Jakarta | Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, ke Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (27/10/2026). Pertemuan tersebut menjadi agenda penting bagi BRIN untuk menyampaikan perkembangan kerja lembaga, terutama terkait hasil riset yang berpotensi diterapkan secara langsung. Arif tiba di Istana dengan membawa laporan mengenai sejumlah hasil penelitian yang telah disiapkan untuk disampaikan kepada Presiden.
Sebelum pertemuan berlangsung, Arif mengatakan dirinya belum mengetahui secara pasti pokok pembahasan yang akan disampaikan dalam rapat. Meski demikian, ia telah menyiapkan bahan yang dapat menjadi dasar pembicaraan, yakni laporan tentang hasil riset BRIN yang dinilai dapat diterapkan. Kesiapan tersebut memungkinkan lembaga memaparkan hasil kerja yang relevan, sambil menunggu arahan atau pertanyaan dari Presiden dalam pertemuan.
Menurut Arif, laporan yang dibawanya berkaitan dengan penugasan yang sedang dijalankan. Dengan demikian, materi tersebut bukan sekadar rangkuman umum atas kegiatan penelitian, melainkan terkait pekerjaan yang telah diberikan kepada BRIN. Laporan itu memuat hasil riset yang dapat dipertimbangkan untuk pemanfaatan lebih lanjut, sesuai kebutuhan dan tujuan penugasan. Arif tidak merinci isi laporan maupun bidang penelitian yang akan dibahas sebelum rapat dimulai.
Pertemuan di Istana memberi kesempatan bagi BRIN untuk menyampaikan hasil kerja sekaligus menjelaskan potensi penerapannya. Dalam konteks ini, riset tidak berhenti pada penyusunan temuan atau publikasi, tetapi juga diarahkan agar dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan pelaksanaan program. Namun, keputusan mengenai tindak lanjut atas laporan tersebut akan bergantung pada pembahasan dan arahan yang muncul dalam pertemuan. Arif hanya menyampaikan bahwa bahan terkait penugasan telah disiapkan untuk dibawa ke rapat.
Kehadiran Kepala BRIN di Istana juga menandai komunikasi langsung pemerintah dan lembaga riset mengenai pelaksanaan tugas yang sedang berjalan. Laporan yang disiapkan diharapkan membantu memberikan gambaran tentang hasil penelitian yang berpotensi dimanfaatkan. Adapun rincian pembahasan, termasuk riset yang menjadi perhatian dan langkah penerapannya, belum diungkapkan sebelum pertemuan berlangsung. Arif menyatakan kesiapan untuk menyampaikan laporan tersebut sesuai agenda rapat bersama Presiden.
Arif menyebut bahwa BRIN menerima penugasan dari Presiden Prabowo yang mencakup sejumlah bidang penting, yakni air, kesehatan, kebencanaan, sampah, dan satelit. Cakupan tersebut menunjukkan beragam persoalan yang menjadi perhatian dalam pekerjaan riset dan pengembangan lembaga. Setiap bidang disebut sebagai bagian dari penugasan, tanpa rincian lebih lanjut mengenai program, target, ataupun hasil yang telah dicapai. Karena itu, penjelasan Arif memberi gambaran tentang ruang lingkup pekerjaan BRIN, bukan paparan teknis mengenai masing-masing riset.
Bidang air, kesehatan, kebencanaan, dan sampah mencakup isu yang berbeda, sementara satelit menjadi bidang lain yang juga masuk dalam daftar penugasan. Arif tidak menguraikan bentuk kegiatan atau keluaran riset secara khusus untuk setiap bidang. Dengan demikian, daftar tersebut dapat dipahami sebagai kelompok pekerjaan yang sedang menjadi perhatian BRIN sesuai penugasan presiden. Informasi yang disampaikan menekankan cakupannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan perkembangan tertentu ataupun manfaat yang sudah terwujud di masyarakat.
Arif juga menyampaikan bahwa pertemuan dengan presiden menjadi kesempatan bagi BRIN untuk melaporkan perkembangan sejumlah pekerjaan tersebut. Kesempatan itu memungkinkan lembaga menyampaikan informasi mengenai hal-hal yang tengah dikerjakan dalam bidang yang telah disebutkan. Namun, tidak ada rincian tentang isi laporan, tahapan riset, capaian, maupun tindak lanjut yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Penjelasan ini menempatkan pertemuan sebagai forum untuk menyampaikan perkembangan pekerjaan, bukan sebagai konfirmasi atas hasil tertentu.
Dengan keterangan yang tersedia, pokok informasi yang dapat ditegaskan adalah bahwa penugasan BRIN meliputi lima bidang: air, kesehatan, kebencanaan, sampah, dan satelit. Arif menyebut pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk melaporkan perkembangan sejumlah pekerjaan kepada Presiden Prabowo. Uraian itu belum menjelaskan secara spesifik apa saja perkembangan yang dilaporkan, sehingga rincian lebih jauh mengenai pelaksanaan dan hasil riset tidak dapat ditambahkan. Pemaparan tetap berfokus pada bidang penugasan dan kesempatan pelaporan yang disampaikan Arif.
Sejumlah proyek riset disebut telah mencapai tahap siap untuk diproduksi dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut agar dapat dimanfaatkan masyarakat. Inovasi yang disiapkan mencakup bahan alternatif pengganti kantong plastik, teknologi pengolahan sampah, serta obat-obatan berbahan herbal. Ragam hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan riset dapat menjawab kebutuhan praktis, mulai dari mengurangi ketergantungan pada plastik hingga mendukung pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber daya alam. Namun, kesiapan suatu inovasi untuk diproduksi tidak dengan sendirinya menjamin produk tersebut segera tersedia atau digunakan secara luas.
Setiap hasil penelitian masih memerlukan tahapan lanjutan sebelum mencapai pengguna. Proses itu dapat mencakup pengujian, penyempurnaan teknologi, pemenuhan standar dan ketentuan yang berlaku, serta penyiapan pihak yang mampu mengembangkan produk dalam skala produksi. Untuk alternatif kantong plastik, misalnya, mutu bahan, biaya pembuatan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pengguna perlu diperhatikan. Teknologi pengolahan sampah juga harus dibuktikan kinerjanya dalam kondisi penerapan yang relevan, sementara obat herbal memerlukan pengujian dan proses yang mendukung keamanan serta konsistensi produk. Dengan demikian, hasil riset perlu dipertemukan dengan mitra dan mekanisme yang sesuai.
Arif menegaskan batas peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN): lembaga tersebut menjalankan kegiatan riset, bukan bertindak sebagai produsen. Penegasan ini penting agar tanggung jawab penelitian dan produksi tidak disamakan. Setelah suatu teknologi atau produk dikembangkan melalui penelitian, diperlukan langkah hilirisasi yang menghubungkan hasilnya dengan pelaku yang dapat menguji, mengembangkan, dan memproduksinya. Arif, mantan rektor IPB University, juga menekankan perlunya memastikan proses tersebut dapat dipercepat. Percepatan bukan berarti melewati pengujian, melainkan membuat jalur dari penelitian menuju pemanfaatan lebih efektif. Melalui kerja sama dengan mitra yang tepat dan dukungan tahapan lanjutan, inovasi pengganti plastik, pengolahan sampah, maupun obat herbal berpeluang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
BRIN menyiapkan inovasi bahan pemadam api yang memanfaatkan pati singkong dan ammonium polyphosphate (APP) untuk memasuki tahap uji coba. Menurut Arif, pengembangan bahan ini dirancang sebagai upaya menghadirkan pilihan pemadaman yang dapat diuji secara langsung sebelum manfaat dan kinerjanya dinilai lebih lanjut. Pati singkong menjadi bahan dasar yang dikombinasikan dengan APP dalam formulasi tersebut. Ia menyatakan persiapan uji coba dilakukan untuk pelaksanaan pada minggu itu. Dengan demikian, status inovasi ini adalah siap diuji, bukan sudah terbukti digunakan dalam operasi. Tahapan berikutnya akan memberikan gambaran mengenai cara kerja campuran, kondisi penerapan yang sesuai, serta aspek teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya. Informasi tersebut penting agar pengembangan berbasis riset dapat ditindaklanjuti secara terukur dan sesuai kebutuhan lapangan.
Arif mengatakan koordinasi untuk uji coba telah dilakukan dengan TNI AU, dan pasukan disebut sudah siap. Kesiapan personel serta komunikasi dengan pihak terkait menjadi bagian dari persiapan kegiatan tersebut. Namun, pernyataan mengenai kesiapan tidak dengan sendirinya berarti uji coba telah berlangsung; pelaksanaannya masih direncanakan pada minggu itu. Hasil pengujian nantinya dapat menjadi dasar untuk menilai performa bahan pemadam berbasis pati singkong dan APP, sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu disempurnakan. Penyampaian tahap kegiatan secara jelas juga membedakan inovasi yang tengah disiapkan untuk diuji dari teknologi lain yang telah digunakan. Pendekatan ini membantu publik memahami perkembangan riset secara akurat, tanpa menyamakan persiapan, pengujian, dan penerapan di lapangan.
Selain bahan pemadam, Arif menyebut sejumlah inovasi yang berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca untuk Dumakron.
Baca juga: Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Masyarakat Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri | Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai






