Jakarta | Astronaut Sultan Al-Neyadi pernah membagikan foto Ka'bah yang ia ambil dari Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2023. Gambar tersebut memperlihatkan kawasan Masjidil Haram dari orbit, saat ibadah haji sedang berlangsung di Makkah. Ia mengunggah potret itu melalui akun media sosialnya, sehingga pengikutnya dapat menyaksikan salah satu tempat paling suci bagi umat Islam dari sudut pandang yang tidak biasa. Foto tersebut segera menarik perhatian karena memadukan pemandangan dari luar angkasa dengan momen penting dalam kalender keagamaan.
Dalam unggahannya, Al-Neyadi menyertakan pesan yang berkaitan dengan Hari Arafah, salah satu hari paling utama dalam rangkaian ibadah haji. Pesan itu menghubungkan pengalaman melihat Bumi dari orbit dengan suasana spiritual yang dirasakan umat Islam pada hari tersebut. Di darat, jutaan jemaah berkumpul untuk menjalankan rangkaian ibadah haji, sementara dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, Ka'bah tampak sebagai bagian dari lanskap kota yang luas. Perbedaan sudut pandang ini membuat unggahan tersebut terasa istimewa bagi banyak orang.
Foto Ka'bah dari Stasiun Luar Angkasa Internasional juga menunjukkan bagaimana teknologi dapat menghadirkan gambaran baru tentang tempat yang memiliki makna mendalam. Walau diambil dari ketinggian orbit, gambar itu tetap berpusat pada Ka'bah dan kawasan di sekelilingnya, bukan semata-mata pada kecanggihan kamera atau perjalanan antariksa. Unggahan Al-Neyadi memberi kesempatan kepada khalayak untuk melihat Makkah melalui perspektif yang jarang dijumpai, sekaligus mengingatkan bahwa peristiwa keagamaan besar berlangsung di tengah kehidupan di Bumi. Dengan membagikan potret tersebut ketika haji sedang dijalankan, ia menyampaikan perhatian kepada momen yang penting bagi umat Islam. Foto itu kemudian menjadi bahan percakapan di media sosial, baik karena asal pengambilannya maupun pesan Hari Arafah yang menyertainya. Peristiwa ini mempertemukan eksplorasi antariksa dan tradisi keagamaan dalam satu unggahan yang mudah dipahami, tanpa mengurangi nilai ibadah yang dijalankan para jemaah di Makkah.
Sultan Al-Neyadi menjelaskan bahwa foto yang dibagikannya dari orbit diambil ketika para jemaah haji sedang menjalani wukuf di Arafah. Keterangan waktu tersebut memberi konteks penting bagi gambar Ka'bah yang terlihat dari luar angkasa: foto itu tidak hanya memperlihatkan salah satu tempat paling dikenal dalam Islam, tetapi juga bertepatan dengan salah satu bagian utama dari rangkaian ibadah haji. Dengan demikian, unggahan Al-Neyadi menghubungkan pemandangan dari orbit dengan keadaan jemaah yang tengah berada di Arafah.
Wukuf di Arafah merupakan momen penting dalam ibadah haji, dan Al-Neyadi menyebut pelaksanaannya sebagai latar waktu pengambilan foto. Penjelasan ini membuat pesan yang menyertai potret tersebut lebih bermakna daripada sekadar keterangan mengenai objek yang tampak dari angkasa. Saat para jemaah menjalani wukuf, perhatian umat Islam tertuju pada Arafah dan nilai pentingnya dalam haji. Foto Ka'bah dari orbit hadir pada momen yang sama, sehingga pemandangan tersebut dapat dipahami dalam kaitannya dengan suasana ibadah yang sedang berlangsung.
Meski gambar diambil dari orbit dan menampilkan Ka'bah, informasi Al-Neyadi menekankan bahwa para jemaah pada saat itu sedang menjalani wukuf di Arafah. Kedua hal tersebut perlu dibedakan: foto memperlihatkan pemandangan dari ketinggian, sementara keterangan tentang wukuf menjelaskan konteks waktunya. Dengan menyampaikan kaitan ini, Al-Neyadi mengarahkan perhatian pada makna Hari Arafah sebagai salah satu momen penting dalam ibadah haji. Unggahannya menyatukan sudut pandang seorang astronaut dengan peristiwa keagamaan yang tengah dijalani para jemaah, tanpa mengubah fokus utama pesannya: foto tersebut diambil ketika wukuf berlangsung.
Dalam pesannya dari orbit, Sultan Al-Neyadi mengajak umat manusia di Bumi menjadikan Hari Arafah sebagai kesempatan untuk merenungkan makna iman dalam kehidupan. Ia menekankan bahwa iman tidak hanya berkaitan dengan keyakinan yang tersimpan dalam diri, tetapi juga tercermin melalui tindakan. Dengan demikian, nilai-nilai yang diyakini seseorang dapat terlihat dalam cara ia bersikap dan berhubungan dengan orang lain. Pesan ini menempatkan peringatan Hari Arafah sebagai momen untuk melihat kembali hubungan kepercayaan, perilaku, dan tanggung jawab sehari-hari.
Al-Neyadi juga menghubungkan perenungan tersebut dengan pentingnya refleksi. Hari Arafah dapat menjadi pengingat bagi setiap orang untuk menilai kembali pilihan dan tindakannya, serta mempertimbangkan bagaimana nilai iman hadir dalam kehidupan nyata. Refleksi tidak berhenti pada pemahaman tentang keyakinan, melainkan mendorong seseorang untuk memperhatikan dampak dari sikap dan perbuatannya. Melalui pesan itu, ia mengarahkan perhatian pada tindakan yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut, tanpa memisahkan kehidupan spiritual dari perilaku sehari-hari.
Harapannya, momen Hari Arafah dapat menginspirasi orang untuk memperjuangkan kasih, kerendahan hati, dan persatuan. Ketiga nilai tersebut menjadi bagian dari pesan yang disampaikannya kepada umat manusia di Bumi. Kasih mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, sementara kerendahan hati mengajak setiap orang untuk bersikap tidak berlebihan dalam memandang diri sendiri. Persatuan, pada saat yang sama, menekankan arti kebersamaan di tengah kehidupan manusia. Al-Neyadi berharap peringatan ini mendorong orang untuk membawa nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan. Pesannya menghubungkan iman dengan perilaku dan refleksi, serta mengajak masyarakat menjadikan Hari Arafah sebagai pemantik untuk memperjuangkan kasih, kerendahan hati, dan persatuan dalam kehidupan bersama.
Selain membagikan potret Ka'bah dari orbit dan menyampaikan pesan pada Hari Arafah, Sultan Al-Neyadi juga pernah berbagi momen penting lain dengan para pengikutnya: kemunculan bulan sabit pertama yang menandai tahun baru Hijriah. Foto tersebut menjadi pengantar bagi ucapan yang ia sampaikan kepada umat Islam di berbagai belahan dunia. Melalui unggahan itu, ia menyambut datangnya tahun baru sekaligus mengajak pembaca memandang pergantian kalender sebagai awal yang bermakna. Momen pengamatan bulan dari luar angkasa menghadirkan sudut pandang berbeda, tetapi pesan yang disampaikan tetap dekat dengan pengalaman sehari-hari: harapan, pembaruan, dan kesempatan untuk melangkah ke depan dengan semangat baru.
Dalam pesannya, Al-Neyadi menggambarkan pergantian tahun Hijriah sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan bertualang. Kedua hal tersebut dapat dipahami sebagai ajakan untuk terus belajar, membuka diri terhadap pengalaman baru, serta mengembangkan kemampuan dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Tahun baru tidak hanya menjadi penanda perubahan waktu, tetapi juga ruang untuk menetapkan niat dan menjalani perjalanan dengan rasa ingin tahu. Ia menyampaikan harapan agar tahun tersebut membawa berkah dan kebahagiaan bagi umat Islam. Ia juga berharap setiap orang memperoleh kesempatan menemukan hal-hal baru, baik melalui pengalaman, pengetahuan, maupun perjumpaan yang memberi makna. Ucapan itu mencerminkan optimisme dalam menyambut masa yang akan datang.
Foto bulan sabit dan pesan tersebut memperlihatkan bagaimana peristiwa astronomis dapat menjadi penghubung pengalaman di ruang angkasa dan perayaan keagamaan di Bumi. Dalam konteks tahun baru Hijriah, penampakan bulan memiliki arti sebagai penanda kalender, sementara ucapan Al-Neyadi menambahkan pesan tentang harapan dan pertumbuhan. Unggahan seperti ini juga menunjukkan bahwa momen sederhana dapat menjadi kesempatan untuk berbagi doa dan perhatian kepada komunitas yang lebih luas. Perjalanan manusia ke luar angkasa memiliki catatan yang panjang dan melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai negara. Pangeran Sultan bin Salman Al-Saud dari Arab Saudi juga pernah mengunjungi luar angkasa pada Ramadhan 1985.
Baca juga: TNI Bagikan 22.000 Porsi Makanan Gratis Untuk Masyarakat pada TNI Fair 2026 Di Monas | Forkopimcam Hadir untuk Warga, Bagikan Masker sebagai Upaya Jaga Kesehatan




