Peta Kesenjangan Gender di Berbagai Industri: Sektor Perawatan Teratas, Infrastruktur Terbawah

Peta Kesenjangan Gender di Berbagai Industri: Sektor Perawatan Teratas, Infrastruktur Terbawah

Jakarta | Global Gender Gap Report 2026 dari World Economic Forum (WEF) menyajikan perbandingan keterwakilan perempuan di 18 industri. Data ini memberi gambaran tentang seberapa besar proporsi pekerja perempuan dalam tiap sektor, sekaligus memperlihatkan bahwa keseimbangan gender tidak tersebar secara merata di dunia kerja. Dengan mengurutkan industri berdasarkan ukuran tersebut, laporan menyediakan cara untuk mengamati perbedaan antarsektor secara langsung. Hasilnya perlu dibaca sebagai potret komposisi tenaga kerja, bukan sebagai penghitungan jumlah perempuan yang bekerja di setiap industri.

Menurut cakupan dan metode yang digunakan, peringkat tersebut didasarkan pada rata-rata industri tidak tertimbang dari data LinkedIn di 61 negara. Data yang dianalisis mencakup informasi hingga Juni 2026. Istilah “tidak tertimbang” penting karena nilai rata-rata setiap industri tidak disesuaikan menurut besarnya tenaga kerja atau jumlah pengguna LinkedIn di masing-masing negara. Dengan demikian, perbandingan mencerminkan indikator yang dibangun dari data lintas negara, bukan estimasi yang otomatis memberi bobot lebih besar kepada negara dengan populasi pekerja yang lebih banyak. Cakupan 61 negara juga menjadi batas penting dalam menafsirkan temuan: angka tersebut bergantung pada data yang tersedia dalam cakupan laporan dan tidak dengan sendirinya mewakili setiap negara atau seluruh pekerja di dunia.

Perbedaan proporsi dan jumlah absolut perlu diperhatikan saat membaca hasilnya. Industri yang memiliki persentase pekerja perempuan lebih tinggi belum tentu mempekerjakan perempuan dalam jumlah terbesar, karena ukuran keseluruhan tenaga kerja di tiap sektor dapat sangat berbeda. Sebaliknya, sektor dengan proporsi lebih rendah dapat tetap memiliki banyak pekerja perempuan jika jumlah pekerjanya secara keseluruhan besar. Karena itu, posisi dalam peringkat menunjukkan variasi keterwakilan perempuan antarsektor, bukan perbandingan jumlah perempuan secara keseluruhan. Ukuran ini juga tidak menjelaskan dengan sendirinya penyebab kesenjangan, kualitas pekerjaan, tingkat senioritas, ataupun akses terhadap peluang karier. Peringkat berfungsi sebagai titik awal untuk memahami komposisi gender lintas industri; penafsiran yang lebih lengkap memerlukan indikator dan konteks tambahan.

Proporsi pekerja perempuan paling besar tercatat pada sektor kesehatan dan layanan perawatan, yaitu 60%. Pendidikan menyusul dengan 54%, diikuti layanan konsumen sebesar 52%, serta pemerintahan dan sektor publik sebesar 51%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perempuan menjadi bagian penting dari tenaga kerja di bidang yang menyediakan layanan langsung bagi masyarakat. Namun, tingginya keterwakilan tidak dengan sendirinya berarti kesempatan kerja, upah, atau peluang menduduki posisi pengambil keputusan telah terbagi secara setara.

Kuatnya kehadiran perempuan dalam kesehatan dan pendidikan berkaitan, sebagian, dengan jalur pendidikan serta pola pekerjaan yang telah lama terbentuk. Secara historis, mengajar, merawat, dan mendukung kesejahteraan orang lain kerap dipandang sebagai pekerjaan yang sesuai bagi perempuan. Pandangan tersebut turut memengaruhi cara lembaga merekrut pekerja, ekspektasi terhadap pilihan karier, dan komposisi tenaga kerja dari waktu ke waktu. Karena itu, distribusi saat ini tidak semata-mata mencerminkan pilihan individu; norma sosial dan struktur kesempatan juga berperan.

Pada saat yang sama, akses perempuan terhadap pendidikan tinggi terus berkembang. Di berbagai belahan dunia, jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi semakin melampaui jumlah laki-laki, meskipun polanya berbeda menurut negara dan bidang studi. Kemajuan ini memperluas jalur menuju profesi yang sebelumnya lebih didominasi laki-laki. Dalam pendidikan kedokteran Amerika Serikat, data Association of American Medical Colleges menunjukkan perkembangan representasi perempuan, termasuk dalam jumlah mahasiswa kedokteran dan dokter. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa batas historis pekerjaan perempuan dan laki-laki dapat bergeser seiring meningkatnya akses pendidikan dan perubahan profesi.

Meski demikian, kemajuan pada tahap pendidikan dan masuknya pekerja ke suatu bidang belum menghapus kesenjangan pada jenjang karier. Perempuan masih menghadapi hambatan untuk mencapai posisi kepemimpinan, memperoleh promosi, atau bertahan pada jalur karier tertentu. Dengan demikian, tingginya proporsi perempuan di sektor perawatan, pendidikan, layanan konsumen, dan pemerintahan perlu dibaca bersama kondisi kerja serta pembagian tanggung jawab di dalam tiap sektor. Gambaran tenaga kerja yang lebih utuh tidak hanya menghitung siapa yang bekerja, tetapi juga menilai siapa yang memperoleh pengaruh, keamanan kerja, dan peluang untuk maju.

Perbedaan keterwakilan perempuan terlihat jelas ketika sektor infrastruktur dibandingkan dengan kesehatan dan layanan perawatan. Di infrastruktur, perempuan hanya mencakup 24% pekerja, atau 36 poin persentase lebih rendah daripada sektor kesehatan dan perawatan. Dengan demikian, proporsi perempuan di sektor teratas tersebut mencapai sekitar 60%. Jarak ini menunjukkan bahwa kemajuan menuju keseimbangan gender tidak berlangsung seragam di seluruh dunia kerja. Sektor yang berhubungan dengan perawatan cenderung memiliki kehadiran perempuan lebih besar, sementara pekerjaan teknis dan pembangunan masih jauh dari proporsi yang setara.

Infrastruktur bukan satu-satunya bidang yang didominasi laki-laki. Pertambangan, manufaktur, dan transportasi juga mencatat ketimpangan keterwakilan yang kuat, terutama pada pekerjaan lapangan, teknis, dan operasional. Sejumlah faktor dapat mempertahankan pola tersebut. Jalur magang tradisional, misalnya, kerap menjadi pintu masuk menuju profesi teknis, tetapi jejaring dan pola rekrutmen yang sudah lama terbentuk dapat membuat perempuan kurang terjangkau. Stereotip bahwa pekerjaan tertentu lebih cocok bagi laki-laki turut memengaruhi pilihan pendidikan, perekrutan, dan pembagian tugas. Setelah masuk ke perusahaan, budaya tempat kerja yang kurang inklusif juga dapat menghambat rasa memiliki serta keberlanjutan karier perempuan.

Temuan studi McKinsey mengenai sektor pertambangan memperlihatkan bahwa tantangan tidak berhenti pada akses masuk. Perempuan dalam sektor ini melaporkan terbatasnya peluang promosi dan budaya kerja yang eksklusif. Pengalaman tersebut menandakan bahwa peningkatan perekrutan saja belum cukup untuk menutup kesenjangan gender. Perusahaan juga perlu meninjau bagaimana tugas dibagikan, siapa yang memperoleh pelatihan dan bimbingan, serta bagaimana keputusan kenaikan jabatan dibuat. Lingkungan kerja yang aman dan menghargai kontribusi beragam dapat membantu mempertahankan pekerja perempuan dan membuka jalur kemajuan yang lebih jelas. Tanpa perubahan pada praktik dan budaya organisasi, penambahan jumlah pekerja perempuan berisiko tidak menghasilkan keterwakilan yang seimbang pada posisi senior. Karena itu, upaya mengurangi kesenjangan di bidang infrastruktur dan industri terkait perlu mencakup akses awal, pengalaman kerja sehari-hari, dan peluang berkembang sepanjang karier.

Ketertarikan pekerja generasi muda terhadap pekerjaan teknis terampil kembali terlihat di tengah perubahan pilihan karier. Bidang seperti perawatan peralatan, konstruksi, manufaktur, dan pekerjaan infrastruktur menawarkan jalur kerja yang berfokus pada keterampilan praktis. Bagi sebagian anak muda, pekerjaan semacam ini menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan, bukan sekadar alternatif sementara. Perhatian baru tersebut juga muncul ketika banyak orang menilai kembali hubungan pendidikan, biaya, dan peluang memperoleh pekerjaan. Minat ini penting dalam pembahasan dunia kerja karena sektor teknis membutuhkan tenaga terampil, sementara komposisi pekerjanya masih dapat berbeda dari sektor lain. Namun, perubahan minat tidak serta-merta menjelaskan siapa yang akhirnya masuk, bertahan, atau berkembang dalam pekerjaan tersebut. Karena itu, meningkatnya perhatian generasi muda dapat dicatat sebagai perkembangan tersendiri, tanpa menganggapnya sebagai bukti bahwa kesenjangan gender telah menyusut.

Salah satu alasan yang dikaitkan dengan daya tarik pekerjaan teknis adalah keamanan kerja. Kebutuhan akan keterampilan tertentu dapat membuat jalur ini tampak menawarkan prospek yang lebih pasti bagi mereka yang mencari pekerjaan dan kestabilan. Pertimbangan tersebut relevan bagi pekerja muda yang harus memilih di beragam jalur setelah sekolah. Alasan lain adalah tersedianya alternatif selain menempuh pendidikan tinggi yang mahal.

Baca juga: Irjen TNI Berikan Briefing kepada Pati Mabes TNI Bahas Berbagai Isu Terkini | TNI Kerahkan 1.482 Penyuluh Perkuat Penanganan Karhutla di Berbagai Wilayah | TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah