Kabupaten Garut | Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mulai mengenal pemrograman dengan menggunakan laptop yang disediakan pemerintah. Perangkat tersebut menjadi bagian dari kegiatan belajar yang memperkenalkan mereka pada komputer dan internet. Di dalam kelas, siswa tidak hanya melihat atau menggunakan komputer secara umum, tetapi juga berlatih menyusun kode sederhana untuk membuat permainan. Kegiatan ini memberi mereka kesempatan untuk berkenalan dengan salah satu bentuk pembelajaran digital secara langsung.
Pengenalan tersebut berlangsung di tengah pelaksanaan Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang ditujukan bagi siswa dari keluarga prasejahtera. Bagi sebagian siswa di Garut, kesempatan bersekolah kembali memiliki arti tersendiri karena mereka sebelumnya sempat putus sekolah. Kini, kegiatan pembelajaran mencakup pula penggunaan teknologi, sehingga pengalaman belajar mereka meliputi materi di kelas serta pengenalan terhadap perangkat digital. Laptop yang tersedia memungkinkan siswa mengikuti latihan pemrograman dalam lingkungan belajar sekolah.
Dalam kegiatan itu, siswa mempelajari langkah dasar untuk menuliskan instruksi yang dapat membentuk sebuah permainan sederhana. Mereka juga mengenal hubungan komputer, internet, dan kegiatan belajar melalui penggunaan perangkat tersebut. Materi pemrograman diperkenalkan sebagai bagian dari pengalaman belajar, bukan sebagai keterangan mengenai tingkat kemampuan atau hasil yang telah dicapai siswa. Dengan demikian, kegiatan ini dapat dipahami sebagai akses awal terhadap pembelajaran digital bagi para peserta didik di Sekolah Rakyat Terintegrasi 39. Penyediaan laptop oleh pemerintah membuka ruang bagi mereka untuk menggunakan teknologi sebagai bagian dari proses pendidikan. Pengalaman tersebut berlangsung dalam konteks program yang menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, termasuk siswa yang pernah mengalami jeda dalam pendidikan formal. Informasi mengenai kegiatan ini menyoroti kesempatan bagi siswa untuk mengenal perangkat dan mencoba menyusun kode, tanpa perlu menyimpulkan dampak lebih jauh yang belum disebutkan.
Raihan, 16 tahun, merupakan siswa SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 dan bagian dari angkatan pertama yang memulai pendidikan pada 2025. Ia berasal dari Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut. Kesempatan bersekolah di tingkat SMP menjadi pengalaman penting baginya, sekaligus membuka ruang untuk mengenal hal-hal baru yang sebelumnya terasa jauh dari kesehariannya. Salah satunya adalah teknologi komputer, yang kini ia pelajari melalui pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Di kelas, Raihan mulai belajar mengoperasikan laptop dan menggunakan internet untuk mencari pengetahuan. Baginya, perangkat yang dahulu sulit dibayangkan dapat digunakan secara langsung untuk belajar. Ia dapat membuka informasi yang diperlukan dan menjelajahi berbagai bahan bacaan melalui jaringan internet. Pengalaman tersebut membuat kegiatan belajar terasa lebih luas, karena informasi tidak hanya diperoleh dari buku atau penjelasan di kelas, tetapi juga dari sumber digital yang dapat diakses dengan bimbingan.
Pelajaran TIK juga memperkenalkan Raihan pada dasar-dasar pemrograman. Ia belajar menyusun kode sederhana untuk membuat permainan. Proses itu memberinya gambaran bahwa komputer bukan hanya alat untuk melihat informasi atau mengetik, tetapi juga dapat digunakan untuk menciptakan sesuatu. Membuat permainan dengan kode menjadi pengalaman baru yang menghubungkan rasa ingin tahu dengan latihan berpikir runtut. Setiap langkah dalam pembelajaran membantunya mengenali cara kerja teknologi secara bertahap.
Raihan merasa senang karena dapat melanjutkan pendidikan tingkat SMP sambil mempelajari keterampilan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Kemampuan menggunakan laptop, mencari pengetahuan di internet, dan mencoba membuat permainan merupakan awal dari pengenalannya terhadap dunia digital. Pengalaman ini memberi kesempatan baginya untuk membayangkan lebih banyak kemungkinan pada masa depan. Bagi Raihan, sekolah bukan hanya tempat melanjutkan pendidikan, melainkan juga ruang untuk mencoba, belajar, dan menemukan minat baru melalui teknologi.
Pengalaman belajar teknologi di Sekolah Rakyat Garut membuat Raihan semakin tertarik untuk mendalami bidang komputer. Kegiatan tersebut membuka kesempatan baginya untuk mengenal pemrograman dan memahami bahwa teknologi digital hadir dalam banyak aspek kehidupan. Dari pengalaman belajar itu, ketertarikannya tidak berhenti pada penggunaan perangkat atau aplikasi. Raihan mulai ingin mengetahui lebih jauh cara kerja komputer dan bagaimana program dibuat. Minat tersebut tumbuh seiring proses belajar yang memberinya ruang untuk mengenal keterampilan baru. Bagi Raihan, pelajaran tentang teknologi menjadi pengalaman yang mendorongnya memikirkan kemungkinan masa depan, termasuk bidang yang ingin ia tekuni.
Ketertarikan itu juga berkaitan dengan cara Raihan memandang dunia kerja. Ia melihat bahwa berbagai pekerjaan semakin mengandalkan teknologi digital, sehingga pengetahuan tentang komputer dapat menjadi bekal yang relevan. Di tengah perubahan tersebut, ia mulai membayangkan pekerjaan yang mungkin ingin dijalani kelak. Salah satu bidang yang menarik perhatiannya adalah pemrograman. Raihan tertarik menjadi programmer, sebuah pilihan yang muncul dari minatnya terhadap komputer dan pengalaman belajar teknologi di sekolah. Ia belum menyampaikan rencana atau capaian tertentu; yang terlihat saat ini adalah ketertarikan untuk mengenal bidang tersebut lebih dalam.
Di sela kegiatan belajar pada 12 Oktober 2026, Raihan menyampaikan bahwa sekolah memberinya harapan baru untuk masa depan. Ia juga mengungkapkan ketertarikannya untuk menjadi programmer. Pernyataan itu menunjukkan arti pengalaman sekolah baginya: selain mengikuti pembelajaran, ia memperoleh kesempatan untuk memikirkan arah yang ingin dituju. Harapan tersebut beriringan dengan minat yang mulai terbentuk melalui kegiatan belajar teknologi. Bagi Raihan, kemungkinan untuk mempelajari komputer dan pemrograman membuat masa depan terasa lebih terbuka. Ketertarikannya pada profesi programmer menjadi bagian dari pandangan yang sedang ia bangun, sejalan dengan pengalamannya sebagai siswa yang kembali belajar dan berkenalan dengan keterampilan digital.
Bagi M. Fathir, siswa berusia 17 tahun asal Kecamatan Banyuresmi, Garut, Sekolah Rakyat memiliki makna yang lebih luas daripada tempat untuk mengenal teknologi. Sekolah ini juga menjadi kesempatan untuk kembali belajar setelah ia sempat meninggalkan bangku sekolah. Pengalaman Fathir menggambarkan bahwa akses pendidikan dapat membuka jalan bagi seseorang untuk melanjutkan proses belajar yang terhenti, sekaligus memberi ruang untuk kembali menjadi bagian dari lingkungan pendidikan.
Fathir berhenti bersekolah ketika duduk di bangku SMP. Keputusan tersebut berkaitan dengan keterbatasan biaya dan perundungan yang ia alami dari teman-temannya. Dua hal itu menjadi hambatan yang membuatnya tidak melanjutkan pendidikan pada saat itu. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan seorang siswa dapat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi maupun situasi sosial di sekolah. Dalam kisah Fathir, kedua tantangan itu hadir bersamaan dan berujung pada terhentinya kegiatan belajar formal.
Kesempatan melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi bagian penting dari perjalanan Fathir setelah masa jeda tersebut. Baginya, keberadaan sekolah ini bukan semata-mata soal berkenalan dengan teknologi, melainkan juga tentang kembali memperoleh kesempatan untuk belajar. Kisah ini menempatkan pengalaman seorang siswa sebagai gambaran bahwa pendidikan dapat dilanjutkan kembali setelah terputus, meski sebelumnya ada hambatan yang membuat seseorang menjauh dari sekolah. Fathir berasal dari Kecamatan Banyuresmi dan kini berusia 17 tahun. Ia berhenti sekolah saat SMP karena keterbatasan biaya serta perundungan dari teman-temannya. Setelah tiga tahun tidak bersekolah, ia kembali melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
Baca juga: Memahami Papua: Koops TNI Habema Menyalakan Kembali Asa di Lembah Ugimba | Penindakan Dipertanyakan! Sabung Ayam Kembali Beroperasi di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri | Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan






