Jakarta | Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan laporan mengenai perkembangan inflasi dan nilai tukar rupiah kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin, 19 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi BI untuk memaparkan kondisi terkini pada dua bidang yang berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi, yakni perkembangan harga di dalam negeri dan pergerakan mata uang nasional.
Pokok pertama yang disampaikan adalah inflasi. Dalam pemaparan kepada Presiden, BI melaporkan kondisi inflasi sebagai salah satu indikator yang perlu terus dicermati dalam menjaga kestabilan perekonomian. Perubahan harga barang dan jasa dapat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, sehingga perkembangan inflasi menjadi bagian penting dalam pembahasan kebijakan ekonomi. Laporan itu menempatkan pengendalian inflasi sebagai perhatian yang berjalan seiring dengan upaya menjaga nilai rupiah, bukan sebagai isu yang berdiri sendiri.
Pokok kedua ialah nilai tukar rupiah, termasuk pergerakannya yang menjadi perhatian BI. Bank sentral menyatakan bahwa fokusnya tetap menjaga stabilitas rupiah, baik dalam kaitannya dengan inflasi maupun dalam menghadapi perubahan nilai tukar. Dengan demikian, laporan Destry mencakup keterkaitan kestabilan harga dan kondisi mata uang, dua aspek yang sama-sama memengaruhi kepastian ekonomi. Penyampaian kepada Prabowo memberi gambaran mengenai fokus BI dalam memantau perkembangan tersebut dan mempertahankan stabilitas. Dalam konteks rapat terbatas, pembahasan kedua hal itu menegaskan bahwa pemantauan inflasi dan nilai tukar merupakan bagian dari perhatian pemerintah dan bank sentral. BI menyampaikan posisi serta fokus kebijakannya kepada Presiden, dengan stabilitas rupiah tetap menjadi sasaran utama, baik ketika menilai tekanan inflasi maupun ketika melihat dinamika kurs. Rapat berlangsung di Istana Merdeka pada Senin, 19 Oktober 2026, dengan dua pokok laporan itu sebagai inti paparan gubernur bank sentral.
Destry menyampaikan bahwa inflasi inti pada September tercatat sebesar 2,8 persen. Angka tersebut dinilai mencerminkan kondisi perekonomian yang masih cukup terkendali. Inflasi inti biasanya digunakan untuk melihat tekanan harga yang lebih mendasar, karena pergerakannya tidak terlalu dipengaruhi perubahan harga sejumlah komoditas yang bergejolak. Dengan indikator ini, Bank Indonesia memperoleh gambaran mengenai kecenderungan harga dalam perekonomian, di luar dampak sementara dari komponen tertentu.
Meski demikian, perkembangan harga bahan pangan tetap menjadi perhatian. Inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food mencapai 5 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi inti yang disampaikan Destry. Perubahan harga pangan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan berpengaruh terhadap daya beli, terutama ketika terjadi kenaikan pada komoditas yang banyak dikonsumsi. Karena itu, stabilitas inflasi secara keseluruhan tidak hanya bergantung pada kondisi inflasi inti, tetapi juga pada kemampuan menjaga pasokan dan kelancaran distribusi pangan.
Untuk merespons perkembangan tersebut, BI akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian. Kerja sama ini diarahkan untuk menjaga inflasi bahan pangan tetap berada dalam koridor sasaran inflasi BI, yakni 2,5 persen dengan rentang plus-minus 1 persen. Artinya, sasaran tersebut memiliki batas bawah 1,5 persen dan batas atas 3,5 persen. Capaian volatile food sebesar 5 persen menunjukkan adanya tekanan yang perlu dicermati agar pergerakan harga dapat kembali sejalan dengan sasaran tersebut.
Koordinasi antarlembaga penting karena pengendalian harga pangan melibatkan beragam faktor, mulai dari ketersediaan hasil pertanian hingga distribusi ke berbagai daerah. Langkah yang terarah dapat membantu mengantisipasi gangguan pasokan dan meredam gejolak harga, tanpa mengabaikan kebutuhan produsen maupun konsumen. Dengan memantau inflasi inti dan volatile food secara bersamaan, otoritas dapat menilai sumber tekanan harga secara lebih utuh. Data yang dipaparkan Destry dengan demikian menggambarkan dua kondisi yang perlu ditangani secara seimbang: perekonomian yang relatif terkendali dari sisi inflasi inti, serta harga pangan yang memerlukan perhatian dan koordinasi lebih lanjut.
Destry menilai volatilitas di pasar global masih tinggi dan menjadi tantangan bagi pergerakan rupiah. Ketidakpastian tersebut membuat tekanan eksternal perlu dicermati, terutama ketika kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter negara besar masih memengaruhi arus keuangan internasional. Bagi Indonesia, perubahan sentimen global dapat berdampak pada nilai tukar, sehingga stabilitas rupiah tetap menjadi perhatian. Ia menyampaikan penilaian itu dalam konteks perkembangan terbaru, ketika pelaku pasar masih menimbang prospek suku bunga dan inflasi di Amerika Serikat. Situasi yang bergerak dinamis ini menuntut kewaspadaan, meskipun pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir dinilai masih dapat dijaga.
Di Amerika Serikat, suku bunga tinggi diperkirakan bertahan lebih lama. Inflasi juga masih jauh di atas target, sehingga upaya bank sentral untuk mengendalikan tekanan harga belum sepenuhnya selesai. Namun, peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed pada Oktober dinilai semakin kecil. Perbedaan perkiraan suku bunga yang tetap tinggi dan peluang kenaikan yang menurun menunjukkan bahwa arah kebijakan belum sepenuhnya pasti. Perkembangan data ekonomi serta komunikasi bank sentral AS tetap dapat mengubah ekspektasi pasar. Karena itu, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sentimen terhadap mata uang di berbagai negara, termasuk rupiah, meskipun tidak berarti bahwa setiap perubahan di pasar global langsung menimbulkan tekanan yang sama besar.
Destry menyebut rupiah dapat dijaga stabil selama dua hari terakhir. Pada periode yang sama, memang terjadi sedikit perlambatan, tetapi ia menilai hal itu sejalan dengan perkembangan di sejumlah negara emerging market. Dengan demikian, pergerakan tersebut tidak hanya mencerminkan keadaan domestik, melainkan juga berlangsung dalam lingkungan pasar yang menghadapi tantangan serupa. Perbandingan dengan negara berkembang lain memberi konteks untuk membaca perubahan nilai tukar tanpa mengabaikan faktor global. Stabilitas rupiah dalam dua hari itu menjadi catatan penting di tengah volatilitas tinggi, sementara perlambatan kecil tetap perlu dipantau. Ke depan, pengaruh suku bunga AS, inflasi, dan perubahan sentimen investor masih dapat membentuk dinamika pasar. Penilaian Destry menempatkan kondisi rupiah dalam konteks yang lebih luas: tekanan global tetap ada, tetapi pergerakan terbaru masih terkendali.Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, Bank Indonesia menyampaikan bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi perhatian di tengah dinamika pasar keuangan global. Prabowo meminta bank sentral terus mencermati perkembangan nilai tukar dan mengoptimalkan kebijakan yang berada dalam kewenangannya. Pesan tersebut menegaskan pentingnya respons yang terukur terhadap perubahan pasokan dan permintaan valuta asing, sekaligus menjaga kepercayaan pelaku pasar. BI menyatakan akan terus memantau kondisi pasar serta menyesuaikan langkah stabilisasi sesuai kebutuhan.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa upaya menjaga rupiah dilakukan melalui sejumlah instrumen. Bank sentral melakukan intervensi di pasar spot, yaitu transaksi jual atau beli valuta asing secara langsung untuk membantu mengelola tekanan pada nilai tukar. Selain itu, BI menggunakan instrumen non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik. Kombinasi instrumen tersebut memungkinkan BI merespons pergerakan rupiah di berbagai segmen pasar, bukan hanya melalui transaksi spot.
BI juga memberikan insentif berupa pengurangan biaya lindung nilai atau hedging. Kebijakan ini telah diberlakukan sejak akhir Juli untuk mendorong pelaku usaha dan investor mengelola risiko nilai tukar dengan lebih efisien. Biaya hedging yang lebih ringan diharapkan mendukung penggunaan instrumen lindung nilai, terutama ketika ketidakpastian mendorong kebutuhan perlindungan terhadap perubahan kurs. Langkah tersebut melengkapi intervensi pasar dan menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran transaksi valuta asing domestik.
Menurut Destry rangkaian kebijakan itu telah mendatangkan arus.
Baca juga: DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber | Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan






