merinci jenis luka, fasilitas kesehatan tempat para personel dirawat, maupun perkembangan kondisi mereka setelah memperoleh pertolongan. Jumlah personel yang terluka disebut secara terpisah dari jumlah warga, sehingga total warga dan anggota TNI yang dilaporkan menjadi korban adalah 20 orang, termasuk satu warga yang meninggal dunia.

Penertiban bendera disebut dalam konteks peristiwa yang berujung pada bentrokan di Pulo Keunari. Namun, rincian mengenai urutan kejadian, pihak-pihak yang terlibat, dan bagaimana bentrokan berlangsung tidak dijelaskan dalam keterangan tertulis yang menjadi sumber informasi jumlah korban. Karena itu, data yang dapat dipastikan dari pernyataan tersebut terbatas pada waktu dan lokasi kejadian serta jumlah korban dari masing-masing pihak. Informasi lanjutan diperlukan untuk menjelaskan kronologi secara lebih lengkap dan memastikan perkembangan kondisi warga maupun personel yang terluka.

Warga yang meninggal dalam peristiwa di Pidie tersebut bernama Abzalul Riza. Ia merupakan warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Identitas dan asal desa korban menjadi informasi yang disampaikan terkait warga yang meninggal setelah bentrokan yang terjadi usai penertiban bendera. Keterangan mengenai korban ini merujuk pada nama serta wilayah tempat tinggal yang disebutkan.

Jenazah Abzalul Riza dimakamkan pada Kamis, 5 November 2026, pukul 01.00 WIB. Prosesi pemakaman berlangsung di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro. Lokasi pemakaman tersebut berada di wilayah kecamatan yang sama dengan tempat tinggal korban. Waktu pemakaman dicatat pada dini hari, sesuai keterangan yang disampaikan mengenai prosesi tersebut.

TNI Angkatan Darat menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa atas meninggalnya Abzalul Riza. Ungkapan tersebut ditujukan sebagai respons atas wafatnya warga dalam peristiwa di Pidie. Pernyataan TNI AD juga menyebut harapan agar para korban yang mengalami luka segera pulih. Harapan pemulihan itu mencakup para korban luka dalam peristiwa tersebut, tanpa mengubah keterangan mengenai identitas maupun waktu pemakaman warga yang meninggal.

Dengan demikian, keterangan yang disampaikan mencakup tiga hal utama: nama warga yang meninggal, tempat tinggalnya, serta waktu dan lokasi pemakaman. Abzalul Riza tercatat sebagai warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, sementara pemakamannya dilaksanakan di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro. TNI AD turut menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa atas meninggalnya warga serta berharap korban luka segera pulih.

Informasi mengenai pemakaman menyebutkan tanggal Kamis, 5 November 2026, dengan waktu pelaksanaan pukul 01.00 WIB. Keterangan ini disajikan bersama pernyataan TNI AD mengenai keprihatinan dan belasungkawa atas meninggalnya Abzalul Riza, serta harapan bagi para korban yang terluka agar segera pulih. Rincian tersebut menjadi bagian dari informasi tentang korban dalam bentrokan di Pidie usai penertiban bendera.

Menurut keterangan TNI AD, bentrokan di Desa Pulo Keunari, Kabupaten Pidie, bermula dari pengibaran bendera bulan bintang dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bendera tersebut dipasang di meunasah tempat kegiatan berlangsung. Situasi kemudian berkembang ketika prajurit TNI berupaya menertibkan dan menurunkan bendera itu. Penjelasan mengenai pemicu kejadian serta langkah yang ditempuh sebelum penertiban ini disampaikan oleh TNI AD.

TNI AD menyebut upaya penertiban tidak dilakukan tanpa komunikasi sebelumnya. Aparat TNI dan Polri dikatakan telah berusaha menempuh pendekatan persuasif dengan berkomunikasi bersama panitia penyelenggara. Pembicaraan tersebut dimaksudkan untuk mencari jalan keluar dan meminta agar bendera bulan bintang tidak dikibarkan dalam kegiatan peringatan keagamaan itu. Dengan pendekatan tersebut, aparat berharap persoalan dapat diselesaikan melalui kesepahaman, tanpa berkembang menjadi ketegangan di lokasi acara.

Namun, berdasarkan keterangan TNI AD, komunikasi dan mediasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Panitia penyelenggara disebut tetap ingin mempertahankan keberadaan bendera, sehingga permintaan agar bendera tidak dikibarkan belum dapat diterima. Perbedaan sikap inilah yang menjadi latar sebelum prajurit melakukan upaya penertiban. Uraian mengenai proses komunikasi tersebut merupakan versi yang disampaikan TNI AD; karena itu, informasi tersebut perlu dipahami sebagai keterangan dari institusi tersebut, bukan sebagai hasil verifikasi mandiri atas seluruh rangkaian peristiwa.

Dalam menjelaskan urutan kejadian, TNI AD menempatkan dialog dan mediasi sebagai langkah yang lebih dahulu ditempuh, sementara penurunan bendera berlangsung setelah upaya itu tidak mencapai titik temu. Rangkaian ini memberi konteks mengenai mengapa penertiban dilakukan dan bagaimana ketegangan kemudian muncul. Meski demikian, penjelasan tentang keputusan panitia, isi komunikasi, serta proses di lokasi tetap merujuk pada keterangan TNI AD. Rincian tersebut penting dibedakan dari fakta lain mengenai jumlah korban atau perkembangan penanganan, yang memerlukan keterangan tersendiri dari sumber terkait. Pemaparan yang terukur membantu pembaca memahami latar bentrokan tanpa menganggap satu keterangan sebagai gambaran lengkap dari semua pihak yang terlibat.Proses penertiban bendera bulan bintang di Pidie berlangsung tegang setelah sebagian warga melakukan perlawanan. Menurut keterangan TNI AD, sejumlah orang melemparkan batu dan kayu ke arah personel yang bertugas. Di tengah kerumunan, beberapa orang juga terlihat membawa senjata tajam. Situasi tersebut membuat petugas berupaya meredakan keadaan sebelum mengambil langkah pengamanan berikutnya.

Personel TNI berusaha menenangkan warga dan membubarkan massa menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Upaya itu dilakukan secara bertahap, dengan tujuan menghentikan tindakan yang dinilai membahayakan serta mengurangi risiko bagi orang-orang di lokasi. Namun, menurut TNI AD, tindakan anarkis terus berlanjut dan keselamatan personel terancam. Dalam kondisi tersebut, aparat kemudian meningkatkan langkah pengamanan.

TNI AD menyebut tembakan peringatan dilepaskan terlebih dahulu menggunakan munisi hampa. Setelah itu, ketika situasi belum terkendali, petugas menggunakan munisi karet. Pernyataan tersebut menggambarkan urutan tindakan yang disampaikan pihak militer, yakni dimulai dengan upaya persuasif dan perlengkapan pengendalian massa, kemudian berlanjut ke penggunaan munisi secara bertahap. Rangkaian ini terjadi dalam konteks bentrokan saat penertiban, yang berujung pada jatuhnya korban dari kalangan warga maupun personel TNI.

Setelah massa membubarkan diri, personel menurunkan bendera bulan bintang. Penurunan dilakukan ketika kondisi di sekitar lokasi telah memungkinkan petugas melanjutkan penertiban. Peristiwa ini menjadi bagian dari insiden yang dilaporkan menyebabkan 14 warga dan enam personel TNI menjadi korban. Rincian mengenai korban dan kronologi lebih lanjut perlu merujuk pada keterangan resmi pihak terkait, sementara uraian mengenai langkah pengamanan di lokasi ini berdasarkan penjelasan TNI AD.

Secara terpisah TNI AD juga.

Baca juga: Demo BEM SI di Depan DPR Kawal Pendidikan Gratis, Hampir 4.000 Personel Disiagakan | 47 Aksi di Jakarta Dikawal 3.983 Personel Gabungan, Polisi Sampaikan Imbauan Lalu Lintas

41 kunjungan